
Setelah meeting selama 3 jam sambil sarapan bersama, Louis dan Pak Dong pun segera pamit. Sementara Pak Kim segera kembali ke ruangannya.
"Kau mengenal putrinya?" Tanya Louis memecah keheningan di dalam van-nya.
"Ti..tidak.. kau dengar sendiri kan kata Pak Kim.. putrinya baru kembali dari luar negeri.. jadi mana mungkin kita pernah melihatnya.." jawabnya canggung.
Louis hanya mengangguk mengerti tanpa bergeming.
------------------
Ana mengusap wajahnya kasar, ia kini tengah duduk di atas sofa seraya menunggu Pak Kim tengah menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku pulang dulu.. terima kasih teh hangatnya.." ujar Ana lirih segera berdiri.
"Anda pulang ke mansion??"
"Hmm.." angguk Ana cepat.
"Bisakah kita bicara sebentar?"
"Ada apa?" Tanya Ana dengan rasa penasaran, biasanya Pak Kim berkata seperti ini ketika ada masalah yang cukup serius.
***
Ana mematung di depan reruntuhan bekas kebakaran basecamp-nya waktu itu. Pikirannya kosong. Ia terlamun cukup lama disana.
Tak.. pletak..
Beberapa kali terdengar suara patahan ranting dan daun gugur yang tengah di injak, Ana menatap tajam ke arah hutan belantara di sisi kiri reruntuhan itu.
Ia melihat ada pergerakan sosok yang tak begitu jelas disana, Ana bergegas berlari kencang mengejar sosok itu. Ana berusaha keras untuk terus mengejar sosok yang mengenakan sweater hitam dan celana hitam itu di tengah hutan. Ia terus berusaha menerobos ranting dan dahan pohon yang menjulang ke tanah.
"Stop !!" Pekik Ana mulai terengah, kondisinya saat itu cukup buruk, ia masih di bawah pengaruh alkohol, bahkan tubuhnya masih belum pulih seutuhnya.
Tak lama dan tak jauh dari sana, hutan itu tampak mulai lapang, sosok itupun mulai melambat. Ia kemudian berhenti setelah bertemu sebuah gubuk reyot. Ana menghentikan larinya. Ia terengah-engah.
"Siapa kau?" Tanyanya dengan nafas terengah.
Sosok itupun berbalik dengan ragu-ragu menghadap Ana.
Sontak membuat Ana ternganga lebar.
"Akhirnya aku menemukanmu.." gumam Ana dingin dengan nada lirih.
"Ms.Grey.." sahut pria yang tak asing itu lirih.
"Kenapa kau mengkhianatiku?" Hardik Ana lukas.
"..." pria itu tak bergeming, ia menatap Ana dengan tatapan sendu.
"Kau tidak bisa lagi mengelabuiku dengan wajah sedihmu itu.." celetuk Ana sinis.
"Maafkan aku.."
"Kenapa kau mengkhianatiku?" Tanya Ana lagi.
"Dia menyekap adikku.."
"...." Ana tertegun sesaat. Ia tampak tengah berpikir keras.
"Dia menculik dan menyekap adikku.. maafkan aku.."
"Bagaimana dia bisa menemukan adikmu??" Raut marah Ana justru berubah menjadi raut wajah khawatir.
"Selama ini dia banyak mencuri informasi rahasia milikmu.."
"**** !! Wanita sialan.." gerutu Ana kesal.
"Maafkan aku Ms.Grey.." mohon B1 lagi penuh rasa bersalah.
"Pergilah !! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku !!" Bentak Ana.
B1 mematung. Ia bahkan tak bergeming.
"Pergilah !! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi !!!"
__ADS_1
"A.. aku.. akulah yang mencelakai mobil ayahmu.." ujarnya lirih.
Deg !!
"Apa katamu?"
"Aku yang merusak rem mobil ayahmu.. akulah yang membuatnya mengalami kecelakaan itu Ms.Grey.. aku mohon maafkan aku !!" Isak B1 berlutut memohon ampun dari Ana.
