
Louis sudah 2 hari memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya setelah ia shooting, ia bahkan jarang pulang ke apartment nya. Biasanya ia juga akan nginap di hotel dekat lokasi shooting, atau bahkan tidur di lokasi shooting yang memiliki fasilitas asramanya.
Keluarganya tau apa yang sedang Louis alami, mereka yakin dia tengah di landa patah hati karna berita pertunangan Ana dengan Franz. Tak ada yang berani menyinggung hal itu dengannya.
Malam itu dia pulang lebih awal, setelah makan malam mereka memutuskan untuk nonton tv bersama. Mereka menonton drama terbaru Louis yang sudah mulai tayang. Saat jeda iklan Louis memutuskan akan membuat jus untuk di nikmati bersama, saat itu pula iklan promosi GC Hotel di tayangkan, beserta barang barang produk unggulan Grey World juga ikut di tayangkan, memang perusahaan Ana melakukan iklan berbayar pada semua produk atau hotelnya di semua siaran tv, bahkan sesekali hotel Ana di negara L juga di promosikan sebagai pilihan penginapan ketika berlibur ke negara L.
Saat melihat iklan itu, Irene teringat kejadian beberapa hari lalu saat bertemu Ana di tangga darurat.
"Aku bertemu Ms.Grey waktu itu di hotel.." ujar Irene setengah berbisik pada ayah dan ibunya.
"Wajar saja, itukan hotel miliknya.." tukas ayahnya.
"Tidak ayah.. ada yang aneh dengan itu.. waktu itu aku bertemu dengannya di tangga darurat, dia berlalu menuruni tangga, dan dia terlihat sangat pucat.." bisik Irene lagi.
"Apa yang dia lakukan disana?" Tanya ibunya penasaran.
"Entahlah.. setelah itu ia kembali masuk ke dalam, aku rasa setelah itu dia menggunakan lift melihat kondisinya seperti itu.." jelas Irene lagi.
"Bukankah tunangannya juga menginap disana?" Tanya ibunya menebak.
Irene mengangguk cepat.
"Apa jangan jangan dia melihat tunangannya bersama selingkuhannya di hotel itu?" Tebak Ayahnya dengan nada sedikit keras.
Pranggg..
Louis menjatuhkan gelas kaca ke lantai hingga pecah berserakan.
"Maaf.. aku tidak hati hati memegangnya.." timpal Louis dengan nada lirih segera memungut pecahan gelas di lantai.
"Ayah ini.." tukas ibunya memukul lengan ayahnya kesal, lalu segera bangkit.
__ADS_1
"Sudah.. biar ibu saja yang membersihkannya.. kau istirahat saja.. kau pasti sangat lelah.." timpal Ibunya mendekati Louis sambil membawa sapu.
Louis menatap pecahan kaca di lantai tanpa bergeming.
"Istirahatlah.. kau pasti lelah.." ujar ibunya lagi mendorong pelan tubuh Louis.
Louis hanya melangkah pelan menuju kamarnya tak berkomentar apapun.
Ayah, Ibu dan Irene iba melihat Louis yang seperti itu, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan.
***
Jane memutuskan untuk pulang ke negara L karena ada beberapa bisnis nya mendapat masalah. Ia memang tidak memberi tahu Ana, tapi Ana mengetahuinya, karena Ana mendapat bantuan dari Mr.Zhou. Mr.Zhou mengirim beberapa anak buahnya untuk membantu Ana selama B1 dan anggotanya yang lain tengah bersembunyi dan memulihkan diri setelah insiden kebakaran waktu itu.
Beberapa bisnis Jane yang bekerja sama dengan petinggi di negara L di periksa polisi dan kejaksaan, karena pejabat itu tengah terlibat skandal narkoba dan pencucian uang, salah satu data transaksinya terdapat akun bank milik Jane.
Ana mungkin akan bisa bernafas sedikit lega tanpa harus di teror Jane dan Franz, karena mereka berangkat bersamaan, meski beda tujuan. Sebelum Franz kembali ke negaranya, Ana sempat memerintahkan anak buahnya memata-matai Bibi Layla, dan tentu saja ia sering bertemu Franz saat Ana pergi bekerja, bahkan mereka pernah bertemu Dominic di pinggiran kota. Ana juga mendapat beberapa foto foto kenakalan Franz selama di negara K, ia sering ke club malam, mabuk mabukkan bersama wanita malam dengan kedok sedang bekerja pada Ana. Bukti bukti itu di kumpulkan Ana dengan apik untuk menyerang Franz pada waktu yang tepat.
