
Setibanya di rumah Albert segera menemui istrinya yang baru saja menidurkan buah hati mereka.
"Apa ini?" tanya istirnya saat Albert menyodorkan 2 buah totebag besar itu.
"Dari Ana.."
"Semuanya barang-barang bermerk mahal.. apa tidak apa-apa jika kita menerimanya?" imbuh istrinya ragu.
"Coba saja.. dia sudah lama membelikannya.."
"Bukankah kalian sudah lama tidak berkomunikasi? Dia juga sudah meninggalkan negara ini kan?"
"Hmm.." angguk Albert tanpa bergeming.
"Ini tampaknya untukmu.." ujar istrinya saat melihat jika totebag yang satunya berisi pakaian pria.
Terakhir kali ia bertemu Ana saat menolongnya dari penangkapan klien Jane yang melakukan perdagangan manusia di pelabuhan, ia bahkan tidak sempat berbicara dengan Ana, karena Ana di rawat di rumah sakit, ia hanya bertemu dengan Jane yang mewakilakan Ana untuk datang ke kantor polisi waktu itu.
Ia kemudian segera meraih totebag itu dan masuk ke kamarnya. Ia melihat ke dalam totebag itu, saat mengeluarkan dua buah kemeja, tiba-tiba sebuah amplop putih terjatuh dari dalam lipatannya.
Albert meraih amplop itu, membukanya, dan mendapati sebuah buku tabungan dan surat. Albert membuka surat itu perlahan, dan membacanya dengan seksama.
Dear Lucas,
Maaf jika aku selalu menyulitkanmu dan membuatmu khawatir.
Aku tidak ingin membebanimu dengan kehadiranku kini.
Aku tidak ingin membahayakan keluargamu kak.
Setidaknya terimalah ini, aku melakukannya dengan sangat tulus, ini hanya hadiah kecil untuk anakmu, keponakanku..
__ADS_1
Aku berharap kita bisa menjadi keluarga seutuhnya suatu hari nanti, namun hidupku kini sangatlah kacau..
Berada di sekitarku hanya akan memberi luka padamu dan keluarga kecilmu..
Aku berharap keponakanku akan menjadi orang hebat dan baik seperti dirimu..
Hanya satu keinginanku..
Aku hanya ingin di kenang sebagai adikmu..
Dan aku berharap keponakanku akan selalu mengingatku sebagai auntynya..
Berbahagialah kakakku..
Seketika air mata Albert mengalir deras, ia menangis tersedu-sedu di kamarnya, ia merasa bersalah pada Ana, seharusnya ia menjadi kakaknya yang baik, tidak takut pada ancaman apapun karena ia seorang polisi, bahkan Jane ternyata sosok yang di luar dugaan, Jane selalu menakuti dan mengancamnya karena Jane takut kalau Albert akan menyakiti Ana atas perintah Layla. Mereka selama ini terjebak dalam kesalahpahaman dan permainan licik Layla.
Jane memang memisahkan mereka, namun Layla juga penyebab mereka terpisah. Albert meremas surat kecil itu dengan rasa sakit pada dadanya. Ia sangat bersalah pada adik kecilnya. Bahkan ia tidak menyangka Ana akan sangat menderita selama hidupnya. Ia memang hidup bergelimang harta, namun ia tidak pernah bahagia, karena ia selalu saja memecahkan potongan kecil setiap kehidupannya yang baru saja ia temukan dan kumpulkan. Ia selalu kehilangan sesuatu yang sudah lama ia nanti.
Berawal dari Layla yang ia selalu cari dan tunggu, ternyata dialah yang menjadi dalang dari kegelapan masa kecilnya, bahkan dia juga yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya. Kemudian Lucas, Lucas selalu bersikap mati ketakutan dan justru memperlakukan Ana seperti kriminal yang mengancam kehidupan barunya.
