Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 29 : Uang Tutup Mulut


__ADS_3

Jane mendekat pada Ana yang menatapnya dingin. Pak Kim segera menjaga jarak untuk memberi mereka privasi.


"Aku membiarkanmu selama ini Ana.. tapi kau sudah terlalu jauh.. aku sudah memberi peringatan tapi kau mengabaikannya.. justru sekarang kau hampir mencelakai suamiku !!" tukasnya lirih.


"Grandma.." bibir Ana bergetar hebat. Ia tidak pernah tau bahwa Jane memiliki seorang suami. Terlebih ternyata suaminya adalah Dominic.


Tiba-tiba rasa yang sangat menyakitkan menyerang bekas luka Ana waktu itu. Ia tampak meringis kesakitan sambil memegang perut kirinya.


"Bahkan kondisimu kini sudah sangat memprihatinkan Ana.. Kenapa kau keras kepala sekali.. Andai saja kau menurutiku Ana.. kau tidak akan mengalami kesulitan seperti ini.. Apa Layla tau tentang ini??? Atau apa aku harus datang menemuinya dan memberitahukan segalanya tentangmu padanya??" Jane paling tau apa titik lemah Ana.


"Jangan berani-berani kau berpikir akan melakukan itu !!" seru Ana bergidik ngeri sambil memegang perutnya.


"Bahkan di kondisi menyedihkan seperti ini kau masih berusaha mengancamku.." Jane mendekati wajahnya lebih dekat pada Ana hingga hanya jeruji besi yang menghalangi mereka.


"Asal kau tau saja.. berapa banyakpun pengacara hebat atau uang yang akan kau habiskan.. hanya aku satu-satunya orang yang bisa membebaskanmu Ana.. Kau camkan itu.." bisiknya dingin.


"...." Ana menggeram penuh amarah. Perasaannya kini campur aduk. Marah, benci, kesal, sedih, kecewa semua menjadi satu.


"Pikirkan apa yang akan Layla pikirkan jika ia tau apa yang kau lakukan selama ini Ana.. dia akan sangat kecewa padamu.. kau sudah ia sayang seperti anaknya sendiri.. tapi kau justru mengecewakannya.." Jane terkekeh puas.


"Mari kita buat kesepakatan.. Aku akan membebaskanmu darisini.. tapi kau harus berhenti ikut campur di dunia gelap.. serahkan semuanya pada Dominic.. dia akan mengurusnya dengan baik.. kau cukup menikmati hasilnya Ana.." tambahnya meyakini Ana.


Pikiran Ana tak beraturan, ia menggeluti dunia gelap semata mata untuk menyelamtkan banyak nyawa perempuan dan anak anak yang menjadi korban perdagangan manusia, bukan karena uang.


Ditambah Bayangan Bibi Layla menghantui Ana setiap detiknya. Ia takut Layla akan lari meninggalkannya. Dan hidupnya akan kembali menjadi lebih buruk dari sebelumnya.


"Waktumu tidak banyak Ana.. jika kau tidak memutuskannya sekarang.. kau akan segera terekspos ke media.. dan Layla akan tau dengan sendirinya.. Kau tau kan bagaimana kekuatan media di zaman sekarang??" Jane berusaha mengotori pikiran Ana yang sudah sangat kalut.


"Baiklah.." angguk Ana pasrah dengan wajah tertunduk. Ia menggenggam erat jeruji besi di depannya sementara tangan yang satunya masih meremas perutnya yang nyeri.


"Aku akan membalasmu Jane..." umpat Ana dalam hati.


Tak ada lagi yang bisa dia lakukan. Ia tau seberapa besar kekuasaan dan kekuatan Jane. Jadi lebih baik dia mengalah sekarang dan akan mengalahkan Jane dan Dominic nanti.


Albert terkejut ketika mengetahui Ana adalah cucu dari Jane yang mana secara tidak langsung merupakan cucu Dominic juga. Albert tak bisa berkomentar apa-apa. Ia terus melihat Ana yang hanya tertunduk lesu.

__ADS_1


Ana segera dibawa Pak Kim ke mobilnya untuk di bawa ke rumah sakit sesuai perintah Jane. Sementara Jane menunggu Dominic di mobilnya, karena Dominic masih ingin bertemu Albert yang sudah membantu Ana.


"Ini hanya masalah keluarga detektif.. Kau tidak perlu bekerja keras seperti ini.. Terima kasih Detektif Albert.. kau pasti sangat kaget dengan ini semua.. tapi setidaknya mulai saat ini Ana tidak akan mengganggumu lagi.." Dominic tampak tersenyum penuh kemenangan.


"Ma..maaf atas yang terjadi pada anda Tuan, sampaikan maafku pada istri anda.."


"Tidak apa-apa.. bahkan Ana juga tidak tau kalau aku adalah suami neneknya.. Persaingan bisnis itu sangat mengerikan.. bahkan aku tidak menyangka itu bisa membuat Ana seliar itu untuk menyingkirkanku.. jadi sebaiknya kau sebagai seorang polisi harus lebih berhati-hati dan tidak gegabah dalam bertindak atau sekedar mengambil keputusan.." Dominic benar-benar pintar memainkan perannya, bahkan ia terdengar sedikit mengancam ke arah telinga Albert, lalu menyelipkan sebuah amplop coklat kecil yang berisi cek senilai 5 milyar rupiah.