Ana melangkah cepat menghampiri B1, ia melayangkan tunjangan kaki panjangnya tepat di dada B1, hingga ia terpental jatuh ke tanah.
Ana mendekatinya lagi, lalu menarik kerahnya kuat.
"Apa yang kau katakan ?!!" Hardik Ana murka, mencengkram erat kerah sweater B1 hingga ia tercekik.
"Ma.. maafkan aku Ms.Grey.." air matany berlinang penuh penyesalan.
"Sialan kau !! Bangs*d !! Aku menolongmu selama ini, melakukan semua yang aku bisa untuk menyelamatkanmu dan adikmu !! Berani sekali kau melakukan ini padaku !!"
B1 hanya terisak seraya menahan sesak pada cekikan di lehernya. Ana melayangkan kepalan tinjunya berkali-kali. Ia terus meninju keras wajah B1 tanpa perlawanan hingga babak belur.
"Arghhh !!" Pekik Ana dengan tangis yang pecah, ia berusaha bangkit meski tubuhnya terasa lunglai.
B1 benar-benar menghancurkan hatinya. B1 adalah orang kepercayaan Ana, ia sudah seperti keluarga Ana sendiri. Di tambah Ana telah merawat adiknya yang berkebutuhan khusus dengan sangat baik dan tulus.
"Pergi dari hadapanku.. atau aku akan membunuhmu !!" Ancam Ana dengan bibir bergetar. Ia segera berpaling dari B1, ia segera pergi menelusuri hutan belantara untuk segera meninggalkan B1. Dia tidak ingin membunuh siapapun hari itu.
***
Ana menapaki jalan hingga 3 jam berjalan kaki menuju tengah kota. Keringat berpeluh membasahi tubuhnya, air matanya terus mengalir. Rambut dan penampilannya kini berantakan sekali, membuat banyak pasang mata memperhatikannya.
Langit seakan menambah haru pada kesedihannya. Hujan justru turun deras mengguyur ibukota dengan sangat lebat. Ana menghentikan langkahnya, ia kembali terisak di tengah derasnya hujan. Semua orang berlari berhamburan mencari tempat berteduh, tapi tidak dengan Ana, ia membiarkan dirinya basah kuyup di terpa hujan deras.
Cukup lama ia mematung disana, hingga akhirnya ia memutuskan untuk segera menyeberangi jalan saat matanya tertuju pada GC Hotel.
Yap, dia sudah berada di seberang GC Hotel, ia sudah berjalan kaki sangat jauh. Dan entah kenapa langkahnya membawa ia tiba di GC Hotel.
Cittttt..
Mobil van putih itu berdecit nyaring akibat bunyi dari ban mobil yang dipaksa berhenti mendadak.
***
Louis berdiri tak jauh dari ranjang pasien igd. Banyak mata tertuju padanya, di iringi berbagai bisikan-bisikan tentang dirinya. Louis hanya fokus pada satu titik.
"Dia wanita yang ada di mimpiku.."
"Kenapa dia selalu ada di mimpiku.."
"Siapa wanita ini.."
"Dia tampak berbeda dari ingatanku.. tapi wajah mereka sama persis.."
Berbagai pertanyaan melintas di benaknya, ia tak berhenti menerka-nerka hingga akhirnya Pak Kim tiba disana.
"Ms.Grey !!" Pekik Pak Kim panik melihat Ana yang basah kuyup terbaring disana.
"Pak Kim.." seru Pak Dong menghentikan langkahnya.
"Pak Dong.. bagaimana anda bisa bertemu dengannya?"
"Kami baru saja keluar dari basement hotel, saat akan melewati lampu merah, dia tiba-tiba menyeberang jalan.. hampir saja kami menabraknya.." jelas Pak Dong cemas.
Pak Kim tertegun melihat Louis yang menatapnya dengan wajah bingung.
"Maaf sudah menyusahkan kalian.."
"Dokter sudah memeriksa keadaannya, tampaknya dia sedang banyak pikiran, dan juga ada memar serta luka di tangan kanannya.."
