
--》Setelah keluar dari hutan itu, Ana meraih ponselnya dari dalam saku.
"Grandma.." ujarnya lirih ketika sudah mendengar suara Jane yang telah menjawab panggilan Ana.
"Apa kau tau tentang ini??"
"Tentang apa?"
"Kecelakaan ayahku Thommas.." lirih Ana dengan suara bergetar.
"..." Jane diam seribu bahasa, Ana hanya mendengar suara nafas Jane yang tercekat.
"Ternyata kau sudah tau.." timpal Ana menduga reaksi Jane.
"Kenapa kau tidak menghentikan aku??" Hardik Ana dengan nada sinis.
"Aku sudah melakukan semuanya semampuku Ana.. kau tidak pernah mempercayaiku.." jawab Jane terdengar tenang.
"Itu sebabnya kau membakar basecamp-ku waktu itu?? Untuk menyingkirkan mereka semua?? Bahkan berusaha hampir membuatku celaka??"
"...." Lagi-lagi Jane tak bergeming.
Ana terisak keras, ia terus meratapi kebodohannya.
"Seharusnya aku tidak melakukan kesalahan apapun.. selama ini ternyata aku hanya terus berusaha melindungi orang yang salah.." sesalnya terisak.
Karena selama ini ia telah melindungi, merawat dan menyelamatkan musuhnya yang sebenarnya.
"Ayahku pasti akan sangat membenciku.. bagaimana bisa aku justru melindungi musuhnya selama ini.." isak Ana keras.
Tut..tut..tut..
Ana segera mematikan panggilannya. Ia menjatuhkan membanting ponselny, menginjak-injak ponsel itu seperti orang gila, ia bahkan mencekram erat rambutnya serambi mengerang kesal.
"Arrggghhhh !!!"
^^^
Louis segera bangkit dari rebahnya usai di periksa oleh dokter.
"Apa anda rutin meminum obatmu?"
"Lumayan rutin.. terkadang aku terlupa dan terlewat.." jawab Louis enteng.
"Anda akan merasakan sakit kepala yang akan terus berulang seperti ini jika anda tidak rutin meminum obat yang sudah di resepkan.."
"Tapi.. aku seperti mendapat ingatan baru.." gumam Louis tampak sedikit ragu.
"Benarkah? Ingatan seperti apa?"
"Ingatan itu samar, tapi aku mengingat dan mendengar jelas suara seorang wanita.."
"Apa menurutmu dia wanita yang sama dengan ingatanmu sebelumnya.."
"Entahlah.. tapi aku rasa begitu.."
"Jangan paksakan dirimu.. jika kau benar-benar sudah pulih, ingatan itu pasti akan segera kembali.. anda hanya perlu beristirahat yang cukup, rutin meminum obat, dan jangan membebani pikiranmu.."
"Menurutmu apa yang sudah aku lupakan?? Aku merasa sangat sedih saat ingatan itu terlintas.."
"Mungkin itu ingatan masa lalumu, atau itu sebatas ingatan dari potongan-potongan adegan di shooting film-mu.."
"Benarkah??"
__ADS_1
"Mungkin saja.. cepat atau lambat, ingatanmu akan segera kembali.. aku jamin itu.."
"Baiklah kalau begitu.. terima kasih dokter.."
"Sampai jumpa, jangan lupa minum obatmu.."
"Baiklah.."
***
Pak Kim siang itu mencoba menghubungi nomor ponsel Ana, sejak pagi ia mencoba menghubunginya, namun ponselnya masih tidak aktif. Merasa khawatir ia mencoba menghubungi nomor ponsel Jane yang ternyata juga tidak aktif.
Saat hendak bangkit dari duduknya, Pak Kim di kejutkan dengan kehadiran Ana dengan wajah dinginnya.
"A..ana.. anda baik-baik saja?" Tanya Pak Kim khawatir.
"Tentu saja.." angguk Ana segera duduk di sofa tamu.
"Aku mencoba menghubungimu sejak pagi.."
"Ah.. iya.. ponselku rusak.." sela Ana memotong ucapan Pak Kim.
"Begitu rupanya.. bagaimana keadaanmu??" Pak Kim segera menghampiri Ana yang tampak sangat tenang.
"Aku baik-baik saja.." angguk Ana tenang.
"Sungguh?"
"Hmmm.." angguk Ana cepat.
"Beri aku pekerjaan.. aku butuh kesibukan saat ini, agar aku bisa teralihkan dengan banyak hal.. kalau tidak.. aku bisa melakukan hal-hal gila lagi.. kau tau.. aku bahkan hampir mengakhiri hidupku.." ujar Ana enteng.
"Apa maksud anda?" Pak Kim tidak mengerti dengan ucapan Ana.
"Beri aku pekerjaan.. kau tau kan aku mahir melakukan apapun.. aku bisa mengerjakan apapun.. suruh aku apa saja.." pinta Ana dengan ekspresi datar.
"Suruh aku apa saja.. atau apa aku harus bersih-bersih disini?"
"I..itu tidak mungkin.." gelengnya cepat.
Ana hanya menatap Pak Kim datar, membuat Pak Kim merasa semakin terpojok.
^^^
Sudah 3 jam Ana ikut bekerja bersama staff cleaning service gedung perusahaan, sesaat setelah ia memutuskan untuk melakukan pekerjaan apapun. Mau tidak mau Pak Kim memerintahkan ia untuk membantu staff kebersihan. Ia sejak tadi membersihkan gedung itu dengan penuh semangat, teliti dan tenang.
Tapi, hal itu justru membuat para staff merasa canggung dan sungkan. Bahkan beberapa kali mereka berusaha menghentikan Ana.
