Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 98 : Hampir Kehilangannya


__ADS_3

"Apa kau yakin??" Jane tercengang mendengar pernyataan anak buahnya.


"Aku yakin Nyonya.."


"Jadi dia masih ada di negara ini??"


"Iya Nyonya.. Kami akan segera menemukannya Nyonya.." ujar anak buahnya lagi.


"Baiklah pastikan kalian segera menemukan keberadaannya.. dan awasi terus Pak Kim sekretarisnya.. aku yakin dia tau dimana Ana berada, karena ia tampak sedang menyembunyikan sesuatu dariku.."


"Baik Nyonya.."


Jane meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia berpikir keras dimana Ana berada. Kenapa ia menyembunyikan keberadaannya. Rasa bersalahpun muncul, karena insiden hilangnya Ana setelah mereka berdebat panjang malam itu.


"Apa hal buruk terjadi??" Gumamnya dalam hati mulai gusar.


****


Louis tengah duduk di meja makannya. Ia bahkan belum menyentuh makanannya yang telah ia hidang di atas meja. Ia terus menatapi ponsel Ana yang berada di atas meja makan. Ia masih ragu untuk menghubungi Pak Kim. Namun ia yakin Ana pasti butuh kartu idientitasnya yang ada di dalam dompet maupun ponselnya.


Drrt...


Ponsel itu bergetar, pesan singkat masuk. Louis dengan mantap membuka pesan itu, dan ternyata itu dari Mr.Lee. Louis mengerutkan dahinya mengingat ingat siapa Mr.Lee itu.


"Ms.Grey.. bisakah anda segera menghubungi saya?? Saya ingin membahas berkas titipan dari anda yang di berikan Pak Kim pada saya.. saya ingin menanyakan beberapa hal penting karena ada hal yang ganjal dengan berkas itu.."


Louis takut jika pesan itu sangat penting, karena terdengar seperti ingin membahas pekerjaan penting.


Tak lama, panggilan lain masuk. Tertera nama Mr.Zhou di layar ponsel Ana. Louis meletakkan ponsel itu di atas meja. Ia takut jika itu rekan kerja Ana.


Beberapa kali Mr.Zhou itu menelepon hingga akhirnya ia mengirim pesan singkat.


"B1 dan anak buahmu menyerang mansion persembunyianku, mereka membunuh semua anak buahku.. mereka mengkhianatimu.. berhati-hatilah.." Louis terbelalak kaget membaca pesan itu. Ia tertegun.


B1 adalah anak buah kepercayaan Ana. Memang sudah sangat lama ia tak lagi pernah melihat B1 maupun mendengar namanya di ucap oleh Ana.


Hingga akhirnya dengan mantap ia menghubungi Pak Kim, untuk segera mengembalikan ponsel Ana. Karena ia tidak tau bagaimana caranya menghubungi Ana untuk memberitahu pesan dari Mr.Zhou itu.


Ia semakin takut jika Ana benar benar terancam saat ini.

__ADS_1


Pak Kim tak kunjung mengangkat ponselnya. Ternyata ponselnya berada dalam tas kerjanya, sementara ia sudah tertidur di atas sofabed di ruang inap Ana. Ia memutuskan untuk menemani Ana hingga kondisi Ana semakin membaik.


Louis semakin panik, terlintas di benaknya untuk menghubungi Jane, namun ia sadar bahwa situasi Ana dan Jane sedang tidak baik, maka ia mengurungkan niatnya. Setelah mencoba menelepon lagi, Pak Kim masih tidak menjawab. Louis akhirnya memutuskan untuk menemui Pak Kim esok pagi di kantor Ana sebelum berangkat shooting bersama Pak Dong.


****


Tiiiittttttt...


Suara nyaring berdenging melengking membangunkan Pak Kim dari tidurnya. Tak lama perawat dan dokter berhamburan masuk ke dalam ruangan Ana. Pak Kim yang terkaget dengan situasi itu masih belum sadar sepenuhnya, ia melirik jam tangannya pukul 3.45 subuh, ia lalu segera bangkit mendekati tempat tidur Ana, ternyata bagian tubuh Ana sudah bersimbah darah yang muncrat keluar ldari mulutnya, wajahnya pucat pasih bahkan ia tak lagi bergerak, jantungnya pun tak lagi berdetak, alat pendeteksi jantungnya menampilkan garis lurus panjang.


Dokter tampak berusaha memompa dada Ana sambil menunggu perawat menyiapkan alat kejut jantung yang sudah mereka bawa sejak tadi. Sementara perawat satunya tampak menyuntikkan obat ke pembuluh darah Ana, sedangkan perawat lainnya di sibukkan dengan memompa alat bantu pernafasan yang menangkup hidung dan mulut Ana.


