
Jane tampak mengantarkan Ana ke rumah sakit dimana Pak Kim di rawat. Sementara Jane harus ke kantor polisi untuk menjadi saksi perkara Layla.
"Mari kita makan malam bersama.. Besok.. Ayo kita mencari pakaian untuk cicitku itu..." imbuh Jane semangat.
"Bukankah terlalu cepat membeli pakaian bayi sekarang??" tanya Ana terkekeh.
"Benarkah?? Kalau begitu, mari kita pergi berbelanja bersama... Makan makanan enak... nongkrong di tempat tempat populer... Mari kita melakukan semuanya karena kita akan segera kembali hidup normal.." ajak Jane sungguh-sungguh.
"Baiklah.. Mari kita pergi bersenang-senang bersama..." angguk Ana cepat.
"Aku akan meminta dokter untuk memeriksakan kondisimu dan memberimu semua vitamin dan obat terbaik... Kau bisa istirahat di sini seraya menunggu Pak kim..." ujar Jane dari dalam mobil.
"Baiklah..." angguk Ana setuju.
"Oh iya... Aku sepertinya menghilangkan ponselku.. Bisakah kau menghubungi Louis, dia pasti sangat khawatir..."
"Tenang saja, aku sudah memberitahunya... Dia akan segera menyusulmu kemari..." sahut Jane tersenyum.
Ana tersenyum hangat.
"Baiklah, terima kasih..."
"Sampai nanti..." Jane melambaikan tangannya lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan Ana.
Ana segera masuk ke dalam rumah sakit, ia segera menuju kamar inap Pak Kim. Dan benar saja, tak lama ia tiba, Louis juga turut tiba di sana. Ia terlihat terengah. Sepertinya ia berlari untuk sampai ke sana.
"Kau benar-benar membuatku hampir gila..." keluhnya memeluk Ana erat.
"Kenapa kau tidak pernah bisa meninggalkan pesan padaku??? Aku sangat khawatir..." gerutunya seraya memeluk Ana erat.
"Maaf, aku sangat terburu-buru..." imbuh ana lirih.
"Lihatlah wajahmu ini... Kenapa aku harus selalu menemuimu dengan wajah seperti ini??" matanya berkaca-kaca.
"Karena kau selalu menemui sisi hidupku yang menyedihkan ini..." ucap Ana lirih.
"Aku berjanji, akan memberikan hidup yang baik untuk kita mulai sekarang... Apapun yang bisa aku lakukan, maka aku akan melakukan semuanya..." Louis sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Ana hanya mengangguk pelan.
"A.. Ana..." suara lirih Pak Kim mengejutkan keduanya.
"Pak Kim?? Kau sudah sadar???" mereka segera menghampiri.
"Aku panggilkan dokter..." seru Louis berlari keluar.
"Syukurlah kau sudah sadar..." imbuh Ana penuh syukur.
Pak Kim tampak menyeringai kesakitan, saat hendak bergerak.
__ADS_1
"Jangan banyak bergerak..."
"Dita dan Layla... Mereka..."
"Aku tau... Jane sudah mengurusnya... Mereka sudah di tangkap polisi Pak Kim... Kak Lucas sudah menangani mereka..."
"Benarkah?? Syukurlah..." angguk Pak Kim lega.
"Semuanya sudah berakhir, Pak Kim... Maafkan aku membawa kekacauan ini padamu..."
"Tidak... Ini bukan salahmu..." geleng Pak Kim lemah.
...****************...
Hingga malam hari. Jane tak kunjung memberi kabar pada Ana. Mereka telah berjanji akan makan malam bersama. Ana berencana untuk memesan makan malam melalui pesan antar, ia ingin makan di rumah sakit saja menemani Pak Kim. Ia kemudian mencoba menghubungi Jane, namun nomornya tidak aktif.
Drrrttt.. Drrttt...
tak lama nama Lucas muncul di layar ponselnya.
"Kak Lucas??" jawab Ana cepat.
"Ana !! Kau dimana?? " seru Lucas di seberang.
"Aku di Grey hospital... Ada apa??"
"Ada apa? Kenapa kakak ada di sana?? Dimana Jane?? Aku tidak bisa menghubunginya..." keluh Ana semakin risau.
