Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 51 : Diabaikan


__ADS_3

Kejadian dua hari lalu masih terasa membara di benak Ana.


Saat pulang setelah menemui Jane, Layla mendapati Ana kembali dengan wajah yang di hiasi darahnya, wajahnya pucat dan tampak sangat kesal.


"Ana.. kenapa kepalamu??" Seru Bibi Layla panik menahan tangan Ana.


Ana menepis tangannya pelan. "Aku tidak apa apa Bi.. aku sangat lelah.. aku mau istirahat.." jawab Ana lirih.


Lagi lagi Bibi Layla menarik lengan Ana. "Biarkan aku mengobati lukamu.." mohonnya dengan mata berkaca kaca.


"Aku mohon.. biarkan aku sendiri.. aku benar benar sangat lelah.. aku sedang tidak berpikiran jernih.. aku tidak ingin menyakiti hatimu dengan perkataanku nantinya.." mohon Ana dengan suara parau.


Sebenarnya dia tidak marah dengan Bibi Layla, melainkan ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Bibi Layla dengan baik, sehingga ia mudah di serang dan di lukai oleh Jane.


Bibi Layla melepas genggamannya perlahan. "Baiklah.. katakan padaku jika kau butuh sesuatu.."


Ana segera berjalan menuju bar-nya. Disana ia menyalakan penghangat ruangan, ia meletakkan long-coat nya sembarangan, ia mengambil kotak p3k, membersihkan lukanya dengan alkohol lalu segera menempelkan plaster asal asalan di kepalanya, lalu ia segera berjalan ke arah rak minumannya, ia mengambil beberapa botol minuman, ada vodka dan wine.


Kemudian ia duduk berselonjor di atas sofabed, mengeluarkan rokok dan pemantiknya.


Ia memandang ke arah jendela dengan tatapan kosong, keadaannya semakin rumit, kondisinya tidak bisa di duga duga, sebentar membaik, sebentar bentar sangat buruk.


Ia bahkan tidak tidur semalaman, ia berada di bar hingga pagi hari, ia bahkan sempat melakukan gym di ruang gym untuk menghilangkan mabuk dan pengarnya.


Dalam kondisi masih setengah mabuk dan setengah sadar ia pergi ke kantor di antar oleh supir yang selalu standby di mansion, di kantor ia mengosongkan semua jadwal kerjanya dan menolak bertemu siapapun, bahkan Louis yang datang sambil terus memohon dengan Pak Kim agar di beri izin masuk bertemu Ana.


——————————————————————————

__ADS_1


Saat akan memasuki ballroom Ana melepas longcoat-nya dan segera di pegangi oleh Pak Kim. Tentu dengan plaster masih menempel di kepalanya yang ditutupi dengan pita besar berwarna merah.


"Apa anda yakin Ms.Grey?" melihat Ana berani tampil sangat beda malam ini.


"Bukankah ini yang akan membuat rencana ini berhasil Pak Kim?" Imbuh Ana dengan senyum penuh makna.


Pak Kim hanya mengangguk tanpa berkomentar lagi. Saat pintu ballroom terbuka, reporter yang ada disana langsung terperanjat kaget melihat penampilan Ana yang sangat berbeda malam itu, mereka segera mengerumuni Ana, memotretnya berkali kali.


Semua tamu undangan juga kaget melihat penampilan Ana yang tampak 'bad-***'. Ia berjalan melangkah mendekati Jane yang menatapnya dengan tatapan kaget.


"Kau tampak luar biasa Ana.. bagaimana lukamu? Apa aku memukulmu kurang keras" imbuh Jane basa basi.


"Apa kau masih ingin berduel denganku?" Timpal Ana sinis.


Jane hanya terkekeh sinis. "Bahkan Louis bisa menghentikanmu.. apa sebegitu berartinya dia bagimu??"


"Dia yang ingin menemuiku lebih dulu.. jadi.. aku belum sempat merencanakan apapun untuknya.. mungkin nanti akan aku pikirkan rencana yang bagus untuknya.."


"Kau tidak perlu repot repot.. dia sudah aku jauhi dengan sendirinya.. simpan saja tenanga mu yang sudah memudar untuk melawanku.." tukas Ana mengejek.


