
Ana menenggak wine nya cepat. Ia duduk di balcone kamar hotelnya. Pikirannya tengah kacau. Dadanya terasa sesak seiring dengan beban pikiran yang ia tanggung. Ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul 3 dini hari.
Ia mendapat pesan di ponselnya. Ternyata itu pesan dari kakaknya Lucas.
"Ana.. Ini aku Lucas.. Kau sudah tidur?" tulisnya.
Ana segera membalas pesan itu. "*Hmm.. Aku belum tidur.. Ada apa kak? Apa sudah ada kabar dari tim forensik?"
"Belum.. Mereka masih menyelidikinya.. Akan butuh waktu sedikit lama.."
"Aku harap akan segera selesai.."
"Aku juga.. Apa kau ingin minum bersama? Aku masih di kantor.."
"Sekarang??"
"Iya.. Aku akan menghampirimu.."
"Mari kita bertemu di luar.. ada rekomendasi tempat??"
"Hmm.. Ada.. Tapi aku tidak yakin itu akan cocok dengan seleramu.."
"Tidak apa-apa.. Aku percaya pada seleramu.."
"Baiklah.. Ada kedai tenda pinggir jalan, tak jauh dari GC Hotel.. Aku akan shareloc.."
"Baiklah.. Aku bersiap sekarang.. Pastikan kau memberi tau kakak ipar jika kita akan bertemu, agar ia tidak menunggumu dan salah paham padamu.."
"Baiklah*.."
Setelah obrolan singkat itu, Ana segera bersiap lalu pergi, ia memutuskan untuk berjalan kaki setelah ia menerima shareloc dari Lucas, ternyata jaraknya tidak jauh dari GC Hotel, di tambah karena ia sudah banyak minum, jadi berjalan kaki dan berkeringat akan cepat menghilangkan efek alkoholnya.
Setelah berjalan kaki selama 10 menit, ternyata mereka tiba bersamaan.
"Kau berjalan kaki kemari?"
"Hmm.. Sudah lama aku tidak berolahraga.."
"Bukan karena kau habis minum-minum?" terka Lucas tersenyum.
Ana mencium bau dari kaosnya, ia merasa jika Lucas mencium bau alkohol dari tubuhnya. Lucas hanya tersenyum lebar melihat tingkah polos Ana.
"Apa kau baik-baik saja jika kita duduk disini??" tanya Lucas meyakinkan. Karena tempat itu berada di pinggir jalan, dan hanya berupa tenda transparan yang menjual makanan pinggir jalan dan bir murahan.
"Tentu saja.. Memangnya kenapa? Tempat ini tampak keren.." tukas Ana segera masuk ke dalam dan memilih tempat duduk.
"Kau mau makan apa?"
"Apa saja yang pedas.." jawab Ana tersenyum.
"Baiklah.. Aku pesan dulu.." Lucas tampak memesan beberapa menu.
Mereka hanya saling diam dengan canggung.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" tanya Lucas memulai percakapan.
"Aku baik baik saja.. Bagaimana kabar anak-anakmu?"
"Mereka baik.. Mereka bahkan sering menanyakan tentangmu.. Apa Bibi Ana baik-baik saja? Mereka selalu bertanya seperti itu dengan imut.
"Apa aku boleh mengunjungi mereka lain waktu?"
"Tentu saja.. Mereka keponakanmu.. Mereka keluargamu.." jawab Lucas membuat mata Ana berkaca-kaca.
"Aku akan berkunjung lain waktu.. Aku juga akan segera pindah ke apartment dalam waktu dekat.. Aku akan mengajak mereka main ke apartment ku setelah aku pindah nanti.."
"Tentu saja.. Telepon aku kapan saja.."
Ana menatap Lucas intens dengan hangat. Ia merasa terharu dengan semua perkataan Lucas.
"Maafkan aku pernah berkata kasar padamu.. Aku telah melukai hatimu.."
"Tidak kak.. Jangan berkata seperti itu.. Aku bahkan tidak ingin mengingatnya.. Sekarang aku hanya ingin mengingat semua momen bahagiaku.."
Lucas hanya mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca.
"Sejujurnya aku sangat malu menemuimu seperti ini.. Kau bahkan mengirim banyak uang untukku dan keluargaku.."
