
Louis terus merasa tidak karuan. Kakinya bergetar hebat, ia yakin Ana akan marah besar pada Pak Dong dan mengakhiri semua kontrak mereka. Kali ini ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ini benar-benar fatal.
Tak lama dengar suara Pak Dong dari balik pintu kamar. Louis segera berlari keluar kamar menghampiri Pak Dong.
"Ahh.. disana kau rupanya.." seru Pak Dong celingukan.
"Cepat kemari.." Louis menyeret Pak Dong masuk ke kamarnya.
"Cepat katakan ada apa kau bertemu dengan Ms.Grey??" tanyanya tergesa-gesa.
"Tidak ada..hanya membahas beberapa pekerjaan.." jawab Pak Dong enteng.
"Apa?? Kau yakin?? Apa dia mengatakan soal memutuskan kontrak atau semacamnya?" tanya Louis tak yakin.
"Kau sudah gila?? Dia justru menyuruhku menjagamu dengan sangat baik.. apa jangan-jangan kalian berkencan?" tanya Pak Dong curiga.
"Ha?? Apa yang kau bicarakan??" tanya Louis balik dengan mengalihkan tatapan sinis Pak Dongm
"Dia tidak marah??" pikir Louis sedikit lega dalam hati.
"Bagaimana kau bisa terus bersama?? Jangan melakukan kesalahan apapun padanya Louis.. Jangan main-main dengannya.." tukas Pak Dong tegas.
"Aku tidak main-main dengannya.. aku bersungguh-sungguh.." timpal Louis lirih tidak sadar dengan ucapannya barusan.
"Benarkan !! kalian pasti berkencan !!" seru Pak Dong menerka.
"Tidakkk.. kami belum berkencan.. Ah..sudahlah.. kau tidak akan mengerti.." tukas Louis mengelak.
"Pagi ini pihak apartment akan memeriksa kamarmu.. dan memperbaiki keamanan pintu.."
"Masih belum selesai??" tanya Louis heran.
"Seharusnya sudah.. Tapi tadi malam di bobol lagi ada penyusup masuk.." ujar Pak Dong keceplosan.
Tiba-tiba potongan potongan ingatan Louis yang berada di apartment dengan Ana terlintas. Ia tercekat kaget. Ia sekilas mengingat Ana menodongkan senjata pada penyusup itu. Lalu ada polisi yang datang.
"Apa yang kau katakan barusan??" tanya Louis meyakinkan.
"Memangnya apa yang baru saja aku katakan??.." seru Pak Dong pura pura tidak ingat apa apa.
"Hei.. apa yang kau tutupi dariku??" bentak Louis curiga.
"Bagaimana keamanan disana bisa jelek sekali.. Apa sebaiknya kau pindah saja?? Aku akan mencarikan apartment yang lebih bagus lagi.." timpal Pak Dong menghiraukan Louis. Ia masih berusaha mengingat potongan ingatannya tadi malam.
Louis kini mulai menyusun potongan ingatannya hingga menjadi memori utuh di benaknya. Dia benar-benar menjadi tidak waras gara-gara wine tadi malam dan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauhi alkohol lagi.
__ADS_1
***
Malam ini Ana baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia berencana akan makan malam dengan Albert. Ada beberapa pertanyaan yang ingin di bahas Albert dengannya soal grandma Jane.
Sebelum pulang ia memutuskan untuk mengganggu Louis yang pasti sedang merasa bersalah padanya.
"Halo.." jawab suara di sebrang dengan tidak semangat.
"Bagaimana keadaanmu??" tanya Ana ramah.
"A..aku baik-baik saja.." jawab Louis salah tingkah.
"Kau sudah makan?" tanya Ana lagi.
"Hmm..tentu.. kau sudah makan malam?"
"Sebentar lagi.. aku akan bertemu seseorang.. apa aku harus menjemputmu setelahnya?" tanya Ana dengan nada sedikit menggoda.
"Memangnya ada apa? apa kau ingin pergi ke suatu tempat?" tanya Louis bingung.
"Bukankah kau ingin tinggal bersamaku?? Aku harus menjemputmu lagi dan membawamu pulang bersamaku.." goda Ana tersenyum licik sambil menaiki lift.
"Ahh sudahlah.. aku benar-benar minta maaf soal itu.. tolong maafkan aku.. aku tidak akan melakukannya lagi.."
"Ah.. ternyata kau sudah mengingatnya??" Ana sadar Louis sudah mengingat kejadian tadi malam.
