
Ana menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Mansion kini benar-benar sangat sepi. Hanya ada 2 pekerja rumah tangga dan 5 orang penjaga disana. Ia masih tengah mencari pekerja lain untuk mengurusi mansion itu.
Saat luang, Ana Biasanya sesekali ikut membantu para pelayan membersihkan mansion di hari liburnya, seperti membersihkan kolam renang, ruang gym, membersihkan dan merapikan taman, bahkan memasak untuk semua pelayan dan penjaganya.
Di liriknya jam digitalnya pukul 10.20 malam, ia tidak merasa ngantuk meski tubuhnya terasa penat. Akhirnya ia kembali bangkit dan menuju mini barnya, ia melihat sekeliling, memilih wiski favoritnya, tentu itu wiski dengan kadar alkohol tinggi.
"Apa aku sudah boleh minum minuman beralkohol?" Batinnya menerka-nerka.
Meski ragu ia tetap memilih meminum wiski itu, ia meraih gelas di meja bar, membersihkannya sebelum akhirnya ia menuang wiski tersebut. Ia menghirup aroma khas dan wanginya, lalu ia menenggak cepat wiski itu.
"Arghh !! Enak sekali.." ujarnya menghabiskan wiski gelas pertamanya dalam sekali tenggak.
"Ah.. tenggorokanku panas sekali.. apa karena sudah lama aku tidak minum-minuman beralkohol? Ini terasa seperti pertama kalinya.." gumamnya bicara pada dirinya sendiri seraya mengusap-usap batang lehernya.
Lagi-lagi Ana tetap menuang wiskinya, menambahkan beberapa ice cube yang sudah ia bawa dari dapur ke dalam gelasnya. Ana mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jogernya.
Ia membuka galeri ponselnya. Entah apa yang merasukinya, ia melihat-lihat koleksi foto Louis di galeri ponselnya.
"Ugh.. apa yang aku lakukan !" Gerutunya mematikan layar ponselnya.
"Kenapa aku melihat-lihat fotonya.. apa aku sudah gila??" Omelnya menggerutui dirinya sendiri. Melempar jauh ponselnya ke atas sofa di sampingnya.
Ana menghela nafas kesal lalu menenggak lagi wiskinya.
Tak sadar ia sudah menghabiskan hampir setengah botol wiski itu seorang diri, ia mengusap kasar wajahnya. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga sudah merasa sangat pusing. Ia berusaha meraih ponselnya di atas sofa, lalu berjalan perlahan menuju kamarnya yang cukup jauh dari minibar.
Ia memutuskan lewat dari arah luar, Saat baru tiba di lorong dekat kolam renang, langkahnya terhenti. Ia melihat sosok Louis yang berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Hardik Ana meracau.
"Kenapa kau datang kesini? Apa karena kau tau aku sedang merindukanmu? Hahahaha.. kau membuatku sangat malu.." Ana terus meracau tak karuan sambil sempoyongan.
"Kenapa kau terlihat semakin mempesona hah?? aku bahkan tidak bisa mengendalikan detak jantungku ini.." gerutunya menepuk-nepuk dadanya.
"Namun.. entah kenapa ada rasa sakit yang sangat menyiksa di hatiku.. aku merasa sangat sakit dan bersedih karenamu.. apa yang sudah kau lakukan padaku?? Kenapa aku jadi seperti ini?" Gerutu Ana bersandar ke pilar lorong berusaha menopang tubuh kurusnya yang mulai terasa semakin berat.
Louis tampak hanya berdiri disana tak bergeming, ia hanya tersenyum manis menatap Ana.
"Jangan tersenyum padaku !! Kau membuatku semakin sedih.. **** !!!" Umpatnya kesal berusaha tegak lurus, dan kembali berjalan menuju kemarnya dengan sempoyongan melewati Louis yang hanya mematung sambil tersenyum dengannya.
Belum sampai ke tempat tidurnya, ia justru segera tumbang jatuh terjerembab ke atas lantai yang dingin lalu tak sadarkan diri hingga pagi harinya.
__ADS_1
***
Louis tampak termenung di meja makan. Ia hampir tidak menyentuh apapun yang ada di atas meja. Ibunya yang melihat Louis pun melirik ke arah Irene yang sedang menyantap sarapannya, Irene memutuskan untuk istirahat seharian di rumah, karena hari ini ia tengah libur bekerja.
