
Louis yang tampak termenung saat makan malam, sesekali mencuri pandang pada Irene, ia merasa jika Irene tampak mengenalnya cukup baik.
Wendy tiba-tiba meletakkan beberapa potong daging panggang pedas dan ayam goreng pedas ke atas mangkuk nasi Louis, Louis melihat makanan itu tiba-tiba merasa pusing dan suara nyaring terdengar melengking di telinganya.
"Arggh !" erangnya mencengkram kepalanya keras.
"Louis.. kau kenapa?" tanya ayah ibunya panik.
"Kepalaku sakit sekali.." erangnya lagi.
Sedikit demi sedikit potongan memorinya terlintas, ia melihat beberapa kenangan tengah memakan menu yang sama bersama seseorang di beberapa tempat berbeda, di tempat yang sangat asing baginya.
Ibunya segera berlari mengambil obat untuk Louis dari dalam tasnya dan segera meminumkan obat itu padanya.
"Apa karena dia pulang terlalu cepat?" tanya ayahnya tampak khawatir.
"Apa kau ingin kita kembali ke rumah sakit?" tanya ibunya panik.
"Tidak Bu.. aku merasa hanya seperti teringat sesuatu.." ujar Louis lirih.
"Apa kau yakin? Kita bisa kembali ke rumah sakit sekarang jika kau sangat kesakitan.."
"Ti.. tidak.. sekarang sudah mendingan.." ujarnya berkeringat, setelah meminum obat, memang rasa pusingnya perlahan terasa berkurang.
"Katakan saja jika kau ingin kembali ke rumah sakit.." ujar Ibunya lagi.
"Iya.." angguknya setuju.
"Apa kau mengingat sesuatu?" tanya ibunya penasaran.
"Hmm.. aku seperti pernah memakan makanan seperti ini di tempat yang berbeda-beda, tapi makanannya tampak sama.." duganya.
Ibunya tertegun.
"Ah.. tentu saja.. pasti kau memakannya saat di lokasi shooting atau di kantormu.." timpal ibunya.
Ibunya berharap Louis tidak mengingat Ana untuk saat ini, karena ia tidak tau pasti bagaimana kondisi Ana sekarang. Ia berharap segera mendapat kabar baik dari Pak Kim soal Ana. Ia berharap ingatannya tentang Ana muncul belakangan setelah mereka mendapat kabar baik dari Ana.
"Hmm.. tentu saja.. Pak Sutradara sering memesan daging panggang dan ayam goreng pedas seperti ini di lokasi shooting.." seru Wendy berbohong.
__ADS_1
Karena Louis tipikal yang jarang mengikuti acara makan bersama, dengan alasan agar dapat waktu istirahat lebih lama, mengingat betapa sibuk dan penuh jadwal kerjanya.
"Oh.. benarkah?" tanya Louis percaya.
"Tentu saja.." angguk Wendy terkekeh.
Irene yang menangkap sinyal kebohongan dari Wendy tampak risih dengan gadis itu, ia tampak seperti memanfaatkan kondisi amnesia Louis.
****
Setelah selesai mencuci piring, Irene pun segera masuk ke kamarnya, karena besok dia harus pagi-pagi berangkat kerja, karena ingin mempersiapkan kebutuhan meeting room dan ballroom yang akan di sewa pada akhir pekan ini.
Tok..tok..tok..
Pintu kamarnya terdengar di ketuk, lalu Louis tampak muncul dari sana.
"Apa aku mengganggumu?" tanyanya tersenyum.
"Tidak kak.. apa kakak butuh sesuatu?" geleng Irene hangat.
"Ah.. tidak.. aku hanya ingin menanyakan beberapa hal.." Louis tampak serius, ia lalu duduk di sofa mini kamar adiknya yang sangat luas. Berbeda dengan rumah lama mereka yang sederhana.
"Soal apa?"
"Hmm..tentu saja.." angguk Irene.
"Dan kau tampak terkejut saat melihat Wendy tadi.."
"Tentu saja.. karena sekalipun kakak tidak pernah bercerita tentangnya.. setauku kakak sudah shooting drama itu cukup lama.."
"Apa aku punya pacar rahasia yang tidak di ketahui ibu dan ayah?" timpalnya lagi.
Irene tertegun. Ia tidak tau harus berkata apa.
