
Ana memarkirkan mobilnya di depan rumah orang tua Louis. Rumah itu tampak sepi. Ana berdiam diri cukup lama disana. Ia enggan untuk turun dari mobilnya. Pikirannya sedang kalut.
Drrtt..drrtt..
Ana menerima pesan di ponselnya. Ia segera meraih ponselnya. Di bacanya pesan itu ternyata dari Louis.
"Kau sudah tidur? Atau masih berada di luar?? Ah.. sekedar informasi, aku sedang di rumah orang tuaku.." tulis Louis.
Ana segera menekan tombol panggilan. Tak menunggu lama Louis langsung menerima panggilan itu.
"Aku ki.."
"Aku merindukanmu.. bisakah kita bertemu??" Timpal Ana memotong ucapan Louis.
"Hmm.. tentu.. kau ada dimana?? Aku akan menyusulmu kesana sekarang.."
"Aku ada di depan.."
"Depan?? Depan mana? Depan rumah orang tuaku??" Tanyanya lagi.
"Hmm.."
"Ba..baiklah.. aku keluar sekarang.." seru Louis segera memutus panggilannya.
Ana segera keluar dari mobilnya, berjalan menuju pintu gerbang tinggi rumah milik orang tua Louis.
Krekk.. cressss..
Ana mendengar suara pijakan kaki seseorang yang tengah mengendap-endap di antara mobil yang terparkir berjajar di sisi tembok pagar rumah Louis.
Ana berjalan menuju kesana dengan berani, ia mengeluarkan pistol yang tengah ia sembunyikan di pinggang belakangnya. Ia kini benar-benar siaga. Ana melihat ada bayangan seseorang yang tengah bersembunyi disana. Ana menodongkan pistolnya ke arah depan.
"Aku melihatmu !! Sebaiknya kau keluar sekarang !!" Seru Ana lirih mengancam.
Bayangan itu tampak bergerak perlahan, Ana melangkah maju ke depan.
"Ana !!" Seru Louis keras dari belakangnya hingga membuat Ana terkejut. Saat Ana lengah sosok itu tampak segera berlari kencang. Ana dengan sigap berlari kencang mengejar orang itu. Ia berlari sekuat tenaga mengejar orang itu. Saat hampir dekat Ana melempar pistolnya dengan kuat tepat ke belakang kepala orang itu, hingga ia jatuh terjerembab ke aspal.
Ana yang terengah segera menghentikan langkahnya. Ia berusaha mengatur nafasnya. Memungut pistolnya yang jatuh ke atas aspal, lalu berjalan mendekati sosok itu.
"Siapa kau ?" Tanya Ana terengah menodongkan pistolnya.
Orang itu tampak meringkuk dan merintih kesakitan, sosok itu ternyata seorang pria.
"Ma..maaf aku.. reporter.." jawabnya merintih kesakitan.
"Apa? Reporter??" Tanya Ana lagi.
__ADS_1
"Reporter Ri??" Seru Louis yang terengah, ia ternyata ikut mengejar keduanya.
"Apa yang kau lakukan disini?? Kenapa kau ikut kemari??"
"Hah..akuh.. mengkha..watirkanmu.." jawab Lpuis terengah.
"Kau kenal dia??" Tanya Ana kemudian.
"Hmm.. dia reporter media Granny.." jelas Louis.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini di rumahnya?" Tanya Ana curiga dengan sinis.
Louis mendekati Ana dan berbisik ke telinganya. "Dia sedang mencari isu rumor kencanku.." bisiknya terengah.
Ana tertegun. Ia segera mengulurkan tangannya pada reporter yang masih meringkuk kesakitan itu.
"Maaf.. aku pikir kau penjahat.." ujar Ana menarik tangan pria itu setelah ia meraihnya.
"Kepalaku sakit sekali.." gumamnya.
"Ayo kerumah sakit.. aku akan mengobatimu.."
"Ah.. ti..tidak perlu.. a..aku akan mengobati diriku sendiri.."
Ana merogoh saku celananya. Mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan 10 lembar uang 100 dolar.
"Ba..baik.. terima kasih.." ujar reporter Ri meraih uang itu, namun Ana menahannya. Ana mendekati reporter Ri.
"Tapi.. jika besok aku melihat berita tentang kejadian malam ini.. bukan hanya pistol ini yang aku lemparkan padamu.. tapi peluru panas di dalamnya yang akan bersarang di kepalamu itu.." bisik Ana mengancam.
"Ba..baik Ms.Grey.. maafkan aku.. aku akan menutup mulutku rapat.. aku janji.. maafkan aku.."
"Hubungi aku jika kau butuh bantuanku.. dan berhenti berkeliaran di sekitar sini.." gerutu Ana mengomel.
"Ba..baik Ms.Grey.. maafkan aku.."
"Pergilah.." seru Ana.
Pria itu segera berlari pergi, tak jauh dari sana ia segera menghentikan taksi yang kebetulan lewat, lalu ia segera kabur bersama taksi itu.
"Apa yang kau katakan padanya??"
"Tidak ada.." geleng Ana cepat segera berjalan kembali menuju rumah Louis.
Louis berlari kecil menyusul langkah cepat Ana.
"Kau pasti mengancamnya.."
__ADS_1
"Tidak.." bantah Ana semakin mempercepat langkahnya.
"Oh.. aku yakin kau pasti mengancamnya.." seru Louis lagi.
Ana segera berlari menghindari Louis, di susul Louis yang ikut berlari mengejar Ana sambil tertawa.
...****************...
Louis dan Ana duduk di taman rumah Louis. Mereka tengah menikmati secangkir kopi panas dan sepiring buah buahan segar.
"Kau yakin tidak ingin makan??" tanya Louis lagi.
"Hmm.. Aku sudah makan sebelum kemari.. Kau sudah makan??"
"Hmm.." angguk Louis cepat. "Kau tampak kalut sejak tadi.. Apa terjadi sesuatu??"
"Tidak.. Semua baik-baik saja.." geleng Ana membantah.
"Kau tau kan, aku selalu ada disini untukmu.. Aku akan mendengarkan semuanya.. Aku selalu percaya padamu.."
"Hmm.. Aku tau.. Terima kasih selalu mempercayaiku.."
"Oh iya, besok aku akan pergi shooting keluar kota, sekitar 3 hari.. aku pasti akan merindukanmu.."
"Aku juga.." sahut Ana lirih.
"Aku bahkan masih tidak percaya kalau kita akan punya hubungan seperti ini.. Kau sangat dingin padaku.. Aku pikir.. Perasaanku tidak akan pernah berbalas.."
Ana tersenyum simpul, namun matanya tak bisa berbohong, matanya penuh dengan kesedihan.
"Jaga kesehatanmu selama disana.. pastikan kau selalu di temani Pak Dong dan pengawalmu.." ujar Ana lirih.
"Sini tanganmu.." ujar Louis meminta tangan Ana.
Ana menyodorkan tangannya dengan telapak tangannya terbuka ke atas. Louis melihat telapak tangan itu terdapat bekas luka yang panjang.
Deg !!
Ngiiiingggg..
Kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Suara nyaring melengking seakan-akan memekakkan telinganya. Ia memukul-mukul kepalanya keras.
"Lou !! Kau kenapa??" seru Ana panik segera menangkup kedua lengan Louis, suara Ana bahkan terdengar sangat samar. Louis mengerang kesakitan, kepalanya terasa sangat sakit hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
...----------------...
Maaf baru update !! Author sedang tidak sehat. Dan sedang isoman 🙏🏼 mohon doanya selalu ya 🙏🏼❤
__ADS_1