Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 138 : Pesan Suara


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Leo, Ana segera kembali ke hotel, ia tidak tidur sedetikpun, ia mengotak-atik laptopnya untuk mencari tau tentang Leo dan keberadaan Layla di rumah sakit Grey Hospital milik ayah angkatnya itu.


Ia berusaha mencari sela dan kontak mengenai Leo, ia tak ingin terjebak dengan omong kosong Leo. Di satu sisi, jika yang di katakan Leo benar, maka ia harus menyelamatkan adiknya dari Layla dan mendapatkan bukti yang telah ia sebutkan tadi.


Tepat pukul 7 pagi, Ana segera bergerak, ia segera menemui teman lamanya di pasar gelap untuk membeli telepon pembakar (sekali pakai), serta membeli satu unit ponsel baru. Sebelumnya ia hendak meminta bantuan Pak Kim, tapi ucapan Leo membuatnya was-was bahkan pada Pak Kim sekalipun.


Drrtt..drrtt..


Ponsel pembakar pemberian Leo bergetar, ia mendapat sebuah pesan dari Leo.


"Layla akan ada di bangsal VIP pada pukul 12.00-15.00 saat pergantian shift.. adikku ada di bangsal 1102"


Ana membaca setiap kata dalam pesan itu dengan seksama, ia berpikir keras untuk mengatur strategi. Ia akan bergerak sendiri. Ditambah tempat itu milik mendiang ayahnya, akan ada banyak orang yang mengenalinya disana, bisa-bisa itu justru menghentikan pergerakannya dan membuat Layla kembali kabur.


^^^


Louis berdiri cukup lama di depan jendela kamarnya. Ibu dan ayahnya sudah pergi ke restoran mereka, sementara Irene juga sudah berangkat bekerja. Sudah beberapa hari ia memperhatikan adiknya yang selalu menghindarinya dan membiacarakan sesuatu yang serius dengan kedua orang tuanya.


Ia tak sabar menunggu malam tiba untuk makan malam bersama Ana dan Pak Kim. Sedikit banyak potongan puzzle ingatannya sudah mulai kembali. Ia sudah banyak mengingat kenangannya bersama Ana. Namun ia masih ingin memastikan satu hal, sejauh apa hubungan mereka, dan apa yang sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua.


Saat tengah asyik termenung, ponselnya bergetar, ia hanya mengabaikan getaran itu dan terus memperhatikan ponselnya yang di atas meja. Kemudian ia teringat sesuatu.


Louis mengendap-endap masuk ke kamar tidur orang tuanya, ia kemudian segera menggeledah setiap sisi lemari hias milik ibunya. Ia membongkar semua laci milik ibunya dengan hati-hati agar tidak berantakan. Hingga ia menemukan laci yang terkunci. Laci kecil yang tersembunyi di bawah koleksi kaos kaki milik ibunya. Laci itu ternyata memiliki kunci dengan kata sandi.


Louis berpikir keras, apa kata sandi laci tersebut. Kemudian ia mencobanya dengan tanggal lahir ayahnya, namun gagal, ia hanya memiliki 3x percobaan. Kemudian ia memasukkan tanggal pernikahan ayah dan ibunya, lagi-lagi gagal. Lalu ia melihat sudut meja hias milik ibunya, disana terdapat sebuat kalender meja. Ia membolak-balikkan kalender itu hingga menemukan 3 tanggal yang di lingkar khusus setiap tahunnya.


31 (ulang tahun pernikahan)


12 (ulang tahun Louis)


21 (ulang tahun Irene)


Klikkk..


Laci itu kemudian terbuka. Dengan hati-hati Louis membuka laci itu perlahan, dan ia langsung menemukan benda yang ia cari, ponsel lamanya.


Dengan cepat Louis segera mengambil ponsel itu dan berlari masuk kembali ke dalam kamarnya, bahkan ia mengunci pintu kamarnya.


Louis segera mengaktifkan ponsel itu, tak butuh waktu lama, ponselpun menyala. Louis seketika tertegun melihat layar ponselnya. Disana tampak sebuah foto yang menunjukkan wajah cantik Ana dengan senyuman lebarnya.


Louis semakin yakin jika hubungan mereka cukup dalam.

__ADS_1


Kemudian ia membuka pesan di ponselnya, ia membaca semua pesan mereka berdua dari awal hingga akhir.


"Ternyata aku yang lebih dulu menyukainya.. meski ia bersikap dingin padaku.. tapi dia selalu memperhatikanku.." batinnya terharu.


