Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Aku Capek, Grace


__ADS_3

Bab 10.


Tak disangka, pertemuan-pertemuan minggu berikutnya malah semakin berkesan. Zara merasa perlakuan Rayyan lebih hangat kepadanya dibanding dulu yang sangat cuek. Perhatian-perhatian kecil dan sikap posesifnya yang tanpa Rayyan sadari, membuat gadis ini sempat berpikir bahwa mereka mempunyai perasaan yang sama.


Selang satu hari setelah raya, mereka tak sengaja bertemu di tempat syuting karena mereka berada di program yang sama.


“Aku baru tahu ternyata kita satu tempat,” kata Zara saat iklan sedang berlangsung.


“Memangnya manajer kamu nggak ngasih tahu?”


Zara merasa lebih spesial karena dengan sendirinya, Rayyan mengganti panggilannya dengan sebutan nama, bukan Kak lagi seperti saat pertama kali mereka bertemu.


“Beberapa hari ini dia nggak datang dan cuma menghubungi aku lewat chat. Mungkin sibuk karena ibunya sedang sakit.”


“Kadang, aku pangling dengan manajermu karena penampilan dan suaranya selalu berbeda-beda.”


“Kalau Grace berpenampilan sebagai laki-laki, dia akan bersuara maco, kalau lagi feminim, dia pakai suara hidung. Tergantung sikon.” (situasi dan kondisi)


“Kalian sudah cukup mengenal rupanya?” tanya Dito, rekannya sesama artis lain yang berada di dalam satu lokasi syuting, “apa kalian ada hubungan?”


“Kami hanya kenal biasa, To,”  jawab Rayyan menyahuti.


“Oh, iya, ding. Kamu kan, sudah punya Hamidah.”


Deg. Batin Zara mencelos.


“Ya sudah, Zara sama aku saja, deh. Sesama jomlo kan, kita? Kalau mau, aku bisa datangin ke rumah langsung. Nikah deh, kita.”


Zara tak lagi dapat mendengar basa-basi yang dikatakan oleh Ardito barusan. Sebab dia tengah menahan panas dan perihnya sakit hati. Sontak muka Zara langsung berubah aneh. Tak mau terlihat terlalu kentara, dia menyiasatinya dengan berpura-pura menempelkan telepon ke telinganya seolah dia tengah sibuk menerima panggilan dari seseorang. Hatinya retak seperti kaca yang jatuh menimpa kerasnya permukaan lantai.


“Benar apa kata Grace. Suka sama orang itu harus pikir-pikir.”


🌺🌺🌺

__ADS_1


Hari-hari selanjutnya, Zara lebih banyak diam jika ia bertemu dengan Rayyan. Tak hanya itu, juga terlihat sedikit lebih menjaga jarak dari pria itu demi kebaikan hatinya. Namun dengan cara yang sangat halus agar Rayyan tidak terlalu merasakan perbedaannya. Anggap saja dia memang tahu statusnya semenjak awal mereka bertemu.


“Ini tambahan buku yang harus kamu hafal,” Rayyan menyodorkan buku fiqih wanita yang cukup tebal, “bacalah kalau kamu sedang senggang.”


“Semoga otakku masih waras supaya bisa menyerap semua pelajaran dari kamu.”


“Pelan-pelan saja. Yang penting salatnya dulu diperbaiki.”


“Aku usahakan.”


Rayyan mengangkat satu jempolnya dan mengawasi gerak-geriknya sampai dia pergi lebih dulu. Bukankah ini sebuah perlakuan yang sangat manis? Ini adalah bentuk perhatian kecil untuknya yang tanpa Rayyan sadari membuat Zara terbawa perasaan.


Sesampainya di rumah, Zara terkejut saat membuka ponselnya. Dia kaget saat mendapatkan DM panjang dari nama seseorang yang namanya tak asing, yakni Hamidah.


“Bukannya dia ...?” untuk memastikannya sendiri, Zara pun langsung membaca pesan tersebut.


Hamidah:


Assalamualaikum, Kak. Perkenalkan, nama saya Hamidah. Tunangan sekaligus calon istri dari orang yang saya pikir sangat Anda kenal, yakni Ustaz Rayyan.


