
Layla menggunakan ponsel pembakar (sekali pakai), ia menghubungi nomor B1 yang ia curi dari ponsel Ana. Waktu itu dimana ada kesempatan ia memeriksa ponsel Ana yang tengah mandi, bersiap untuk berangkat kerja, Layla dengan sigap mencari nomor kontak B1 dan Mr.Zhou.
Ia sengaja menyimpan nomor itu untuk berjaga-jaga jika situasi buruk terjadi. Ia menelepon B1 yang tengah berada di mansion rahasia Mr.Zhou.
"B1.." seru Layla lirih.
"Siapa ini?" Tanya B1 dingin.
"Kunci hidupmu.." jawab Layla lirih penuh arti.
"Nyo..nyonya Layla??"
"Ternyata kau masih mengingatku.. aku pikir kau sudah melupakan aku setelah Ana memberikanmu waktu istirahat yang cukup lama.."
"A..apa maumu??"
"Bukankah sudah waktunya kau bekerja?? Sudah waktunya kau membantuku.." ujar Layla dingin.
B1 hanya terdiam. Dia teringat kejadian buruk waktu itu. Ia melakukan kesalahan besar yang akan membuat Ana benar-benar membunuhnya.
"Aku ingin kau membantuku.."
"Aku tidak akan melakukan apapun jika itu untuk menyakiti Ms.Grey.." tukas B1 tegas.
"Huh !! Aku yakin dia akan segera menghabisimu jika dia tau apa yang sudah kau perbuat pada Thommas.." ancam Layla terkekeh.
"Bukankah sebaiknya kau lebih dulu bertindak sebelum dia memburumu?? Sekarang waktu yang tepat.."
"Aku tau ini soal putramu kan?? Bukankah kalian yang lebih dulu mempermainkannya?? Aku sudah memperingatimu.. jika anda kembali hanya untuk menyakiti Ms.Grey aku tidak akan tinggal diam.. "
__ADS_1
"Si*l !!! Kau benar-benar munafik.. setelah apa yang kau lakukan.. kau sekarang bertingkah seolah-olah kau malaikat pelindungnya.." hardik Layla sinis.
"Apa yang anda inginkan??"
"Aku hanya ingin kau memata-matai Ana.. dia akan ke negara E untuk pengambil alihan perusahaan putraku.. aku ingin kau membuntuti semua gerak-geriknya.. bahkan jika dia ke toilet sekalipun.."
"Anda benar-benar sudah gila.." gerutu B1 sinis.
"Aku tau adik perempuanmu ada di panti asuhan milik Ana.. bukankah kini dia sudah berumur 20 tahun?? Ah.. gadis cacat yang malang.. padahal dia gadis yang sangat cantik, namun dia harus duduk di kursi roda seumur hidupnya karena hidup tanpa kedua kaki.. seharusnya waktu itu Jane melakukannya dengan benar.. kenapa dia justru membiarkan seorang gadis miskin hidup cacat?? Bukankah lebih baik dia menghabisinya saja??" Gumam Layla mempermainkan B1.
"Brengs*k !!!" Maki B1 marah.
"Berani sekali kau mengincar adikku.. aku tidak akan tinggal diam !!"
"Apa kau pikir Ana akan tinggal diam jika dia tau kalau kau lah penyebab kematian Thommas?? Kau kan tau.. dia masih memburu pembunuh ayahnya.. dan aku tau kalau kau tidak mencari pembunuh itu sama sekali.. karena kau lah pelakunya.. hahahaha... cepat atau lambat dia akan segera tau.. jadi sebaiknya patuhlah padaku.. maka akan aku jamin semua rahasiamu aman.."
B1 menggeretakkan giginya geram.
Sejak saat itu B1 di butakan oleh perintah Layla. Dia benar-benar menjadi budak Layla. Saat Ana berada di negara E, B1 membuntuti Ana. Bahkan saat Ana membunuh Dominic dan Franz, ia ada disana dan merekam semua tindakan Ana. Namun ia tidak mengatakan itu pada Layla. Ia mengaku jika saat pembunuhan Franz, ia kehilangan jejak Ana. Dia hanya melaporkan tentang kejadian yang menimpa Dominic.
