
Ana mengendarai mobilnya mengikuti sebuah van hitam yang melaju di depannya. Mereka menuju mansion tua di atas bukit, dengan pemandangan hampir memperlihatkan seluruh sisi pusat kota. Mansion itu tampak tak terurus namun tetap tampak nyaman dan asri.
Di teras mansion itu tampak seorang pria duduk di kursi roda, ia tampak tengah menanti kedatangan Ana.
Ana segera menghentikan laju mobil barunya, ia segera turun untuk menyapa pria tua yang ia kenal.
"Sudah lama tidak bertemu Ms.Grey.." sapa Dominic tersenyum lebar. Kondisinya tampak sangat buruk, sebelah kakinya tampak telah di amputasi, karena kaki kanannya hanya tinggal sampai lutut dan masih di balut perban, sementara sebelah wajah dan kulit tubuh bagian kanannya tampak terluka parah akibat luka bakar.
"Ternyata kau masih hidup?? Ah.. mengecewakan sekali.." sahut Ana mengejek.
"Aishh.. gadis sial*n.." umpat Dominic menggerutu.
"Layla pasti sangat kecewa melihat kau masih tampak sehat begini.." ujar Ana lagi melangkah mendekat ke arah Dominic.
"Kau ternyata sudah tau soal Layla.." angguk Dominic mengerti situasinya.
"Bagaimana kau tau aku disini?? Kau bahkan sekarang tampak seperti pria tua yang sudah putus asa.." tanya Ana mengabaikan ucapan Dominic.
"Sial*n kau.." umpatnya lagi.
"Tempatmu sangat nyaman.. apa kau akan menjualnya??"
"Kau mengejekku?? Aku memang sudah cacat, tapi aku tidak jatuh miskin.."
"Aku bersungguh-sungguh.. aku rasa mulai sekarang aku akan butuh tempat tinggal.. kau tau kan?? Aku akan sering datang ke negara ini.."
"Cihh.. jadi kau benar benar sudah mengambil alih perusahaan Franz.. wanita jal*ng dan anaknya itu pasti sekarang sedang menggila.." gumam Dominic sinis.
"Bukankah kau mengkhianati Jane karena wanita jal*ng itu?? Cih.. sekarang kau menghinanya dan berbicara seperti itu, apa kau sudah lupa dengan perbuatanmu sendiri?? Kau juga sama hinanya dengan mereka.." Celetuk Ana sinis.
"Kau benar benar menyebalkan.. seharusnya aku tidak memintamu untuk datang.." tukas Dominic kesal.
"Baiklah.. aku pergi.." timpal Ana santai membalikkan tubuhnya.
"Tunggu !!" Seru Dominic menghentikan langkah Ana.
"Aku butuh bantuanmu.." ujarnya lirih.
"Apa??" Tanya Ana tidak yakin dengan apa yang di dengarnya.
"Aku butuh bantuanmu.." ujar Dominic sangat pelan.
"Hei.. aku tidak dengar apa yang kau katakan.. apa kau sedang mengataiku??" Seru Ana pura pura tidak mendengar.
__ADS_1
"Aish.. aku butuh bantuanmu.." seru Dominic setengah berteriak.
"Ohh.. aku baru dengar sekarang.." angguk Ana mendengar perkataan Dominic.
Ana menghela nafas lelah.
"Kenapa kalian sekarang membutuhkan bantuanku?? Bukankah kalian selama ini berlomba lomba ingin menyingkirkanku??" Timpal Ana kesal.
"Karena hanya kau yang bisa menyingkirkan Layla dan Franz.. aku tau aku salah.. pernah mengkhianati Jane dan mencoba mencelakaimu.. aku seharusnya sadar bahwa Layla lah orang yang harus aku awasi selama ini.."
"Minta maaflah pada Jane.. bukan padaku.." celetuk Ana pelan. "Dia sangat mengkhawatirkanmu.. dia masih mencarimu kemana mana.." tambah Ana.
"Benarkah??"
"Ah.. aku benar benar tidak suka menggunakan hatiku saat menemui orang orang brengs*k seperti kalian ini.. bukankah aku terlalu baik untuk menolong kalian??"
"Aku yakin kau pasti akan membantuku.." tukas Dominic tegas.
"Dengarkan aku pak tua.. apapun yang akan aku lakukan ke depannya.. itu bukan karena permintaan kalian, tapi karena aku memang ingin melakukannya.. jadi jangan berharap atau meminta bantuan apapun dariku.." bisik Ana mendekatkan wajahnya ke arah Dominic yang terduduk tak berdaya di atas kursi roda.
