
Hingga kini ia selalu menolak Tyo yang berusaha keras mengembalikan uang Ana. Bahkan saat membeli mobil itu, sebenarnya Tyo telah menolak menerima uang Ana, dia ingin memberikan mobil itu cuma cuma, meski bantuan Ana tak bisa hanya di hitung dengan materi, namun Ana menolak keras dan justru mengancamnya untuk menarik semua sahamnya dan membencinya selamanya.
Mau tidak mau ia benar benar menerima uang Ana, itu kenapa ia berencana akan memberikan mobil baru dengan harga yang jauh lebih mahal lagi pada Ana saat ia kembali ke negara K, namun Ana justru meminta bantuan lain, ia menawarkan kerja sama yang tentu akan menguntungkan Ana dan juga dirinya, dan tawaran itu benar benar tidak bisa ia tolak.
Kembali ke makan malam mereka :
Ana termenung mendengarkan cerita itu, mengingat masa lalu mereka. Dan ia pun teringat akan nasibnya.
"Kalian sangat beruntung.." gumam Ana lirih.
"Tentu itu juga berkat kau.. aku dan istriku sangat sangat berterima kasih dan berhutang budi padamu.." ujar Tyo dengan sangat tulus.
"Bahkan tadi istriku ingin kemari untuk menyapamu.. tapi anakku sedang sakit.. dia tidak bisa meninggalkannya dengan pengasuh begitu saja.."
"Jaga baik baik keluargamu, bahagiakan selalu mereka, jangan pernah sekalipun mengecewakan mereka.."
"Tentu saja.. aku tidak akan menyia nyiakan keluargaku.." sahut Tyo tegas.
"Lalu.. apa kau mencintai kekasihmu?? Atau hanya dia yang mencintaimu??"
"Aku bahkan tidak tau dengan perasaanku.. aku tidak bisa membedakan apa ini rasa iba padanya atau karena aku memang menyukainya.. dia benar benar menyusahkanku.."
"Menyusahkanmu??" Tanya Tyo terkekeh kecil mendengar ucapan Ana yang aneh.
"Dia selalu menghantuiku.. dia selalu membuatku khawatir.. bahkan dia membuatku selalu mengingat ingatnya.. bukankah itu menyebalkan??"
"Hahahaha.. kau benar benar polos Ana.. itu artinya kau menyukainya.. itu sebabnya kau selalu mengkhawatirkannya.. jika kau benar benar membencinya kau akan selalu mengabaikan atau tidak memperdulikannya seperti apa yang kau lakukan padaku dulu.." gelak tawa Tyo pecah seketika melihat kepolosan Ana.
"Tertawalah sepuasmu.. aku akan membuatmu menangis setelahnya.." celetuk Ana ketus dengan nada mengancam.
"Wah.. kau benar benar mengerikan.." geleng Tyo segera menenggak wine nya.
"Tapi.. Aku yakin kau akan menjadi istri dan ibu yang hebat untuk keluargamu suatu saat nanti Ana.. Kau memang tampak mengerikan.. tapi hatimu sangat tulus.. kau orang sangat baik.." tambah Tyo tulus.
Ana tertegun mendengar ucapan Tyo.
__ADS_1
"Harapanku kau harus selalu berbuat baik pada siapapun dan hiduplah dengan bahagia.."
"Kau juga.."
Ana kemudian menoleh ke arah sampingnya, disana tampak ada 3 orang pria tengah duduk di meja yang tidak jauh darinya. Mereka sejak tadi memperhatikan gerak gerik Ana. Ana dengan yakin dan pasti jika itu bukan anak buah Jane, karena Jane sudah mengirimi surel profile para bodyguard. Dan mereka bertiga bukan salah satunya.
Tyo yang melihat Ana bersikap aneh setelah menatap lama ke arah 3 orang pria itupun ikut menoleh ke arah 3 pria itu.
"Kau mengenal mereka??" Tanyanya penasaran.
"Tidak.." geleng Ana pelan, meraih gelasnya dan menenggak wine nya habis.
"Bukankah mereka tampak mencurigakan??" Bisik Tyo menutup sisi mulutnya.
"Hmm.. aku juga merasa begitu.."
"Apa yang akan kau lakukan??" Bisiknya lagi.
"Entahlah.. haruskah aku menembaknya??"
