Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 175


__ADS_3

Di parkiran mobil Ana menghubungi Mr.Lee. Namun panggilannya tak di jawab, kemudian ia meninggalkan pesan untuknya.


"Mr.Lee.. ini aku Ana.. hubungi aku segera.. mari kita bertemu.." tulis Ana, kemudian menyimpan ponselnya dan segera mengendarai mobilnya.


Ia berencana ke mansion untuk memeriksa barang-barangnya disana. Bahkan ia juga mengajak Jane untuk datang bersama. Namun Jane akan menyusul setelah urusannya selesai.


Ana mengendarai mobilnya dengan gusar. Di satu sisi ia teringat tentang Layla, di sisi lain ia teringat akan Louis. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Louis. Setidaknya dengan keberadaan Louis di luar kota bisa membuatnya fokus menyelesaikan masalahnya disini.


Setibanya di mansion, ia mendapati mansion itu sudah tampak tak bersih. Benar saja Jane telah membersihkannya beberapa waktu lalu. Semak belukar dan pepohonan yang tumbuh tak teratur di tebang habis oleh Jane. Ia benar-benar membuat mansion itu sangat bersih.


Ana segera masuk ke dalam. Ia kemudian teringat kamar tempat Layla pernah tinggal. Ia memutuskan untuk masuk kesana.


Di depan pintu kamar itu, ia mencium bau busuk yang sangat menyengat. Ia kemudian mengeluarkan pistolnya dari balik saku jaketnya. Ana menarik gagang pintu kayu itu perlahan. Kemudian mendorong pintu itu terbuka lebar. Kamar besar itu tampak sangat rapi dan bersih, namun di penuhi lalat dan serangga pemakan bangkai lainnya. Bau busuk itu tercium amat sangat menyengat. Ana menutup hidungnya dengan lengan rampingnya.


Ia melihat pintu lemari pakaian Layla sedikit terbuka. Ia berjalan mendekat kesana. Saat di buka. Ternyata ada sosok mayat yang telah membusuk. Mulut yang di bungkam mengenakan sumpalan kain berlumuran darah, t kemudian tangan dan kaki mayat itu terikat tali dengan sangat erat.


Ana mengidientifikasi mayat itu yang tampak seperti seorang perempuan. Ana segera meraih selimut dari atas tempat tidur dan segera menutupi tubuh mayat itu. Ia segera keluar dari kamar itu lalu menghubungi Jane.


...****************...


Tak lama Lucas dan Jane yang di dampingi pengawalnya datang ke mansion. Lucas sangat shock melihat kondisi mengenaskan mayat itu. Jane bahkan tampak sangat cemas. Terakhir ia datang kesana 3 hari yang lalu, sementara mayat itu tampak telah membusuk cukup lama. Ditambah kondisinya yang babak belur membuat tubuhnya cepat membusuk.


"Kau kenal ciri-cirinya??" Tanya Lucas menghampiri Ana di luar.


"Tidak.." geleng Ana cepat.


"Kau yakin??" Tanya Lucas lagi.


Ana tampak berpikir keras. Ia tidak banyak berhubungan dengan wanita. Ia mencoba mengingat-ingat hingga ingatannya berhenti pada adik Leo. Ia tertegun.


"Kau tau siapa dia??" Tanya Lucas saat menebak dari raut wajah Ana.


"Aku rasa aku tau siapa dia.."

__ADS_1


"Siapa??" Tanya Jane menimpali.


"Adik Leo.. kau ingat gadis yang aku selamatkan dari Grey Hospital waktu itu?? Aku rasa itu dia.." gumam Ana menebak.


"****.." umpat Jane gusar.


"Apa sebenarnya yang Layla sembunyikan?? Apa yang mereka lakukan??"


"Leo berkata jika adiknya menyimpan sesuatu yang aku butuhkan.."


"Aku akan bereskan ini.. tapi.. mungkin kau akan terlibat.. aku akan membutuhkan kesaksianmu.." ujar Lucas ragu.


"Tentu.. tidak masalah.." angguk Ana setuju.


"Pastikan saja masalah ini cepat selesai, dan Ana tidak terlibat di dalamnya.." pinta Jane lirih.


"Tentu.. aku akan melindunginya.." angguk Lucas tegas. "Aku akan memanggil tim forensik.." ujar Lucas segera menghubungi rekan-rekannya untuk datang ke mansion.