Saat hendak memeriksa ponsel itu, Louis menerima pesan suara di ponselnya. Pesan suara yang sudah cukup lama ia terima, itu saat Ana baru saja kembali ke negara itu. Pesan itu tampak telah di buka, dan Louis yakin itu pasti ulah ibu dan ayahnya. Louis segera mendengarkan pesan suara itu.


"Bagaimana kabarmu?? Aku dengar tentang kecelakaan di lokasi syuting-mu waktu itu.. (Ana menghela nafas berat)..


Andai saja aku ada di sisimu.. aku akan menghabisi mereka semua.. berani-beraninya membuatmu terluka seperti itu.. kau.. kau selalu saja membuatku khawatir.. aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikanmu.. tapi hatiku selalu memberontak.. dan itu menyakitkan untukku.. (lagi-lagi Ana terdengar menghela nafas)..


Aku sekarang sudah baik-baik saja.. dan akan terus berusaha baik-baik saja.. saat aku melihatmu di bandara waktu itu.. aku ingin sekali memelukmu erat, tapi itu tidak mungkin.. melihatmu seperti itu, sudah cukup membuatku sangat senang.. aku sangat merindukanmu.. kau tau? Aku mengatakan hal konyol seperti ini karena aku sedang mabuk berat, alkohol kali ini benar-benar membantuku mengungkapkan isi hatiku..


Lou.. aku harus meninggalkanmu.. kau punya masa depan yang baik, masa depan yang sangat indah.. tapi tidak denganku.. kau akan selalu terluka jika terus bersamaku.. kau akan selalu menderita saat bersamaku.. karena aku punya takdir yang sangat menyedihkan.. (Ana terdiam cukup lama, sebelum akhirnya ia terdengar terisak)..


aku.. aku sudah tidak punya tempat tujuan.. bahkan aku sudah tidak takut jika esok aku akan mati.. aku sudah merasakan mati berkali-kali.. bahkan kini aku tidak tau kemana arah hidupku ini.. aku seperti sedang terombang ambing di lautan luas.. aku tidak punya keluarga, teman bahkan kerabat yang bisa merangkulku.. semua yang aku punya di dunia ini palsu.. semuanya bukan milikku.. mereka hanya kasihan padaku.. kasihan dengan takdir hidupku.. kau.. satu-satunya orang yang pernah menjadi tujuan hidupku.. tapi kini kau pun harus aku singkirkan.. aku tidak ingin menahanmu disisiku.. kau pantas mendapatkan yang lebih baik.. aku tidak ingin membuat orang tuamu menderita jika kau terluka karena aku.. "


Tutt..tutt..tutt..


Tak terasa Louis telah menitikkan air matanya saat mendengarkan rekaman suara itu. Ia berusaha membuat ingatannya segera pulih. Agar ia bisa mendapatkan Ana kembali.


Louis melihat tanggal pesan suara itu di kirim. Ia tertegun saat mengingat kapan pesan itu ia terima. Ia lalu segera menghubungi Pak Kim tanpa berpikir panjang.


"Pak Kim.. jangan lupa makan malam kita malam ini.." seru Louis saat Pak Kim telah menerima panggilannya.


"Baiklah.. kirimkan aku alamat rumahmu.. aku akan datang tepat waktu.."


"Baiklah.."


Louis hanya mengingat kenangan manis saat bersama Ana, sementara ia tak bisa mengingat kenangan lainnya. Itu sebabnya ia ingin menemui Ana untuk menanyakan perihal maksud ucapannya di pesan suara itu, ia yakin Ana tidak akan mengakuinya, mengingat jika ia merekam pesan itu dalam kondisi mabuk berat.


^^^


Pak Kim mencari keberadaan Ana, biasanya Ana sudah tiba di kantor pukul 7.15 pagi, tapi ini sudah pukul 10 pagi. Ana tak kunjung tampak. Bahkan Pak Kim tidak bisa menghubunginya karena ponsel Ana telah hilang. Pak Kim kemudian berinisiatif untuk membelikan Ana ponsel yang baru agar mudah untuk di hubungi.


Drrrtt.. drrttt..


Ponselnya bergetar, sebuah panggilan dengan nomor tak dikenal muncul.


Pak Kim mengangkat panggilan itu tanpa ragu.


"Halo.."

__ADS_1


"Pak Kim ini aku.." sahut Ana lirih.


"Kau ada dimana?"


"Aku sedang ada keperluan.. aku akan mengambil cuti hari ini.."


"Ini ponsel siapa? Keperluan apa yang begitu mendesak? Aku akan siap membantumu.." jelas Pak Kim.


