
Louis segera menepikan mobilnya, ia segera memeriksa ponselnya. Begitu membuka laman internet, berita Ana muncul paling depan dan tengah menjadi trending topic peringkat #1.
Louis membaca judul besar dari berita itu dengan seksama.
"Breaking news : Anavalia Grey resmi meninggalkan Grey World !!"
Louis men-scroll judul berita itu hingga ke bawah, membaca judul berita lainnya.
"Anavalia Grey : Mundurnya sang Presdir"
"Presdir Termuda di Negara K Memutuskan Hengkang"
"Anavalia Grey meninggalkan 'Rumah' Thommas Grey Demi Bisnis Baru"
"Anavalia Grey Mundur Tanpa Ucapan Perpisahan"
"Ms.Grey Memutuskan Meninggalkan Grey World Untuk Mengembangkan Bisnis Lain"
Louis segera men-klik salah satu dari artikel itu. Ia membaca dengan perasaan campur aduk. Ia terdiam beberapa saat. Ia terbayang bagaimana tatapan takut yang ia lemparkan pada Ana malam itu. Ia merasa bersalah menatap Ana dengan tatapan itu, ia justru membuat Ana merasa terpojok.
Louis segera memutar arah mobilnya, ia menghubungi nomor ponsel Ana yang kini sudah tidak aktif lagi. Lalu menghubungi nomor ponsel Jane yang juga telah tidak aktif. Kehilangan akal, ia segera menghubungi Pak Kim, hingga beberapa kali tidak juga ada jawaban. Ia lalu segera menuju apartment untuk mencari Ana di apartment nya.
Ia terus terngiang dengan tulisan artikel yang mengutip pernyataan dari Pak Kim bahwa Ana akan meninggalkan negara itu untuk fokus mengembangkan bisnisnya di negara lain.
Louis harus menemui Ana sekarang, dia harus minta maaf pada Ana. Mereka tidak bisa berpisah begitu saja. Dia tidak bisa kehilangan Ana begitu saja. Kehilangan cinta pertamanya tanpa ucapan perpisahan apapun.
Louis berlari menelusuri lorong apartment, memasukkan password apartment Ana 123456. Pintu itupun segera terbuka. Dia berlari masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti.
Apartment itu telah kosong. Tak ada lagi satupun barang-barang Ana di dalamnya. Louis kembali berlari masuk ke dalam kamar Ana. Dan benar saja, kamar itupun juga telah di kosongkan
Louis terengah, pikirannya menjadi kacau. Kakinya terasa sangat lemas. Ia kembali mencoba menghubungi Pak Kim. Tak butuh waktu lama Pak Kim segera menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Pak Kim.. Pak Kim.. anda ada dimana??" Tanya Louis terengah.
"Saya ada di kantor Tuan.." jawab Pak Kim tenang.
"Jangan kemana-mana.. tunggu aku disana.. aku kesana sekarang.." seru Louis terengah.
Dia kembali berlari keluar menuju lift, segera turun ke basement. Ia mengendarai cepat mobilnya menuju perusahaan Ana. Ia kembali berlari masuk ke dalam, gedung itu telah sepi, tidak ada siapapun disana. Louis di hentikan oleh security yang berjaga.
"Anda mau kemana Tuan??"
"Kalian tidak tau siapa aku?? Aku bahkan juga bekerja untuk perusahaan ini !!!" Bentak Louis kehilang akal sehatnya.
"Biarkan dia masuk.." sahut Pak Kim keras dari arah dalam.
Louis berlari masuk menghampiri Pak Kim. Ia mencengkram kedua lengan Pak Kim keras.
"Dimana Ana? Aku mohon beritahu aku dimana dia??" Mohon Louis terengah.
"Bohong !! Jangan membohongiku lagi Pak Kim.. aku tau kau berbohong padaku.." bentak Louis benar-benar telah hilang akal.
"Maaf Tuan.. memang itulah kenyataannya.." elak Pak Kim menunduk.
"Tidak.. dia tidak bisa meninggalkan aku begitu saja.. dia harus mengatakan sesuatu jika ingin meninggalkanku !! Meskipun itu kata terburuk sekalipun.. setidaknya dia harus memberiku alasan untuk meninggalkanku.." Louis terus berteriak, ia benar-benar kehilangan akal.
"Maaf Tuan.. inilah yang terbaik.. dia pasti punya alasan karena melakukan ini semua.."
