
Ana meminta Pak Kim mengumpulkan para eksekutif di ruang meeting. Ana membahas beberapa materi meeting seperti biasa. Dan Ana menyarankan untuk segera melaunching-kan produk pakaian musim dingin yang sudah rampung dari bulan lalu, namun ada keterlambatan launching karena kesalahan saat produksi.
"Apakah mempromosikan produk ini sekarang akan dapat respon baik?" Ujar salah seorang manager bagian pemasaran.
"Memangnya kenapa??" Tanya Mr.Lee mewakili Ana.
"Hmm.. ini terkait isu Ms.Grey pagi ini.. bagaimana jika itu mempengaruhi penjualan kita?? atau orang orang berpikir bahwa produk ini hanya pengalihan isu.."
"Mau itu pengalihan isu atau tidak, orang orang tetap akan membelinya karena kebutuhan mereka dan kualitas barang yang kita punya.. Lagipula segala kerugian menjadi tanggung jawab saya.. bahkan saya tidak akan memotong 1 sen pun dari gaji kalian jika saya mengalami banyak kerugian.. apa yang di rumorkan soal saya sebaiknya jangan jadikan alasan bagi kalian untuk menunda pekerjaan.. Saya ingin produk itu di promosikan akhir minggu ini.." celetuk Ana dingin.
"Bukankah itu terlalu cepat Ms.Grey??" Tanya manager itu lagi
"Bukankah ini sudah rampung sebulan lalu?? Apa anda ingin menunggu musim dingin usai?? Oh iya.. saya dengar anda memecat kepala tim promosi karena kelalaian yang padahal di sebabkan oleh anda sendiri.. apa anda bisa menjelaskannya??"
"Anu..itu.. saya.. sudah menyelesaikan masalah itu.."
"Anda sudah menyelesaikannya?? Bukankah kepala keuangan yang sudah turun tangan untuk menyelesaikan masalah itu?? Bahkan anda tidak memberikannya kompensasi dan pesangon sama sekali.." timpal Ana lagi.
Manager itu tampak tak berkutik. "Apa anda tau berapa kerugian yang perusahaan harus bayarkan akibat tuntutan dari karyawan itu?? Apa anda bisa mempertanggung jawabkannya??"
"Ms.Grey.. ma..maafkan saya.."
"Anda sekarang berlagak seolah-olah peduli dengan untung rugi perusahaan padahal anda sudah membuat perusahaan rugi beberapa waktu lalu.." tukas Ana sinis. "Jika anda merasa terbebani dengan isu tentang saya.. anda boleh meninggalkan perusahaan ini kapan saja.." tambah Ana lagi dengan tatapan mematikan.
Manager itu tertunduk malu. Tak sanggup berkata kata.
"Lakukan saja apa yang Ms.Grey katakan.. untung rugi perusahaan adalah urusan saya dan Ms.Grey..." sambung Mr.Lee meredakan ketegangan suasana ruang meeting.
Ana meneguk air mineral botolan yang ada di atas meja lalu meremukkan botol kosongnya, membuat semua orang di ruang meeting tak lagi berani bergeming.
***
Drrt..drrt..
Ponsel Ana di atas meja kerjanya bergetar. Tampak di layar nama yang tak diharapkannya memanggil.
__ADS_1
Satu dua panggilan di abaikan Ana karena ia sedang memeriksa file-file pekerjaannya. Lalu panggilan ketiga baru di angkat Ana.
"Aku sedang sibuk.." jawabnya tanpa basa-basi dengan ketus.
"Sepertinya kau butuh bantuanku.." jawab seseorang dari seberang.
"Aku tidak butuh bantuan apapun darimu.." jawab Ana lagi.
"Bagaimana kalau anak buahmu yang membutuhkan bantuan?"
"Aku sedang tidak ingin berurusan dengamu Grandma.."
"Apa kau sudah mendengar kabar mereka??" Jane kali ini mulai membuat masalah untuk menjinakkan Ana yang akhir-akhir ini berontak padanya.
Ana segera mematikan panggilan Jane, lalu menghubungi Mr.Zhou.
Berkali-kali Ana telepon namun tidak ada jawaban. Tak lama kemudian masuk pesan dari Mr.Zhou.
"Nyonya Besar Jane menculik anak buahmu.. mereka melumpuhkan semua penjagaan di mansionku.." isi pesan itu membuat Ana menggeram kesal.
"Apa maumu??" Tanya Ana sinis.
