Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 77 : Lagi??!


__ADS_3

Pukul 5 pagi Ana sudah bersiap-siap, ia segera membawa barang-barangnya menuju pintu keluar, namun ia terhenti ketika melihat sosok berpakaian tertutup sedang berjongkok di lorong apartment, sosok itu tidak bisa di kenali Ana, ia tampak memakai topi, masker, dan longcoat tebal.


Ana segera mengeluarkan senjata apinya dari saku dalam longcoat nya.


Ia membuka pintu itu perlahan, mengintip keluar sambil berusaha membidik orang itu.


"Kau sudah mau berangkat??" Seru sosok pria itu mengagetkan Ana.


"Lou??" Tebak Ana sontak mengeluarkan pistolnya.


"Tentu saja ini aku.. wah.. kau sampai mengeluarkan pistolmu.." gerutu Louis tercengang melihat reaksi berlebihan Ana.


"Kau jangan lagi berpakaian seperti ini.. lagi lagi aku hampir melukaimu.." seru Ana lega.


"Maaf.." ujar Louis segera membuka topi dan maskernya.


"Kau sudah mau berangkat?? Mari aku antar.." serunya segera membawa koper dan tas Ana.


"Tidak perlu.. aku akan bawa mobil sendiri.. apa kau tidak ada kesibukan lain??"


"Apa kau lupa? Kau sudah membuatku bercuti panjang.. aku benar benar luang sekarang dan sangat bosan.. aku akan mengantarmu.. setelah itu aku berencana bertemu Pak Dong untuk memotong cutiku.. aku rindu sekali bekerja.."


"Baiklah.." jawab Ana singkat mengikuti langkah Louis menuju lift.


"Kau sudah membawa obat-obatmu??"


"Tentu.."


"Kau sudah membawa perlengkapan senjatamu?? Untuk berjaga jaga.."


"Tentu saja.. makanya aku memilih menggunakan jet pribadi agar aku bisa membawa senjataku.."


"Kau harus menjaga dirimu baik baik.."


"Aku tau.. kau juga harus berhati hati selama aku tidak ada.."


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu.. kau harus berhati hati karena aku tidak bisa melindungimu selama kau ada disana.."


"Cih.. bahkan kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri.." gumam Ana mengejek.


"Aku akan berusaha lebih baik lagi.. aku akan belajar menembak dan berkelahi.. aku dapat skor tinggi waktu latihan menembak saat wamil.." jelas Louis percaya diri.


"Berusahalah untuk melindungi dirimu sendiri dulu.. baru melindungi orang lain.." tukas Ana.


"Dan sebaiknya kau juga berhenti melompat ke dalam lubang api untuk menolong orang lain keluar dari lubang api tersebut.. kau selalu saja membahayakan dirimu sendiri.."

__ADS_1


"Aku tidak punya hal apapun lagi untuk aku lindungi.. jadi jika harus mengorbankan nyawaku untuk menolong orang lain, itu lebih berarti bagiku.."


Deg..


Louis tertegun mendengar jawaban Ana yang terdengar sangat menyedihkan.


Mereka segera keluar dari lift dan masuk ke mobil Louis yang ada di basement, mereka saling berdiam diri selama perjalanan menuju bandara.


Louis tampak merogoh saku longcoat nya mengeluarkan beberapa bungkus permen coklat.


"Makanlah ini.. biar kau merasa lebih tenang.." ujar Louis menyodorkan permen coklat itu pada Ana.


"Kau pikir aku anak kecil??" Gerutu Ana sinis.


"Kau pikir permen hanya untuk anak anak?? Yasudah kalau tidak mau.." tukas Louis ingin segera menyimpan permen itu kembali, namun Ana segera menahan tangannya dan mengambil semua permen itu tanpa berkomentar.


Louis hanya tersenyum melihat tingkah Ana.


"Andai saja aku bisa ikut kesana.. lumayan bisa sambil liburan.. aku tidak pernah ke negara bagian eropa sana.. aku baru sampai ke amerika karena ada shooting iklan.."


"Mari kita pergi keliling eropa bersama lain waktu.." ajak Ana lirih.


"Benarkah?? Baiklah.. mari kita pergi liburan bersama.." seru Louis menimpali dengan semangat.


"Aku ingin membawamu ke sebuah pantai favorit ku dari dulu.." ujar Ana tersenyum membayangkan suasana pantai itu.


"Tentu saja.. aku tidak pernah mengingkari janjiku.."


"Kau harus segera kembali.." celetuk Louis terdengar merengek.


"Bahkan aku belum pergi.." gumam Ana lirih.


"Pokoknya kau harus cepat kembali.." tukas Louis tegas.


"Baiklah.." jawab Ana pelan.


Selama perjalanan Ana tertidur karena kurang tidur, sejak setelah makan malam ia masih harus bolak balik muntah bercampur darah, ia juga masih harus bergadang mempersiapkan semua berkas kerjanya sehingga ia hanya tidur selama sejam, ditambah jarak perjalanan dari apartment ke bandara memang cukup jauh.