"Aku tidak yakin soal itu, tapi kakak pernah menyukai satu wanita.." ujar Irene keceplosan. Ia lalu menutup rapat mulutnya.
"Benarkah?? Apa ibu dan ayah tidak tau soal itu?" Louis tampak shock.
"Entahlah.." geleng Irene mengabaikan.
__ADS_1
"Apa kau pernah bertemu dengannya?"
"Tidak.." geleng Irene cepat, lagi-lagi berusaha berbohong.
"Apa yang terjadi padanya? maksudku apa kami pernah sempat pacaran?" tanyanya penasaran.
"Hmm.. kau meninggalkannya.." ujar Irene sinis berbohong.
"Apa? aku meninggalkannya? kenapa?"
"Mana aku tau.. coba saja ingat-ingat sendiri.. udah ah.. aku mau istirahat.. besok harus berangkat kerja pagi-pagi sekali.." gusar Irene takut keceplosan lagi. dia benar-benar tidak pandai berbohong.
Irene kemudian teringat dengan Layla, ia ingin menanyakan perihal Layla, tapi ia mengurungkan niatnya, karena dia saja tidak bisa mengingat keluarganya sendiri maupun Ana wanita yang dia cinta, bagaimana dia bisa mengingat orang lain.
"Baiklah.. selamat istirahat.." gumam Louis lirih segera keluar dari kamar adiknya.
"Aku meninggalkannya? kenapa? siapa wanita itu? Apa dia wanita yang selalu ada di mimpiku? apa dia menyelingkuhiku? atau apa aku yang menyelingkuhi dia? secara aku aktor ternama, bukankah aku pasti di kelilingi banyak wanita? Ahhh sial !! Kapan ingatanku akan kembali?" gerutunya dalam hati penuh rasa gelisah.
Louis tertegun cukup lama. Ia penasaran dengan sosok wanita yang hadir di mimpinya. Bahkan ia tidak bisa memeriksa ponselnya karena telah rusak.
****
Gerakan Ana masih sangat terbatas, ia bahkan masih kesulitan untuk buang air, dia membutuhkan waktu yang lama saat berada di kamar mandi, karena kerja pencernaannya masih belum stabil dan masih penyesuaian, kadang ia harus mengkonsumsi obat untuk melancarkan buang airnya.
Ana kembali meminjam ponsel dokternya, karena ia tidak bisa menggunakan ponsel terlalu lama. Ana akhirnya memutuskan untuk menghubungi Pak Kim.
"Halo.." jawab Pak Kim segera saat mendapat panggilan internasional itu.
"Ini aku.." ujar Ana lirih.
"Ms.Grey.." suara Pak Kim terdengar bergetar.
"Apa kau baik-baik saja? Maaf.. aku tidak bisa bicara terlalu lama, mereka bisa melacak lokasiku.. apa kau makan dengan baik? Maaf aku tidak bisa melindungimu.. aku akan mengirimkan email rahasiaku.. buatlah email akun palsu milikmu.. Jangan bekerja terlalu keras, nikmati hidupmu.. sudah dulu.." Ana segera memutus panggilannya tepat di menit kedua. Ana dan Jane hanya bisa melakukan panggilan kurang dari dua menit agar tidak bisa di lacak.
Pak Kim yang ternyata tengah mengadakan rapat penting itu tertegun, semua mata tertuju padanya, matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka akhirnya mendengar kabar dari Ana. Ia menunggu sangat lama dengan gelisah untuk moment saat ini.
"Anda baik-baik saja Presdir Kim?" tanya rekannya.
"Hmm.. silahkan lanjutkan.." angguknya cepat segera menyadarkan dirinya.
__ADS_1
Ia benar-benar merasa lega, ia sedikit terengah, seakan jeratan di lehernya telah terlepas, sesak di dadanya telah menghilang, ia akan tidur dengan nyenyak malam ini. Setelah rapat ia akan segera melakukan yang di minta Ana. Membuat akun email palsu untuk mereka berkomunikasi.
Siapapun yang mencari Ana, itu pasti akan membahayakan nyawanya. Pak Kim tentu berusaha sebaik mungkin melindungi Ana dan dirinya. Ia akan sangat berhati-hati sekarang. Jika tidak ingin mengalami kesialan.