Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Kenapa Ada Dia?


__ADS_3

“Ngapain kalian di sini?” tanya Alif kepada kedua laki-laki yang ada di belakang itu. Dia pun ikut bergabung dan menyalakan rokoknya.


“Sudah tahu lagi nyuci baju, pakai nanya!” balas Yudha serampangan.


Pria itu nyengir. “Bisnis atau bini cie lay?” (istri satu lagi)


“Bana-bini, bana-bini. Aku masih ingin hidup.”


Ray terkekeh melihat kedua bapak-bapak tersebut. Entah kenapa pembicaraan mereka tak pernah benar dia perhatikan seumur usianya.


“Siapa tahu. Ya nggak?” tanya Alif kepada keponakannya.


“Cerita bisnis saja, Om. Bukan bini. Satu aja nggak abis-abis.”


“Mantep.” Alif tersenyum misterius kepada keponakannya itu. “Carikan satu untuk Aarash, yang kaya seperti binimu.” Aarash adalah anak kedua Alif dan Dara.


“Aku aja nggak sengaja dapetnya Om. Malah harus lupa ingatan dulu.”


“Apa aku juga harus membuat Aarash lupa ingatan dulu sepertimu?” pertanyaan Alif terdengar konyol.


“Ya!” sahut Yudha segera, “benturkan saja kepalanya ke badan mobil supaya segera mendapat keajaiban.”


Alif langsung nyolot, “Yang benar saja! Bukannya dapet bini kaya malah auto pindah alam.”


“Lagi pada bahas apa hayoo!” tiba-tiba segerombolan perempuan keluar dari pintu kaca menghampiri mereka bertiga. Rupanya, Vita, Dara, Mauza, dan Sakira mau pamit keluar untuk mengantar Zara ke dokter sekalian mampir ke Mall. Membeli beberapa keperluan untuk acara empat bulanan yang rencananya akan di adakan di sini dua hari lagi.


Yudha menatap semua perempuan itu secara bergantian. Dia pun heran, “Sebanyak ini kah yang mau ikut?”


Vita menjawab, “Iya, sekalian memang ada yang mau kami beli setelah ini. Jadi biar sekali jalan.”


“Ya sudah, pergilah!” ujar Yudha akhirnya mengizinkan.


“Kenapa kamu diam aja, Uda?” tanya Dara kepada suaminya yang paling cuek bebek di antara yang lain.


“Lha kan Yudha sudah mengizinkanmu tadi,” jawab Alif tak habis pikir.


“Aku istrimu, bukan istrinya Mas Yudha.” Dara mencondongkan pipinya.


“Apa ini?”


Sakira gemas sendiri dengan papinya yang tak bisa peka, “Ya Allah, nggak peka banget sih, Pi?”


“Bukannya nggak peka, tapi banyak anak dibawah umur di sini. Termasuk kamu juga!”


Sakira melirik malas. “Alah, kayak nggak biasanya aja di rumah.”

__ADS_1


Alif meninggi, “Hei! Siapa yang menyuruhmu ngintip orang tua?”


“Nggak ada, ini atas inisiatif sendiri, Pi,” jawab Sakira.


“Makanya kalau mau mesum itu di semak-semak, Om!” sahut Umar paling keras.


Itulah detik-detik keduanya saling adu jotos hingga Umar hampir kecebur di kolam renang andai saja Yudha tak menolong anaknya.


Singkat cerita, Alif akhirnya mau mencium Dara setelah wanita itu memaksanya dengan berbagai cara.


Beberapa puluh menit berlalu, akhirnya mereka tiba di rumah sakit tempat dr. Junita praktek. Semua orang di sana sempat tercengang pada saat melihat Zara begitu banyak yang mengantarnya. Ke empatnya tak ada yang mau menunggu di luar sehingga membuat ruangan tersebut jadi lumayan berisik.


“Oh, jadi Maminya sibuk, jadi di anterin sama Mamer nya and tantenya?” tanya dr. Junita sangat ingin tahu.


