Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 150 : Apa itu Bahagia?


__ADS_3

"Bahagia?? Bahkan aku tidak tau apa itu bahagia.." gumam Ana melantur.


"Kau tertawa, merasa nyaman, merasa aman, dan selalu merindukan seseorang dengan perasaan yang tidak karuan.." jelas Lucas lirih.


"Aku bahkan merasa tidak karuan saat menghabisi musuh-musuhku.." timpal Ana.


Lucas menepuk lengan Ana pelan berusaha menyadarkannya.


"Jaga ucapanmu.. Orang bisa salah paham.." seru Lucas lirih.


"Aku tidak peduli penilaian orang lain.. Aku hanya peduli pada penilaian dari keluargaku.. Karena aku akan hidup dan mati untuk mereka.."


"Makanya kau juga harus memiliki keluargamu sendiri Ana.. Kau harus segera menikah dan memiliki anak.. Itu akan terasa jauh membahagiakan dan jauh lebih nyata.."


"Apa aku sekarang tidak nyata untukmu?" timpal Ana melihat ke arah Lucas dengan tatapan sendu.


"Bukan itu maksudku.. Maksudku itu.. Kau.."


"Aku tau.. Aku tau.. Tapi aku tidak pernah membayangkannya.. Bahkan aku tifak punya waktu untuk membayangkannya.. Aku terlalu sibuk dengan urusan yang jauh lebih penting.."


"luangkanlah waktumu untuk memikirkan dirimu sendiri.. Jangan memikirkan masalahmu saat kau melakukannya.. Hanya pikirkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri.." Lucas menggenggam tangan Ana hangat.


"Dan kau harus meninggalkan kehidupanmu di dunia gelap itu Ana.. Kau harus meninggalkan semua tanpa sisa untuk memulai lenbaran baru.." tambah Lucas menasehati.

__ADS_1


Ana melepas genggaman itu pelan.


"Aku akan memikirkannya.." angguk Ana menyetujui nasehat Lucas.


Ana merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dari sana.


"Apakah aku harus menghubunginya?" gumam Ana menatap layar ponselnya.


"Pacarmu??" tebak Lucas bingung.


"Dia bukan pacarku.. Dia orang yang aku sukai.. Dan dia menyukaiku.. Tapi dia bukan pacarku.. Dan aku bukan pacarnya.. Kami hanya saling suka.. Hihihihi.." Ana cekikikan dengan sangat lucu, bahkan wajahnya yang memerah membuat ia tampak sangat menggemaskan.


"Teleponlah dia.. katakan semuanya padanya.."


"Benarkah?? Mungkin dia sangat sibuk.."


"Aish.. Bahkan dia punya waktu untuk membuat skandal drama sialannya itu.. Seharusnya aku tidak membiarkan ia mengambil peran disana.. Menyebalkan sekali.." gerutu Ana dengan tubuh yang sempoyongan.


Ana tampak melakukan panggilan di ponselnya.


Tutt.. Tutttt.. Tutt..


"Lihatlah.. Dia tidak mengangkatnya.." seru Ana menyalakan loudspeaker-nya.

__ADS_1


Klik..


"Halo.." jawab seseorang di seberang dengan suara lembut


"Dia mengangkatnya.. Cepat jawab.." seru Lucas berbisik menyorong tangan Ana ke arah wajahnya.


"Lou?? Ini kau?? Hehehe.. Bahkan suaramu sangat merdu.."


"Kau mabuk?? Dimana kau." tanyanya di seberang.


"Jangan banyak tanya.. Cukup dengarkan saja aku.." tukas Ana membentak.


"Baiklah.."


"Apa menurutmu, aku akan bisa hidup normal? Kau tau, aku sudah membunuh banyak orang sejak lama. Bahkan aku sudah tidak menghargai nyawaku sendiri.. Aku hanya tubuh kosong tanpa perasaan.." celoteh Ana keras.


"Apa menurutmu aku akan baik-baik saja di masa depan?? Aku bahkan tidak bisa menemukan jawabannya.. Aku benar-benar tersiksa.. Bahkan sekarang aku tidak bisa bernafas dengan baik.. Keserakahan, keegoisan dan amarahku menutup semua saluran pernafasan di tubuhku.." Ana terdiam sesaat, matanya tampak berkaca-kaca, bahkan wajahnya sangat sendu menunjukkan kesedihan yang mendalam.


"Aku bahkan takut untuk mengatakan jika aku merindukanmu.. Itu kata-kata yang sangat menakutkan bagiku.. Aku bisa dan tanpa ragu menembakkan peluru panas ke kepala musuhku.. Tapi kenapa aku kesulitan mengatakan jika aku sangat merindukanmu.."Ana lagi-lagi menghela nafas.


"Rasanya aku ingin menembak kepalaku sendiri, daripada aku harus mengatakan jika aku sangat sangat merindukanmu.." (Ana menarik nafas dalam..)


"Lou.. Apa kau tau? Aku sangat mahir dan lancar berbicara denganmu karena bir murahan yang enak ini.. Kak Lucas mengajakku minum bir murahan ini dan membuatku mabuk seperti ini.. Bahkan bir murahan ini jauh lebih enak dari wiski mahalku.. Aku akan melaporkannya ke kantor polisi besok karena dia sudah mengajakku mabuk-mabukkan.. Ah.. Tapi dia adalah polisi.. hehehe.. Kalau begitu aku akan mengirimkan keluhanku tentangnya, lalu mengirimkan keluhan itu pada dirinya.. Hahaha.. Bukankah itu lucu??" celotehan Ana mulai melantur. Bahkan ia tertawa dan menangus secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2