
Saat melihat Ana dan Franz tengah bersama Jane naik ke atas panggung kecil yang telah di persiapkan sebelumnya. Semua mata melihat ke arahnya, begitu juga dengan Ana dan Franz, Louis pun tampak kembali masuk ke ballroom memegangi mantel kulitnya.
"Selamat malam semua.. terima kasih atas kehadirannya malam ini.. malam ini sangat spesial karena kita sedang merayakan pesta ulang tahun cucu kesayangan saya Anavalia Grey.. silahkan tepuk tangannya yang meriah.." seru Jane heboh.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, sementara Ana hanya tertawa terpaksa. Di satu sisi dia sangat geli mendengar setiap kata Jane, dan di sisi lain ia masih sangat ingin mencekik wanita tua yang tengah berdiri di atas panggung itu.
"Dan satu lagi, ada seseorang yang ingin memberikan sebuah kejutan untuk Ana.. silahkan Franz.." tambah Jane lagi, membuat semua mata kini kembali melihat ke arah Ana dan Franz.
Franz tampak segera bertekuk lutut dengan sebelah lututnya, lalu ia tampak mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam yang ternyata di buka berisi sebuah cincin berlian sangat mewah dan tentunya sangat mahal.
"Ana.. aku tidak pandai berbasa basi padamu, karena aku tau kau wanita yang sangat suka bicara apa adanya.." imbuhnya terkekeh di ikuti gelak tawa para tamu.
"Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersamamu.. menikahlah denganku.." pinta Franz dengan nada bersungguh sungguh.
Ana yang diam seribu bahasa hanya tersenyum dan melihat ke sekeliling. Tepat di arah belakang Franz, Louis berdiri disana dengan wajah yang sangat sendu. Ana menatapnya dingin. Lalu Ana kembali menatap ke arah Franz, dan segera mengangguk cepat, meng-iyakan permintaan Franz.
Rencana Ana malam ini benar benar gagal, ia berencana menarik perhatian dengan membongkar masa lalunya, namun justru ia terjebak dengan permainan Jane, namun ia tetap mendapat ide untuk rencana lainnya, meski ia masih terjebak dengan Jane.
Sorak dan tepuk tangan para tamu memeriahkan suasana, Ana hanya tersenyum dengan wajah datarnya. Sementara ia melihat Louis yang segera pergi meninggalkan ballroom, namun Jane menahannya.
"Louis.." serunya kembali menarik perhatian.
"Apakah kau ingin mengatakan ucapan selamat untuk Ana? Bukankah kalian berteman baik??" Jane benar benar pintar mempermainkan perasaan orang lain.
Louis tampak linglung dan gugup, ia memegang mic yang disodorkan Jane padanya dengan tangan bergetar.
"Selamat untuk Ana, aku hanya bisa berdoa, kalian akan hidup bahagia selamanya.." ujarnya lirih segera pamit berlalu pergi meninggalkan ballroom.
Ana hanya menatapnya datar dari kejauhan, dan menenggak cepat wine nya.
"Ana.. bukankah kau sudah minum terlalu banyak??" Tanya Franz khawatir.
"Bukankah ini hari bahagia yang harus kita rayakan??" Timpal Ana lirih dengan senyum tipisnya.
***
Setelah pesta malam itu Jane, Ana dan Franz menggelar jumpa pers dengan beberapa reporter yang telah di undang Jane dengan sengaja. Mereka secara resmi mengumumkan pertunangan Ana dan Franz, dan Franz juga menyampaikan niatnya bekerja sama dengan perusahaan Ana dan menanamkan modal saham hampir 1 triliun di perusahaan Ana, meski Ana belum menyetujuinya.
Pagi hari di kantor Ana di hebohkan dengan para karyawan yang memberikan banyak bunga sebagai ucapan selamat untuknya.
"Apa yang harus saya lakukan dengan bunga sebanyak ini Ms.Grey?" Tanya Pak Kim bingung melihat bunga dari para karyawan yang memenuhi ruang kerja Ana.
__ADS_1
"Singkirkan dari ruanganku.. bakar saja mereka semua.." imbuh Ana dingin.
"Tapi ini pemberian dari karyawan anda Ms.Grey.."
"Lagipula pertunangan ini juga akan segera berakhir Pak Kim.. ikuti saja kataku.. bakar saja semuanya.." tukas Ana mulai kesal.
"A..apa?" Pak Kim tampak terkejut dengan ucapan Ana karena ia belum tau rencana Ana. "Baiklah Ms.Grey.." angguk Pak Kim segera tanpa berkomentar lagi.
Sementara Pak Kim menyingkirkan bunga bunga yang ada di ruangannya, Ana menunggu di ruang meeting, di sana ada banyak ruang meeting lain untuk di gunakan oleh karyawannya yang lain.
Ana melihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Baru saja ingin melepaskan cincin itu, seseorang mengetuk pintu ruang meeting dan mengejutkan Ana. Seseorang masuk dari balik pintu dan ternyata adalah Albert.
"Ana.." panggilnya lirih
Ana hanya tertegun, ia tampak memegang sebuah buket bunga. "Apa kau datang ingin memberiku ucapan selamat?" Celetuk Ana tanpa basa basi.
"Maaf.. aku tau, kalau aku tidak perlu melakukannya kan?" Imbuh Albert dengan nada kecewa.
"Aku sudah memikirkan tentang hal ini kak.. sebaiknya kita tidak lagi bertemu.. aku tidak ingin membahayakanmu atau membuatmu menjadi tumbal ketika aku melakukan kesalahan lain.." tambah Ana dengan nada lirih.
"Apa maksudmu?"
"Maaf aku tidak bisa berbuat apa apa untukmu Ana.."