"Kenapa kau tidak menyentuh sarapanmu? Bukankah kau ada jadwal meeting pagi ini?" Tanya ibunya membuyarkan lamunan Louis.
"Ah.. i.. iya bu.. aku akan segera memakannya.."
"Kau baik-baik saja?"
"Hmm.. aku cuma sedikit kelelahan saja, aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam.."
"Apa terjadi sesuatu kak?" Celetuk Irene penasaran.
"Aku hanya mimpi buruk seperti biasa.."
"Apa kakak memimpikan gadis itu lagi?" Timpal Irene sontak membuat ibunya kaget.
"Hmm.." angguk Louis cepat.
"Apa ingatanmu masih belum pulih?" Tambah Irene lagi.
"Hmm.. aku belum bisa mengingat banyak hal.." gelengnya pelan.
Ibunya tampak menghampiri Irene.
"Ada apa? Kau tampak gelisah sejak pulang kerja kemarin?" Tanya ibunya berbisik.
"Apa sesuatu terjadi di tempat kerjamu?"
"Bu.. sebenarnya.. aku.. bertemu kak Ana kemarin di GC Hotel.."
"A..apa?" Ibunya terbelalak kaget.
"Apa kau yakin itu dia? Pak Kim belum ada memberiku kabar apapun perihal dirinya.."
"Aku sangat yakin bu.. bahkan aku sempat berbicara dengannya.." angguk Irene yakin.
"Apa dia baik-baik saja.." wajah ibunya tampak sangat khawatir.
"Aku tidak yakin soal itu.. dia bahkan tampak sangat kurus dan lesu.."
__ADS_1
"Apa dia sudah pulih?" Gumam ibunya cemas.
"Entahlah.. Tapi.. dia tampak sudah baik-baik saja bu.. aku sangat lega setelah bertemu dengannya.."
"Apa kita harus memberi tahu kakakmu?"
"Entahlah.. apa dia akan baik-baik saja soal ini?" Geleng Irene ragu.
"Soal apa?" Timpal Louis tiba-tiba.
Prang..
Sendok berjatuhan setelah tersenggol tangan Irene yang terkejut mendengar Louis yang telah berdiri di belakang keduanya.
"Tidak.. aku ingin merayakan pesta ulang tahunku.. apa kau akan baik-baik saja jika aku membuat acara kecil-kecilan??" Ujar Irene berbohong segera mengalihkan.
"I..iya.. Irene ingin mengadakan pesta ulang tahunnya.." timpal ibunya menambahkan.
"Oh.. tentu saja kau bisa merayakan pesta ulang tahunmu.. jangan hiraukan aku.. lakukan saja apa yang ingin kau lakukan.."
"Ba..baiklah.." angguk Irene mengerti.
Louis tampak mengambil botol saus sambal di rak bumbu dapur, lalu kembali ke meja makan, menyantap sarapannya.
"Huft.." hela nafas Irene dan ibunya lega.
Mereka segera kembali melakukan aktivitasnya masing-masing dan berencana akan melanjutkan pembicaraan mereka setelah Louis berangkat kerja.
***
Ana membuka mata perlahan, matanya di silaukan dari pantulan cahaya matahari yang sangat menyilaukannya.
Ia mendapati dirinya tengah meringkuk di atas lantai, kepalanya terasa sangat sakit dan berat.
"Apa aku tidur di lantai sepanjang malam?" Gumamnya segera duduk dengan lesu.
Tiba-tiba perutnya terasa nyeri dan melilit. Rasa mual berat langsung melanda bersamaan dengan itu. Ana segera bangkit dan berlari ke kamar mandi. Dan benar saja ia memuntahkan semua isi perutnya hingga benar-benar terasa kosong, bahkan badannya terasa lemas.
"**** !!" Umpatnya kesal.
Ia kembali berjalan pelan menuju tempat tidurnya. Ia kembali menarik selimutnya. Baru saja ingin kembali memejamkan mata, ia mendengar suara getar ponselnya. Awalnya, Ana mengabaikan bunyi itu, hingga bunyi itu tak kunjung berhenti.
__ADS_1
Dengan marah Ana segera bangkit dan mencari-cari ponselnya yang tergeletak di atas lantai. Ia segera meraih ponsel itu dan mendapati nama Jane terpampang disana.