Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 139 : Ruang Rahasia


__ADS_3

Ana masuk perlahan ke dalam. Ia meletakkan nampan itu ke atas meja, mengeluarkan pistolnya dari dalam saku. Ia berjalan perlahan mengendap-endap serambi melihat sekeliling.


Namun ternyata kamar itu kosong. Bahkan tidak ada tempat tidur pasien disana. Ana melihat sekeliling, ia segera memeriksa setiap dinding di ruangan itu, ia yakin terdapat pintu rahasia disana.


Ana segera membuka lemari itu, dan benar saja, terdapat sebuah pintu dengan kunci elektronik. Lagi-lagi Ana mencoba membuka kunci pintu itu, dan ternyata berhasil, Ana memperhatikan id card itu dengan seksama, id card itu berbeda dengan kartu lainnya, ada terdapat hologram berbentuk persegi panjang di ujung kartu.


Saat pintu terbuka, suhu ruangan pun jauh berbeda, ruangan itu terasa sangat dingin. Langkah pertama Ana di buat takjub dengan lorong panjang berisi kamar di tiap sisi kiri kanan lorong. Perlahan Ana menelusuri ruangan itu. Ia melihat kesebalik kaca di pintu, ia melihat seorang pria tengah terbaring dengan di pasang banyak selang di sekujur tubuhnya, bahkan ia menggunakan alat bantu pernapasan dan menggunakan robot pemompa jantung.


"....." samar-samar Ana mendengar obrolan dari ujung lorong. Ana segera bersembunyi ke salah satu kamar pasien tersebut. Ia segera bersembunyi disana sambil terus mengintai keluar.


"Lelangnya di undur 1 hari lagi.." ujar seseorang.


"Benarkah?? Untung saja.. hari ini banyak pasien yang harus di bedah.." sahut yang lainnya.


"Nyonya bilang kita mendapat pesanan organ utuh.."


"Benarkah?? Itu akan melelahkan sekali.."


"Nyonya??" gumam Ana membatin. "Pasti itu perintah Layla.."


Semakin lama langkah dan suara mereka semakin menjauh dan menghilang. Ana segera bangkit dari persembunyiannya. Ia mencoba mendekati pasien yang tengah terbaring. Ia melihat tubuh kurus itu tampak memiliki luka bekas jahitan di dadanya yang panjang, dari tenggorokan hingga ke bagian perut bawahnya.


Ana mengeluarkan ponselnya, mengambil gambar dan video kondisi di ruangan itu. Setelah selesai mengambil gambar dan video, Ana segera keluar dari ruangan itu untuk mencari adik Leo beserta Layla. Ia memeriksa setiap ruangan hingga ujung koridor. Ia menemukan satu ruangan yang berbeda. Ana tidak bisa mengintip ke dalam sana. Ia mencoba membuka pintu itu namun id card sebelumnya tidak lagi berhasil.


"Siapa kau??!!" Seru seorang pria dari arah belakang.


Sontak Ana mematung tak bisa bergerak.


"Letakkan senjatamu !!" Perintah pria itu tegas, pria dengan pakaian stelan jas lengkap tampak menodongkan senjata api ke arah Ana.


Ana yang terpojok perlahan meletakkan pistolnya ke atas lantai, tapi belum sampai di lantai, Ana segera melemparkan dengan keras pistol itu tepat mengenai dahi pria itu hingga ia tampak sempoyongan menahan sakit.


Dengan gerakan cepat, Ana segera menerjang pria itu, menyentak keras batang lehernya hingga patah.


Kretakkkk..


Ana memeriksa sekujur tubuh pria itu, memeriksa setiap saku di pakaiannya, hingga ia menemukan sebuah kartu berwarna hitam dengan tanda hologram di ujung kartu. Ia bergerak cepat mencoba kartu itu untuk membuka pintu tersebut.


Untungnya, itu memang kartu yang tepat. Ana segera tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan itu. Disana di susun banyak tempat tidur tanpa sekat. Ia memeriksa setiap tempat tidur yang ada di sana, ia sudah melihat foto wajah adik Leo melalui pesan yang Leo kirim.


Dengan seksama ia periksa wajah mereka satu per-satu. Hingga ia terhenti di salah satu tempat tidur. Ia melihat seorang gadis dengan pakaian lengkap tengah di ikat kaki dan tangannya di atas tempat tidur, tubuhnya di pasangkan sebuah infus, yang ternyata berisi obat tidur dan penenang. Sekali lagi Ana memeriksa gadis itu dan kali ini ia yakin itu gadis yang ia cari.


Ana segera memeriksa jam tangan yang di pakai gadis itu, Ana segera mengambil jam tangannya, menyimpannya dalam saku. Kemudian Ana mencari kursi roda di setiap sudut ruangan, setelah menemukannya Ana segera menggendong gadis itu naik kesana, memastikan gadis itu aman. Ana juga mengenakan selimut dan masker pada gadis itu lalu segera mendorong kursi roda itu pergi meninggalkan ruangan rahasia tersebut. Ana segera menghubungi Leo, untuk menjemput adiknya di lantai atas, mereka merubah rencana setelah Ana menyadari ketatnya pengamanan disana, ia tidak yakin bisa membawa adik Leo dengan aman.