"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku kak, karena kau tidak berutang apapun padaku.. justru aku yang berutang banyak terima kasih padamu.." mata Ana berkaca kaca, meski ia merasa sesak saat mengatakan ini, tapi ia tidak lagi bisa egois.
Albert tertegun, matanya mulai basah, bibirnya tampak bergetar menahan isak kesedihannya.
"Jika kau butuh sesuatu katakan padaku, kemanapun kau ingin pergi bersama keluargamu, aku akan mengirim kalian kesana.. aku ingin kau tidak lagi merasa terbebani olehku.. aku ingin kau sekarang hidup bahagia dengan keluargamu kak.."
"Tapi.. aku tidak akan kemanapun Ana.. aku tidak akan sembunyi lagi dari Nyonya Jane.. meski aku tidak berguna untukmu, setidaknya aku tidak ingin lagi bersembunyi darinya.." timpal Albert tegas.
"Baiklah.. aku akan segera mengakhiri mimpi buruk ini segera dan selamanya kak.."
***
Siang itu Ana mendapat pesan dari Franz bahwa ia akan pergi bersama Jane, karena Franz saat ini akan di negara itu hanya sebentar, karena ia harus kembali ke negara E menjelang pernikahan mereka yang sebenarnya masih belum di putuskan kapan akan di gelar.
Terlintas di benak Ana untuk melakukan sesuatu, ia segera bangkit dari kursi kerjanya, ia segera menemui Pak Kim di ruangannya.
"Jika ada yang mencariku, katakan aku ada meeting dengan klien.." ujar Ana tergesa gesa.
__ADS_1
Ia segera mengendarai mobilnya kencang, ia menyalakan gps ponselnya dan melacak keberadaan Franz, pelacak itu ia pasang saat ia dan Pak Kim berhasil membobol ponselnya waktu itu, Franz dan Jane yang ternyata sedang berada di sebuah butik pakaian wanita yang tak jauh dari GC Hotel. Ana yakin ia tak punya banyak waktu, karena Franz bisa kembali kapan saja, namun ini adalah kesempatan emas, ia harus bisa menemui apa yang ia cari di kamar hotel Franz.
Setibanya di hotel Ana segera menuju lobi dan meminta kunci cadangan kamar Franz, tentu saja status nya sebagai pemilik hotel sekaligus tunangan Franz kini menguntungkan situasinya. Ia segera menaiki lift menuju kamar Franz.
Ana segera masuk kedalam, melihat kamar itu sangat rapi dan bersih, ia lalu segera menuju lemari pakaian Franz, dan benar saja ia menemukan tas jinjing berwarna hitam, disana ia menemukan laptop kerja Franz, ia segera duduk selonjoran di depan lemari bergegas membuka laptop itu yang ternyata tidak dikunci sama sekali, lagi lagi kecerobohan Franz menguntungkan Ana.
Ana segera membuka semua file penting milik Franz, menyalinnya ke flasdisk yang telah ia siapkan, butuh waktu cukup lama untuk itu, Ana kembali mengecek ponselnya, dan ternyata Franz masih berada di butik itu. Ia berhasil menyalin semua informasi akun bank dana gelap Franz dan lain lainnya.
Dia ternyata tidak hanya memiliki satu akun bank yang ia gunakan untuk menyimpan duit kotornya. Melainkan ada belasan, dan nilainya sangat fantastis. Berkali kali lipat dari kekayaannya dan Jane.
Tak lama, Ana samar samar mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah pintu kamar Franz, dengan panik Ana segera bergegas mengemas laptop Franz dan masuk ke dalam lemari kayu yang besar itu, menutup pintunya dari dalam sangat rapat.
Benar saja ada seseorang yang masuk ke kamar itu, Ana menahan nafasnya berusaha tenang, meski ia takut akan ketauan. Ternyata orang itu adalah Franz yang sudah kembali.
"Astaga, aku sepertinya meninggalkan ponselku di butik tadi.." terdengar samar suara Franz sangat kesal.
"Kau ini lalai sekali, yaudah mari kita kembali kesana lagi.." sahut seseorang yang sangat Ana kenali suaranya, pikiran Ana kini teralihkan dengan suara itu.
Suara yang ia yakini sangat tidak asing dengannya.
"Maafkan aku Bu.. aku pasti membuatmu lelah.. bagaimana kalau kau tinggal disini saja, aku akan segera kembali.." ujar Franz dengan nada hangat.
"Tidak perlu, lagipula aku harus segera kembali ke mansion, aku takut Ana mencurigaiku.." jawab wanita itu lirih.
"Aku sangat ingin berlama lama denganmu, aku sangat merindukan ibu.."
Deg..
Kali ini Ana benar benar yakin siapa wanita itu. Banyak pertanyaan memenuhi kepalanya, nafasnya mulai memburu, dadanya terasa sesak.
Apa yang dilakukannya disini bersama Franz?
Apa sebenarnya yang terjadi?
Apa hubungannya dengan Franz?
Pertanyaan demi pertanyaan membuat kepala Ana terasa akan pecah.
Tak lama pintu kamar terdengar kembali terkunci, kini Ana dapat bernafas lega, namun ia masih di hantui dengan sosok wanita tadi. Ana berusaha menyadarkan dirinya untuk kembali fokus pada rencananya. Penyalinan file masih membutuhkan waktu cukup lama, Ana tidak ingin membatalkannya karena ia tidak ingin semua sia sia.
Setelah selesai Ana segera menyimpan flasdisk itu kedalam saku longcoat-nya dan kembali mengemas laptop Franz seperti sedia kala. Ana segera keluar dari kamar Franz dengan penyamarannya, sebelumnya ia mengenakan kacamata dan masker.
__ADS_1