
Pantulan cahaya menyilaukan mata Ana. Suara bising dari luar kamar mengusik tidurnya. Ia tampak menguap beberapa kali hingga matanya kini terbuka lebar. Di pandangnya langit langit kamar yang sangat asing itu. Dia lalu segera bangkit menyebar pandangannya ke sekeliling. Kamar itu tertata rapi dan tampak sangat sederhana. Ana meraih ponselnya yang terletak di atas meja, tampak di layar ponselnya menunjukkan pukul 7 malam. Ternyata sinyal ponselnya ia matikan sejak siang tadi, pantas saja ia tak mendapat gangguan dari siapapun terutama dari nenek sihir itu. Kalau tidak, tiap sebentar dia akan menelepon Ana.
Suara gaduh di luar kamar membuat Ana semakin terusik dan penasaran, ia bangkit dari tempat tidur dengan kepala yang terasa berat. Saat membuka pintu kamar, betapa terkejutnya dia melihat pemandangan itu.
Ia melihat seorang pria paruh baya, seorang gadis remaja, sosok wanita yang baru saja ia temui dan seorang pria tampan yang dengan tanpa sadar memang sedang dia rindukan.
Cukup lama berdiri membatu di depan pintu, membuat Ana kini benar benar tersadar dimana ia sekarang berada.
Louis tersadar jika Ana sedang berdiri di depan pintu kamarnya lalu melihat Ana dengan tatapan hangat, jantung Ana berdetak tak karuan. Ibu Louis yang juga sadar jika Ana sudah bangun segera menghampiri Ana, mengajaknya segera bergabung ke meja makan, untuk makan malam bersama. Ana yang masih tercengang hanya mengikutinya saja.
"Suatu kehormatan bagi kami anda bergabung bersama kami disini Ms.Grey.." sapa Ayah Louis sopan.
Ana yang masih kebingungan hanya tercengang tanpa berkomentar apapun. Louis menuangkan minum ke gelas Ana.
"Minumlah agar kau segera sadar.." ujarnya tersenyum.
Ana segera meminum airnya perlahan.
"Ma..maaf aku sudah tidak sopan.. tapi.. dimana aku sekarang??" Tanya Ana dengan nada hati-hati mencoba meyakinkan dirinya jika ia tidak sedang bermimpi.
"Kau sedang berada di rumah kami Ms.Grey.." jawab Ibu Louis hangat.
"Ba..bagaimana aku bisa ada disini?" Tanya Ana lagi masih bingung.
"Tenang saja.. kami tidak sedang menculikmu.. siang tadi kau sangat mabuk dan tidak sadarkan diri.. ibu ku bingung harus apa dan segera meneleponku.. mau tidak mau aku harus segera datang.. apa kau tau betapa sibuknya aku sekarang??" Gerutu Louis dengan nada lucu.
"Tapi bukankah kau juga sangat kegirangan ketika aku mengatakan bahwa Ana sedang bersamaku??" Celetuk Ibu Louis menggodanya.
Ana hanya tersipu malu dan mengangguk mengerti situasinya sekarang.
"Aku juga sudah menelepon Bibi Layla kalau sekarang kau ada dirumahku.. dia terdengar sangat khawatir.." tambah Louis lagi.
"Terima kasih.. Maaf.. aku sudah sangat merepotkan.." Ana tampak menundukkan kepalanya beberapa kali dengan perasaan tidak enak.
"Bukan masalah.. kami justru sangat senang anda berada disini bersama kami.." timpal Ayah Louis girang tanpa rasa keberatan.
"Makanlah.. nanti keburu dingin.. aku membuatkan sup pengar untukmu.." seru Ibu Louis menyodorkan mangkuk sup pada Ana.
Ana hanya mengangguk sungkan sambil perlahan menyantap makanannya.
Mereka makan malam dengan tenang, sesekali Ayah dan adik Louis membuat lelucon yang membuat mereka tertawa girang bersama.
Ana memperhatikan kebahagiaan dan kehangatan di keluarga Louis yang sangat di inginkannya selama ini.
Dulu Thommas memang sangat menyayanginya, namun mereka sangat jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan Thommas sendiri dan lain hal yang memang karena Nayra sang ibu angkat begitu membatasi kedekatan Ana dan Thommas, walaupun begitu dia tetap bersikap baik dan ramah pada Ana.
***
Kini mereka duduk bersama di ruang keluarga, Louis tampak sedang memotong beberapa buah apel segar. Lalu sesekali menyodorkannya pada Ana maupun Ibunya bergantian.
__ADS_1
"Kakak.. bolehkah aku memanggilmu kakak?" Tanya Irene adik Louis tiba tiba mendekati Ana yang sedang menikmati apelnya.
"Hei.. apa yang kau katakan? Sangat tidak sopan sekali.." timpal Ayahnya menegur Irene tegas.
"Ah.. tidak apa apa Paman.." geleng Ana cepat. "Tentu..tentu kau boleh memanggilku kakak.. lagipula aku tidak memiliki seorang adik.." angguk Ana tersenyum.
"Kalau begitu kau boleh memanggilku Ibu dan memanggil suamiku Ayah.." sahut Ibu Louis tersenyum.
Ana hanya tercengang kaget. "Ah.. itu tidak perlu Bi.." angguk Ana terkekeh salah tingkah.
"Tidak perlu sungkan.. sekarang kau sudah menjadi bagian keluarga kami.." imbuh Ibu Louis mengusap punggung Ana lembut.