__ADS_1


Ana berusaha berlari menuju pintu keluar. Ana mendorong laju kursi roda itu. Tiba di pintu keluar, Ana berusaha mengatur kecepatannya, ia kembali siaga menodongkan pistol ke arah depan, ia membuka pintu itu perlahan, celingak-celinguk ke sekitar. Merasa aman, Ana kembali mendorong gadis itu keluar. Mereka terus berjalan seakan tidak terjadi apa-apa menuju lift.


Tak butuh waktu lama, pintu lift pun segera terbuka. Ana tercekat ketika melihat sosok yang mengejutkan muncul disana. Ia tak seharusnya mematung sekarang. Layla ada tepat di depan matanya. Ia di kawal 3 orang anak buahnya.


Ana menodongkan pistol itu tepat ke arah Layla.


"Sudah lama kita tidak berjumpa.." sapa Ana tersenyum dingin.


"Sudah lama bagimu.. tapi tidak denganku.. aku sering melihatmu.." sahut Layla tersenyum lebar.


"Sepertinya kau telah mencuri sesuatu dariku.." imbuhnya lagi sambil melihat gadis yang ada di kursi roda itu dengan seksama.


"Ms.Grey !!" Seru Leo dari arah pintu darurat.


Layla tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Ternyata kau seputus asa itu sampai meminta bantuan Ana.." gelak Layla menertawakan Leo yang segera mendekat ke arah Ana.


"Tangkap mereka !!" Perintah Layla pada anak buahnya, mereka segera berusaha bertindak, namun Ana segera melayangkan tembakan pada kaki mereka masing-masing.


Dorr.. dorr.. dorr..


"Bukankah mereka lawan yang terlalu mudah??" Sindir Ana menyunggingkan senyum sinisnya.


"Bawa adikmu pergi dari sini.." perintah Ana pada Leo.


Leo yang tampak siaga di samping Ana segera mendorong adiknya masuk ke dalam lift. Ia terus menodongkan pistolnya ke arah Layla hingga akhirnya ia masuk ke dalam lift.


"Apa yang kau lakukan disini?? Kejahatan apa lagi yang mau kau buat??" Hardik Ana geram.


"Seharusnya orang-orang kesayanganmu tau soal ini.. apa kau masih berpikir hanya aku yang jahat disini??" Jelas Layla berkacak pinggang.


"Bahkan mereka menerima uang yang terus mengalir deras dari pekerjaan ini.." tambahnya lagi tersenyum meledek.


"Mereka??"


"Ah.. kau benar-benar menyebalkan.. psikopat sepertimu tidak cocok menjadi polos seperti ini.." gerutu Layla geram.


"..." Ana melotot menggeram.


"Bukankah kau menolong Leo hanya untuk mencuri jam gadis itu?? Kau pikir ada sesuatu disana??"


Deg !!

__ADS_1


Berarti Layla tau soal jam itu, dan dia sudah pasti mengambil memori yang di katakan Leo waktu itu.


"Kau hanya kelinci pengalihan Ana.. kau di ciptakan untuk menutupi semua aib kotor keluarga angkatmu itu.. kau di besarkan dan di didik dengan sangat baik agar citra baikmu bisa menutupi kebusukan di keluargamu.."


Dorrrr...


"Diam kau !!!" Bentak Ana melayangkan peluru panas di lengan kiri Layla.


"Hahahaha.. kau akan gila jika mengetahui semuanya.. hidupmu akan sangat menyakitkan, hingga kau merasa ingin menggerogoti tubuhmu sendiri.." gumam Layla lirih.


"Dia..."


Bukkkk.. Ana jatuh terjerembab ke lantai, ia memegang tengkuknya. Seseorang telah menyuntikkan benda cair tepat di leher belakangnya. Sontak tubuhnya terasa lemas bahkan tak terasa apa-apa lagi. Mulutnya bahkan terasa sangat kaku dan kelu. Pandangannya mulai samar, ia dapat melihat Layla yang terus tertawa puas menertawakannya  serta tampak banyak penjaga yang berlari menghampirinya, dan tentu satu wajah yang tak akan pernah ia lupakan. B1 membalut lengan Layla dengan jas nya, menekan luka itu dengan sangat hati-hati, bahkan tatapan matanya pada Ana sulit untuk di artikan.


******


Ting nung.. ting nung..


Bel apartment Pak Kim terdengar nyaring, Dita dan dirinya tengah di sibukkan dengan persiapan makan malam bersama Louis dan Ana.


Dita tampak segera membuka pintu untuk menyambut Louis.


"Selamat datang.. silahkan masuk.." sapa Dita ramah mempersilahkan Louis.


Louis menyodorkan sebuah keranjang besar berisi buah-buahan segar dan sebuah totebag berisi wine mahal.


"Maaf aku sudah merepotkan untuk makan malam ini.."


"Ah.. tidak apa-apa.. kami sangat senang bisa mengundangmu makan malam disini.." geleng Dita salah tingkah.


"Dia sangat mengidolakanmu.." timpal Pak Kim yang tengah menata meja makan.


Louis dan Dita segera menghampiri meja makan. Louis tampak celingak-celinguk melihat sekitar.


"Ms...ah.. maksudku Ana akan terlambat.." seru Pak Kim yang sadar jika Louis sedang mencari keberadaan Ana.


"Ah.. baiklah.." angguk Louis mengerti.


"Silahkan duduk.." silah Dita sambil terus tersenyum tersipu malu.


"Iya.. terima kasih.." angguk Louis segera duduk di kursinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)


__ADS_2