"Apa kau berpikir tatomu itu akan berhasil mengalihkan publik untuk mengetahui cerita sedihmu??"


"Bukankah sebaiknya kau bertanya lebih dulu kenapa aku menato tubuhku??" Ana menenggak wine yang baru saja ia ambil dari nampan yang pelayan suguhkan padanya.


"Aku tidak peduli dengan gambar gambar aneh seperti itu.. bagiku seni hanyalah sebuah seni.." jawab Jane acuh.


"Namun dibalik seni yang kumiliki ditubuhku, bukankah terdapat banyak fakta luka dan penderitaan hidupku di masa lalu.. apa kau ingin aku mengungkitnya?" celetuk Ana dingin memancing respon Jane yang mulai tampak gusar.

__ADS_1


"Haruskah??" Jane menatap Ana lekat lekat, ia berusaha membaca pikiran dan rencana Ana. Namun Ana memang sosok yang sulit di tebak.


"Entahlah.. atau kau mencoba tidak peduli karena kau sudah tau semuanya??" Timpal Ana lagi dengan nada dingin.


"Jadi apa sekarang aku harus mendengar kisah sedihmu?? memuji tatomu? Atau memuji keberanianmu tampil seperti ini?? Lagipula kau lebih cocok berpenampilan seperti ini Ana, kau tampak luar biasa.." Jane segera meninggalkan Ana, ia tidak ingin merusak rencananya malam ini.


Ana yang melihatnya pergi segera menenggak habis wine nya lalu segera meletakkan gelas kosong itu di nampan pelayan yang lewat di dekatnya, lalu mengambil gelas berisi wine yang baru. Ia menyebar pandangan ke segala arah, melihat setiap wajah tamu undangan Jane, ia hanya mengingat beberapa wajah karena pernah ia temui saat ikut meeting bersama ayahnya dulu.


Tatapannya terhenti pada sosok yang ia hindari sejak dua hari ini. Louis tampak tengah berbicara dengan beberapa orang yang dikenal Ana sebagai pengusaha dan presdir dari berbagai perusahaan. Ana segera berlalu keluar balkon, mengeluarkan rokok dan pemantiknya dari dalam tas. Lalu memeriksa email pekerjaannya. Ia terus fokus pada ponselnya hingga tidak sadar jika ada seseorang yang sudah berdiri di dekatnya lalu memasangkan mantel kulit berwarna hitam menyelimuti tubuhnya.


Ana segera berpaling dan mendapati Louis telah berdiri disini. Seketika Ana mematikan dan membuang putung rokoknya yang masih tersisa, ia segera menjatuhkan mantel itu dengan tidak peduli, menginjaknya, lalu segera berlalu menghindari Louis.


Namun Ana mendapat pencerah untuk rencana barunya ketika seorang pria yang tidak asing berdiri di pintu balkon.


"Disini kau rupanya?" Seru Franz senang menemui Ana. Ia segera membuka jas nya memasangkannya ke pundak Ana yang terbuka.


"Kau sedang apa? Di luar sangat dingin, bajumu juga sangat terbuka.. kau tampak tidak seperti dirimu yang biasanya Ana.." omel Franz dengan nada yang terdengar aneh.


"Kapan kau datang?" Tanya Ana tak menggubris ucapan Franz.


"Sore tadi, aku ingin memberimu kejutan.." jawabnya tersenyum manis.


"Ayo bicara didalam.. disini sangat dingin.. lagipula aku tidak suka ada lalat yang terus memperhatikan makananku.." ujar Franz ketus menyindir Louis yang terus melihat ke arah Ana.


"Apa sekarang aku makanan bagimu?" Ana tersenyum tipis.


"Ah.. maaf.. aku hanya bercanda.. bagiku kau adalah hal yang tak terhingga.." gumamnya lirih.

__ADS_1


"Ayo masuk.." Ana merangkul lengan Franz dan berjalan bersamanya masuk kembali ke dalam ballroom dengan tidak memperdulikan Louis sama sekali. Louis merasa patah hati berkali kali selama mengenal Ana, dan kali ini ia harus  segera menjelaskan kesalah pahaman di antara mereka, namun sudah dua hari itu Ana mengabaikannya, bahkan saat datang ke kantor, Ana menyuruh Pak Kim mengusir Louis yang ingin menemuinya.


__ADS_2