"Kecuali.. jika kau akan memberikan mansion ini padaku.." bisik Ana lagi.
"Aku akan melakukan apapun untukmu.. cukup balaskan dendamku pada wanita jal*ng itu dan putranya.. terutama Franz.. dia benar benar membuatku menderita.." Dominic benar benar tampak putus asa.
"Lihat apa yang sudah mereka lakukan padaku !! Mereka memaksa ingin mengambil alih semua hartaku, namun aku rasa kau sudah tau, bahwa semua sudah ku berikan pada Jane.. Mereka tetap memaksaku menanda tangani berkas pengalihan harta.. aku berusaha terus menolak.. lalu mereka menghancurkan kakiku, menyiksaku berhari hari hingga kakiku membusuk dan harus di amputasi.. lalu Franz berengs*k itu membakarku.." jelas Dominic panjang lebar, membuat Ana tampak cuek tengah memain-mainkan daun dalam pot bunga di sampingnya, karena merasa bosan mendengar keluh kesahnya.
"Mereka membiusku.. bagaimana aku bisa melawan.."
"Bukankah karena kau mudah tertipu daya olehnya??"
"Cihh.. bahkan kau juga sama menyedihkannya denganku.. kau juga tertipu sangattttt lama oleh Layla.." sindir Dominic tak mau kalah.
Bukkk !!
Ana menendang keras kursi roda Dominic dengan kesal hingga kursi rodanya terdorong hingga menabrak dinding.
"**** !!! Dasar perempuan gila !!!!" Pekik Dominic kaget. Ia segera menggeser kursi rodanya dengan kedua tangannya.
"Kau berhati hatilah.. mereka sangat licik dan susah untuk di tebak.." imbuh Dominic memperingati Ana.
"Aku tau.."
"Awasi kekasihmu.. aku yakin mereka akan menargetkannya.. Franz dan Layla tau bahwa kelemahanmu adalah orang yang kau sayang.."
__ADS_1
Ana tertegun mendengar ucapan Dominic, ia tampak berpikir keras.
"Aku akan membantumu.. aku akan meminta anak buahku selalu menjaga dan membantumu.."
"Tidak perlu.. aku akan mengambil kaki Franz untuk membalasnya dengan caraku.. namun sebagai imbalan.. berikan mansion ini untukku.."
"Ahh come on !!! Aku tidak pernah berencana meninggalkan mansion ini.. aku akan membelikanmu mansion yang jauh lebih mewah dari ini.. dimana kau mau?"
"Tidak.. aku hanya mau mansion ini.." geleng Ana menolak dengan tegas.
"Kau tidak bisa membeli pemandangan seperti ini bukan.." ujar Ana memandang sekeliling, pemandangan mansion Dominic benar benar sangat luar biasa, meski mansion itu tidak semewah mansionnya dan mansion Jane di negara L, namun pemandangannya lah yang akan bernilai sangat mahal.
"Gadis licik.." gumam Dominic kesal.
"Pikirkanlah.. aku akan ada disini selama beberapa hari lagi.."
"Tidak.. aku tidak akan berpikir panjang.. baiklah.. aku akan memberikan mansion ini padamu.."
"Benarkah?? Kau tidak bisa menarik lagi ucapanmu !!" Seru Ana bersemangat.
"Sungguh !!"
"Kalau begitu.. mulailah berkemas.. karena kau harus segera keluar dari mansion ini.." ujar Ana bersemangat segera berlalu menuju mobilnya.
"**** !!" Umpat Dominic kesal lalu menyunggingkan senyum tipisnya.
Ia tidak pernah menyangka akan meninggalkan mansion itu dan memberikannya pada Ana. Namun harus di akui sejak lama ia sangat mengagumi Ana karena kerja kerasnya dan cara nya untuk bertahan hidup dengan banyak penderitaan dan luka yang selama ini selalu ia terima dari orang orang di sekelilingnya.
Ana adalah pejuang sejati, Dominic tau betul seberat dan sekeras apa Ana menjalani hidupnya.
Itu sebabnya ia sangat keras terhadap dirinya sendiri.
"Ms.Grey !! Berhati hatilah.." seru Dominic.
"Aku tau.." Timpal Ana melambaikan tangannya.
"Jaga baik baik kekasih tampanmu !!" Tambahnya lagi menggoda dengan setengah berteriak.
"Khawatirkan saja dirimu yang sudah tua renta itu !!" Balas Ana terkekeh melambaikan jari tengahnya pada Dominic lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Dia benar benar gil*.." gerutu Dominic kalah telak.
-->>
__ADS_1
Ilustrasi foto yang author gunakan hanya ilustrasi belaka.