
Setibanya di depan lobi apartment, berbarengan dengan keluarnya pengawal Jane yang telah membersihkan kamar apartment nya.
"Semua sudah beres Nyonya.." seru salah seorang pengawalnya.
"Baiklah.. ayo pergi.." sahut Jane.
"Terima kasih bantuannya.." gumam Ana bersiap turun dari mobil Jane.
"Kau yakin tidak ingin kerumah sakit??"
"Hmm.. Aku baik-baik saja.." angguk Ana segera kekuar dari mobil.
Jane melihat sosok yang ia kenal dari kaca spion mobilnya, pria itu tampak keluar dari sebuah mobil van yang tengah berhenti tepat di belakang mobil mereka dengan wajah lesu. Jane tampak segera merogoh dashboar mobilnya, mengeluarkan kotak p3k, lalu keluar dari dalam mobilnya menyusul Ana.
"Lihatlah wajahmu.. kau seperti habis di pukuli orang satu kampung !!" seru Jane tiba-tiba mengagetkan Ana.
"Kau kenapa??" tanyanya bingung, lalu tersadar jika Louis tengah jalan menuju pintu lobi dimana mereka tengah berdiri. Ana berusaha bersembunyi namun Jane menahan tangannya keras.
"Astaga !! Lihatlah wajah cantik ini babak belur.. Kau harus berhati-hati.. Bagaimana bisa kau terluka seperti ini.." seru Jane keras membuat Louis mendengar ucapan Jane.
Louis mengintip, mencondongkan badannya ke samping dan mendapati wajah Ana tampak bengkak dan memar.
"A..apa yang terjadi?? Kenapa wajahmu seperti ini??" seru Louis kaget.
__ADS_1
Ana hanya terbata, ia menghela nafas mengusap kepalanya dengan kesal. Jane tampak mengedip-kedipkan matanya pada Ana sambil tersenyum genit.
"****.." umpat Ana tanpa seraya sambil melotot pada Jane.
"Kau kenapa??" tanya Louis segera menyadarkan keduanya.
"Dia terjatuh dari tangga, dia hari ini sedang berbenah, jadi tengah mengangkat barang lewat tangga darurat, tapi dia justru tergelincir.." jelas Jane bohong.
Louis menangkup kedua rahang Ana lembut, memperhatikan setiap titik wajah Ana dengan penuh kekhawatiran.
Ana menepis kedua tangan Louis keras.
"Aku baik-baik saja.." tukas Ana dingin segera masuk ke dalam.
"Lou !! Bisakah kau tolong merawatkan lukanya?? Aku harus pergi sekarang.." timpal Jane menyodorkan kotak p3k nya pada Louis.
"Singgahlah ke rumahku.. Aku akan mengobati lukamu.." seru Louis lirih.
"Tidak perlu.. Aku bisa merawatnya sendiri.."
Mereka segera masuk ke dalam lift bersamaan. Mereka tak saling berbicara satu sama lain hingga tiba di lantai atas. Saat keluar Ana masih tak bergeming, hingga ia tiba di depan pintu apartment nya, sebelum ia membuka pintu itu Louis segera memanggilnya.
"Ana.." serunya.
__ADS_1
Ana menoleh pada Louis, kemudian tiba-tiba ia menyodorkan kotak p3k itu pada Ana.
"Tolong pegangi ini.." serunya.
Sontak Louis segera menggendong Ana, mengangkat tubuh Ana ke atas pundaknya, membawanya masuk ke dalam apartmentnya yang telah terbuka, bahkan Ana tidak sadar kapan ia membuka pintu itu.
"Hei !!! Turunkan aku !!" pekik Ana berontak.
Louis segera menutup pintu lalu menguncinya, serta mencabut kunci itu dan menyimpannya ke dalam saku celananya. Kemudian ia segera menurunkan Ana.
Ana tampak memegangi pinggangnya dan sedikit meringis.
"Pinggangmu terluka??" tanya Louis yang memperhatikan mimik wajah Ana yang tampak kesakitan.
"Aku tidak apa-apa !!" tukas Ana tegas.
Louis lagi-lagi tak memperdulikannya. Ia segera mengangkat kaos hitam yang di kenakan Ana hingga tubuh penuh tatonya terlihat.
Ana berusaha menepis tangan Louis, "Apa yang kau lakukan??" Ana segera menutup tubuhnya, menurukan kaosnya.
"Bukankah kita sudah melihat semuanya satu sama lain?? Aku hanya ingin memeriksa pinggangmu.." celetuk Louis terdengar sedikit membentak. Louis tampak terengah, wajahnya memerah, matanya berkaca-kaca. Ketakutan dan kekhawatiran menyelimuti wajahnya.
"Biarkan aku memeriksanya.." pinta Louis menarik nafas dalam-dalam dan berbicara lembut.
__ADS_1
Ana hanya menghela nafas keras, lalu ia segera melepas kaosnya, menjatuhkannya ke atas lantai. Kini ia hanya mengenakan bra-nya. Louis tertegun, ia menelan salivanya dengan gugup.
"Periksalah.. Agar aku bisa segera pulang.." gumam Ana pada Louis yang termenung.