"Temui seseorang di lobi hotel GC malam ini.. maka anak buahmu akan baik-baik saja.. kau jangan coba-coba membantah lagi Ana.."
"Siapa yang akan aku temui??" Tanya Ana datar.
"Nanti kau akan tau.." jawab Jane singkat lalu memutus panggilannya.
Ana melirik jam tangannya, ia lalu menghubungi Albert. Namun belum ada jawaban dari Albert. Ana menanti kabar dari kakaknya tentang keberadaan Bibi Layla. Memang siang tadi Bibi Layla ada mengirim pesan singkat mengatakan bahwa ia sudah tiba di rumah temannya. Namun saat di hubungi kembali nomor ponselnya tidak lagi aktif.
***
Sementara selama Louis di tempat shooting ia selalu di kelilingi paparazi yang ingin mewawancarainya. Sandra yang menjadi lawan mainnya pun menanyakan hal yang di rumorkan tentangnya dan Ana.
"Aku membaca berita tentangmu.. kau benar-benar berkencan dengan Ms.Grey?? Bukankah perusahaannya yang mensponsorimu??" tanya Sandra saat mereka sedang beristirahat di lokasi shooting.
__ADS_1
"Aku tidak ingin membahasnya.." jawab Louis ketus. Sebenarnya Louis juga tidak begitu suka dengan sikap dan sifat Sandra selama shooting bersama. Sandra memang merupakan artis baru yang mulai naik daun, ia juga mengakui bahwa ia fans beratnya Louis, namun kadang ia bertingkah norak dan menyebalkan. Ia sering memfoto Louis diam diam saat di lokasi shooting. Bahkan selalu menempel pada Louis dengan alasan agar dapat penghayatan yang baik saat acting nanti.
"Apa dia menggodamu dengan uang??" sahutnya lagi kelewatan.
"Hei.. jaga ucapanmu !! Dia bukan wanita seperti itu.." bentak Louis keras membuat orang di sekitar mereka melihat. Pak Dong segera mendekati Louis.
"Ada apa Lou??" tanya Pak Dong berbisik.
"Gadis ini benar-benar sudah kelewatan.. dia mengatakan hal yang tidak-tidak soal Ms.Grey.." gerutu Louis dengan nada tinggi. "Asal kau tau saja.. aku berharap sekali jika dia benar-benar menggodaku.. sayangnya dia bukan wanita seperti itu.." Louis menambahkan dengan tegas sambil berkacak pinggang lalu pergi meninggalkan Sandra yang ternganga mendengar omelan dan gerutu Louis.
Tentu saja ia menjadi sangat malu karena banyak yang melihat mereka. Sebelumnya Sandra juga sudah sempat berkali kali di tegur oleh produser di lokasi shooting karena ia terlalu banyak tingkah terutama karena sering mendapat keluhan karena membuat Louis tidak nyaman saat shooting.
Louis berjalan menuju van-nya dan memutuskan istirahat sejenak disana sebelum melanjutkan shooting lagi.
"Hei..kau harus jaga ucapanmu saat di lokasi shooting.. banyak mata yang melihat.." seru Pak Dong mengingatkan.
"Aku tidak peduli jika orang-orang membicarakan hal buruk tentangku.. tapi jangan keluargaku ataupun Ana.. karena hanya aku yang tau bagaimana mereka.." jawab Louis memejamkan matanya menahan rasa kesalnya.
"Aku tau bagaimana perasaanmu.. kau harus banyak bersabar dan tenang.. semua akan segera baik-baik saja.." Pak Dong hanya bisa berusaha menenangkan Louis.
***
Malam itu setelah selesai di kantor Ana segera di antar Pak Kim menuju GC hote, karena pagi tadi ia tidak membawa kendaraan karena di jemput oleh Albertl. Ia menjumpai pria yang ada di foto dalam pesan ponselnya. Jane sudah mengirimkan foto Franz padanya.
Pria tampan bertubuh tinggi tegap itu menyambut Ana hangat saat Ana tiba di restaurant hotel.
"Wah.. ternyata anda jauh lebih cantik dari foto yang ku lihat.." pujinya kagum.
Ana hanya tersenyum simpul. Lalu segera duduk di seberang Franz.
"Maaf membuatmu menunggu lama.."
"Ah..tidak..aku juga baru turun.. aku tadi mengemas barang barangku dulu di kamar.. hotel ini benar-benar luar biasa.." Fanz menginap di GC hotel sesuai ajakan grandma Jane.
Lagi-lagi Ana hanya tersenyum tanpa menjawab pujian demi pujian itu.
__ADS_1