"Jangan lupa minum vitaminmu.. jaga kesehatanmu.. aku pergi dulu.." Ana mengabaikan permintaan maaf itu dan segera mengakhiri panggilannya.
Louis semakin deg-degan menerima respon hangat Ana. Dia berpikir apa kejadian tadi malam justru membawa keberuntungan untuknya, atau sebenarnya menuju malapetaka???
Malam ini salju pertama akhirnya turun. Jalanan malam menjadi macet dan padat. Ana segera melajukan mobilnya menuju restaurant kemarin tempat ia bertemu dengan Albert.
Ia mendapati Albert sudah berada disana.
"Kau tidak memakai mantel tebal??" tanya Albert khawatir.
"Tidak apa-apa.. ini sudah cukup hangat.." menunjukkan longcoat kulit hitamnya.
"Ayo pesan makanan dulu..aku sudah sangat lapar.." seru Albert tersenyum manis.
"Aku pesan sup daging kuah pedasnya ya.." sahut Ana ngiler.
Gadis muda yang cantik menghampiri mereka mencatat semua pesanan. Ia tampak tak henti-henti memandangi Ana dengan tatapan kagum.
"Apa ada yang ingin kau katakan padanya??" tanya Albert tiba-tiba menyadarkan Ana bahwa gadis itu tak henti-henti menatapnya dengan tatapan kagum.
__ADS_1
"Ah..tidak.. aku sangat terpesona melihatmu Ms.Grey.." ujar gadis itu gugup.
"Apa aku mengenalmu??" tanya Ana canggung.
"Ah.. tidak..aku hanya sering melihat beritamu di tv.. kau sangat keren Ms.Grey.. aku juga mengikuti medsos-mu.. tapi kau tampak jarang update.." seru nya grogi.
"Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu.." geleng Ana tersenyum.
"Anda sangat cantik sekali.. dan anda tuan sangat tampan.." puji gadis itu tak henti-henti.
"Kalau begitu segera bawakan makanan untuk kami agar kami tidak kelaparan dan agar tetap terlihat cantik dan tampan.." timpal Albert terkekeh.
"Maaf.. aku akan segera membawa makanan kalian.." gadis itu segera pergi membawa buku menu dan catatan pesanan Ana dan Albert.
"Kau benar-benar terkenal, sis.." goda Albert tertawa kecil.
"Itu sebabnya aku tidak suka di ekspos.. membuatku tidak nyaman.." tukas Ana risih.
"Apa kau masih sering bermimpi buruk?? Bibi mengatakan kalau kau sering minum obat tidur.." kali ini mereka memulai pembicaraan yang serius.
"Hmm.." angguk Ana pelan. "Aku juga sedang banyak pikiran saat ini.. jadi itu bisa membuatku isitrahat yang cukup.."
"Aku kenal beberapa dokter spesialis terbaik.. apa kau mau mencobanya?"
"Tidak.. aku baik-baik saja kak.." geleng Ana enggan.
"Aku ingin kau segera pulih Ana.." ia menatap Ana dengan tatapan iba.
"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.. aku baik-baik saja kak..".
"Bagaimana dengan grandma Jane??" tanya Albert lagi.
"Dia sangat..sangat menyulitkanku.." jawab Ana lirih. "Tapi aku akan segera mengatasinya.."
"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Tidak ada kak.. cukup jaga Bibi Layla untukku.. sisanya bisa ku lakukan sendiri.." Ana berusaha untuk tetap tenang dan tidak membuat Albert khawatir.
"Apa kau tau hal lain soal Dominic??" tanya Albert setengah berbisik.
"Memangnya kenapa??" Ana tampak sedikit penasaran.
"Aku dengar Dominic, grandma Jane dan Bibi Layla pernah bekerja sama di satu yayasan.. namun akhirnya dominic di pecat, sementara Bibi Layla memilih untuk hanya mengurus anak anak di panti asuhan.." ungkap Albert ragu.
"Darimana kau tau soal itu? Aku belum pernah mendengarnya.."
__ADS_1
"Saat aku menyelidiki kasus Dominic waktu itu.. aku minta tolong dengan rekanku di luar negeri untuk mencari tau.. mereka pernah sangat akrab Ana.. aku menanyakan ini pada Bibi Layla.. tapi ia enggan menjawab.. apa kau tau sesuatu soal ini??"
Ana tertegun. "Aku tidak pernah mendengar tentang itu.. bahkan bibi enggan membahas soal grandma jane.. jadi aku pikir ia tidak mungkin mengenal Dominic." geleng Ana berpikir.