Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 91 : Semakin Tidak Terkontrol


__ADS_3

"Cepat masuk ke dalam.. makan dulu.. biar kau bisa tidur nyenyak.." seru Ibu Louis mendorong tubuh Ana masuk ke apartment Louis.


"Tunggulah di dalam sebentar.. aku akan mengantar mereka ke lobi.. ayahku tampak sedikit mabuk.." ujar Louis segera merangkul ayahnya yang tak henti henti tersenyum lebar pada Ana sejak tadi.


Mau tidak mau Ana hanya mengangguk pasrah. Louis segera menutup pintu apartment nya. Ana kembali ternganga menyadari bahwa gelang pemberiannya untuk Louis justru di kenakan oleh Irene. Dia baru teringat kalau ia sudah memasukkan kotak gelang itu dalam totebag pakaian Irene. Tentu saja ia jadi berpikir bahwa itu untuknya. Namun Ana tetap merasa lega, setidaknya ia tidak menjadi canggung ketika mereka tau ia membelikan Louis gelang couple yang imut itu.


Tak lama menunggu Louis segera kembali.


"Apa kau lama menunggu??" Tanya Louis terengah, tampaknya ia berlari kembali ke apartment nya.


"Enggak kok.." geleng Ana pelan sambil melirik ke arah pergelangan tangan Louis lagi.


Merasa aneh Louis melihat kedua tangannya. "Kenapa kau melihat tanganku sejak tadi?? Apa kau ingin menggenggamnya??" Goda Louis mengembangkan jemari kedua tangannya.


"Cih.." Ana menyunggingkan senyum sinisnya.


"Atau kau ingin melihat aku mengenakan gelang ini??" Imbuh Louis mengeluarkan gelang itu dari saku celananya.


"Ehh.. kenapa itu bisa ada padamu?? Bukankah tadi Irene yang mengenakannya??" Tanya Ana heran.


 


-------------------------------------------------------


Irene menarik tangan kakaknya, ia tampak mengeluarkan gelang yang longgar itu dari pergelangan tangannya. Ia lalu menyerahkan itu pada Louis.


"Sepertinya ini milikmu.." ujar Irene tersenyum.


"Apa ini??" Tanya Louis heran memandangi gelang itu.


"Apa kau tidak lihat? Tadi kak Ana sampai melotot padaku karena melihat aku mengenakan gelang ini.. lalu aku melihat ke tangannya, ternyata dia mengenakan pasangannya.."


"Mungkin kau salah.. bagaimana kau tau ini gelang pasangan??"


"Aku melihat merk di kotaknya, dan ini brand perhiasan ternama, aku pernah melihatnya di media sosial, gelang couple ini sedang populer meski hanya diproduksi terbatas.." jelas Irene bangga dengan pengetahuannya.


Louis hanya tersipu malu. "Jadi ini gelang couple??" Tanya nya lagi meyakinkan.


"Tentu saja, kau hanya bisa membukanya dengan kaitan kunci yang ada di gelang satunya.. pantas saja ini sangat longgar saat ku kenakan.. ternyata memang bukan untukku.. apa kau tau?? Saat dia melihatku tadi.. wah tatapannya sangat mengerikan, untung saja dia tidak sampai memotong tanganku karena ini.."

__ADS_1


Louis tertawa geli mendengar keluhan adiknya.


"Kau pasti sekarang sangat senang ternyata kau juga mendapat hadiah darinya kan?? Aku tau kau kesal seharian ini karena tidak mendapat apa apa darinya.." goda Irene mengejek.


"Cepat pergi sana.. aku harus segera masuk.." usir Louis menghindari godaan adiknya.


"Kau berhutang padaku.." timpal Irene segera masuk ke dalam mobil.


"Nanti aku akan mentraktirmu makanan mahal.." seru Louis melambaikan tangannya.


 


-----------------------------------------------------------


"Di bawah tadi Irene memberikannya padaku.. katanya dia segera sadar karena kau melotot padanya dengan mata bulatmu itu.." jelas Louis terkekeh.


"Cih.." Ana hanya melirik sinis pada Louis.


"Kemarilah.." Louis mendekat ke arah Ana. Ia menarik pergelangan tangan Ana, lalu mengaitkan gelang yang ia pegang dengan gelang yang Ana kenakan, ternyata benar gelang itu saling berkaitan, kunci gelang milik Louis segera terbuka.


"Wahh bahkan ini sangat imut saat di satukan seperti ini.." gumam Louis tersipu malu, pipinya merah merona.


"Aku siapkan dulu makan malam untukmu.." seru Louis menyadarkan lamunan Ana.


