
"Kau bahkan tidak melakukan apapun.. bagaimana bisa kau menikmati hidupmu?"
"Tinggal bersama denganmu.. mengurusmu.. menjagamu.. itu sangat menyenangkan untukku saat ini.." ujar Jane lirih.
"Kau membuatku ngeri Grandma.."
"Cih.. kau selalu saja tidak pernah menganggap serius perkataanku.."
"Istirahatlah.. aku juga akan segera tidur.." elak Ana mengabaikan ucapan tulus Jane.
"Teleponlah dia jika kau merindukannya.." celetuk Jane santai meledek Ana.
"Tidak ada alasanku untuk menghubunginya saat ini.." geleng Ana sedih.
"Aku tau kau sangat merindukannya.." timpal Jane membuat Ana membelalakkan matanya.
"Itu juga percuma, karna saat ini dia tengah hilang ingatan.. aku yakin dia tidak akan mengingatku saat ini atau mungkin selamanya.. bukankah itu hal yang bagus?"
"Bagus apanya? Kau bisa buat dia mengingatmu lagi.."
"Aku rasa tidak perlu.. karena sekarang waktu yang tepat untuk lepas darinya.."
"Apa kau ingin terus membiarkan dirimu terluka sendirian? Kesepian? Mencintai dan merindukannya seorang diri?"
"Mungkin itu lebih baik.." angguk Ana setuju.
"Apa kau masih trauma dengan masa lalumu?" Celetuk Jane membuat raut wajah Ana berubah seketika.
"kau benar-benar sudah melewati batas.." tukas Ana sinis.
"Aku ingin menebus semua kesalahanku di masa lalu padamu Ana.."
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menyembuhkan traumaku.. kau tau kan.. bertahun-tahun aku mencobanya.. tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya.. jadi.. pergilah.. aku tidak ingin membahasnya.. berhentilah jika kau tidak ingin kita berdua berakhir di rumah sakit.."
"Maaf.. aku sudah menghancurkan hidupmu.."
"Tidak.. kau tidak perlu meminta maaf.. mungkin ini sudah takdirku.. memiliki hidup yang menyedihkan.."
"Ana.."
"Aku memiliki semua hal yang di inginkan banyak orang, mansion, mobil mewah, harta yang berlimpah.. orang-orang selalu iri akan hal itu, tapi mereka tidak pernah tau jika hidupku sangat hampa dan kesepian.. segala yang aku miliki terasa tidak ada artinya.." Ana menatap dalam payar laptopnya yang kini tengah menampilkan foto Louis dari halaman web.
"Masa lalu sial*n itu benar-benar menyiksaku.. bahkan aku masih kesulitan saat bertemu klien pria yang terlihat cukup berumur.. membuatku sulit bernafas dan ketakutan.. tapi aku terus berusaha melawannya.. aku terus berusaha mengabaikannya.. dan kau tau apa yang lebih menyedihkan? Aku sangat ingin melakukan banyak hal bersama Louis.. seperti pasangan normal lainnya.. memeluknya, menciumnya, menghabiskan setiap malamku bersamanya.. tapi.. hanya dengan bergandengan saja, itu sudah membuatku gemetar dan ketakutan.." mata Ana berkaca-kaca.
Jane membisu, matanya berkaca-kaca membayangkan kesedihan Ana.
"Ini benar-benar membuatku gila Grandma.." tukasnya mengusap wajahnya yang sembab.
"Itu sebabnya.. aku tidak akan pernah bisa menjadi normal Grandma.. aku sangat buruk dan hancur.. aku yakin bahkan Louis pasti sangat ingin melakukan banyak hal dengan orang yang dia sayang.. tapi aku yakin itu tidak akan bisa dia lakukan jika dia terus bersamaku.. bahkan dia terus berusaha bersifat manis dan romantis padaku.. sementara aku harus terus bersikap kasar padanya agar dia tetap dalam batasannya.. itu sebabnya aku pikir.. lebih baik kami benar-benar berpisah.. dan sangat baik jika dia tidak mengingatku sama sekali.. agar semuanya menjadi mudah untuknya.." tambah Ana lagi menghela nafas panjang.
"Aku sangat berdosa padamu Ana.. aku menghancurkan semuanya.. aku selalu berdoa setiap saat semoga kau bisa hidup bahagia dan saling mencintai dengan orang yang sangat menyayangimu Ana.. aku berharap kau bisa kembali hidup normal dan selalu bahagia.." isaknya tertunduk.