Bagaimana mungkin pemilik gedung perusahaan itu justru menjadi cleaning service disana. Ana juga membantu pekerjaan beberapa orang staff yang tampak sudah berumur.
Saat tengah mengelap kaca jendela di lobi gedung, seseorang menyapa hangat Ana dari arah belakangnya.
"Bukankah anda putri Pak Kim?" Sapa pria itu terdengar akrab.
Ana segera menoleh ke arah belakangnya. Ia ternganga sesaat karena kaget, namun ia cepat menyadarkan diri.
"Iyaa.. anda siapa?" Tanya Ana pada Louis pura-pura tidak mengenalnya.
"Oh.. a..aku kemarin yang menolongmu saat di rumah sakit.." jelas Louis canggung.
"Ah.. benarkah?? Terima kasih sudah menolongku kemarin.." angguk Ana menunduk, lalu kemudian segera mengabaikan Louis, ia kembali menyibukkan diri, berusaha menghindari tatapan Louis.
"Kenapa dia harus menyapaku.." gerutu Ana membatin.
__ADS_1
"Ba..baiklah kalau begitu.. sampai jumpa lain waktu.." ujar Louis canggung saat sadar bahwa ia telah di abaikan oleh Ana.
Louis segera pergi menuju lift, sementara Ana yang sejak tadi mengabaikan Louis, berusaha mencuri pandang padanya.
"Dia sangat tampan sekali.. bahkan dia juga sangat ramah.." gumam bibi Sella bergumam di samping Ana, mengejutkan lamunannya.
"Siapa? Louis?" tanya Ana setengah berbisik.
"I.. iya.. bukankah dia sangat tampan? cucuku sangat mengidolakannya.." matanya tampak berbinar saat memuji karya Tuhan yang satu itu.
"Benarkah? Aku mengenal banyak orang yang lebih tampan darinya.." tukas Ana terkekeh meledek Bibi Sella.
"Tentu saja banyak pria tampan di dunia ini.. tapi belum tentu hatinya sangat baik.. jarang sekali ada pria tampan yang memiliki hati yang baik.. biasanya mereka akan memanfaatkan ketampanan mereka untuk menyembunyikan sifat jahat mereka.."
"Aku setuju soal itu.." timpal Ana bersemangat mengayun-ayunkan kain lap ditangannya. "Banyak pria brengs*k di luar sana yang sok tampan.."
"Hahaha.. aigooo.. anda sangat bersemangat soal itu.." gelak bibi Sella tertawa geli melihat tingkah Ana. "Apa anda pernah di kecewakan oleh pria tampan?" tebak bibi Sella menerka.
"Tidak pernah.. lagipula mana mungkin seseorang seperti aku ini di kecewakan oleh pria.. Bibi ada-ada saja.." elak Ana menyombongkan diri.
"Justru akulah yang mengecewakan mereka, bahkan aku menghancurkan hidup mereka.." batin Ana tertegun.
Sementara Louis tengah fokus melihat tingkah lucu Ana dari dalam lift yang tengah meluncur naik ke lantai atas gedung. Ia tampak tersipu melihatnya.
"Apa yang kau lihat?" timpal Pak Dong mendekati Louis di sisi dinding lift yang transparan. Ia mendapati bahwa Louis tengah tersipu melihat Ana yang tampak tengah bercanda dengan pekerja di lobi.
"Jangan bilang kau sedang memperhatikan Ms.Grey?" hardik Pak Dong kaget.
"Ms.Grey? Ah.. jadi panggilannya Ms.Grey?" angguk Louis mencoba mengingat-ingat nama itu.
Lalu dia mengingat-ingat nama yang tidak asing itu.
"Sebaiknya urungkan niatmu untuk mendekatinya.." cegah Pak Dong menghentikan lamunan Louis.
"Memangnya kenapa? apa dia sudah menikah?"
"Bahkan lebih buruk dari sudah menikah.." jawab Pak Dong asal.
"Apa maksudmu? Dia terlihat seperti wanita yang baik.."
"Dia memang sangat baik, amat sangat baik.. tapi juga sangat berbahaya.."
"Berbahaya bagaimana?"
Pak Dong menggaruk kepalanya dengan gelisah. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Louis.
"Kau harus ingat ini.. ada rumor yang mengatakan, jika siapapun yang berkencan dengannya.. akan berakhir buruk.." bisik Pak Dong.
"Buruk apanya?"
"Ish.. kau ini menyebalkan sekali.." geram Pak Dong kesal.
"Kau ini bertele-tele sekali.." timpal Louis ikut kesal.
"Dia tidak berminat berkencan dengan siapapun.. semua orang yang mendekatinya patah hati berat setelah di tolak mentah-mentah olehnya.."
"Benarkah? Kenapa dia tidak ingin berkencan? Apa dia suka sesama jenis?"
"Kau ini!!" tukas Pak Dong menepuk keras pundak Louis.
"Bukan begitu.. dia hanya tidak suka berkencan atau menjalin hubungan dengan siapapun.." jelas Pak Dong meluruskan maksudnya.
"Dia pasti punya alasan yang penting.." Louis terus menerus berusaha berpikir positif tentang Ana.
"Sudahlah.. yang pasti.. kau jangan coba-coba untuk mendekatinya.. apalagi sampai berpikir untuk menyukainya.. Pak Kim akan langsung mengusir kita.." ujar Pak Dong tegas, segera keluar dari lift saat pintu lift itu terbuka.
__ADS_1
selain berusaha menjauhi Louis dari Ana, Pak Dong masih mengkhawatirkan kesehatan Ana.