Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 71 : "Mari kita berkencan.."


__ADS_3

Ana sedang bersandar di atas tempat tidurnya, ini hari kedua Ana terbaring di tempat tidur. Dokter dan Jane memaksa Ana untuk berisitirahat hingga dua hari ini. Jane kini baru saja masuk ke ruangan Ana membawa bungkusan besar berisi makanan dan buah buahan.


"Aku tau kau pasti sudah sangat stres berbaring di situ.. tapi bersabarlah.. setelah dokter memberitahukan hasil kondisimu hari ini, kau sudah boleh pulang.." jelas Jane mengeluarkan isi belanjaannya di atas rak meja.


"Bagaimana dengan Lou?" Tanya Ana lirih.


"Tenang saja.. dia masih tidur pulas, dokter juga memberikannya obat tidur dengan teratur agar ia baik baik saja.."


"Aku benar benar sudah sangat bosan.." keluh Ana lirih.


"Dengan kondisi seperti ini masih bisa bisanya kau mengatakan bosan.." gerutu Jane.


"Aku akhirnya mencoreng citra terhormatku demi menepati janjiku padamu.." seru Jane ketus.


"Aku bahkan sudah menolongmu.. anggap saja kita impas.."


"Kau membersihkan namaku untuk kalangan masyarakat, namun mencorengnya di kalangan bisnis besarku.." timpal Jane kesal.


"Percuma kau mengeluhkannya sekarang, lagipula semua sudah terjadi.. bahkan kau tertangkap bukan kesalahanku.. tapi karena kelalaianmu sendiri.." elak Ana membela diri.


"Aku ini hanya wanita tua renta.. seharusnya kau mengingatkanku soal earphone sial*n itu.." tukas Jane masih kesal.


"Grandma.. kau berisik sekali.. aku mau istirahat.."


"Wah.. kau benar benar pandai meledekku.." celetuk Jane lagi.


Tok..tok..tok..


Seseorang mengetuk pintu, dari balik pintu tampak seorang dokter beserta dua perawat masuk ke ruang vvip rawat inap Ana.


"Selamat siang Ms.Grey.. bagaimana perasaan anda siang ini??" Sapa dokter itu ramah.


"Sangat membosankan.." gumam Ana malas.


"Tapi anda memang sangat membutuhkan istirahat yang cukup, melihat luka dan memar di tubuhmu.." jelas dokter itu sambil tersenyum ramah.


"Jadi aku sekarang sudah bisa pulang??" Tanya Ana memotong penjelasan dokter itu.


"Hmm.. itu.. anu.. ada hal yang sangat serius yang ingin saya sampaikan.." dokter itu tampak sangat ragu ragu.


"Ada apa lagi??" Tanya Ana ketus.


"Begini..."


****


Ana yang tengah duduk di kursi roda sedang memandangi wajah baby-face Louis. Menatapnya lekat lekat. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, bibir nya yang tipis membuat dirinya sesaat terpana.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Seru Louis tiba tiba membuka matanya.

__ADS_1


Ana yanh terkejut segera mengalihkan pandangannya.


"Ehem.. kau sudah bangun?" Tanya Ana mengalihkan tatapan Louis.


"Hmm.. tentu saja.. rasanya aku tidur sangat lama.. mimpi indahku tidak ada habisnya, dan badanku terasa sangat lelah.." keluhnya meregangkan otot otot di tubuhnya.


"Tentu saja, kau sudah tidur selama 42 jam.." jawab Ana santai.


"Benarkah?? Apa yang terjadi??" Seru Louis kaget.


"Kau mengalami geger otak ringan.." jelas Ana singkat.


"Bagaimana bisa kau melindungiku jika satu pukulan saja bisa membuatmu geger otak seperti ini.." gerutu Ana ketus.


Louis hanya memasang wajah kaget mendengar gerutu Ana yang mengejeknya.


"Tapi setidaknya aku sudah berhasil menjalankan misiku.. kita berhasil menyelamatkan mereka.." ujar Ana lirih.


"Benarkah?? Mereka sekarang sudah aman?"


"Hmm.. tentu saja.. mereka akan baik baik saja.." angguk Ana pelan.


"Syukurlah.." angguk Louis lega.


"Apa hal seperti itu yang kau maksud sebelumnya?" Tanya Louis lirih.


"Kau pernah bilang jika kau harus bergelut di dunia mafia untuk menyelamatkan banyak nyawa.. apa seperti kemarin yang kau maksud?"


"Hmm.." angguk Ana tanpa berkomentar.


