Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 84 : Harus Segera Berakhir


__ADS_3

Dorrr !!!


Suara tembakan menggema di seisi bangunan tua itu. Tembakan dari anak buah Franz melesat mengenai lengan Ana saat mereka mencoba untuk menghentikan Ana yang terus menghajar Franz tanpa ampun, meski itu hanya goresan kecil, namun membuat Ana berdarah.


"**** !!" Umpat Ana segera berlari menyerang anak buah Franz yang ternyata juga pengecut, mereka berusaha berlari sambil terus menembak namun melesat entah kemana, Ana meraih sebuah balok kayu di atas tanah dan melempar keras mengenai salah satu di antaranya hingga ia tersungkur, Ana segera menerjangnya, menendangnya beberapa kali lalu mematahkan lehernya, Ana segera meraih pistol pria itu lalu menembak 2 orang lainnya yang berusaha kabur tepat mengenai kepala mereka.


Ana membalikkan badannya melihat ke arah Franz.


"Seharusnya kau tidak menggangguku.." ujar Ana lirih berjalan pelan mendekati Franz.


"Aku sudah memperingatimu.." tambahnya lagi.


"Aku tidak bisa tinggal diam ketika ibuku harus menanggung deritanya, berpura pura mencintai dan merawat orang yang paling ia benci di dunia selama ini.." imbuh Franz terengah. Ia masih terduduk di atas karena kehabisan tenaga.


"Seharusnya ia membunuhku sejak lama..kenapa dia membuatku menjadi seperti ini.. merawatku dari kecil yang aku pikir adalah kasih sayang, namun membesarkanku dengan kebencian dan dendam di hatinya.. itu membuatku tumbuh besar dengan penuh dendam dan amarah pada diriku sendiri dan juga orang lain yang justru berusaha melindungiku selama ini.. ibumu lah yang membuatku menjadi monster seperti ini.." geram Ana menggeretakkan giginya.


"Maka berterima kasihlah padanya.. kau bisa membunuhku sekarang, tapi aku mohon.. biarkan dia hidup.."


"Aku tidak pernah berterima kasih pada hal hal yang tidak pernah aku minta orang lain melakukannya.." gumam Ana dingin menyeringai.


"Kau terlalu naif.." timpal Franz terkekeh.


"Bukankah kita saudara? Kita punya satu ayah yang sama.. apa kau lupa?? Darah kebencian dari ibuku kini seakan akan seperti sudah mengalir padamu.. itu kenapa kita sangat cocok satu sama lain Ana.. karena kita adalah keluarga.." celoteh Franz tidak karuan.


Dor !! Dorrr !! Dorr !!!


Ana menembakkan peluru panas tepat di dahi Franz sebanyak tiga kali hingga peluru itu telah habis sejak di gunakan.


"Kau berisik sekali.." gerutu Ana dingin.


Franz salah satu orang yang bisa membangkitkan sifat psycho Ana. Karena ia benar benar selalu memancing Ana menjadi sangat marah. Ia bahkan bisa menjadi sosok yang tak berbelas kasihan sedikitpun dengan Franz. Ia bahkan tidak merasakan apapun saat menghabisi nyawa Franz, hanya ada amarah yang membara di sekujur tubuhnya.


"Ms.Grey !!!" Seru anak buah Jane yang datang terlambat segera berlari menghampiri Ana yang menatap mereka sinis.


"Cih.. benar benar tidak berguna.." gumam Ana lirih. Sambil menghela nafas kesal.


"Ambil sebelah kakinya.. bawa padaku.. aku tunggu di mobil.." ujar Ana berjalan santai menuju mobil anak buah Jane yang ada diluar tadi.


Anak buah Jane segera mengeksekusi Franz yang sudah tewas, mereka memotong sebelah kakinya lalu membungkusnya dengan jaket mereka.


****


Ana mengendarai mobilnya dengan kencang, ia juga membuka kaca mobilnya agar bisa mengemudi sambil merokok santai.


Kehadiran Ana seperti diketahui oleh Dominic.


Dominic tampak tengah berada di terasnya sambil menyemprot koleksi bunga bunga langkanya dengan tenang.

__ADS_1


Ia melihat Ana yang tampak kacau dengan perasaan campur aduk.


Ana turun dari mobil sambil memegang sebuah bungkusan.


"Kau tampak menikmati hari tuamu.." ejek Ana terkekeh segera melempar bungkusan itu ke atas pangkuan Dominic.


"Apa ini??" Tanyanya segera menjatuhkan bungkusan itu, takut kalau kalau Ana melemparinya dengan bom.


"Bukankah kau yang memintanya??" Tanya Ana balik membakar ujung rokoknya yang baru.


Dominic memerintahkan anak buahnya membuka bungkusan itu, anak buahnya tampak kaget melihat ke dalam bungkusan plastik itu, ia lalu segera melihatkannya pada Dominic yang juga terkejut.


Ana lalu tampak mengeluarkan ponselnya dari saku dan menunjukkan sebuah foto pada Dominic.


"Kau benar benar perempuan gil*.." ujar Dominic bingung ingin berkomentar apa, ketika melihat foto kondisi mengenaskan Franz.


"Aku rasa kau harus segera berkemas.." ujar Ana santai.


"Aku bahkan tidak pernah sekalipun berpikir untuk meninggalkan mansion ini.." gumam Dominic lirih.


"Apa kau kini berubah pikiran?? Sebaiknya kau tidak mencoba bermain main denganku.." bisik Ana mendekat padanya dengan nada mengancam.


Dominic tampak terkekeh. Ia tampak memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang Ana, namun dengan kesigapan dan kecepatan gerak tangannya, Ana justru lebih dulu mengeluarkan pisau lipatnya dari saku celana, dan menusuk perut Dominic sebanyak dua kali dengan gerakan cepat, lalu menyayat lehernya hingga darah segar muncrat dan mengucur deras dari leher Dominic.