"Lalu bagaimana denganku?? Kau akan memanggilku apa?" Celetuk Louis tak mau kalah.
"Kau ini tidak mau kalah kak.." ledek Irene mengejek.
"Kalian tidak adil sekali.." gerutu Louis kesal.
Drrt..drrt..
Getar ponsel Ana mengalihkan pandangannya. Dilihatnya layar ponselnya dengan malas.
Ia lalu melihat bergantian ke arah Louis dan orang tua Louis.
"Maaf.. aku harus mengangkat teleponku sebentar.." izin Ana sungkan.
Ia sangat senang Ana berada bersama mereka.
Ana keluar menuju teras depan rumah.
"Halo.."
"Kau kemana saja? Aku mencoba menghubungimu ratusan kali.." gerutu seseorang dari sebrang.
"Aku sedang tidak enak badan.."
"Apa ingin aku teleponkan dokter?" Timpal Jane dengan nada datar.
"Jangan pedulikan aku.. ada apa?"
"Tentu saja aku peduli.. karena kau adalah aset penting bagiku.. aku sekarang sedang menuju mansion.. aku akan mengantarkan beberapa pakaian.. pakailah salah satunya untuk acara ulang tahunmu nanti.."
"Ulang tahunku??"
"Iya.. dua hari lagi.. aku berencana membuat pesta kecil kecilan di GC hotel.. aku sudah mengundang beberapa kolega penting.. jadi pastikan kau sehat sehat saja hingga acara itu tiba.."
"Tapi aku sekarang tidak di mansion.."
"Aku tau.." jawabnya singkat.
__ADS_1
"Kau tau?? Apa kau juga membuntuti ku??" Celetuk Ana kaget.
"Pokoknya pastikan kau hadir Ana.." Jane lalu segera mematikan panggilannya tanpa mendengar omelan Ana yang akan sangat panjang.
"Shittt !!" Gumam Ana lirih dengan kesal.
Tiba tiba seseorang memasangkan sweater ke pundak Ana dan mengagetkannya.
"Disini sangat dingin.." imbuh Louis lirih.
"Maaf aku merepotkan keluargamu.."
"Tidak.. mereka justru sangat senang kau ada disini.."
"Apa aku melakukan kesalahan saat tidak sadarkan diri?" Tanya Ana dengan nada khawatir.
"Jangan coba coba mengingatnya.. kau akan menyesal.." Louis berkata meniru kata kata Ana seperti waktu itu saat ia mabuk berat.
"Kau mengejekku?" Tukas Ana kesal.
Louis tertawa geli. Sementara Ana tampak memeriksa tiap saku longcoatnya yang memang sejak daritadi ia kenakan. Bahkan saat ia tidur dan makan malam, karena cuaca memang mulai semakin dingin.
"Kau mencari ini??" Louis menyodorkan bungkus rokok dan pemantik Ana.
"Bagaimana bisa ada padamu?" Tanya Ana segera mengambilnya.
"Kau ingin ibuku khawatir soal ini??"
Ana hanya cepat menggeleng. "Terima kasih.."
"Kenapa kau tidak membalas pesanku atau mengangkat teleponku??" Tanya Ana memulai percakapan mereka dengan serius.
"Hmm.. aku sangat sibuk.. maaf.." jawab Louis bohong, padahal ia merasa sedikit kesal pada Ana karena melihatnya di peluk pria asing waktu itu.
Bahkan siang tadi saat ibunya menelepon memberitahu bahwa Ana sedang berada di restoran mereka, Louis awalnya enggan untuk menemuinya, walau hatinya merasa senang Ana sedang bersama ibunya. Namun ketika Ibunya bercerita tentang bagaimana kondisi Ana, dia langsung menyelesaikan pekerjaannya, minta izin pada Pak Dong dan segera pergi meninggalkan pekerjaannya yang lain.
Dan benar saja, saat tiba di restoran, ia melihat Ana sudah tak sadarkan diri tertunduk di atas meja, matanya terlihat sembab karena habis menangis cukup lama. Ibunya memberitahukan Louis tentang Ana, dan memintanya bersikap seakan akan ia tidak tau apa apa, agar Ana tidak merasa terbebani.
Saat itu mau tidak mau ia menggendong Ana masuk ke mobil diikuti ibunya yang mengendarai mobil Ana, lagipula mereka takut meninggalkan mobil mahal Ana di restoran, lalu segera membawa Ana pulang ke rumah mereka, ibunya meminta Ana untuk di tidurkan di kamar Louis, di kamar Louis lah yang paling rapi dan bersih karena sangat jarang di tempati. Ana di tidurkan disana dan segera di selimuti Louis, Louis menatap wajah polos Ana yang tanpa polesan make-up itu, cantiknya benar benar natural. Ia merasa iba mendengar cerita ibunya. Ia tidak menyangka Ana merasa sangat kesepian dan menderita saat ini, meski ia terlihat baik baik saja.
"Jane akan mengadakan pesta di GC Hotel, maukah kau hadir?" Pinta Ana lirih tanpa mengatakan bahwa itu pesta ulang tahunnya.
"Kalian sudah lebih akur sekarang??" Tanya Louis heran. "Apa kalian sudah berbaikan??"
"Tidak.. ini hanya karena beberapa alasan saja.." elak Ana enggan membenarkan, karena ia memang terpaksa berbaikan dengan Jane.
"Aku akan memeriksa jadwalku dulu.."
"Baiklah.. kabari aku.." angguk Ana mengerti.
__ADS_1