Pak Kim seakan membatu, ia bahkan tak sadar kapan Ana memuntahkan darah segar itu dari mulutnya.


Suara nyaring dari alat pendeteksi detak jantung Ana masih berbunyi nyaring, bahkan suara detak jantungnya masih tak terdengar.


"Dokter.." ujar Pak Kim sangat lirih bahkan nyaris tak terdengar, lututnya terasa lemas melihat tangan Ana terkulai di sisi kasur. Tangisnya pecah seketika. Kakinya bahkan tak sanggup menopang tubuh tinggi kekarnya lagi.


"Cepat siapkan alatnya !!!" Bentak dokter panik pada perawatnya yang tengah menyiapkan alat kejutnya, sedangkan ia masih terus memompa dada Ana tanpa putus asa.


Setelah alat siap, mereka menggunakan alat itu beberapa kali. Mereka sempat putus asa, namun Pak Kim terus memohon untuk terus mencoba hingga percobaan ke 5 akhirnya berhasil, satu dua denyut muncul di layar pendeteksi jantung Ana.


Pak Kim mengusap wajahnya kasar, menangis dalam tangkup kedua tangannya. Ia tak bisa lagi menahan isak tangisnya.


Dokter mendekati Pak Kim mengusap punggung bidangnya lembut.


"Dia sudah kembali Pak Kim.. tenangkan dirimu.. dia sekarang baik baik saja.."


"Aku hampir kehilangannya Dok.. aku hampir kehilangannya.." isak Pak Kim tertunduk.


"Dia akan segera baik baik saja.."


Pak Kim hanya terus menangis.


****


Pak Kim terus duduk di samping tempat tidur Ana, sesekali memijat kedua kaki dan tangan Ana bergantian. Ia sudah menghabiskan 3 gelas kopi untuk membuatnya tetap sadar hingga pagi hari.


Ana membuka matanya perlahan. Wajahnya yang sayu masih tampak sangat pucat.

__ADS_1


"Ms.Grey.." seru Pak Kim lirih.


"Kau sudah bangun Pak Kim??" Tanyanya parau.


"Hmm.." angguknya pelan. "Saya sedang menunggumu bangun.."


Ana hanya tersenyum simpul.


"Ini pertama kalinya aku bermimpi indah.. meski mimpi itu terasa sedikit aneh, aku bertemu dengan orang tuaku.. aku bahkan tidak pernah memiliki foto mereka, apalagi tau wajah mereka.. namun mereka menghampiriku dan menggenggam tanganku erat, aku merasa yakin bahwa mereka adalah orang tuaku.."


Pak Kim hanya terdiam, bibirnya bergetar menahan isak tangisnya lagi.


"Lalu mereka memelukku erat, mimpi itu terasa sangat nyata Pak Kim.. pelukan mereka terasa sangat hangat.. bahkan aku masih bisa merasakannya hingga sekarang.." ujar Ana lagi menitikkan air matanya dari sudut matanya yang sayu.


Pak Kim terus menundukkan kepalanya menyembunyikan kesedihannya.


"Ada apa Pak Kim??" Tanya Ana lirih.


"Tidak ada apa apa Ms.Grey.." gelengnya berusaha tegar.


"Apa kau tidak pergi bekerja?? Aku akan memecatmu jika kau terus berada disini dan bolos kerja.." gumam Ana bercanda dengan nada mengancam.


Pak Kim tertawa kecil. "Saya akan berangkat kerja setelah perawat masuk pagi ini untuk membantu anda mengganti pakaian.."


"Baiklah.." angguk Ana pelan.


****


Sebelum tidur tadi malam Pak Kim telah bertemu kepala rumah sakit untuk mengatur staff dan perawat yang akan bertugas khusus merawat Ana, agar ia tidak perlu lagi khawatir dengan siapapun yang akan masuk untuk meriksa Ana.


Pak Kim benar benar ketat dan teliti untuk menjaga dan merawat Ana saat ini.


Setelah 20 menit berlalu, Dita sang perawat telah selesai membersihkan Ana, Pak Kim kembali ke dalam ruangan. Ana kini telah berganti pakaian dan tampak lebih segar.


"Pak Kim, bisakah nanti anda membawakan aku beberapa buku dari apartmentku?? Aku sangat bosan.." ujar Ana masih terbaring di tempat tidur, karena ia masih belum boleh duduk.


"Tentu Ms.Grey.. nanti saya akan singgah ke apartment anda.. apa ada referensi khusus untuk jenis bukunya?"


"Apa saja.. tidak ada spesifik khusus.. biar aku tidak bosan.."

__ADS_1


__ADS_2