****


Bayangan pria tua di panti asuhan itu selalu hadir dalam mimpi buruk Ana, dan bahkan kini ada sosok Layla dan Franz disana. Mereka telah mengikat kedua tangan Jane dan Louis, lalu menggantung mereka dengan kondisi tubuh berlumuran darah.


Ana berusaha keras menolong mereka, namun sekujur tubuhnya terikat kuat di sebuah kursi kayu.


Ana terus berteriak memohon agar Jane dan Louis di bebaskan. Ana terus berusaha membebaskan dirinya, berontak sekuat tenaga dan terus berupaya keras untuk melepaskan diri.

__ADS_1


Jane dan Louis menatap Ana dengan kondisi sekarat. Mata Louis berkaca kaca terus memanggil nama Ana lirih.


"Ana.. Ana.." samar samar suara Louis yang terdengar sangat pelan kini terdengar semakin jelas memanggil namanya.


Deg !!


Mata Ana terbelalak, nafasnya memburu, keringat mengucur dari dahinya, wajahnya pucat pasi, Ana melihat ke arah sekeliling, ternyata ia sudah tiba di parkiran bandara.


"Kau baik baik saja??" Tanya Louis panik yang sejak tadi berusaha membangunkan Ana dari mimpi buruknya.


Ana tampak linglung, marah, ketakutan, dan sedih. Bibirnya bergetar. Bola matanya berputar kesana kemari seakan ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu benar benar hanya mimpi buruk.


Louis menggenggam tangan Ana hangat, berusaha menenangkannya.


"Bernafaslah perlahan.. kau pasti mimpi buruk lagi.." ujarnya lagi berusaha menenangkan Ana.


Tiba tiba Ana memeluk Louis erat dan semakin erat, nafasnya yang memburu perlahan mulai teratur. Louis memberanikan diri membalas pelukan Ana dan mengusap punggungnya perlahan. Ia berusaha menengkan Ana. Setelah beberapa menit mereka berpelukan, lalu Ana melonggarkan pelukannya dan menjaga jarak perlahan, namun Louis menahan kedua lengan mungil Ana yang berotot. Ia menatap Ana lekat lekat dan tersenyum sangat manis. Ana tertegun karena hanyut dalam tatapan hangat Louis.


"Jaga dirimu baik baik disana.." gumam Louis lirih.


Entah kenapa kata kata Louis kali ini membuat jantung Ana lagi lagi berdebar tak beraturan. Padahal hanya kata kata biasa namun tatapan tulus Louis lah yang menghanyutkannya.


Tiba tiba saja Ana kehilangan kewarasannya. Ia mengecup singkat bibir mungil Louis. Louis terdiam membatu, ia tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Ana yang salah tingkah dengan perlakuannya sendiri ingin segera kabur keluar dari mobil.


Namun, Louis berhasil mengehentikannya. Ia menarik lengan Ana kuat, hingga wajah mereka sangat dekat. Tak menunggu lama, Louis langsung ******* bibir mungil Ana, mata Ana yang membelalak, tubuhnya yang mematung, hatinya yang berdebar kencang, serta hasrat dan nafsunya yang mencuat malah menerima semua perlakuan Louis.


Louis merangkul punggung Ana hangat, menekan tubuh Ana agar semakin dekat dengannya. Cium*n panas mereka berlangsung cukup lama. Ana menikmati serta tak segan membalas setiap ******n dan kecupan panas dari Louis.


Drrr... drrr..


Getaran ponsel Ana mengagetkan keduanya, Ana menolak dada bidang Louis kuat hingga Louis terdorong menghantam pintu mobil.


"Awww !!" pekiknya kesakitan.


"Ma..maaf.." seru Ana gelagapan. Ia melihat layar ponselnya. Ternyata panggilan itu dari Jane. Bergegas Ana keluar dari mobil.


"Jangan mengantarku.. orang orang pasti banyak yang mengenalimu.." seru Ana dari luar sambil memutar bola matanya menghindari kontak mata dari Louis.


Kemudian Ia tampak segera di hampiri dua orang anak buah Jane yang ternyata sudah menunggunya tak jauh dari gate keberangkatan vip.


Ana segera memerintahkan salah seorang anak buah Jane mengambil barangnya di bagasi mobil Louis, sementara anak buah yang satunya mendampingi langkah cepat Ana menuju gate keberangkatan.


Louis masih membatu, wajahnya merah padam, ia tersipu malu. Bahkan ia tersenyum senyum salah tingkah.


"Apa itu tadi?? Dia sudah tidak menolakku?? Apa itu pertanda baik untukku??" Ia terus berceloteh sambil tertawa kecil dan mengusap kedua pipinya yang terasa panas dan memerah.

__ADS_1


***


__ADS_2