"Itu bukan apa-apa.. Aku ingin kakak bahagia bersama keluargamu.. Setidaknya itu juga membuatku sangat bahagia.. Aku akan lebih berhati-hati lagi agar tidak melukai atau membahayakan siapapun lagi.."
"Kau bisa mengubungiku kapanpun saat kau membutuhkan bantuanku Ana.. mulai sekarang.. Aku akan selalu ada untukmu.." ujar Lucas lirih.
"Terima kasih kak.." angguk Ana setuju.
"Bir murahan ini sangat enak.. Bahkan dia bisa membuatku mabuk lebih cepat.. Hahahaha.." ujar Ana tertawa sambil melantur.
"Kau sudah mabuk?" tanya Lucas tertawa melihat Ana.
"Tidak juga.. Tapi aku mulai melihat kau ada dua.." gelengnya berusaha menyadarkan diri.
"Itu artinya kau sudah mabuk.." timpal Lucas terkekeh. "Sudah jangan minum lagi.." ujar Lucas menyingkirkan botol bir milik Ana.
"Jangan singkirkan itu.. Aku masih mau minum.." gerutu Ana tidak jelas.
"Tunggu.. Kau nginap di kamar berapa?? Biar aku tidak kesulitan mengantarmu nanti.."
"Katakan saja namaku.. Mereka nanti akan memberi taumu.." bisik Ana terkekeh.
"Cih.. Kau mau menyombongkan dirimu?" ledek Lucas tertawa geli.
Tiba tiba, ekspresi bahagia Ana berubah menjadi sendu. Matanya tampak berkaca-kaca. lucas yang melihat itu tampak khawatir.
"Ana.. Ada apa? Kenapa kau tampak sedih??" tanyanya khawatir.
"Apa semua akan baik-baik saja?"
"Tentu saja.."
__ADS_1
"Aku takut jika aku akan melakukan kesalahan dan melukai banyak orang.."
"Semua akan baik-baik saja.."
"Aku takut pada kenyataan di depan sana.. Aku takut.. Kebenaran akan membuatku hancur.."
Lucas hanya terdiam, ia melihat kesedihan yang mendalam dalam lamunan Ana.
"Aku.. Aku sangat ketakutan.." matanya berkaca-kaca.
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku.. Kehilangan orang yang aku sayang.."
"Kau tidak akan kehilangan siapapun Ana.." ujar Lucas hangat menenangkan.
"Aguh.. Meghindukannya." gumam Ana tidak jelas.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Aku.. Merindukan Louis.. Kakak tau kan? Pria tampan yang baik hati itu.." gumamnya keras.
"Ah.. Pacarmu?"
"Dia tidak ingat denganku.. Dia mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia.. Sialnya dia hanya melupakan aku.." gerutu Ana berusaha menyadarkan dirinya.
"Aku lihat beritanya.. Itu hanya amnesia sementara.. Dia akan segera mengingatmu.. Kau hanya perlu menggodanya lebih sering.."
"Menggodanya? Melihat wajahnya saja membuatku gemetaran.."
"Mau aku bantu? Agar kalian bisa kembali bersama?"
"Tidak perlu.. Dia juga tengah berkencan dengan artis sial*n itu.."
"Ah.. Bukankah itu hanya skandal biasa? Biar drama mereka mendapat rating yang bagus??"
"Entahlah.. Aku juga berharap itu tidak benar.."
"Ck..ck..ck.. Kau sangat tangguh melawan penjahat.. Tapi menciut di depan Louis.."
"entahlah.. Entah apa yang salah padaku.."
"Itu namanya cinta.." gumam Lucas lirih.
"Aku merasa mual.." gumam Ana meledek.
"Hahaha.. kau harus mengakuinya.. Itu rasa cinta Ana, perasaan yang bisa melemahkanmu.. Membuatmu tak berdaya.."
"Hmm.. Kakak benar.. Aku sering merasa seperti itu saat bersamanya.. Padahal dia sangat lemah dan tidak bisa berkelahi.. Tapi dia bisa membuatku melemah.."
"Aku berdoa semoga kau bisa bahagia bersamanya.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)