
Seketika semua ingatannya kembali secara bersamaan, ia bahkan mengingat bagaimana Ana mendapatkan luka di telapak tangannya, luka yang ia dapat saat hendak menyelamatkan Louis. Lalu ia dapat mengingat kembali semua kenangan mereka bersama, bahkan perpisahan mereka.
Louis membuka matanya perlahan, ia melihat sekeliling, ia merasakan kehangatan pada tangannya, di liriknya ke arah sana, ternyata Ana tengah menggenggam erat tangan Louis sambil tertidur dengan posisi duduk di lantai. Louis tengah berbaring di atas sofa, sementara Ana duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya ke sisi tubuh Louis.
Louis menitikkan air matanya, ia mengusap lembut wajah pucat Ana. Ana pun terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun?? Aku kaget sekali kau tiba-tiba pingsan.." omel Ana khawatir.
"Apa kau khawatir padaku??" tanya Louis lirih.
"Tidak.." geleng Ana cepat segera bangkit, namun genggaman tangan mereka masih saling berpegangan erat. Ana berusaha melepaskan genggaman itu, namun Louis menepisnya.
"Aku ingin menikah denganmu.." gumam Louis menatap Ana intens.
Ana tertegun, ia bahkan tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Menikahlah denganku.." pintanya lirih.
Ana mengarahkan tangannya perlahan ke arah wajah Louis, menuju pipinya, namun, tangan itu ternyata justru mendarat di dahi Louis.
"Apa kau demam? Kau sakit?? Aku yang sedang stres berat tapi kau yang menjadi gila.." tukas Ana menepis genggaman tangan mereka.
"Aku serius.."
__ADS_1
"Sudah ku katakan, kita tidak punya masa depan apapun.. Jangan menaruh harapan apapun padaku.. Apa karena kita tidur bersama?? Aku akui itu hal yang sangat luar biasa.. Tapi.. Bukankah hal seperti itu biasa terjadi.. Kita sama sama sudah dewasa, hal seperti itu bisa saja terjadi kapan saja tanpa di sangka-sangka, tapi.. Bukam bearti aku akan menikah denganmu.." celetuk Ana tegas.
Louis terdiam.
"Aku akan tidur di kamar tamu.." gumam Louis lirih.
"Jika kau tidur disana, maka aku akan pergi ke hotel.." ancam Ana membentak.
"Apa kau tidak bisa memikirkan perasaanku sedikit saja?? Kau memperjelas batas di antara kita, kau tak ingin memiliki hubungan apapun denganku, tapi kau meminta untuk tidur bersamaku??" tukas Louis marah. "Kau egois sekali !!"
"Baiklah.." angguk Ana cepat.
"Ba..baik apanya??" tanya Louis gugup.
"Jika kau keluar dari apartment ini.. Maka semuanya akan berakhir.." ancam Louis.
"Baiklah.. Mari kita akhiri saja semuanya.." angguk Ana setuju. Louis justru tak menyangka jika Ana justru menyetujui hal itu.
Ana menepis keras pegangan Louis, lalu ia segera pergi meninggalkan Louis.
...----------------...
Layla memperhatikan setiap ruang rawat di Grey Hospital. Ia melakukan praktek ilegal, memperdagangkan jual beli organ. Mereka akan melakukan hal itu pada 70% jenazah yang di nyatakan terkena penyakit kronis. Sebagian besar pasien memang mengalami kerusakan organ, tapi banyak juga yang memiliki organ lain dengan kondisi sehat dan bagus.
__ADS_1
Layla tengah berdiri dengan seorang perawat handal yang selama ini membantu Layla menjalankan aksinya.
"apa kabar terbaru soal Ana??"
"Sepertinya ia sedang menyelidiki tempat ini, ia juga tampak sering bersama Nyonya besar Jane.. Sebelumnya ia bertemu seorang detektif dari kantor polisi pusat.." jelas wanita itu detail.
"Bagaimana proses pemeriksaannya di kejaksaan??"
"Mereka membebaskannya, Nyonya Jane punya koneksi bagus di kementrian.. Dia lolos dengan mudah.."
"Hanya seekor kucing yang memiliki banyak nyawa dan keberuntungan.. Tapi mereka hanyalah kucing liar yang akan mati dengan mudah di tanganku.. Kucing bisa selamat meski jatuh dari atas gedung, asalkan mereka mendarat dengan kaki mereka.. Bagaimana jika kita memotong kakinya?? Apa menurutmu mereka dapat selamat??" ujar Layla sinis menatap ke arah perawat itu.
"Ana lawan yang sangat kuat, bahkan ia di lindungi sangat baik oleh Nyonya besar Jane.. Bukankah kita harus memutus koneksi mereka??" ujar perawat itu memberi ide.
"Jangan buang-buang tenaga dan uang untuk menyuap para koruptor itu.. Kita cukup menyerang kelemahan mereka.." timpal Layla seraya menyuntikkan narkotik* ke pembuluh darah tangannya. Ia tampak teleng dan teler. Lalu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila yang tak sadarkan diri.
"Aku akan membunuh mereka, dan merampas semuanya.. Sudah sangat lama aku menantikan saat-saat ini.. Aku tidak akan tinggal diam.." gumamnya lagi sambil menggeram.
Perawat itu tak bergeming sedikitpun. Ia hanya berdiri di sisi Layla serambi memperhatikan setiap pasien yang mengantri untuk bedah organ.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)
__ADS_1