"Kau bahkan membahayakan nyawamu untuk menyelamatkan banyak orang.. apa kau tidak sayang pada nyawamu??" Celetuk Louis dengan nada khawatir.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan traumaku.. lagipula bukankah lebih baik mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa??" Jelas Ana segera bangkit dari kursi rodanya.


"Hei.. kenapa kau berdiri?" Seru Louis kaget melihat Ana berdiri dan melangkah pelan.


"Memangnya kenapa??" Timpal Ana heran.


"Bukankah kakimu sakit??" Tanyanya polos melihat ke arah kaki Ana lalu menoleh ke adah kursi roda sehingga membuat Ana tersenyum lebar.


"Kakiku?? Tidak sakit sama sekali.." geleng Ana cepat.


"Apa karena kursi roda ini??" Tunjuk Ana ke arah kursi roda yang ia duduki sejak tadi.


"Aku menaikinya karena aku sedang malas berjalan.." jelasnya lagi santai mengambil buah apel dan sebuah pisau di meja dekat sofa tamu.


"Cih.. aku pikir terjadi sesuatu pada kakimu.." gerutu Louis lega.


Ana hanya mengangkat kedua bahunya, sambil fokus membuka kulit apel dan memotong motongnya, lalu meletakkannya ke atas piring dan segera menyodorkannya pada Louis.

__ADS_1


"Aku sudah mengurus cuti untukmu.. Pak Dong segera mengurusnya.. kau bisa istirahat selama beberapa hari ini.." jelas Ana juga sambil menikmati buah apelnya.


"Dia pasti akan sangat marah.." Louis tampak gusar.


"Dia tidak akan berani memarahimu.. bahkan dia langsung menyetujuinya.."


"Memangnya apa yang kau katakan??" Tanya Louis penasaran.


"Aku membawamu pergi liburan bersama secara pribadi.." jawab Ana enteng.


Sontak Louis tersedak saat tengah mengunyah apel yang ada di dalam mulutnya.


"Benarkah?? Lalu apa tanggapannya?" Serunya terbelalak kaget.


"Dia bertanya apa ini termasuk sebagai pekerjaan?"


"Lalu apa yang kau katakan lagi???" tanyanya lagi penuh rasa penasaran.


"Aku jawab tidak.. tapi aku membawamu berlibur untuk berkencan.." Ana memasang ekspresi polos yang membuat Louis tercengang.


Ia segera memeriksa ponselnya dengan panikĀ  dan tentu saja ada belasan pesan dari Pak Dong yang menanyakan perihal hubungannya dan Ana.


"Dia pasti mengirimmu banyak pesan.." gumam Ana menebak dari ekspresi panik Louis.


"Dia akan memarahiku habis habisan selama berminggu minggu karena ini.."


"Lalu apa yang harus aku katakan?? Apa aku harus katakan bahwa kau di pukul dengan senapan hingga geger otak???" Timpal Ana meninggikan suaranya.


"Bahkan kau lebih baik mengatakan itu daripada mengatakan kita berkencan.." tukas Louis juga meninggikan suaranya.


"Memangnya kenapa kalau kita berkencan?? Apa kau sangat membenciku sampai kau sangat kesal tentang itu??" Celetuk Ana melempar sisa apelnya ke dalam tong sampah di dekat pintu kamar mandi.


"Apa?? Kenapa kau berpikir aku membencimu?? Kau benar-benar tidak tau apa apa tentang aku.. Bahkan aku sangat berharap kita benar benar berkencan, meski kau sangat tidak menginginkan itu.."


Seru Louis semakin kesal membuang muka.


"Baiklah.. mari kita berkencan !!" Timpal Ana tegas. Nafasnya terengah, jantungnya berdegup kencang.


Louis tertegun cukup lama, ia menoleh ke arah Ana dan melihat wajah Ana yang merah padam, ia bahkan kesulitan menelan salivanya.


"Mulai detik ini, menit ini, jam ini, hari ini.. kita berkencan.." tambahnya lagi lalu segera pergi meninggalkan kamar Louis dengan langkah besar.


Ana bersandar di dinding lorong rumah sakit, ia memegang dadanya yang terasa sesak dan jantungnya berdetak sangat cepat.


"**** !!" Umpat Ana mengatur nafasnya.


Sementara Louis masih ternganga tak sanggup berkata apa apa, wajahnya memerah, jantungnya berdetak tak karuan, ia tersenyum dan tersipu malu mendengar perkataan Ana barusan.


"Apa apaan dia itu.." pikirnya dalam hati salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2