Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 74 : Memberinya Kesempatan


__ADS_3

Mereka memutuskan makan bersama di restaurant Louis, karena Louis akan di antar pulang ke rumah orang tuanya.


Mereka di sambut hangat.


Restaurant pagi itu masih sepi karena baru saja buka, dan akan ramai mulai dari jam makan siang.


Akhirnya mereka sekarang berada di ruang makan vip. Makanan sudah di hidangkan. Ana hanya tampak memandangi satu persatu makanan itu, karena ia masih belum bisa mengkonsumsi makanan lain selain bubur yang dimasak sangat encer.


"Kenapa kau tidak makan??" Tanya Louis heran.


"Aku masih kenyang.. tadi aku makan buah buahan di rumah sakit.." ujar Ana bohong.


"Makanlah ini.." timpal Jane menyodorkan salad sayur.


Pak Kim juga tampak menuangkan air hangat ke gelas Ana.


Louis memperhatikan itu dengan seksama, Ana benar benar di perlakukan sangat baik.


"Aku akan ke kantor siang ini.." ujar Ana meneguk air hangatnya.


"Anda istirahat dulu saja hari ini Ms.Grey.."


"Tidak apa apa.. aku harus mengurus beberapa berkas perusahaan Franz.."


"Kau jadi akan membelinya?" Tanya Jane menikmati makanannya.


"Tentu saja.. bukankah itu keinginan mu sejak awal?? Menguasai semua milik Franz.." Tukas Ana datar menenggak habis air hangatnya.


"Kau terdengar seperti tidak suka melakukannya.." timpal Jane dengan nada sinis.


Ana membanting gelas di tangannya ke atas meja, menghela nafas keras. Seketika membuat semua orang terlonjak kaget.


"Jangan mulai lagi.. aku sedang menghemat tenagaku.." celetuk Ana dingin menggeram.


"Sudah..sudah.. mari kita makan lagi.. selagi ini masih hangat.." seru Louis yang duduk di sebrang Ana, ia juga tampak menusuk potongan kentang rebus dengan garpu dan berusaha menyuapkannya pada Ana.


"Makanlah.."


Ana menurut tanpa perlawanan atau komentar apapun, ia membuka mulutnya menerima suapan dari Louis. Tentu saja membuat Jane, Pak Kim dan Ibu Louis yang juga ikut makan bersama tercengang melihat situasi itu.


"Manis sekali.." celetuk Ibu Louis canggung.


"Kalian berkencan??" Timpal Jane menebak.


"Hmm.." angguk Ana singkat membuat Louis tersedak. Ia tidak menyangka Ana akan mengakuinya. Ia sempat berpikir Ana hanya ingin mempermainkannya.


"Benarkah??" Seru Ibu Louis kaget.


Sementara Pak Kim hanya tersenyum manis mendapat reaksi jawaban dari Ana.

__ADS_1


"Tentu saja Bu.."


Ibu Louis menepuk lengan kiri Louis keras. "Akhirnya kau meluluhkan hatinya??" Gumam Ibu Louis senang.


Louis tampal tergagap menanggapi ibunya.


"Tidak.. dia belum meluluhkan hatiku.." geleng Ana menimpali.


"A..apa maksudmu??" Tanya Ibunya bingung.


"Dia ingin berkencan denganku.. aku hanya memberinya kesempatan.. aku belum merasakan apapun padanya.." imbuh Ana lagi santai.


Louis tertegun sesaat. Ia tidak tau harus merespon seperti apa, namun ada rasa sakit di dadanya, terasa sesak dan merasa sedih. Ia menatap wajah Ana yang terlihat tenang sedang memperhatikan mangkuk salad buah dan sayur di depannya.


"Cepat atau lambat kau akan bisa merasakan ketulusan Louis padamu.." ujar Ibu Louis sambil menghibur putranya Louis.


"Kau hanya menyia-nyiakan ruang kosong di hatimu untuknya.. dia bahkan tidak punya hati atau perasaan.." celetuk Jane menyindir Ana pada Louis.


Louis tampak mengangguk mengerti dengan perasaan sedih di hatinya.


Drrt..drrt..


Ponsel Ana berdering, sesaat melihat ke layar ponselnya lalu ia segera bangkit keluar.


"Aku angkat telepon ini sebentar.."


Suasana di ruang makan itu menjadi canggung.


"Menurutmu dia akan luluh dengan sendirinya??" Tanya Louis putus asa.


"Tentu saja.. kau tau seberapa buruk hubungan kami?? Lihat sekarang, dia memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.. dan aku tidak akan menyianyaiakn kesempatan ini.. meski kami memang sangat berlawanan, tapi setidaknya aku harus berusaha terus mengalah hingga akhir.."


"Hingga akhir??" Tanya Louis bingung.