***
Beberapa hari Ana jauh lebih merasa senang dan tenang tanpa di hantui Jane maupun Franz, meski ia masih belum banyak berbicara dengan Bibi Layla.
Siang itu tim Ana akan meeting bersama Louis. Ana yang baru selesai meeting dengan petinggi perusahaan, berselisih jalan dengan Louis dan Pak Dong.
"Halo Ms.Grey.. apa kabar?" sapa Pak Dong ramah.
"Baik.." jawab Ana singkat dengan senyum tipisnya tanpa melihat ke arah Louis yang terus menatapnya. Saat akan berlalu pergi Louis tiba tiba menahan tangan Ana.
"Aku ingin bicara.." ujarnya lirih dengan segala keberaniannya.
"Aku tidak punya waktu untuk bicara denganmu.." tukas Ana dingin.
__ADS_1
Mata mereka saling menatap cukup lama, detak jantung mereka pun saling berdetak tak karuan.
"Bisa kau melepas tanganku sekarang?" timpal Ana dengan tatapan dingin.
Seakan tak mengindahkan ucapan Ana, Louis justru menarik keras tangan Ana menyeretnya pergi melewati pintu darurat yang menuju tangga darurat. Ana segera menepis cengkraman tangan Louis keras dan menampar Louis keras.
"Berani sekali kau padaku !!" bentak Ana keras.
"Pukul aku sepuasmu, jika kau sudah puas, berikan aku waktu untuk bicara padamu.." bentak Louis tak kalah keras. Ana tercengang dengan keberanian Louis.
"Kau membuatku merasa bersalah sepanjang waktu.. apa yang terjadi malam itu aku tidak ingin kau salah paham padaku"
"Aku tidak mau lagi membahasnya.." Ana bergegas pergi namun dengan cepat Louis menarik dan menahan lengan Ana.
"Lepaskan aku !!" bentak Ana.
Pak Dong dan Pak Kim yang menguping dari sebalik pintu ingin mencoba melerai, namun Pak Kim menahan niat Pak Dong yang ingin ikut campur, akhirnya mereka sepakat untuk menjaga pintu itu agar tidak ada orang lain yang menggunakan pintu itu atau ada yang mendekati pintu itu hingga mendengar pertengkaran Ana dan Louis.
"Aku mohon.. dengarkan aku.." mohon Louis dengan nada penuh memohon
"Dengarkan aku, terlepas kau akan percaya atau tidak, setidaknya aku sudah menjelaskannya padamu.."
Ana menatapnya datar.
"Malam itu Nyonya Jane mengirimku pesan karena ingin mengatakan sesuatu padaku, ia mengancam jika aku tidak datang, ia akan menyakitimu.. aku tidak ada pilihan lain, aku juga tidak menyangka kau akan datang kesana malam itu.." tatapan Louis terlihat khawatir.
"Aku tidak pernah berhenti mengkhawatirkanmu Ana.. itu sebabnya aku datang menemui Nyonya Jane, aku juga ingin meminta padanya untuk tidak menyulitkanmu lagi, tapi dia justru meminta aku untuk menjauhimu.. dia berkata kau akan menikah dengan Franz.. aku tidak peduli kau menyukainya atau tidak.. kau setuju dengan perjodohan itu atau tidak.. hanya satu yang aku pedulikan.. yaitu kebahagiaanmu.. namun aku tidak punya hak apapun atas dirimu.. jadi hanya satu hal yang aku yakini.. aku selalu mempercayaimu Ana.. kau memintaku percaya padamu kan??? maka aku akan selalu percaya padamu.." Louis terus berbicara menjelaskan semuanya pada Ana.
"Apapun berita buruk diluar sana yang menceritakan tentangmu, aku akan hanya percaya pada semua kata katamu.." nafas Louis tersengal, kini sesak di dadanya telah hilang, ia merasa sangat lega telah mengatakan semuanya pada Ana, meski Ana tidak mengatakan apapun padanya.
"Kau sudah selesai?? pergilah.. selesaikan meetingmu.." hanya itu yang Ana ucapkan, lalu ia segera pergi meninggalkan Louis yang berdiri terpaku disana seorang diri.
__ADS_1