
"Hmm.. dia ada di dalam.. kalau gitu aku pergi dulu ya.. sampai jumpa Pak Dong.."
"Baiklah.. sampai jumpa Nona.." Pak Dong tampak segera mengetuk pintu kamar Louis lalu membukanya.
Dilihatnya Louis tengah duduk termenung di atas tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Pak Dong merasa khawatir.
"Hmm.." Louis benar-benar mengabaikan mereka. Dan hanya fokus pada satu titik lamunannya, yaitu lukisan di dinding kamarnya yang bergambar abstrak.
"Kau jadi mau ke apartmentmu? Kemarin kan kita belum sempat kesana.."
"Lain kali saja.."
"Ada apa? Apa kau merasa sakit?"
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana.."
"Baiklah kalau begitu.. istirahatlah dirumah.. oh iya.. ini ponsel baru untukmu.." seru Pak Dong segera menyodorkan sebuah totebag ponsel baru untuk Louis.
"Ah.. terima kasih.."
"Katakan saja padaku jika kau butuh apapun.."
"Terima kasih Pak Dong.."
"Aku merasa sangat aneh karena kau sangat sopan dan baik seperti ini.. biasanya kau suka cerewet, marah marah dan berbuat sesukamu sehingga aku selalu naik pitam karena ulah usilmu.. aku sangat merindukan sifatmu itu.. kau harus segera pulih Lou.." gumamnya tersenyum.
"Aku juga berharap begitu.. aku merasa sangat asing pada diriku sendiri.. aku bahkan tidak bisa mengingat siapa diriku sebenarnya.. ini benar-benar membuatku frustasi.."
"Jangan memaksakan dirimu Lou.. kau akan segera pulih.. kau hanya perlu banyak istirahat, jaga makanmu dan jangan lupa minum obat.."
"Baiklah Pak Dong.." angguknya mengerti.
"Kalau kau tidak ingin kemana-mana hari ini, aku akan segera kembali ke kantor.. karena banyak yang harus aku kerjakan akhir-akhir ini karena kau tengah bercuti.."
"Baiklah.. maaf sudah merepotkanmu.."
__ADS_1
"Ah.. kau membuatku ngeri.. lihat ini aku sampai merinding mendengarnya.. berhenti bersifat manis dan baik begitu.."
"Maaf.." ujarnya terkekeh melihat ekspresi lucu Pak Dong.
"Sampaikan salamku untuk semua ya.."
"Baiklah.. aku pergi dulu.. sampai nanti.."
Pak Dong segera pamit pergi. Sementara Louis tengah membongkar bungkus ponsel barunya. Ia memeriksa kontak di ponselnya, ada kontak Pak Dong, Pak Kim, Ayah, Ibu dan adiknya Irene.
Ia kemudian mengulik internet, mencari-cari semua berita tentangnya. Tak ada satupun berita tentang dirinya dengan seorang perempuan, selain berita tentang lawan mainnya di drama dan filmnya. Saat tengah berusaha mengetik di layar ponselnya, ia tampak kesulitan menekan layar ponselnya dengan satu tangan, di tambah kuku jari tangannya sudah cukup panjang.
Ia segera bangkit dari tempat tidur, mencari cari alat pemotong kuku, namun tak ia temukan. Kemudian ia memutuskan mencarinya di kamar ibunya. Ayah ibunya tengah pergi ke restoran tempat usaha mereka. Louis hanya seorang diri di rumahnya, orang tuanya memutuskan untuk tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga untuk sementara, karena takut Louis merasa tidak nyaman jika ada orang asing berada di rumah mereka. Lagipula ayah dan ibunya merasa masih sanggup membersihkan rumah besar nan mewah itu, di bantu dengan beberapa alat pembersih otomatis yang cukup membantu.
Louis mencari-cari alat pemotong kuku itu di meja rias ibunya, memeriksa tiap laci. Hingga ia tak sengaja menemukan kotak yang tersembunyi di laci ibunya.
Karena penasarn Louis membuka kotak itu.
Ia terdiam sesaat memperhatikan ponsel dan gelang di dalamnya.
"Bukankah ibu bilang ini milik teman Irene? Kenapa ibu belum mengembalikannya? Apa dia lupa?" Gumamnya membatin segera menutup kotak itu, dan mencari ke tempat lain tapi tak juga ketemu.