"Sebaiknya kau cepat kemari..."
Ana bergegas keluar, di ikuti Louis. Louis sejak tadi juga masih setia menemani keduanya. Ana tampak segera berlari menggunakan tangga. Ia terus turun ke lantai 1.
Setibanya di lantai 1, ia melihat ada banyak petugas kepolisian di sana. Bahkan lantai UGD saat itu penuh dengan genangan darah yang berceceran. Ana tertegun.
"Ana..." seru Lucas dari arah balik meja informasi. Tangannya bersimbah darah.
"Kak..." entah kenapa pikiran Ana menjadi kosong. Tubuhnya terasa lemas.
"Ana..." Lucas segera menghampiri Ana.
"Kakak terluka??" tanya Ana khawatir.
"Bu...bukan.. Ini bukan darahku..." gelengnya cepat.
"Apa yang terjadi?? Apa kakak sudah mengabari Jane??"
Lucas merangkul Ana, menggiringnya ke arah ruang pasien gawat darurat yang tengah di tutup.
Sreettttt..
__ADS_1
Tirai itu di buka lebar. Darah menggenang di bawah tempat tidur pasien. Semua tangan dokter dan perawat di sana bersimbah darah. Bahkan kakinya menginjak genangan darah itu.
Matanya perlahan melihat ke atas tempat tidur pasien.
Degggg !
Seakan dunia telah runtuh. Ana mematung. Nafasnya dan detak jantungnya berhenti bersamaan. Air matanya menetes tak tertahan.
Jane terbaring di sana tak sadarkan diri. Luka sayatan yang ternganga di bagian lehernya mengeluarkan darah segar yang terus mengalir. Tangan Jane terkulai lemas.
Bibir Ana bergetar hebat. Ini pertama kalinya ia merasakan sakit yang begitu menyesakkan di dadanya.
"Jane... Apa yang kau lakukan di sana??" gumam Ana lirih.
Jane tak bergeming. Dokter dan perawat tampak melepaskan alat bantu nafas Jane. Dan berbagai selang yang sejak tadi menempel di tubuhnya.
"Kenapa kalian melepasnya??" tanya Ana dengan nada bergetar.
"Maaf, Nona... kami sudah melakukan semaksimal mungkin... Dia mengalami pendarahan hebat di nadi leher dan pergelangan kakinya... Ia meninggal dunia karena serangan jantung..." jelas dokter itu hati-hati.
"Tolong di catat jam dan tanggal kematiannya..." ujar dokter itu pada asisten perawatnya.
"Apa yang kau katakan?? Kau tidak melakukan apapun dan ingin mengumumkan kematiannya??!!!" hardik Ana murka mencengkram kerah dokter itu.
Lucas dan Louis segera merangkul Ana. Menahan tubuhnya yang berontak.
"Lepaskan aku !!!!" tepis Ana kuat segera mendekati Jane. Ia segera melakukan CPR pada tubuh Jane yang sudah tak bernyawa. Ia terus melakukan CPR tanpa henti dengan tangisan yang pecah.
"Ana..." seru Lucas lirih berusaha menyadarkan adiknya.
"Kita harus mengikhlaskannya..."
"Tidak... Kami akan pergi makan malam bersama... Dia tidak bisa melakukan ini padaku... Dia selalu berpura-pura... Aku yakin dia sedang menipuku..." tukas Ana menangis masih terus melakukan CPR.
Louis menyentuh pundak Ana lembut.
"Ana... Sadarlah..." ucap Louis lirih.
"Dia sudah pergi..." ucapnya lagi.
Ana menghentikan tangannya. Tangannya yang terkena darah Jane bergetar hebat.
"Jane... Sadarlah... Jane... Aku mohon jangan lakukan ini padaku..." isak Ana menangis tertahan.
"Jane... Aku mohon..."
Sontak tangis Ana pecah. Ia menangis meraung, meratap kematian Jane. Ia memeluk tubuh itu terus meratap.
"Jane !!!!" pekik Ana keras dalam tangisnya. Ana terus meraung keras. Ia terus menangis tanpa henti. Meratapi tubuh yang tak lagi bernyawa. Meratapi kepergian Jane untuk selamanya.
__ADS_1