"Yang terbaik?? Menghilang begitu saja yang terbaik?? Bukankah ini hal paling egois yang dia lakukan padaku??" Gerutu Louis lirih.
"Saya tidak tau harus berkata apa Tuan, Ms.Grey hanya memintaku untuk tidak mengatakan apapun pada anda.." ujar Pak Kim berusaha mengakhiri pertemuan itu dengan Louis.
"Seharusnya dia menancapkan pisau di dadaku daripada memberikan aku gelang sial*n ini.." umpat Louis marah besar sambil menunjukkan gelang couple ditangannya ke depan wajah Pak Kim. Dan dia pun bergegas pergi dengan penuh amarah yang membara di hatinya.
__ADS_1
Pak Kim hanya menghela nafas berat, ia berjalan lesu, ia pun merasa sedih dengan keadaan saat ini. Namun tidak banyak yang bisa ia katakan dan lakukan.
****
"Saya harus memberitahukan ini pada Tuan Louis.." ujar Pak Kim lirih.
"Jangan.. kita tidak tau apa itu yang terbaik.. dia bisa saja membuat kekacauan.. kau tau betapa bucinnya dia pada Ana.. bisa saja dia mengganggu proses pengobatan Ana.."
"Saya rasa dia bukan pria yang seperti itu Nyonya.. dia pasti juga akan membantu melakukan yang terbaik untuk Ana.."
"Tidak Pak Kim.. untuk saat ini biarkan dia berpikir bahwa Ana telah meninggalkannya.. lebih baik dia merasa seperti itu sekarang.. jika mereka ditakdirkan bersama.. mereka pasti bisa kembali bersama lagi.. biarkan Louis yang malang tidak tau apapun soal Ana.. lebih baik menumbuhkan rasa benci di hatinya untuk Ana daripada rasa iba dan kasihan untuk Ana.. rasa benci membuatnya bangkit dan lebih kuat.. ini juga demi kebaikan Louis.. bahkan kita saja tidak tau apa yang akan terjadi pada Ana nanti.." ujar Jane terdengar putus asa.
"Ms.Grey akan baik-baik saja.. dia pasti akan segera sembuh.. dia akan hidup bahagia.. kita tidak boleh putus semangat seperti ini Nyonya.."
"Tidak Pak Kim.." isak Jane lirih. "Aku.. benar-benar takut sekarang.. aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.. aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku kehilangan Ana sekarang.."
Pak Kim mengusap punggung Jane lembut.
"Semua akan segera baik-baik saja Nyonya.. percayalah.."
Siang itu Pak Kim bercerita panjang tentang Ana bersama Jane, beberapa jam sebelum pertemuan mendadak Jane dengan Mr.Lee.
Pak Kim bahkan mengingat bahwa ia dan Ana masih memiliki rencana untuk mendaki gunung bersama suatu hari nanti. Mereka juga berencana untuk membangun sekolah gratis beserta galeri untuk memamerkan hasil karya seni anak-anak berkebutuhan khusus yang ada di beberapa panti asuhan Ana.
Mereka banyak merencanakan kegiatan amal di masa mendatang.
Ana lebih dulu di terbangkan ke Swiss bersama Dokter Nam dan Dita asisten pribadinya. Sementara Jane segera menyusul malam itu setelah jumpa pers yang dia lakukan. Siang itu setelah keputusan di buat, apartment Ana segera di jual, semua perabotannya ia letakkan di mansion. Barang-barang di mansion juga telah di tutupi kain agar tidak rusak dan usang.
Ana benar-benar akan menghabiskan waktu yang cukup lama di Swiss. Bahkan Jane dan Pak Kim memutuskan untuk memutus hubungan mereka untuk sementara waktu, demi keamanan dan kerahasiaan keberadaan Ana saat ini.
Seperti yang di ketahui, seseorang sedang memburunya, berusaha menghancurkannya. Bahkan B1 bodyguard terpercayanya telah mengkhianatinya. Jane tidak mau mereka bisa melacak ke beradaan Ana lalu membahayakan nyawanya. Mereka benar-benar seperti telah lenyap dan menghilang. Bahkan Jane berencana akan menggunakan akun bank rahasianya untuk melakukan semua transaksi selama berada di Swiss nantinya. Jane benar-benar teliti demi Ana.
__ADS_1