Tak terasa ia tertidur hingga siang hari. Ia terbangun saat mendengar suara ayahnya yang mengetuk pintu kamar.
"Lou.. Lou.." seru ayahnya dari balik pintu.
"Iya Yah.." sahutnya setengah sadar.
"Ayo kita makan siang, ibu membungkuskan makan siang dari restoran untukmu.."
"Baiklah.." sahutnya lagi dari dalam kamar, masih dengan posisi terbaring di tempat tidur.
Obatnya benar-benar membuatnya selalu mengantuk. Louis segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi, di dalam ia berusaha membasuh wajahnya dengan satu tangan. Segera menyekanya dengan handuk lalu menyusul ayahnya di ruang makan.
"Wahhh.. ini wangi sekali.. pasti ini sangat enak.." puji Louis menyukai aroma makanannya.
"Tentu saja.. ini menu favorit di restoran kita.. dan kau juga suka sekali makan ini.." jelas ayahnya melihat Louis mulai melahap makan siangnya yaitu steak daging beserta salad sayur, kentang goreng yang di siram dengan saus BBQ pedas.
__ADS_1
"Wah.. ini benar-benar enak.. apa restoran kita selalu ramai?"
"Tentu saja.. bahkan fansmu juga banyak yang sudah menjadi langganan tetap, di kantorku bahkan sudah hampir penuh oleh kadomu.. banyak fansmu yang berdatangan dan menitipkan kado untukmu.. nanti aku akan meminta ibumu membawa semuanya pulang kerumah.."
"Wah.. aku sangat bersyukur banyak yang sangat memperhatikan dan menyayangiku.."
"Tentu saja.. kau pria yang sangat baik.. wajar saja banyak yang mengidolakanmu.."
"Aku pasti mirip sekali dengan Ayah kan? Tampan dan bijaksana.." puji Louis pada ayahnya yang tampak tersipu malu.
***
Ana berlatih berjalan sejak malam hari, saat lelah dan merasa nyeri ia akan meminum obatnya lalu beristirahat, setelah terbangun, ia kembali berlatih jalan.
Setelah beberapa hari sejak kedatangan Tyo, Jane menyewa beberapa pengawal untuk berjaga. Mereka tidak bisa pindah karena sulit untuk menemukan tempat tinggal yang pas dan sesuai dengan selera Jane yang sangat pemilih. Ana tidak pernah memilih apapun karena ia bisa hidup dan tinggal dimana saja, karena ia berawal hidup di panti asuhan yang cukup kumuh.
Ditambah kondisi Ana tidak memungkinkannya untuk tinggal jauh dari rumah sakit.
Sudah beberapa hari ini, terkadang Ana tiba-tiba mengalami bersin-bersin tanpa henti selama beberapa jam, dan ia juga sempat tiba-tiba mengalami panas tinggi dan meriang. Jane terpaksa memanggil perawat Ana ke rumah di tengah malam, bahkan menyuruhnya menetap hingga Ana membaik.
Ana benar-benar merasa lelah dengan kondisinya. Ia ingin cepat-cepat mengakhiri semua masalahnya.
Kini ia tengah duduk di meja kerjanya. Melihat cermin kecil di atas mejanya. Ia menyalakan laptopnya, dengan rasa ragu ia mengulik internet dan mencari-cari berita tentang Louis. Ia merasa sedikit lega, ketika ada berita terbaru yang menyebutkan jika Louis sudah menampakkan diri datang ke agensinya meski belum bisa kembali bekerja karena tangannya.
Ia menatap lama foto tampan Louis yang tampak mengenakan kruk di tangan kirinya. Ia benar-benar merasa aneh dengan perasaannya.
"Kenapa tidak kau telepon saja dia?" Timpal Jane tiba-tiba dari belakang mengagetkan Ana yang segera menutup latar laptopnya.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebuh dahulu?"
"Itu bukan kebiasaanku.." gelengnya menghampiri Ana, lalu duduk di ujung tempat tidurnya.
"Apa maumu?" Tanya Ana ketus sambil terus mengutak-atik laptopnya.
"Tidak ada.. aku ingin mengajakmu minum wine, tapi aku lupa jika kondisimu belum stabil.."
"Istirahatlah.. ini sudah larut.." tukas Ana mengabaikan Jane.
__ADS_1
"Bukankah kau yang harus banyak istirahat? Aku ini sudah cukup tua, jadi.. aku perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmati hidupku.."