Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 116 : Kemunculan Layla


__ADS_3

Irene kini sangat di sibukkan dengan pekerjaannya sebagai supervisor di GC Hotel. Sesekali ia bertemu Pak Kim di sana, namun demi ke profesionalan mereka, mereka berpura-pura tidak kenal dekat satu sama lain. Sejak kemunduran Ana, terkadang Irene di ganggu oleh mantan supervisor yang pernah mengganggunya dulu. Bahkan sore itu saat ia tengah bersiap untuk pulang, seniornya masih berusaha mengganggunya.


"Sekarang dewi penyelamatmu sudah tidak ada di perusahaan ini lagi.. bahkan mereka sekarang sedang mengejeknya, betapa tidak sopannya dia meninggalkan perusahaan hanya dengan selembar kertas, tanpa sepatah katapun.." gerutunya menjelek-jelekkan Ana.


"Kau tidak tau apa yang telah terjadi padanya.. jadi tutup mulut kotormu itu !!" Tukas Irene marah, ia tidak terima jika Ana di jelek-jelekkan seperti itu, karena ia sudah tau kondisi Ana yang sebenarnya.


"Hahaha.. ternyata kau sudah berani melawan???!!" Bentaknya mendorong Irene hingga ia tersungkur.


"Memangnya kenapa? Aku tau kapan harus bicara dan melawan mulut kotor kalian !! Jadi berhentilah mengatakan yang tidak-tidak tentang Ms.Grey !!" Lawan Irene semakin berani segera bangkit.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri keributan itu di dekat restoran GC Hotel.


Sontak mereka terperanjat melihat wanita yang tampak asing itu.


"Bukankah kau adiknya Louis?" Seru wanita itu lagi mengagetkan Irene.


Para karyawan yang berada disana dan mendengar ucapan wanita itupun terperanjat.


"Lo..Louis artis itu?" Celetuk senior yang tadi memarahi Irene.


"Iya.. tentu saja.. aku kenal sangat baik dengan Louis.. aku juga fans beratnya.. kami pernah bertemu beberapa kali.." imbuh wanita itu lagi.


Irene yang tidak senang dengan ucapan wanuta itu pun ketakutan, ia tidak percaya jika ada yang mengenalinya selain Ana dan Pak Kim. Sontak tatapan karyawan disana jadi berubah drastis padanya, tiba-tiba mereka memasang tampang tidak bersalah dan sok menjadi baik seketika.


"Saya bukan adik siapapun.. anda pasti salah Nyonya.." tukas Irene membantah berusaha masih sopan dan tenang.


"Kau sangat cantik dan mirip sekali dengan Louis.. bagaimana mungkin aku salah.. bahkan aku pernah melihat foto-fotomu.." seru wanita itu lagi yakin.


"Bisakah kita bicara empat mata? Saya rasa ada kesalahpahaman disini.." ujar Irene lembut.


"Baiklah.." angguk wanita itu setuju.


Irene segera menuntun wanita itu menuju taman indoor hotel yang ada di belakang gedung.


"Maaf Nyonya, saya rasa anda salah paham.."


"Ah.. benarkah? Apa mungkin saya salah lihat?"


"Hmm.. saya rasa anda salah lihat Nyonya.." angguk Irene setuju.


"Tapi aku cukup yakin soal itu.. aku pernah melihat resume mu.."


"Resume saya?" Irene tampak bingung.


"Ah.. kau pasti kebingungan.. maaf.. aku lupa untuk memperkenalkan diri.." wanita itu menyodorkan tangannya pada Irene.

__ADS_1


"Perkenalkan.. aku Layla.. Bibinya Ana.. kita memang belum pernah bertemu sebelumnya.. karena aku selalu di kurung di mansionnya yang megah dan membosankan itu.."


Tentu saja Irene di buat kaget dan shock mendengar itu.


"Ma..maaf saya tidak tau jika anda Bibi Ms.Grey.." sahut Irene sungkan.


"Tidak apa-apa.. memang banyak yang tidak mengenalku.. tapi Louis cukup mengenalku.. kami pernah beberapa kali bertemu, karena dia pernah beberapa kali menginap di mansion.."


"Menginap? Di mansion Ms.Grey.."


"Hmm.. tentu saja.. ah.. sepertinya kau tidak tau soal itu.. hubungan mereka sangat romantis sekali.. tapi mereka sangat naif untuk mengakuinya.." celetuk Layla terkekeh.