"Maksudku.. aku ini sudah tua.. usia tidak ada yang tau.. setidaknya aku ingin mati dalam keadaan berhubungan baik dengannya.. karena hanya dia satu satunya keluarga yang aku punya.. dia banyak menyadarkanku.. jadi aku harus lebih banyak bersabar dan mengalah padanya.."


"Benar sekali.. terkadang dia benar benar sangat kasar dan gila.." angguk Louis mengerti.


"Benarkan?? Aku juga berpikiran yang sama.. itulah kenapa kita yang waras ini harus banyak mengalah.. hahahha.." bisik Jane lalu tertawa.


"Apa yang kalian tertawakan??" Celetuk Ana tiba-tiba dari arah pintu ruang makan.


"Tidak ada.." geleng Jane masih terkekeh.


"Mari kita pergi.. aku masih ada urusan.. Ibu.. aku pamit dulu.. maaf aku tidak bisa berlama lama.." ujar Ana segera berlalu pergi tanpa menunggu yang lain.


Ibu Louis tampak berlari kecil sambil membawa kotak bekal susun mini yang sudah ia siapkan sejak tadi di bawah meja, ia tampak menyusul Ana keluar.


"Ana.." serunya memanggil Ana.

__ADS_1


"Ibu.. ada apa??"


"Ini.. aku sudah menyiapkan beberapa menu makanan, kau bahkan hampir tidak memakan apapun sejak tadi.. bawalah.." ujarnya menyodorkan kotak bekal susun mini itu.


"Tidak perlu repot repot begini Bu.." imbuh Ana sungkan.


"Cepatlah.. bawa ini.. kau harus banyak makan, badanmu semakin kurus saja.. kau boleh saja bekerja keras, tapi tetap harus jaga kesehatan dirimu sendiri.."


"Maafkan aku.."


"Minta maaf kenapa?"


"Soal hubunganku dan Louis.." jawab Ana tertunduk.


"Kenapa minta maaf padaku?? Aku tau Louis tulus menyukaimu, namun kau juga berhak menolaknya.. perasaan tidak pernah bisa di paksakan.. tapi aku yakin.. suatu saat kau akan merasakan ketulusan putraku padamu.."


Ana hanya diam seribu bahasa. Aku melakukan ini tanpa pamrih padamu Ana.. aku sudah menganggapmu sebagai anakku.. jadi jangan pernah merasa bersalah atau sungkan padaku jika itu hal menyangkut antara kau dan Louis.. kalian pria dan wanita dewasa, apapun yang kalian ingin lakukan, itu adalah hak privasi kalian.. jadi meski kau menolak perasaannya, aku harap kau jangan menolak untuk tetap berhubungan baik dengan keluargaku.."


Ana hanya mengangguk mengerti, matanya tampak berkaca kaca.


"Terima kasih.."


Mereka akhirnya kembali berangkat, Louis segera turun di rumahnya yang baru dekat tengah kota, sementara Ana baru saja tiba di apartmentnya, Jane memutuskan untuk mengantar Ana sampai depan pintu apartment nya.


"Jangan lupa makan dan minum obat.." seru Jane berdiri di depan pintu sambil menyerahkan barang barang Ana.


"Baiklah.." Ana menarik gagang pintu namun Jane segera menahannya.


"Tunggu, apa kau yakin sendirian disini??"


"Tentu saja.." angguk Ana segera menarik lagi gagang pintu, namun lagi lagi Jane menahannya.


"Ada apa lagi??" Tanya Ana dengan lemas.


"Jangan lupa kau panaskan dulu makanan itu, biar lebih nikmat.." ujar Jane basa basi.


"Aku tau.." jawab Ana mulai kesal menarik gagang pintu hendak menutup pintunya, tetapi kali ini Jane menyelipkan kakinya ke sela pintu sehingga pintu itu tidak tertutup.


"Bisakah kau berhenti?? Aku benar benar sedang tidak ingin bertengkar denganmu.." Ana terdengar sangat kesal, namun ia tampak sangat lemas.


"Aku benar benar mengkhawatirkanmu.." ujar Jane lirih.


"Pergilah.. aku baik baik saja.." pinta Ana menahan amarahnya.


"Baiklah.. aku pergi.."


Ana masih melihat Jane yang tampak enggan untuk pergi.


"Tutuplah pintunya.." ujar Jane jalan mundur perlahan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menutupnya sampai kau masuk ke dalam lift.." geleng Ana pelan.


"Baiklah.. aku benar benar segera pergi.." Kali ini Jane benar benar pergi, ia segera masuk ke dalam lift. Apartment Ana dalam 1 lantai hanya ada 2 kamar saja yang saling berhadapan, kebetulan apartment di depannya baru saja kosong. Dan ia berencana ingin membeli apartment itu agar tidak ada yang tinggal disana.


__ADS_2