Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 205


__ADS_3

Ana melihat dirinya di cermin. Pagi itu ia akan pergi ke rumah sakit. Entah kenapa ketakutan menghantuinya sejak kemarin. Ia berencana menggugurkan kandungannya. Ia takut anaknya akan tumbuh menderita dan menyedihkan seperti dirinya. Ia takut akan merasa bersalah pada anaknya kelak. Ia berpikir jika ia lebih baik kehilangan anaknya sekarang daripada ia membunuhnya saat dewasa kelak.


Ia tak ingin sang anak akan memiliki kehidupan yang menyengsarakan seperti dirinya. Ia berencana untuk ke rumah sakit seorang diri sebelum berangkat kerja sosial di sebuah panti asuhan.


Setibanya di klinik ibu dan anak tersbeut. Ia berdiri cukup lama di depan sana. Seseorang perawat menyapanya ramah.


"Hai.. Ada yang bisa kami bantu??" sapanya ramah pada Ana yang mengenakan masker dan topi.


Ana tertegun. Ia gugup.


"A.. Aku.. Ingin memeriksa kandunganku.." lirihnya tergagap.


"Oh.. Anda sedang hamil muda?? Mari silahkan masuk.. aku akan membantu proses pendaftaran anda.." ajaknya ramah menuntun Ana masuk ke dalam klinik itu.


Ana mengisi data dirinya. Ia menggunakan nama palsu dan alamat palsu. Ia bahkan tak bisa mengisi biodata dirinya dengan jujur setelah kasus yang menimpanya. Bagaimana bisa dia akan melahirkan seorang anak??


Ana mengantri beberapa saat. Saat gilirannya, ia segera masuk ke ruang periksa. Dokter wanita muda menyapanya ramah.


"Halo.. Bagaimana kabar anda?? silahkan duduk.."


Ana duduk di seberangnya.


"Apa ini kehamilan pertama??"


"Ya.." angguk Ana cepat.


"Apa anda ingat kapan haid terakhir anda??" tanyanya lagi seraya memeriksa data diri Ana.


"Tidak.."

__ADS_1


"Baiklah.. Kalau begitu silahkan baring di sana.. Kita akan melakukan pemeriksaan usg.." ujarnya memmpersilahkan segera mengenakan sarung tangannya.


"Aku ingin menggugurkannya.." seru Ana mengejutkan dokter itu.


"A.. Apa??"


"Aku tidak ingin melihat anak ini.. Aku akan menggugurkannya.." seru Ana jelas.


"Oh.. Tapi.. Maaf Nona.. Kami tidak menerima layanan aborsi di klinik ini.." ujar dokter itu hati-hati.


"Tapi.. Kami bisa meresepkan obat untukmu.." ujarnya lagi.


"Baiklah.." angguk Ana cepat menyetujui.


Setelah menerima resep dokter itu dan mengambil obatnya di apotek, Ana segera naik taksi menuju sebuah alamat panti asuhan yang ia terima melalui pesan singkat dari pengadilan.


Saat di perjalanan ia segera menenggak 5 macam obat yang di berikan dokter tadi. Ia menenggak banyak air mineral setelah merasa gugup dan kalut. Dadanya terasa sesak. Ia merasa sangat sedih dan bersalah. Namun ia tak punya pilihan lain. Jika ia memberi tahu Louis. Itu sama saja dengan menghancurkan masa depan dan impiannya. Ia akan terkena dampak skandal yang cukup besar mengingat jalinan hubungan Louis dengan Ana.


...****************...


Selama bekerja di sana, Ana menjauhi semua anak-anak. Ia hanya membantu semua pekerjaan berat dan sulit. Ia bahkan menghindari kontak mata dengan semuanya. Saat hendak membuang sampah di kebun halaman belakang. Ana mendengar sesuatu di dekat bak sampah. Dalam plastik itu tampak ada sesuatu yang bergerak. Ia meletakkan plastik yang sejak ia gendong ke tanah. Ia mendekati sumber suara perlahan.


"Ana.. Ada apa??" tanya seseorang yang turut membuang sampah sepertinya.