Irene yang mendengar celotehan Layla hanya merasa canggung, dia memang tau soal hubungan Louis dan Ana, namun ia merasa jika sikap wanita itu sangat aneh.


"Hmm.. Nyonya.. bisakah anda tidak mengatakan apapun lagi tentang hubungan antara saya dengan Kak Louis?? Saya tidak nyaman jika ada orang lain yang tau?" Pinta Irene sopan.


"Ah.. benarkah? Maafkan aku kalau begitu.."


"Terima kasih banyak atas pengertian anda Nyonya.. kalau begitu, saya pamit dulu.. saya masih harus kembali bekerja.." pamit Irene bergegas pergi.


Sementara Layla yang merasa tidak di acuhkan oleh Irene merasa kesal.


"Berani sekali dia cuek padaku.." gerutunya lirih menggertakkan gigi.


****


Wendy tampak sibuk membantu ibu dan ayah Louis berbenah.


"Kau tidak perlu repot-repot membantu.." ujar ibunya sungkan.


"Ah.. tidak apa-apa Bibi.. aku senang sekali bisa membantu.."


Tak lama Irene pun tiba di rumah, dia kini sudah tidak lagi menyewa kos-kosan, karena rumah baru mereka tidak jauh dari GC Hotel.


Irene terperangah melihat Wendy yang tampak tengah membantu menata meja makan, karena sudah memasuki pukul 7 malam.


"Siapa dia Bu?" Tanya Irene setengah berbisik.


"Ah.. dia teman kakakmu.."


Wendy yang kaget melihat Irene tampak menghampirinya.


"Apa dia adik Louis?" Tanya Wendy menebak.


Irene tampak mengangguk.

__ADS_1


Wendy segera menyodorkan tangannya.


"Perkenalkan.. aku Wendy.. teman Louis.." ujarnya penuh percaya diri.


Irene menangkap sinyal seakan gadis itu seperti tengah berusaha mengambil hati keluarganya.


Dia yakin gadis ini bukan tipe kakaknya dan bukan tipe orang tuanya.


Karena baginya tipe ideal sempurna Louis adalah sosok tegas dan hebat seperti Ana. Bahkan Louis sekalipun tidak pernah menceritakan tentang gadis itu, jadi dia yakin jika Wendy bukan teman yang penting bagi Louis.


"Kakak sudah merasa baikan?" Tanya Irene mengabaikan senyum lebar Wendy.


"Hmm.. jauh lebih baik.." angguk Louis cepat.


"Ganti bajumu.. habis itu kita makan malam bersama.."


Setelah Irene mengganti pakaiannya, ia segera bergabung di meja makan bersama yang lain, ia duduk di samping Wendy yang duduk di sebrang Louis.


"Bagaimana kalian bisa saling kenal?" Tanya Irene tiba-tiba.


"Aku lawan main Louis di drama barunya, drama Sky.."


"Oh.. hanya partner kerja.." angguk Irene lirih.


"Sstt.. kamu ngomong apa sih.." celetuk Ibunya tidak enak saat menyadari perubahan ekspresi wajah Wendy.


"Memangnya kenapa kalau hanya partner kerja?" Tanya wendy penasaran.


"Berarti hanya sebatas teman kerja saja.. Kak Louis sangat profesional soal pekerjaan.." jelasnya lagi menyantap makanannya.


"Tentu saja dari teman kerja kami bisa menjadi lebih akrab.."


"Tentu saja tidak mungkin.." celetuk Irene segera tersadar ucapannya.


"Kenapa tidak mungkin?" Tanya Louis tiba-tiba.


Irene ternganga, ibu dan ayahnya tampak memelototinya.


"Kakak bukan tipe wanita idamannya.." sambungnya lirih.


"Jadi.. kau tau tipe idealnya? Bagaimana tipe idealnya?" Tanya Wendy bersemangat.


"Entahlah.. tanya saja padanya.." geleng Irene malas.


"Kau ini.. bagaimana aku bisa tau.. jika aku tidak mengingat apapun.." celetuk Louis kecewa, dia berharap dapat sedikit petunjuk.

__ADS_1


Namun kemudian dia teringat wanita yang ada di mimpinya, dia merasa wanita itu sangat sempurna dan benar-benar seperti tipe idealnya.


__ADS_2