B1 lah yang mengirim video asli dan lengkap itu pada Jane. Ia memiliki video rekaman dari awal mula perbincangan hingga akhir naas yang di alami Franz dan Dominic waktu itu.
Itu sebabnya dia tau jika Dominic lah yang lebih dulu mengkhianati Ana dengan menyuruh semua anak buahnya untuk menghabisi Ana yang tengah berada di mansionnya waktu itu.
Jane justru bersyukur karena Ana telah menghabisi pria tua brengs*k seperti Dominic.
Layla yang merasa curiga pada tiap laporan B1 mendatangi adik B1 di panti asuhan, ia juga mengambil beberapa foto dengan adik B1, lalu mengirim foto-foto itu pada B1. B1 segera pulang ke negara K untuk menemui Layla. Saat itulah Layla memerintahkan B1 dan anak buahnya untuk menghabisi anak buah Mr.Zhou di negara C, agar Ana kehilangan kekuatan pengawalannya. Mr.Zhou mencoba berkali-kali menghubungi Ana yang saat itu tengah berada di rumah sakit dan dalam kondisi kritis. Mr.Zhou kini berpikir jika Ana lah dalang penyerangan basecamp yang dilakukan oleh B1 beserta anak buahnya. Kini Mr.Zhou pun ikut memburu Ana.
Ketika dia melihat berita tentang kemunduran Ana, ia semakin yakin jika Ana saat ini tengah melarikan diri karena merasa takut padanya.
__ADS_1
Layla benar-benar telah mengibarkan bendera peperangan, dia berhasil memprovokator B1 dan Mr.Zhou untuk berpaling darinya.
****
Sudah seminggu Ana masih terbaring lemas dalam kondisi kritis. Ia sempat sekali membuka matanya, tatapannya kosong, ia menatap Jane dengan tatapan sedih, namun tidak sepatah katapun yang ia ucapkan.
Dokter masih melakukan banyak penelitian dan uji coba untuk menyembuhkan Ana. Kini mereka berencana untuk membuang habis organ dalam Ana yang telah terinfeksi, lalu menggantinya dengan organ donor atau organ buatan.
"Apa pilihan yang terbaik saat ini dok??" Tanya Jane shock mendengar penjelasan dokter.
"Hanya 2 pilihan itu Nyonya.. organ donor atau organ buatan.."
"Apa efek sampingnya??"
"Jika melakukan donor Ms.Grey akan rentan terserang virus, hal itu akan membuatnya mudah jatuh sakit.. dia akan menjadi sangat sensitif.. Sementara jika menggunakan organ buatan, maka dia akan beresiko mengalami kelumpuhan permanen, yang artinya dia akan tetap bertahan hidup namun hanya terbaring di atas tempat tidur.. organ buatan memiliki resiko buruk dan baik 50-50% jadi kita tidak tau apa dia akan mendapat dampak buruk atau dampak baik.."
"**** !!" Umpatnya lirih. "Apa hanya ini pilihan baik yang ingin anda katakan padaku??" Tanya Jane sinis.
"Maaf Nyonya jika ini mengecewakan.."
"Aku menghabiskan banyak uang hanya untuk mendengarkan omong kosong ini.."
"Kami hanya menawarkan beberapa potensi terbaik untuk saat ini Nyonya.. infeksi semakin hari kian memburuk.. kita harus segera mengambil tindakan.."
"Kasih aku waktu.. aku akan segera memutuskan.." ujar Jane lirih.
Jane meminta waktu untuk berpikir. Dia tidak tau apa yang akan ia lakukan. Semuanya benar-benar beresiko, Ana tidak akan pernah bisa kembali hidup normal meski ia telah melewati masa kritisnya. Saat ini Jane kembali menangis serambi menatap Ana yang terbaring di atas tempat tidurnya.
Tubuh Ana yang dipenuhi tato kian hari tampak semakin kurus, tulang pundaknya semakin menonjol, wajahnya semakin tirus. Jane hanya berharap saat ini Ana segera sadar dan lekas sehat.
__ADS_1
****