"Ssttt.." kode Ana memintanya untuk diam.


Wanita paruh baya itu tampak kebingungan.


Ana mendekati bak sampah. Di sana ia menemukan sebuah plastik berwarna hitam yang bergerak. Ia memegang plastik itu perlahan. Ia sempat berpikir jika di dalam plastik itu adalah kucing atau anjing yang di buang. Wanita tadi turut mendekati Ana.

__ADS_1


Ana dengan berani membuka ikatan plastik itu.


Deg !!!


Matanya membelalak kaget. Bahkan ia terduduk di atas tanah dengan perasaan sangat terkejut. Sosok bayi yang bersimbah darah menggeliat di dalam sana.


"Haaa !! Ada bayi.." pekik wanita paruh baya itu keras. "Heiii !! Bawakan aku selimut tebal !! Kami menemukan bayi disini !!" serunya keras memanggil rekannya yang lain.


Ana terkulai lemas. Matanya memerah. Nafasnya memburu. Dadanya terasa sesak. Ia melihat semua orang tampak bergegas menyelamatkan bayi itu. Mereka berlarian membawanya masuk ke dalam. Membersihkannya, memberikannya pertolongan pertama seraya menunggu dokter untuk memeriksa kondisinya.


"Kau pasti sangat terkejut.." tanya seorang wanita tua yang menghampiri Ana, seraya mengulurkan tangannya pada Ana untuk membantunya bangkit.


"Hal seperti ini adalah hal yang biasa disini.. Bayi itu beruntung karena di temukan dalam kondisi hidup.. Bagaimana jika kau terlambat menemukannya?? Bukankah dia sangat malang?? Di luar sana banyak orang kesulitan untuk memiliki keturunan.. Namun di sini.. Kami menemukan banyak orang yang membuang darah daging mereka.. Bukankah mereka tidak pantas di sebut manusia?? Bayi bayi itu tidak bisa memilih siapa orang tua mereka, lalu kenapa para orang tua dengan mudah memutuskan untuk membuang mereka hanya karena tidak menginginkannya??" gumam wanita itu haru.


Tak sadar Ana menitikkan air matanya. Ia tertunduk sedih. Air matanya mengalir deras. Tangisnya pecah seketika. Ia menangis tertunduk. Ia merasa bersalah pada bayinya. Ia baru saja berusaha menggugurkan kandungannya. Syukur wanita ini menyadarkannya.


"Kau menjatuhkan ini.." serunya lagi menyodorkan sesuatu pada Ana. "Oh.. kau sedang hamil?? Pantas saja kau merasa sangat sedih.." imbuhnya lagi saat membaca nama-nama di bungkusan obat milik Ana.


Ana segera meraih obatnya. Menyimpannya ke dalam saku celananya lebih dalam.


"Seharusnya kau memberitahu kami.. Kenapa kau sejak tadi mengerjakan pekerjaan berat?? Itu akan sangat berbahaya untuk kandunganmu.. Pantas saja kau sampai meminum obat penguat janin.. Apa kau mengalami pendarahan??" gerutunya mengomel.


Ana tertegun dengan ucapan wanita itu. "A.. Apa? Obat penguat janin??"


"Hmm.." angguknya cepat. "semua obat yang kau minum itu vitamin ibu hamil dan salah satunya obat untuk penguat janin.."


Ana merasa sangat lega. Tangisnya semakin pecah. Ia merasa sangat bersyukur karna dokter klinik itu memberinya obat tersebut dan bukan obat aborsi. Kalau tidak, Ana akan menyesal seumur hidupnya untuk selama-lamanya.


"Kenapa kau menangis?? Bayi itu akan baik-baik saja.. Dia sekarang berada di tempat yang tepat.. Ia berada di tempat dimana ia akan di cintai banyak orang, dan ia akan sangat bersyukur karena kau juga ada di sisinya.. Berkatmu dia bisa di temukan dengan selamat.." ujar wanita itu mengusap punggung Ana hangat, menenangkan Ana yang terisak kuat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2