Lagi-lagi Ana tentu menjadi sorotan publik. Mau tidak mau beritanya beredar dimana-mana. Meski Jane bisa menutupi berita-berita itu, tapi tetap saja, sedikit banyak akan ada saja pihak yang menyoroti tentang Ana secara mendetail.


Jane senantiasa terus mendampingi, serta ia membawa 3 orang pengacara terbaik di negera itu untuk mendampingi Ana meski ia tak membutuhkannya.


Selama 5 jam Ana di interogasi secara mendetail, namun ia dapat menjalani semua pemeriksaan dengan baik. Bahkan banyak pihak mendesak kepolisian untuk meminta Ana melakukan tes urin. Banyaknya skandal yang menimpa Ana membuat ia di tuduh telah menggunakan narkoba.


Namun, tentu saja hasilnya negatif karena Ana tidak pernah menggunakan narkoba. Meski ia perokok dan peminum bahkan pernah menjadi pengedar narkoba, tetapi ia tak pernah sekalipun menyentuh obat-obatan terlarang tersebut.


"Tolong sampaikan bagaimana proses interogasi yang barusan anda jalani?? Bisa anda jelaskan secara singkat apa yang terjadi??" Tanya seorang reporter pada Ana sesaat setelah ia keluar dari kantor polisi.


"Proses pemeriksaan tentu saja berjalan lancar, karena aku tidak melakukan kejahatan apapun.. aku yakin ada pihak yang ingin merugikanku.. lagipula mansion itu sudah lama kosong, aku dan grandma Jane datang kesana untuk mengemasi barang-barang kami karena mansion itu akan segera di jual.. tapi kami justru menemukan mayat disana.." jelas Ana tenang sambil tersenyum.


"Apa anda mengenal korban??"


"Tidak.." geleng Ana cepat.

__ADS_1


"Apa ada orang yang ada curigai sebagai tersangka??"


"Tentu.. polisi akan segera memproses semuanya sesuai prosedur yang berlaku.. mari kita percayakan kasus ini pada pihak kepolisian.. dan tolong jangan menyebarkan rumor yang tidak benar atau tidak berdasar tentang kami.. atau aku akan menuntut siapa saja atas pencemaran nama baik.." ujar Ana tegas.


"Siapa sosok yang anda curigai??"


"Kami dengar anda melakukan tes urin??"


"Apa benar jika anda seorang mafia??"


"Banyak rumor beredar jika anda adalah seorang mafia??"


Pertanyaan bertubi-tubi menyerang Ana bersamaan dengan flash kamera, Ana berusaha mengabaikan semuanya. Meski ia tercekat dengan sindiran pertanyaan yang menyinggung kata mafia. Namun Jane segera merangkul Ana dan mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang jalan Ana berdiam diri.


"Semua akan segera beres.. rekan-rekanku akan segera membereskannya.."


"Cepat temukan Layla.. mari kita fokus pada pencarian Layla.. aku tidak peduli berapa banyak jebakan yang dia buat untukku.." imbuh Ana dingin.


"Tentu.. kita tentu harus segera menemuinya.."


"Dan cari B1 untukku.." pinta Ana lagi.


"Apa yang akan kau lakukan padanya??" Tanya Jane penasaran.


"Membalas semua pengkhianatannya.." imbuh Ana dingin.


...****************...


Louis yang baru tiba di lokasi shooting segera menuju penginapannya, ia akan beristirahat selama 15 menit lalu segera menuju lokasi shooting. Ia akan berada disana selama 3 hari atau bahkan lebih, mengingat cuaca disana ternyata terus-terusan hujan, tentu akan menghambat proses shooting tersebut.


Setibanya di hotel, Louis segera mandi dan bersiap. Ia memeriksa ponselnya, tak ada satu pesanpun dari Ana. Ia kemudian menyalakan televisi seraya bersiap. Ia kemudian mendapati berita sekilas info perihal Ana. Ia tertegun melihat wawancara Ana. Ia tampak tersenyum, tapi raut wajahnya mengartikan kemarahan yang sangat besar. Ia paham betul watak Ana yang mampu menyembunyikan amarah dan kesedihannya di balik senyuman manisnya, namun Louis dapat mengetahui itu.

__ADS_1


Ia segera menghubungi Ana. Namun tak di jawab. Ia bahkan mengirimkan pesan singkat padanya. Namun tak kunjung di balas. Louis memutuskan segera ke lokasi shooting sambil menunggu respon dari Ana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2