
Pagi ini tidak seperti biasanya, biasanya ia akan berada di ruang gym, namun kini ia tengah berada di lapangan tembak area mansionnya. Ia menggunakan senapan laras pendek dan sudah mengisi amunisi senjatanya berkali-kali. Semua bidikannya tepat sasaran tanpa ada yang melesat satupun, hingga bagian tengah patung yang menjadi sasaran bidikan Ana sudah mulai hancur.
Nafasnya tersengal, tangannya bergetar menahan amarahnya, ia menjatuhkan senapannya ke atas rerumputan. Pikirannya campur aduk, Jane tak henti-hentinya menekan dan mengancamnya. Ana kini harus benar-benar bisa mengakhiri semua secepatnya. Tak jauh tampak salah seorang pengawalnya berlari mendekat ke arah Ana.
“Ms.Grey.. ada detektif yang ingin bertemu dengan anda.. ia menunggu sejak subuh tadi di depan gerbang..” ujarnya terengah.
“Usir saja..” celetuk Ana dingin.
“Dia berkata tidak akan pergi sebelum anda menemuinya Ms.Grey..” ujarnya lagi tampak takut.
Ana menghela nafas kesal berlalu melewati pengawalnya sambil membuka kedua sarung tangannya.
“Bereskan ini..” perintah Ana lirih, ia menyimpan senjatanya ke saku khusus yang terpasang di pinggang rampingnya.
Pengawalnya segera mengemas perkakas menembak Ana di lapangan. Ana segera menuju halaman depan dan sudah memerintahkan penjaga pintu masuk untuk membiarkan detektif itu masuk menemuinya.
Detektif itu tampak terperangah kagum melihat kemewahan mansion Ana.
“Ada apa lagi??” celetuk Ana dingin membuyarkan lamunan detektif itu.
“Aku akan mengusut kasus Dominic..”
“Jangan libatkan aku..” timpal Ana tegas.
“Aku butuh bantuanmu Ms.Grey..” mohon Albert tulus.
“Kau tau apa yang akan terjadi setelah ini?? Mereka akan menghabisimu.. Aku mohon berhentilah.. Kau tidak tau siapa yang kau hadapi.. jadi aku mohon..” pinta Ana lirih.
“Anaa..” seru BIbi Layla dari arah pintu depan mansion.
Seketika Ana dan Albert menoleh ke arahnya, betapa kagetnya Albert melihat Bibi Layla.
“Bibi Layla..” gumamnya lirih terperanjat kaget dan juga mengejutkan Ana.
“Apa?? Kau mengenalnya??” hardik Ana kaget.
“A..aku..” Albert hanya tergagap.
“Lucas..” timpal Bibi Layla seketika melemaskan seluruh tubuh Ana.
Ana terbelalak kaget, matanya berkaca-kaca. “Ka..kau?? siapa kau??” tanya Ana dengan nafas memburu.
***
Louis masih terbaring di tempat tidurnya, ia maish sangat mengantuk setelah bercerita sangat lama dengan ibunya tadi malam di teras rumah hingga dini hari. Seseorang terdengar mengetuk pintu kamarnya.
“Kak.. kau sudah bangun?? Ayo kita sarapan..” seru adiknya dari balik pintu.
__ADS_1
“Hmm.. baiklah aku segera keluar..” sahut Louis masih terdengar parau.
Ia segera bangkit menuju kamar mandi, membasuh mukanya lalu segera bergabung dengan keluarganya yang lain di meja makan.
“Apa agendamu hari ini?” tanya ibunya ramah.
“Tidak ada..” geleng Louis pelan.
“Ikutlah dengan ibu ke restaurant hari ini, saat siang hari tidak akan begitu ramai kecuali saat malam hari..”
“Hmm.. entahlah.. aku hanya ingin istirahat saja hari ini.. karena besok sudah kembali shooting..”
“Aku pikir kakak akan cuti sampai besok..” timpal adiknya bingung.
“Besok ada meeting penting dadakan, aku tidak bisa menundanya..” jelas Louis menyantap makanannya.
“Maaf kami membuat kau bekerja sangat keras Lou, seharusnya kami memberi kalian kehidupan yang cukup dan layak..” seru Ayahnya lirih dengan nada sedih.
“Apa yang ayah katakan?? Aku senang melakukannya, ini mimpiku.. jangan berkata seperti itu apalagi sampai menyalahkan diri kalian.. ini keinginanku dan pilihan hidupku..” tukas Louis keras.
“Terima kasih nak, kau sudah bekerja sekeras ini..” imbuh ibunya mencairkan suasana.
“Aku juga sangat bangga padamu kak, kau sangat keren..” tambah adiknya terkekeh membanggakan kakak laki-lakinya yang sangat tampan.
———————————
Siang ini ia akan bertemu Bibi layla dan Lucas di sebuah restaurant favorite Lucas, ia bilang disana ada ruang vip khusus sehingga sangat nyaman dan makanan disana juga sangat enak.