Anak buah Dominic mulai menembaki Ana, namun Ana segera berlari bersembunyi di dalam mansion, ia ternyata sudah menyelidiki susunan bangunan mansion Dominic dari Jane beberapa waktu lalu. Ana segera menuju ruang bawah tanah di dekat bar, ia menyingkirkan karpet yang menutupi lantai, dan disana ditemukan sebuah pintu kayu, Ana segera menarik ke atas pintu itu hingga terbuka, tembakan demi tembakan dari arah luar menembus kaca dan dinding mansion, Ana segera masuk ke bawah tanah, disana adalah gudang senjata api Dominic.


Ana menarik 3 tuas pelindung bom sekaligus, dan melemparkannya ke arah atas keluar ruang bawah tanah.


Ana juga menarik sebuah tuas bom lalu meninggalkannya disana, Ana segera keluar lewat pintu rahasia di balik lemari besi yang ada di sudut ruangan, jalan bawah tanah itu menuju hutan belantara dan bisa tembus menuju jalan raya jauh sebelum mansion Dominic.


Tak butuh waktu lama, ledakan besar pun terjadi. Mansion Dominic, Dominic dan beserta anak buahnya mati seketika akibat ledakan dan kebakaran yang terjadi.


Sementara Ana terus berlari dengan kencang menelusuri jalan pintas itu tanpa menoleh kebelakang, sekeliling lorong terasa bergetar saat ledakan terjadi dan membuat lorong itu hampir runtuh.


Ana terus berlari tanpa henti hingga ia berada di ujung lorong dan menemui sebuah pintu besi yang di kunci rapat. Ana menembak setiap sudut kunci hingga pintu itu bisa ia buka.


Setelah terbuka, benar saja, Ana berada di hutan belantara, sesuai instruksi Jane sebelumnya, ia segera berlari ke arah barat, ia terus berlari hingga mendengar suara mobil yang lalu lalang. Bahkan ia sempat mendengar suara sirine pemadam kebakaran yang telah berdatangan.


Bagaimana tidak, mansion Dominic yang berada di atas bukit, ketika meledak dan terbakar tadi, justru terlihat seperti gunung meletus.


Ana lalu berusaha mengatur nafasnya dan mulai memperlambat larinya, ia mulai berjalan, sesekali ia melihat sekeliling dan ke belakang, tak lama kemudian, ia melihat sedan silver yang sudah terparkir di pinggir jalan.


Ana segera masuk ke dalam mobil ketika mengenali wajah supirnya.


Ana menyandarkan kepalanya terengah, ia meraih botol air mineral yang ada di dekatnya.


"Antar aku ke hotel.." ujar Ana terengah pada supirnya, ia juga melihat Jane terus berusaha menghubungi anak buahnya itu.

__ADS_1


"Jangan katakan apapun padanya.." ujar Ana lirih dengan nada mengancam.


Ia memeriksa ponselnya, dan mendapati 65 panggilan tak terjawab dari Jane, dan 10 pesan darinya. Ia mencampakkan ponselnya ke kursi sebelah, ia lalu menoleh ke arah belakang, tampak asap hitam mengepul di udara.


"Cih.. seharusnya Layla dan Franz menghabisi pria tua itu dengan benar.." gerutu Ana lirih.


 


Beberapa hari sebelumnya.


Setelah pulang dari mansion Dominic, Ana menghubungi Jane yang tengah berbenah di mansion Ana.


"Bagaimana menurutmu dengan mansion Dominic yang di atas bukit??" Tanya Ana santai.


"Apa?? Kenapa kau menanyakan hal itu?? Apa kau bertemu dengannya??" Tanya Jane curiga.


"Aku menyukai mansionnya.. aku suka pemandangannya.."


"Apa dia masih hidup?" Tanya Jane lagi.


"Apa kau benar benar berharap dia mati??" Tanya Ana balik.


"Mansion itu hanyalah kedok, sebenarnya itu adalah gudang senjatanya.. ada ruang bawah tanah di bawah bar nya, lalu ada pintu rahasia di balik lemari besi di sudut ruangan, hanya aku dan dia yang tau soal jalan pintas itu, para pekerja yang membuat jalan itu tentu sudah ia habisi sesaat setelah lorong itu selesai dibuat.." jelas Jane detail.


"Bagaimana kau mengetahuinya?? Tampaknya dia sangat mempercayaimu hingga ia memberitahu pintu rahasianya.." tanya Ana penasaran.


"Karena akulah yang mengusulkannya membuat jalan itu.."


"Ah.. sudah aku duga.. dia pasti tidak sepintar itu.." ujar Ana terkekeh.


"Bagaimana kondisinya?"


"Kau benar benar mengkhawatirkannya?? Bahkan ia tidak mengabarimu perihal kondisi dan keberadaannya.." ujar Ana menyadarkan Jane.


"Seharusnya dia benar benar sudah mati.." timpal Jane dingin.


"Kondisinya cukup buruk.. dia benar benar seperti pria tua yang kritis.."


"Aku tidak peduli.." gumam Jane lirih.


"Lalu.. kemana arah lorong itu??" Tanya Ana lagi.


"Ah.. itu akan menuju ke hutan belantara jauh dari mansion, kau perlu berjalan menuju arah barat, maka kau akan menemukan jalan raya.."


"Benarkah?? Aku harap kau berkata jujur.." celetuk Ana terkekeh.


"Aku harap kau tidak berurusan dengannya lagi.."

__ADS_1


"Tentu saja.. semua ini harus segera di akhiri.." ujar Ana lirih sebelum akhirnya memutus panggilan teleponnya dengan Jane.


__ADS_2