***
Pak Kim ternyata menemukan totebag itu di mobil Ana, sesaat sebelum Jane memutuskan untuk menjual apartment dan mobil Ana, Pak Kim membersihkan mobil Ana dari semua barang-barangnya. Di bagasi ia menemukan totebag oleh-oleh itu, saat menemukan amplop di dalam totebag itulah Pak Kim tau jika itu untuk Albert kakaknya. Pak Kim menyimpannya cukup lama, ia bahkan hampir melupakannya, bahkan saat bertemu di kantor polisi ia tidak teringat lagi dengan totebag itu, karena yang ada di pikirannya hanya keselamatan Ana, setelah pertemuannya dengan Albert di kantor tadi membuatnya teringat kembali dengan itu.
Ana benar-benar sangat matang dan teliti dalam hal apapun. Ia benar-benar menata hidupnya dengan sedemikian rupa meski tetap saja berantakan dan dipenuhi dengan tragedi.
Bahkan Pak Kim ternyata belum menjual apartment Ana, ia memberikan uang pribadinya pada Jane dengan mengatakan jika apartment itu telah laku. Ia hanya menjual semua mobil Ana, bahkan Jane juga menjual semua mobil di mansion termasuk mobil mahal pemberiannya itu. Ia hanya menyisakan mansion beserta barang-barang di dalamnya.
Jauh di lubuk hatinya, ia benar-benar berharap Ana kembali. Bahkan harapannya semakin besar setelah ia mendapat telepon dari Ana.
***
__ADS_1
Ana mengutak-atik laptopnya. Ia membuka akun bank rahasianya, yang hanya ia yang mengetahuinya. Ternyata uangnya disana masih ada cukup banyak. Aku bank itu ia buka saat masih ada di negara L, ayahnya lah yang mengajari Ana tentang kenapa harus memiliki dana gelap ketika membuka usaha atau bisnis yang cukup besar. Itu akan berguna saat kita terpuruk dalam kebangkrutan, kita tidak pernah bisa menebak masa depan saat berbisnis.
Bisa saja satu jam kemudian kita jatuh miskin, bisa juga kuta bertambah kaya, semua itu tidak ada yang tau, itu sebabnya kita harus punya uang simpanan yang sangat rahasia. Tentu kita juga harus meninggalkan surat wasiat disana, kalau-kalau kita meninggal dunia. Dan Ana meninggalkan wasiatnya untuk Layla. Untung saja dia tidak jadi mati, kalau tidak, Layla akan sangat di untungkan dengan uang yang berjumlah besar itu.
***
Saat makan malam Albert tampak lesu. Ia bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali.
"Apa kau baik-baik saja Sayang?" tanya istrinya cemas.
"Menurutmu.. apa yang harus aku lakukan?"
"Apa ini soal Adikmu Ana?" tebak istrinya.
"Aku membuatnya menjauh dariku.. tapi.. dia masih terus melimpahkan kasih sayang dan perhatiannya padaku.. bahkan pada anak kita.."
"Itu karena dia tulus sayang.. dia selalu tulus menganggapmu sebagai kakaknya.. bahkan aku melihat ketulusan dan kebahagiaan di matanya saat pertama kali bertemu aku dan anak kita.."
"Aku merasa bersalah dan kasihan padanya.." isak Albert kembali pecah, ia menangis sesenggukan sambil menunduk.
"Apa ayah baik-baik saja?" tanya Elena memperhatikan ayahnya yang sedang menangis.
"Hmm.. ayah hanya sedang merindukan adikku.." angguk Albert cepat terisak.
"Apa aunty Ana baik-baik saja? dia sangat baik padaku.. di memberikan mainan yang sangat besar dan bagus padaku.. Apa aku boleh mengundangnya di acara ulang tahunku nanti?" tanya Elena polos.
"Hmm.. tentu saja sayang.. ayah akan mengundangnya ke pesta ulang tahunmu.. karena dia adalah keluarga kita.."
"Horee !! aku akan menuliskan undangan untuknya.." seru Elena semangat.
"Buat yang cantik ya.." imbuh ibunya membelai hangat kepalanya.
__ADS_1
"Tentu saja.. aku sangat menyukai aunty Ana.. dia sangat cantik seperti bidadari.. saat besar nanti aku ingin menjadi sepertinya.. menjadi wanita yang cantik dan baik hati.."
"Hmm.. tentu saja.." angguk Albert setuju.