
Louis meeting seharian dengan beberapa calon investor baru mereka. Louis dan Simon akhirnya berpendapat untuk berdiri sendiri tanpa investor lainnya karena uang tolak dari Grey World sangat sangat besar.
Selesai meeting, Louis memeriksa layar ponselnya. Di sana menunjukkan pukul 8 malam. Tak ada notifikasi pesan ataupun panggilan tak terjawab dari Ana.
"Cih.. Dia bilang akan menikah denganku, tapi dia tidak menanyai kabarku sedikitpun.." gerutu Louis kecewa. Saat ia hendak keluar dari gedung agensinya bersama Pak Dong, ia melihat mobil sport hitam yang tampak tak asing. Jendela mobil itu terbuka. Ana ada di balik kemudi dengan senyum mengembang.
"Naiklah.. Aku akan mengantarmu pulang.." seru Ana ramah.
"Baiklah.. Biar aku yang bawa mobilnya.." ujar Louis berlari kecil menghampiri mobil Ana.
"Tidak usah.. Cepat naik.. Nanti orang-orang akan melihat kita.." ujar Ana melihat-lihat ke arah sekitar.
Louis segera masuk dan duduk di bangku samping Ana. Ia segera mengenakan sabuk pengaman, setelah berpamitan dengan Pak Dong, mobil itu segera melaju di tengah jalan raya.
"Sejak kapan kau menunggu di sana?" tanya Louis penasaran.
"Sekitar jam 6??" jawab Ana tidak ingat.
"What? Benarkah?? Kau pasti kelelahan menungguku sangat lama.." gumam Louis sedih.
"Tidak apa-apa.. Aku bisa istirahat sejenak di sana.." imbuh Ana terkekeh.
"Kau sudah makan?" tanya Ana bergumam pelan.
"Belum.. Kau juga belum makan kan?"
"Belum.. Apa kau ingin makan sesuatu??"
"Hmm.. Tidak ada.. Tapi aku akan makan apapun yang kau inginkan.." ujar Louis menggoda.
"Aku ingin makan-makanan segar.." ujar Ana berpikir sejenak.
"Makanan segar?? Sushi? Seafood?" tanya Louis menebak.
"Tidak.. Aku sangat ingin salad buah dan salad sayur.." geleng Ana pelan.
"Apa itu cukup?? Bagaimana kalau steak??" usul Louis.
"Ah.. Aku sedang tidak ingin makan daging.. Tapi kau bisa memakannya jika kau ingin.." timpal Ana mendukung.
"Benarkah?? Baiklah.." angguk Louis setuju. "Kita mau kemana?" tanya Louis melihat Ana melaju ke arah yang sudah tak asing lagi.
"Kau mau ke restoran keluargaku??" tebak Louis.
"Hmm.." angguk Ana pelan.
Louis terus melihat Ana dengan intens seraya tersenyum manis.
__ADS_1
"Ada apa?? Kenapa kau melihatku seperti itu?? Apa ada sesuatu di wajahku??" tanya Ana heran.
"Tidak.. Aku hanya ingin melihatmu dengan puas.. Aku sudah lama tidak melihat kau tersenyum hangat seperti ini padaku.." gumam Louis manis.
"Benarkah?? kau merindukanku??" goda Ana balik.
"Tentu saja.. Apa kau tidak merindukanku??" celetuk Louis.
"Tentu saja aku merindukanmu, itu sebabnya aku ingin menikahimu agar aku bisa selalu bersamamu dan melihat wajahmu kapan saja.." jawab Ana tegas, ucqpan itu membuat Louis tersipu malu.
"Sudah lama tidak bertemu sekarang kau sudah pintar menggodaku.."
"Aku tidak menggodamu.. Aku sungguh-sungguh.." tukas Ana terkekeh.
"Aku akan menelepon ibuku, aku akan memberitahu mereka jika kita mau kesana.." ujar Louis mengeluarkan ponselnya.
"Tidak perlu.. Aku sudah memberitahu mereka.."
"Benarkah??"
"Hmm.." angguk Ana cepat.
"Apa aku sedang mimpi??" tanya Louis tak percaya.
"Tentu saja tidak, kenapa kau berpikir begitu??"
"Aku tidak menyangka kau akan setuju untuk menikah denganku.." imbuh Louis tak henti menatap Ana yang tengah fokus menyetir.
"Entahlah.. saat ini benar-benar seperti mimpi bagiku.."