"Ah.. bukan apa-apa.. kalau begitu sampai jumpa nanti malam.." Ana mengabaikan setiap detail pertanyaan Pak Kim. Dan segera menutup telepon itu sebelum sempat menjawab ucapannya.


"Wah.. dia pasti akan bertingkah dan melakukan hal yang merepotkan lagi.." gumam Pak Kim menggerutu dengan wajah yang tampak kesal.


***


Ana memutuskan untuk mencairkan rekening di akun rahasia miliknya di luar negeri. Ia mencairkan uang senilai 10 milyar rupiah. Ia membeli mobil baru dan sebuah brankas untuk penyimpanannya. Ia memutuskan untuk kembali bangkit agar dapat menyelesaikan misinya. Ana membeli banyak stok amunisi isi ulang senjata apinya. Serta ia membeli beberapa buah senjata api saat ia menemui rekan lamanya di pasar gelap.


Sebelum ia pergi meninggalkan mansion, ia sempat memeriksa semua pistol di tempat persembunyiannya. Namun semuanya hilang tanpa jejak. Ia hanya memiliki satu pistol kesayangan miliknya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, pistol yang pertama kali ia miliki hadiah ulang tahun terakhir dari ayahnya. Selain mendapat saham perusahaan sebagai hadiah ulang tahun, Thommas juga menghadiahi Ana sebuah pistol untuk berjaga-jaga.


Di sisi gagangnya terdapat inisial huruf AG, sebagai inisial namanya.


Tepat pukul 12 siang, Ana telah stand by di depan rumah sakit. Ia telah merencanakan semua strategi dengan matang. Ia akan bergerak seorang diri. Ia terus memeriksa sekeliling. Ia juga sudah memeriksa beberapa jalur keluar masuk utama maupun akses jalan tikus keluar masuk dari rumah sakit.


Ana meminta Leo untuk stand by di titik jumpa mereka. Ana telah siap dengan pakaian gantinya, ia akan menyamar sebagai seorang dokter spesialis untuk di bangsal VIP.


Baru saja masuk ke dalam, banyak pasang mata tampak memperhatikan Ana. Mereka tampak mengenali sosok Ana. Ana terus berjalan dengan tenang agar tidak ketahuan. Saat tengah mengantri lift khusus dokter dan perawat, Ana menemui salah seorang perawat yang menangani bangsal VIP. Ana memperhatikan id card-nya yang tergantung di saku kanannya.


Saat pintu lift terbuka, Ana berusaha menyalip di antara gerombolan itu, dengan kecepatan tangan dan kelihaiannya, ia berhasil mencuri id card tersebut dan segera menyembunyikannya di balik saku jas putih dokternya.


Lift terus meluncur ke atas, satu persatu perawat dan dokter mulai meninggalkan lift. Hingga tiba di lantai VIP. Hanya tersisa 2 orang perawat di dalam lift dan Ana.


Saat pintu lift terbuka, 2 orang perawat itu tampak berjalan ke arah kiri, sementara Ana ke arah kanan. Ia kemudian masuk ke sebuah gudang peralatan medis. Disana ia memeriksa ponselnya, ia melihat detail map bangunan rumah sakit di lantai tersebut. Ia melihat di ujung lorong terdapat sebuah ruangan besar yang di beri tanda garis garis merah.


Ana mencoba menghubungi Leo, namun nomornya tidak dapat di hubungi.


"**** !! Apa ini jebakan?" Batinnya marah. Ana segera menyimpan ponselnya.


Ia segera mengenakan masker medis, dan sarung pelindung kepala, ia kemudian mengambil sebuah nampan kecil di atas lemari yang berisi obat-obatan dan peralatan medis lainnya.


Ana berjalan keluar gudang dengan tenang, ua melewati setiap lorong dengan tenang, benar saja, disana sangat sepi, bahkan meja perawat tidak berpenghuni.


"Kemana 2 orang perawat yang tadi??" Batinnya.

__ADS_1


Ana celingak-celinguk melihat sekitar, ia memeriksa semua kamar VIP yang tampak kosong. Ana terus berjalan menelusuri lorong. Tak satupun bangsal VIP tampak berisi. Di tengah jalan ia menghentikan langkahnya. Ia melihat seorang perawat yang tampak masuk ke sebuah kamar di ujung lorong. Ana melangkah cepat, ia mengintip ke dalam, kamar itu tampak gelap. Perlahan Ana menarik gagang pintu itu, namun terkunci. Ana teringat dengan id card yang di ambilnya tadi, ia mencoba membuka pintu itu dengan id card tersebut dan ternyata berhasil.


__ADS_2