"Hei.. kau jangan bercanda.. bagaimana kau bisa menembak mereka?? bahkan kau pasti tidak bisa memegang senjata api.." seru Tyo menyepelekan.
"Tentu saja aku bisa menggunakannya, itu sebabnya aku memilikinya.. aku bahkan masih punya model lain di dalam tas.." ujar Ana santai memamerkan senjata apinya.
Sontak 3 pria tadi segera berdiri juga mengeluarkan senjata mereka dan menodongkannya ke arah Ana, 1 di antaranya memegang senjata api laras panjang yang ia sembunyikan dalam tas biolanya.
Mereka ber3 segera mendekat ke arah Ana sambil menodongkan pistol mereka ke arah Ana seketika membuat riuh situasi dalam restoran. Para pengunjung berhamburan keluar restoran dengan sangat ketakutan, kecuali Ana dan Tyo, Ana masih duduk santai menikmati salad buahnya, sementara Tyo sejak tadi langsung meringkuk ketakutan.
"Ah.. kalian terlalu menonjol.. tidak bisakah kalian menungguku selesai makan?? Atau bahkan menungguku keluar dari sini?? Kalian membuat orang lain tidak menyelesaikan makannya.." gerutu Ana kesal melihat sekeliling.
"Ikutlah dengan kami.. bos ingin bertemu.." pinta salah seorang pria.
"Ah.. kau pasti anak buah Franz sial*n itu?? Apa dia masih punya uang untuk membayar kalian??" Celetuk Ana mengejek.
"Kami anak buah Dominic.." sahut pria lainnya.
Sontak Ana tercengang. Ia selama ini mencari Dominic, namun kini anak buahnya tengah menemuinya.
__ADS_1
"Bukankah dia sudah disingkirkan Layla?? Lalu bagaimana dia masih bisa hidup??" Pikir Ana membatin.
"Baiklah.." angguk Ana setuju.
"Tyo.. pulanglah.. aku akan mengurus sesuatu dengan mereka.."
"Kau yakin?? Aku akan ikut denganmu.." ujarnya gugup.
"Bahkan kau meringkuk seperti itu.. pulanglah.. bukankah anakmu sedang sakit?? Aku akan baik baik saja.." seru Ana terkekeh segera bangkit dari duduknya.
Tyo hanya mengangguk cepat.
"Kehidupan seperti apa yang Ana jalani?? Kenapa dia sangat santai di situsi seperti ini??" Gumam Tyo dalam hati.
"Kalian bayar semua bill ini.. kalian benar benar membuat kekacauan.." seru Ana keras memarahi 3 orang itu, lalu segera menyimpan kembali pistolnya.
"Tapi.. kami tidak punya uang Ms.Grey.." ujar pria bertubuh besar itu ragu.
"Apa?? Wah.. bos kalian benar benar pelit sekali.. bagaimana bisa kalian di suruh membuntutiku tanpa di bekali uang !!" Bentak Ana kesal segera merogoh saku jaketnya mengeluarkan dompetnya dan mengambil black card nya.
Ia segera berjalan santai menuju kasir, gadis penjaga kasir dan beberapa orang lainnya tampak sangat ketakutan melihat Ana.
"Aku akan membayar semua bill nya.. maaf membuat kekacauan.." imbuh Ana sungkan menyodorkan kartunya.
"Anda akan membayar semua?"
"Hmm.. semua bill.. bukankah pengunjungmu sudah kabur semua.. aku akan mengganti rugi.. sebagai imbalannya, tolong jangan laporkan polisi.." pinta Ana dengan nada membujuk.
"Ba..baiklah Nona.." angguk kasirnya setuju.
Tyo yang berdiri mengikuti Ana dari belakang masih tampak takut takut dengan pria pria itu.
"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu.."
"Tentu saja.. jaga dirimu dan salam untuk anak istrimu.."
"Baiklah.. aku pergi dulu.. kau berhati hatilah.." ujar Tyo segera pergi menuju parkiran dan segera memasuki mobilnya dengan langkah besar.
__ADS_1
3 orang pria tadi masih menunggu Ana.
"Apa yang kalian tunggu?? Cepat jalan.. tunjukkan jalannya padaku.." bentak Ana kesal melihat tingkah 3 orang itu yang justru terlihat tol*l di mata Ana.