Ia sontak tertegun kaget. Ia tidak pernah mendapat uang sebanyak itu.


"Dan pastikan kau tidak akan ikur campur lagi dengan urusan keluargaku.. bahkan jika Ana mengemis meminta bantuan padamu.." bisiknya lagi lirih.


***


Ana sudah beberapa hari sejak kejadian itu tampak murung. Ia hanya menghabiskan waktunya di ruangan kerjanya. Saat meeting pun ia hanya berkomentar tipis dan singkat. Ia kadang tidak makan siang sama sekali. Pulang larut malam dan datang pagi-pagi sekali.


Siang ini setelah jam makan siang ia akan ada jadwal meeting dengan agensi Louis untuk membahas project iklan terbaru akhir bulan ini. Sekaligus membahas perpanjangan kontrak mereka. Karena tidak terasa bahwa kontrak Louis sudah akan segera berakhir.


Ana, Louis, Pak Kim dan Pak Dong berada dalam ruang meeting mereka. Sesaat sebelum Ana masuk ke ruang meeting, Louis melihat Ana menenggak beberapa butir obat yang di berikan Pak Kim.


"Baik.." jawab Ana singkat melihat sekilas ke arah Pak Dong.


Louis menatapnya tiada henti. Ana tampak semakin kurus dan pucat.


"Mari kita mulai.." ujar Ana lirih memperhatikan setiap detail file kerjasama mereka.


3 jam berlalu. Meeting akhirnya berakhir, Ana tampak menghela nafas ringan beberapa kali. Saat Louis akan berdiri menghampiri Ana, Ana justru segera bangkit dan berlalu pergi keluar ruangan meeting. Louis hanya terdiam. Pak Kim yang melihat Louis menggelengkan kepalanya pelan.


"Dia sedang tidak dalam situasi dan kondisi yang baik Tuan Louis.." seru Pak Kim lirih.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Louis khawatir.


"Kurang lebih begitu.."


"Apa terjadi sesuatu??"

__ADS_1


Pak Kim hanya mengangguk pelan. Ia segera pamit keluar ruangan meeting terlebih dahulu untuk segera menyusul Ana.


"Ms.Grey tampak dalam mood buruk.. dia bahkan tidak melihatku saat berbicara ataupun tidak tersenyum sedikitpun selama meeting.. Biasanya dia tidak seperti itu.." gerutu Pak Dong lirih.


"Entahlah.. aku juga tidak tau.." geleng Louis pelan.


Pak Dong dan Louis segera keluar ruangan meeting. Saat mereka sampai di lobi, mereka melihat Ana tengah berdiri dengan seorang pria yang sangat tampan dan gagah. Louis menatapnya dengan perasaan aneh.


"Siapa itu? Apa idol baru? Bahkan dia jauh lebih tampan darimu Lou.." ejek Pak Dong terpesona melihat ketampanan Albert. Namun Louis tidak menggubrisnya.


"Aku ingin bicara padamu Ms.Grey.." pinta Albert samar-samar terdengar oleh Louis.


"Aku sangat sibuk.. tolong jangan temui aku lagi.." tukas Ana dingin.


"Aku sudah tau semuanya.. mereka bertransaksi di pelabuhan Hangnam.. Ada 8 orang anak-anak dibawah umur dan 3 gadis berusia 20-23 tahun.." bisik Albert mendekat ke telinga Ana, lalu ia menyodorkan sebuah amplop coklat ke tangan Ana, namun Ana tampak enggan menerima itu, Albert memaksa tangan Ana mengenggamnya.


"Wah..bahkan mereka sangat intens.." Pak Dong lagi-lagi menggoda Louis yang terus memperhatikan mereka.


Ana mendorong keras tubuh Albert. "Aku sudah tidak peduli lagi.. kau sudah berjanji akan mempercayai dan melindungiku.. kau justru menerima duit dari Dominic kan?? Sekarang berhenti bersikap peduli !!" gerutu Ana sambil menggeram dengan lirih.


Louis tak dapat mendengar obrolan mereka dengan jelas.


"Aku mengembalikan uang itu.. aku tidak membutuhkan itu.. pekerjaanku masih cukup untuk menafkahi anak istriku.." timpal Albert membela diri.


Ana tercengang, ia tak menyangka ia menolak uang pemberian Dominic, karena sesaat sebelum mobil Pak Kim pergi, Ana melihat Dominic menyodorkan sebuah amplop kecil pada Albert.


"Sebaiknya kau berhenti atau kau akan celaka.. kau tidak tau siapa mereka.. aku mohon tutup mata dan telingamu.. menjauhlah darinya.. lindungi saja keluargamu sendiri.." Ana segera berlalu begitu saja.


Namun Albert menahan pergelangan tangannya.


"Apa yang kau lakukan !!?" bentak Ana setengah berteriak penuh amarah membuat semua mata tertuju pada mereka.


Seketika penjaga segera menghampiri mereka dan melepaskan tangan Albert dari Ana.


"Jangan pernah kembali lagi.." ancam Ana dingin dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Louis melihat sesuatu yang mencengangkan. Ia tertegun lama melihat Ana yang sudah keluar dari gedung kantor, sementara pria tadi segera di kawal paksa keluar kantor.


__ADS_2