Pak Kim mendekat ke arah Ana, memeriksa tangannya yang telah di perban.
"Apa yang sudah terjadi.." gumamnya lirih setelah melihat kondisi Ana lekat-lekat.
Lalu ia menoleh ke arah Louis yang sejak tadi masih terus menatapnya.
"Maaf sudah menyita waktu berharga anda.."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pak Kim.. kebetulan kami ada disana.. semoga putrimu lekas pulih.." geleng Louis dengan nada tenang.
"Terima kasih banyak.."
"Kalau begitu ayo kita pergi.." ajak Pak Dong segera menarik lengan Louis.
"Pak Kim.." gumam Ana lirih, yang sontak menghentikan langkah Louis.
"Lou.. kau baik-baik saja?"
"Jangan khawatirkan aku.."
"Kau benar-benar menyebalkan.."
"............."
Tiba-tiba berbagai potongan kenangan baru Louis bermunculan di benaknya, kini suara di ingatannya terdengar sama persis dengan suara wanita yang baru saja terbangun dari pingsannya. Louis mencengkram erat rambutnya, ingatan-ingatan itu membuat kepalanya terasa mau pecah.
"Arghhh!!" Erang Louis meringkuk.
"Lou !! Kau kenapa?" Seru Pak Dong panik.
"Kepalaku sakit sekali.." erangnya lagi.
Perawat dan dokter tampak segera menghampirinya, sementara Pak Kim hanya terbengong melihat Louis yang tampak sangat kesakitan.
"Suara berisik apa itu?" Gerutu Ana lirih membuka matanya perlahan.
"Ah.. bu.. bukan apa-apa.." geleng Pak Kim berbohong.
"Bagaimana bisa aku ada disini??"
"Anda hampir saja tertabrak mobil.. pengendara itu menyelamatkanmu.. anda tiba-tiba saja menyeberang jalan lalu justru jatuh pingsan di tengah jalan.."
"..." Ana hanya termenung.
"Apa terjadi sesuatu?? Nyonya Jane bahkan sempat meneleponku.. dia akan segera terbang kemari.."
"Ah.. aku tidak ingin menemuinya.." keluh Ana berusaha duduk.
"Jika masih pusing sebaiknya berbaring saja.."
"Aku ingin istirahat dirumah saja.."
"Baiklah.. aku akan mengantarkanmu ke mansion.."
"Tidak.. aku tidak ingin bertemu grandma.."
"Apa anda ingin menginap di GC Hotel saja?"
"Bagaimana jika aku menginap dirumahmu Pak Kim?"
"Ah.. begini.. anu.." Pak Kim tampak gelagapan.
"Kenapa? Aku ini pembersih, kau juga tidak perlu mengurusku.. aku hanya akan menumpang tidur untuk malam ini.."
"Bukan begitu.. sebenarnya.." senggah Pak Kim berusaha mengelak.
"Apa karena Dita tinggal bersama denganmu?" Tebak Ana asal.
"Hah ! Bagaimana anda bisa tau?" Tanyanya Pak Kim justru tampak sangat kaget, tentu saja tebakan itu langsung terjawab hanya dari ekspresi polos wajahnya.
"Damn ! Jadi benar? Aku hanya menebak saja.." timpal Ana terkekeh.
"...." Pak Kim ternganga lebar.
"Kalau begitu aku di GC Hotel saja.." angguk Ana pengertian.
"Maaf Ms.Grey.. tapi, anda tentu saja menginap.. aku akan segera menelepon Dita untuk membersihkan kamar tamu.."
"Ah.. tidak perlu.. aku tidak ingin mengganggu kalian berdua.. tidak apa-apa ayah.. santai saja.." angguk Ana lagi-lagi menggoda.
"Anda mulai lagi.." gerutu Pak Kim dengan wajah malasnya menghadapi keusilan Ana.
Sementara Ana hanya tertawa geli melihat ekspresi wajah melas Pak Kim.
__ADS_1