Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 152 : Ternyaman


__ADS_3

Ana menatap langit-langit kamar Louis dengan tenang, ini pertama kalinya ia merasa sangat tenang dan nyaman selama ia hidup. Ia dapat merasakan pelukan hangat Louis di sekujur tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Bahkan ia dapat merasakan nafas hangat Louis di leher sampingnya. Ia bernafas dengan pelan, bahkan ia tertidur sangat pulas pagi itu.


Drrttt.. Drrtt..


Ana mendapati ponselnya bergetar di atas meja di sisi tempat tidur besar milik Louis. Ia berusaha menyingkirkan tangan berotot Louis dari atas tubuhnya. Ia bergeser perlahan ke pinggir tempat tidur. Ia menarik selimut abu-abu disana untuk menutupi tubuhnya.


Ia melihat ada 15 missed call dari Pak Kim, 1 pesan dari Jane dan 1 pesan dari Lucas. Ia membuka pesan dari Jane sambil menyeringai.


"Apa tidurmu nyenyak malam ini?? Semoga kalian berdua rujuk kembali.." tulisnya.


Kemudian Ana membuka pesan dari Lucas.


"Kau baik-baik saja?? Maaf aku membuatmu mabuk berat.. aku harap kau dan Louis dapat kembali bersama.. tadi malam dia tampak sangat khawatir.."


Apa-apaan ini? Apa mereka bersekongkol?? Batin Ana tersipu malu.


Ia menoleh ke belakang, ia dapat melihat Louis masih tertidur pulas. Ana segera meraih pakaiannya yang berjatuhan di lantai. Ia masih merasa pusing dan mual. Ia mendapati baju luarnya terkena muntah, ia bahkan tak sadar kapan ia termuntah. Ia melihat sekeliling dan menuju ke ruang pakaian milik Louis. Ia meraih sebuah kaos berwarna putih dengan corak bergambar outline singa di tengahnya yang berada di rak lemari baju besar milik Louis. Ia segera mengenakannya lalu pergi keluar. Ana memperhatikan lekuk punggung bidang Louis dengan seksama. Ia lagi-lagi tersipu malu olehnya.


Ana memutuskan untuk singgah ke GC hotel, ia berencana untuk bersih-bersih sebelum pergi bekerja.


Saat tiba di lobi Irene tampak menyapanya hangat, sudah lama mereka tidak bertemu satu sama lain.


"Kak Ana.." sapanya hangat menghampiri Ana dengan riang.


"Hei.. Sudah lama kita tidak bertemu.." sahut Ana tersenyum lebar.


"Aku sangat sibuk kak.. aku juga jarang melihat kakak akhir-akhir ini.."


"Hmm.. Aku juga cukup sibuk sekarang.." angguk Ana merungut.


Irene melihat ke arah kaos yang di kenakan Ana dengan tatapan heran, lalu ia tampak melemparkan tatapan genit pada Ana. Ana yang merasa canggung berusaha menutupi bajunya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan berkomentar apapun.." ujarnya terkekeh dengan nada menggoda.


Ana hanya tersenyum tersipu malu, ia yakin Irene menyadari hal itu.


"Aku berharap kakak selalu bahagia..lebih dari apapun.." bisiknya hangat mengusap lembut lengan Ana.


"Terima kasih.." bisik Ana balik segera menekan tombol lift di depan mereka.


"Aku ke kamar dulu ya.. Aku mau berangkat kerja.."


"Sepertinya kakak sudah sangat terlambat.." terkanya.


"Aku tau.." bisik Ana malu.


"Sampai jumpa.. Hati-hati di jalan ya.."


"Hmm.. kau juga.. semangat bekerja ya.."


...----------------...


Setibanya di kantor, ia ingin menemui Pak Kim terlebih dahulu untuk meminta kunci apartment miliknya. Sebelumnya ia juga sudah mengirim sejumlah uang untuk mengganti rugi biaya pembelian apartment itu ke rekening Pak Kim tanpa sepengetahuannya. Meski ia tidak memiliki pekerjaan, namun ia masih memiliki banyak tabungan dengan nominal yang seakan tanpa ujung di rekening rahasia miliknya di luar negeri.


Sebelum ke ruangan Pak Kim, ia memutuskan untuk ke cafetaria, membeli segelas kopi.


"Anda tampak sangat senang pagi ini Ms.Grey.." sapa gadis itu ramah.


"Benarkah??"


"Hmmm.. Apa anda memiliki kekasih? Anda tampak sedang jatuh cinta.. Bahkan pipi anda merah merona.." tebaknya tersenyum ramah.


"Entahlah.." geleng Ana tersenyum lebar.

__ADS_1


Setelah menunggu cukup lama, ia segera mendapat kopi hangatnya. Lalu segera berlalu menuju lift untuk naik ke lantai atas. Saat pintu lift terbuka, Ana terkejut mendapati Louis dan Pak Dong ada di dalam sana.


Ana yang kaget tampak canggung, sementara Louis melemparkan senyuman manisnya pada Ana. Ana hanya tersenyum canggung. Ia tak ingin terang-terangan terhadap hubungannya.


"Anda tidak ingin masuk??" tanya Pak Dong yang melihat Ana mematung di depan lift.


"Ah.. Iya.." angguknya cepat segera masuk kesana.


"Kau belum sarapan kenapa sudah minum kopi?? nanti perutmu akan sakit.." gumam Louis perhatian.


Sontak membuat Pak Dong melirik ke arahnya dengan kaget.


"Apa yang kau katakan??" bisik Pak Dong merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa.. Aku akan baik-baik saja.. Jangan khawatir.." balas Ana pada Louis yang tersenyum lebar.


Pak Dong yang melihat keduanya dengan sifat seperti itu membuatnya mati ketakutan.


Drrrt..drrtt..


Ponsel Ana bergetar dalam sakunya, ia merogoh sakunya dan mendapat panggilan dengan nomor rahasia. Ia tertegun sesaat. Saat pintu lift terbuka ia mengurungkan niat untuk ikut turun bersama mereka.


"Silahkan keluar duluan, aku masih ada urusan.. Tolong beritahu Pak Kim.. Aku akan segera kembali.." ujar Ana lirih.


Louis yang ternyata melirik ke arah layar ponsel Ana ikut merasa aneh.


"Baiklah.. Sampai jumpa.." angguk Louis segera keluar dari lift.


"Sampai jumpa Ms.Grey.." seru Pak Dong menyusul.


Ana hanya mengangguk seraya tersenyum simpul.

__ADS_1


__ADS_2