"Apa yang kau lakukan? Aku bukan Tuhan.. jangan bersimpuh dan berlutut memohon padaku.." celetuk Ana menarik lengan Jane.
Ana menatap sendu pada wajah Jane yang masih menangis terisak.
"Sudahlah.. seharusnya aku yang menangis tersedu-sedu karena aku yang sedang patah hati.." gerutu Ana tersenyum tipis berusaha mencairkan suasana.
Jane segera memeluknya erat, mengelus rambut Ana hangat.
"Cucuku yang malang.. cucuku yang malang.." ucapnya berulang sontak membuat Ana larut dalam kesedihan, dan ia pun turut menangis tertahan.
"Apa yang kau lakukan.. ini tampak sangat menyedihkan.." gerutu Ana menyeka air matanya, ia berusaha melepas pelukan Jane.
__ADS_1
"Kau selalu menahan semuanya sendiri.. menanggungnnya sendiri.. aku sadar betapa menderitanya kau selama ini.. menangislah Ana.. tidak apa-apa jika kau ingin menangis.. lepaskan amarah dan kesedihanmu.. jangan kau pendam sendiri.. lepaskan semua kesedihan dan keluh kesahmu.." Ana terdiam. Bibirnya bergetar hebat, ia juga teringat ucapan hangat itu yang pernah di ucapkan ibu Louis dulu padanya.
Ana berusaha keras menahan tangisnya.
"Aku baik-baik saja Grandma.." ujarnya melepas pelukan Jane dengan keras.
"Kembalilah ke kamarmu.. aku ingin istirahat.."
Jane mengusap kedua pipinya. Ia merangkul lengan Ana dan membantunya berjalan menuju tempat tidur.
"Istirahatlah.. semoga kau lekas sembuh Ana.."
"Tentu saja.. aku harus segera sembuh.. aku akan mengumpulkan kekuatan dan tenagaku sekarang untuk menghabisi para bajing*n itu.." tukas Ana tersenyum dingin, segera berbaring di atas tempat tidurnya.
Jane membelai rambut Ana beberapa kali, lalu segera menyelimutinya dan segera keluar meninggalkan Ana yang sudah terbaring di tempat tidurnya. Jane kemudian menutup rapat pintu kamar Ana.
Seketika air mata Ana tumpah, ia tak lagi bisa membendungnya lagi, air mata itu terus mengalir deras. Ia bahkan menangis tertahan, ia menutup wajahnya dengan selimut, berusaha menahan tangisnya yang pecah.
Samar-samar Jane mendengar isak tangis Ana dari balik pintu, tapi ia tidak ingin mengganggu Ana lagi. Ia segera menuju kamarnya di lantai 2. Ia menutup rapat pintu itu. Ia memeriksa ponselnya, dan mendapat sebuah email dari sekretarisnya.
"Semua yang anda perintahkan sudah selesai di kerjakan Nyonya Jane.." tulisnya.
Jane menghela nafas lega. Jika hal buruk terjadi, ia akan meninggalkan semua aset dan perusahaannya untuk Ana seorang, yang mana nilai aset itu jauh lebih besar di bandingkan aset yang di tinggalkan Thommas untuknya. Ia meninggalkan banyak tabungan, banyak aset yang berupa tanah, bangunan, dan perusahaan, yang mana semuanya berjalan lancar dan baik.
Setidaknya Ana tidak akan kesulitan mengelola semuanya karena semuanya berjalan dengan baik.
Kini ia memantau beberapa sahamnya yang tampak sangat membaik. Ia belum bisa menarik keuntungannya karena ia tidak ingin keberadaannya terlacak dan di ketahui orang lain.
Jane memang sangat lihai dan jago dalam mengurus bisnis dan perusahaannya. Meski ia tidak berada di negara E, namun ia tetap bisa mengontrol semua pekerjanya dengan baik. Ia memang sangat tegas dengan semua karyawannya, namun ia sangat royal pada mereka, sehingga mereka pun loyal dalam bekerja, dan tidak pernah mengecewakan Jane.
Meski Ana telah melepas Grey World namun ia tetap menjadi pemegang saham terbesar di GC Hotel dan di agensi Louis. Jane tidak tau jika Pak Kim telah membatalkan pengalihan saham Ana di GC Hotel dan di Agensi Louis untuk berjaga-jaga jika suatu saat Ana kembali ke negara K.
__ADS_1