Kedatangan Ana membuat pelayan yang menyambutnya terperangah, terutama karena kecantikan parasnya yang blasteran, di sempurnakan dengan tubuhnya yang proposional.
“Anda sudah reservasi Nona?” sapa pelayannya ramah.
“Sudah, ruang VIP atas nama Lucas..” angguk Ana ramah.
“Baik, mari saya antar Nona..” pelayan itu menuntun langkah Ana menuju ruang vip yang sudah dipesan Lucas sejak pagi.
Saat melewati beberapa pelayan restaurant dan tamu di restaurant semua mata terperanjat melihat Ana. Wanita paruh baya yang tengah berdiri di meja kasir juga terperanjat kaget.
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomor anaknya, mencoba menghubunginya berkali-kali namun tak ada jawaban.
Kini Ana duduk berhadapan dengan Lucas dan Bibi Layla yang sudah lebih dulu tiba.
Ana tampak sangat gugup, ia tidak menyangka akan bertemu kakaknya Lucas, meski bukan kakak kandung, namun Ana menghabiskan masa kecilnya yang bersama Lucas.
"Kalian sudah pesan?" tanya Ana canggung.
"Aku sudah pesankan menu istimewa untukmu.." jawab Lucas tersenyum manis.
__ADS_1
Ana hanya tersipu malu, "kakak tampak sangat berbeda.. apa kakak masih memiliki bekas luka ditanganmu itu??." gumam Ana lirih.
"Tentu saja masih.." serunya memperlihatkan tangannya pada Ana dan membuat Ana merasa tenang. "Memangnya aku berbeda bagaimana? Apa aku semakin tampan?" godanya terkekeh.
"Hmmm.." angguk Ana tertawa kecil.
"Kau juga tampak luar biasa Ana.. aku.. aku tidak tau harus berkata apa.." raut wajah Lucas berubah terlihat sendu.
"Aku mencarimu dan Bibi kemana-mana kak.. hingga akhirnya aku justru menemukan kalian di negara ini.." jelas Ana lirih.
"Aku seharusnya mencarimu lebih dulu Ana.. aku sangat pengecut.. aku pasrah dengan keadaanku yang menyedihkan.."
"Sudahlah.. mari jangan kita bahas lagi soal itu.. aku ingin sekarang kita bertiga hanya menceritakan tentang rencana kita ke depan selanjutnya.." geleng Ana tidak ingin larut dalam kesedihan.
Bibi Layla dan Lucas mengangguk pelan. Tak lama pintu ruangan mereka di ketuk dari luar, pelayan masuk membawa troli makanan. Dan tampak wanita paruh baya tadi juga ikut masuk ke dalam.
"Bibi.. apa kabar?" sapa Lucas ramah pada wanita itu yang tampak akrab dengannya.
"Oh..hai Albert.. aku tidak menyangka kau akan membawa Ms.Grey yang sangta luar biasa ke restoranku ini.." serunya tersipu malu.
Ana hanya tersenyum hangat melihat wanita itu.
"Ya Tuhannn..bahkan senyumnya benar-benar sangat luar biasa.. anda cantik sekali Ms.Grey.." seru wanita itu lagi terkekeh.
"Dia seperti bidadari kan??" goda Lucas lagi.
"Iya tentu saja.. aku suka sekali melihat tayangan anda di tv, ternyata anda jauh lebih cantik saat bertemu langsung.." pujinya lagi tak henti-henti.
"Terima kasih Bibi.." angguk Ana malu.
Setelah melihat pelayannya selesai menghidangkan semua pesanan mereka wanita itu segera pamit keluar. "Kalau begitu, selamat menikmati hidangannya, semoga anda menyukainya Ms.Grey.."
"Tentu..terima kasih Bi.." angguk Ana tersipu malu.
"Wahh..kau benar-benar populer.. aku bahkan tidak menyadari bahwa itu kau saat kita pertama kali bertemu.." Lucas sangat kagum dengan kecantikan Ana.
"Apa kakak sudah sering kemari? kalian tampak akrab?" tanya Ana heran.
"Tentu.. setelah aku pindah tugas kesini, aku selalu makan siang disini karena tidak jauh dari kantorku.." angguk Lucas menyantap makanannya.
"Makanan disini juga sangat enak.. cocok dengan seleraku.."
"Aku tidak salah pilihkan?" mereka tertawa dan bercanda gurau bersama. Siang ini Ana sudah beri tahu Pak Kim bahwa ia akan keluar makan siang dengan keluarganya. Dan meminta Pak Kim mengosongkan semua jadwalnya hingga sore hari.
Ana menyantap makanan itu lahap sambil tak henti henti memandangi Lucas dan Bibi Layla. Ia tak menyangka dibalik kesulitannya, ia juga mendapat kebahagiaan yang lain, yang membangkitkan semangatnya.
Ia kini merasa lega setelah bertemu Lucas meski akan kehilangan bisnis gelapnya. Baginya Lucas dan Bibi Layla kini yang ia inginkan lebih dari apapun.
__ADS_1