Langsung saja ya, Kak ....


Begini ... jujur saya kurang nyaman dengan gosip yang beredar belakangan ini karena Anda dikabarkan dekat dengan calon suami saya.


Kalau boleh tahu, apa di antara kalian ada hubungan?


Saya tidak akan menuduh tanpa bukti sebelum saya tabayun dulu dengan orang yang bersangkutan. Tentu saja ... saya tidak pernah berharap sesuatu terjadi di antara kalian berdua karena kami sudah mempunyai keterikatan.


Saya pikir, Anda wanita adalah wanita baik dan cantik yang bisa dengan mudah mendapatkan laki-laki lain. Bukan dengan calon suami saya.


Demikian hanya ini saja yang hendak saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada hati yang kurang berkenan.


Wassalamualaikum wr wb.

__ADS_1


Perih Zara rasakan, tetapi dia harus tetap menjawab pesan ini agar tak timbul prasangka kecurigaan. Karena pada dasarnya, mereka memang tidak ada hubungan apa-apa. Pertemuan demi pertemuan, bukan atas kehendak mereka sendiri kecuali atas tuntutan pekerjaan. Ada pun pertemuan lain setiap Minggu di rumah Miranda, Zara hanya sebatas mengaji, tidak lebih dari itu.


Mungkin apabila Zara mempunyai rasa suka, itu sangat wajar karena Rayyan adalah laki-laki yang mempunyai banyak alasan untuk disukai oleh para wanita. Yang menjadi tidak wajar adalah, sudah tahu punya kekasih, tetapi masih terus berusaha merebutnya.


Zara mulai mengetik balasan.


Waalaikumsalam, Kak Hamidah.


Demi Tuhan, di antara kami tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas teman atau rekan kerja, nggak lebih. Adapun pertemuan-pertemuan kami, itu murni karena ketidaksengajaan. Mohon pemaklumannya karena saya adalah seorang publik figur yang tindak-tanduknya sangat rentan digosipkan oleh media. Bukan hanya dengan Ustaz Rayyan saja, dengan yang lain pun begitu. Alasannya, mungkin karena hingga saat ini saya masih sendiri. Saya harap Kak Hamidah tidak terlalu termakan gosip yang tengah beredar. Semoga penjelasan saya cukup jelas dan mudah dipahami, ya.


Terima kasih sebelumnya dan saya pribadi juga minta maaf sama Kak Hamidah, kalau berita ini cukup mengganggu kamu dan sekeluarga. Next atau lain kali, saya akan lebih menghindari pertemuan kami atau acara di tempat yang sama untuk mencegah hal ini terulang kembali.


Pesan terkirim. Hamidah yang berada di seberang sana langsung membaca pesan tersebut. Namun napasnya tersengal, dia tak pernah bisa lega meski Zara telah mengonfirmasi kebenarannya.


🌺🌺🌺


Rasa penasaran mendorong Zara untuk melihat profil yang menampakkan foto-foto wanita yang bernama Hamidah ini. Dari raut wajahnya terlihat kalem, cantik dan sejuk di pandang mata.


“Pantas Ray melamar kamu. Kamu wanita yang sempurna. Apalagi kamu Hafidzah juga. Paket lengkap deh,” ujarnya masih men-scroll layar ponsel sampai ke bagian paling bawah.  


“Siapa yang paket lengkap?” sahut suara di sebelahnya. Grace.


“Ini, calonnya Si Ray.”


“Oh ... sakit hati nggak kamu lihat gebetan cowok itu?”


“Nggak,” jawab Zara tak acuh.


“Bohong,” kekeh Grace, “nggak papa, mending sekarang sakit hatinya daripada nanti yang lebih dahsyat lagi. Fokus saja kerja, jodoh nggak akan ke mana.”


Zara menyandarkan kepalanya ke bahu Grace, “Aku capek, Grace ....”


“Ya udah, kamu tidur aja, gih!”

__ADS_1


Tak berapa lama Grace mendengar dengkuran halus dari napas Zara di bahunya. Bukan hanya itu saja—dia  juga merasa bajunya basah karena air liur Si Gadis bodoh ini. Menyebalkan!


__ADS_2