Ana menyalakan mode auto pilot pada mobilnya, kini mobil berjalan otomatis tanpa Ana. Ana segera meraih leher belakang Louis, menarik tubuh kekar itu. Mencium bibir Louis hangat dan dalam. Mereka saling berciuman dengan hangat. Louis memeluk tubuh ramping itu erat. Mengelus punggung Ana lembut. Ciuman itu semakin dalam dan panas. Nafas mereka saling memburu penuh gairah. Entah berapa lama mereka menempel seperti itu. Hingga getar ponsel Ana mengejutkan keduanya. Nama Simon muncul di layar ponsel Ana.
"Biarkan saja.." gumam Louis menahan tubuh Ana yang hendak meraih ponselnya. Mereka kembali berciuman dengan panas dan bergairah. Namun lagi-lagi ponsel Ana bergetar. Ia tak bisa mengabaikan panggilan itu lagi.
"Sepertinya ini sangat penting.." gumam ana melepaskan pelukan mereka. Segera meraih ponselnya.
"Aku akan memukulnya jika panggilan itu tidak penting.." gumam Louis menggerutu, membuat Ana tertawa keras.
"Hahaha.. Kau akan memukulnya??" tukas Ana kaget dengan tanggapan Louis yang kini tampak murung.
"Grey.. Ya??.. Benarkah?? Baiklah.. Dimana?.. Hmm.. Oke.. nanti akan aku kabari lagi.." Ana terdengar ramah dan senang. Ia tampak segera mengakhiri panggilan itu. Lalu kembali mengemudikan mobilnya setelah menonaktifkan mode auto pilot mobilnya.
"Ada apa??" tanya Louis penasaran.
"Mr. Lee ingin bertemu denganku.." jawab Ana santai.
"Sekarang??"
__ADS_1
"Tentu saja tidak.. Aku ingin makan malam denganmu dulu.." jawab Ana seraya melemparkan senyuman manisnya.
Louis lagi lagi di buat tersipu oleh Ana. Mobil itu segera melaju menuju restoran. Setibanya di sana tentu keduanya di sambut hangat oleh ibu Louis yang tengah berada di restoran.
Di sana tampak cukup ramai pengunjung. Seperti biasa keduanya masuk lewat pintu belakang khusus karyawan. Louis tampak segera menggandeng Ana lembut, merangkul pinggangnya mesra.
"Apa kau sedang menambah berat badanmu??" bisik Louis di telinga Ana.
"Tidak.. Memangnya kenapa??" geleng Ana cepat.
"Pinggulmu semakin indah.." bisiknya lagi menggoda.
"Ehemmm.." ibu Louis berdehem keras seakan mengkode keduanya. "Aku rasa memang pilihan tepat kalian untuk menikah.." timpal ibu Louis meledek keduanya. Louis dan Ana hanya tertawa kecil.
...****************...
Setelah mengantar Louis pulang ke apartmentnya, Ana segera menuju bar di tengah kota. Ia memiliki janji temu di sana bersama Mr.Lee wakil presdir Grey world.
Di sana Mr.Lee sudah duduk santai seraya menyeruput segelas wiski.
"Maaf anda menunggu lama.." seru Ana sungkan segera duduk di samping Mr. Lee.
"Ah.. Tidak apa-apa Ms. Grey.."
"Ada apa ingin menemuiku??" tanya Ana tanpa basa-basi.
Mr. Lee tampak mengeluarkan sebuah map coklat tebal dari dalam tas kerjanya. Ia menyodorkan map itu di atas meja.
"Silahkan anda lihat.." ujarnya.
"Apa ini??" tanya Ana penasaran segera membuka map itu.
Di dalamnya berisi lembaran file rahasia dan penting yang sangat tebal. Salah satunya merupakan surat pemutusan kontrak kerja sama agensi Louis. Kemudian penyerahan seluruh saham milik keluarga Grey pada Layla. Ana tertegun. Matanya membelalak kaget. Dahinya mengerut. Ia kemudian menghela nafas panjang.
"Bagaimana anda mendapatkan ini semua??" tanya Ana dingin.
"Di tempat penyimpanan rahasia Pak Kim.." bisiknya.
"Apa anda mengambil ini diam-diam??"
"Tentu saja, aku sudah lama mencurigainya.. Dan dugaanku benar.. Anda harus menindak tegas Pak Kim.." ujarnya menyeruput wiskinya.
Ana menyeringai. "Bahkan jika semua bukti ini aku serahkan ke pengadilan, bukti ini tidak akan berarti apa apa karna anda mendapatkannya dengan cara yang salah.." gumam Ana.
"Setidaknya anda harus bertindak tegas pada Pak Kim.. Dia berusaha menghancurkan perusahaan ini.." seru Mr. Lee mengompori.
"Aku tau semuanya.." imbuh Ana lirih.
__ADS_1
"A.. Apa???" Mr. Lee membelalak kaget
...----------------...