"Ah.. Tidak perlu.." geleng Ana pelan. "Aku mau langsung pulang saja.. aku benar benar lelah.." ujar Ana lirih.


Drrtt..drrttt..


Ponsel Ana bergetar, ia segera merogoh sakunya meraih ponselnya di dalam. Ana tertegun sesaat sebelum akhirnya ia menjawab panggilan itu.


"Halo.."


"Ana.. kau dimana? Apa kau baik baik saja? Kau mematikan ponselmu yang satunya, bahkan kau sudah check out dari hotel.." seru Tyo di sebrang.


"Aku baik baik saja.. aku sudah kembali ke negara K.. maaf aku tidak mengabarimu.." ujar Ana tertunduk dengan lirih menghindari tatapan mata Louis.


Sementara Louis hanya berdiri diam menyimak setiap obrolan Ana di telepon yang samar-samar terdengar olehnya.


"Benarkah?? Syukurlah jika kau sudah kembali dan baik baik saja.. oh iya apa kau tau?? Kasus itu telah di tutup.. apa kau tau apa yang terjadi?? Bahkan ada 2 orang yang menyerahkan diri ke polisi, mengaku bahwa mereka adalah pelakunya dengan alasan dendam dalam persaingan bisnis.. mereka juga mengaku telah membunuh salah satu detektif yang sedang menyelidiki kasus itu.. aku benar benar mengkhawatirkanmu.."

__ADS_1


"Aku tidak tau soal itu.." ujar Ana bohong.


"Aku hanya berharap kalau ini benar benar sudah berakhir.. maaf.. aku sudah salah sangka padamu.. bahkan aku sempat berpikir bahwa kau benar benar melakukan hal seperti itu karena kau membakar mobilmu waktu itu.. maaf aku sudah berpikir begitu.. aku yakin dan percaya kau orang yang sangat baik Ana.. begitulah yang aku dan istriku rasakan selama ini.."


"..." Ana hanya terdiam tak sanggup bergeming. Bibirnya bergetar hebat menahan isak tangisnya yang akan pecah. Hatinya terasa sakit mendengar pujian Tyo untuknya yang sebenarnya bertolak belakang dengan sifat asli Ana yang psycho. Louis melihat hal itu hanya berusaha untuk pura pura tidak melihatnya.


"Ana.. kau mendengarku??" Seru Tyo menyadarkan Ana yang terdiam cukup lama.


"Hmm.. aku dengar.."


"Baiklah kalau begitu.. jaga dirimu baik baik.. makan yang banyak karena kini kau tampak kurus sekali.. aku akan mengunjungimu kesana di lain kesempatan.." ujar Tyo lagi.


"Hmm.. baiklah.." jawab Ana singkat lalu segera memutus panggilan telepon Tyo.


Ana masih tertunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Ia segera mengusap ujung kedua matanya yang mulai basah.


"Aku pulang dulu.." ujar Ana segera pergi meninggalkan Louis yang hanya berdiri diam di hadapannya.


Louis hanya mengikuti langkah cepat Ana dari belakang, namun kemudian ia ikut terhenti ketika melihat  Jane yang sudah berdiri di depan pintunya yang telah terbuka.


Jane menghampiri Ana dengan langkah besar lalu melayangkan tamparan kerasnya pada pipi putih Ana.


Plak !!!!


Bunyi kuat dari tamparan Jane untuk Ana membuat Louis terbelalak kaget.


Louis segera menghampiri Ana dan Jane.


"Nyonya Jane.. apa yang anda lakukan??" Seru Louis panik.


"Aku tidak menyangka kau benar benar lebih mengerikan daripada monster Ana !!!" Imbuh Jane dengan suara bergetar.


Ana mengusap pipinya, menghela nafas berat lalu menatap Jane dingin.


"Aku pikir kau hanya melakukan itu pada polisi itu.. ternyata kau juga membunuh suamiku !!!"


"Bukankah itu yang kau harapkan?? Menyingkirkannya demi menguasai semua hartanya.. kini kau bertingkah seolah-olah kau peduli padanya.." ujar Ana dingin.


"Ada apa ini !! Aku mohon jangan bertengkar !!" Timpal Louis melerai Jane dan Ana yang beradu argumen satu sama lain.

__ADS_1


"Apa kau tau siapa sebenarnya gadis yang ada di hadapanmu saat ini?? Mungkin kau sudah tau atau melihat kejahatan yang sudah ia lakukan.. tapi apa kau tau bahwa dia lebih mengerikan dari itu???" Gerutu Jane pada Louis dengan matanya yang membara.


__ADS_2