“Iya, Dok,” jawab Zara sambil berbaring di tempat. Seperti biasa, suster mengkondisikan posisinya agar dr. Junita lebih mudah memeriksa pasien.


“Yang mana mamernya coba tunjukkin dokter mau kenal?”


“Yang ini,” Zara menunjukkan wanita yang berlesung pipit itu.


Dokter tersebut menatapnya takjub, “Wah, masih muda, ya?”


“Sudah tua, hampir lima puluh, Dok,” sahut Vita menjawab.


“Kelihatan sepuluh tahun lebih muda daripada usia yang sebenarnya.”


dr. Junita mulai menggerakkan alat USG nya di perut Zara dan menggeserkannya untuk mencari posisi yang pas. Meski berulang kali dia harus kesulitan karena saking aktifnya gerakan si janin.


“Aktif banget bayinya, Cintah!” ucap dr. Junita menatap layar sambil geleng-geleng kepala.


“Tapi yang satu rada kalem kayaknya, Dok,” sahut Dara.


“Iya, yang sebelah kiri ini lebih kalem. Prediksi saya ini perempuan, ya. Terus yang kanan ini jelas ada monasnya,” dr. Junita menunjukkan titik hitam tersebut. “Ini hanya prediksi, bisa benar bisa salah. Tapi 70% akurat, kok.”


“Alhamdulillah,” ucap semuanya yang ada di sana.


“Keren. Langsung dapat sepasang. Memang ada keturunannya, Bu?” dr. Junita bertanya kepada Vita.


“Dari saya, Dok,” jawab Vita, “saya pernah hamil kembar. Laki-laki dan perempuan.”


“Iya. Memang kalau seperti itu menurun biasanya.”


Mereka sempat berbincang selama beberapa lama sekaligus berkonsultasi sebelum meninggalkan ruangan. Kemudian langsung menuju ke Mall untuk berbelanja.


♧♧♧

__ADS_1


Sore harinya.


Rayyan hanya tersenyum dan mengucapkan hamdalah saat Zara memberitahunya bahwa anak kembar mereka laki-laki dan perempuan.


“Kok cuma gitu doang sih, responnya?”


“Maumu gimana? Apa aku harus loncat-loncat ke atas meja?”


“Ya nggak gitu juga.” Zara membalikkan tubuhnya. Huh, menyebalkan memang. Nggak peka banget suaminya itu.


“Begitu saja kamu ngambek ....” Rayyan memeluknya dari belakang dan mengusap-usap perutnya. “Jangan ngambekan, mereka bisa merasakannya.”


“Habisnya kamu cuma gitu doang responnya. Peluk atau cium aku, kek. Jangan nunggu aku ngambek dulu ....”


“Iya maaf, maaf.” Semoga senantiasa sabar ya, hati....


Rayyan akui memang masih sedikit kesulitan mengontrol istrinya karena pada dasarnya, Zara adalah seorang pebisnis/atasan yang terbiasa mengatur, menginstruksi dan disetujui, bukan sebaliknya. Keputusannya yang hampir tak pernah ditolak juga kadang masih terbawa dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga dia agak sulit menerima pendapat orang lain. Wajar, jika Zara harus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk perlahan bisa memperbaiki sisi buruknya.


Namun begitu, secara keseluruhan, Zara masih tetap lebih baik dari siapapun yang pernah Ray miliki. Tidak ada manusia yang sempurna seperti dirinya yang juga mempunyai banyak sekali kekurangan.


Beberapa hari kemudian, akhirnya acara empat bulanan Zara dilaksanakan secara sederhana di rumah Yudha dan Vita. Mereka hanya mengundang beberapa orang penting dan keluarga inti saja. Bahkan kajian pun di isi oleh Abah Haikal sendiri.


Suasana begitu khidmat saat Zara membaca Alquran. Suaranya begitu merdu dan bacaannya pun sudah terdengar fasih.


Pun pada saat Abah Haikal membacakan doa-doa untuk anak-anak serta cucu-cucunya. Rasanya begitu dalam dan menusuk relung hati sehingga hampir membuat semua orang di sana meneteskan air mata, tak terkecuali Mauza. Gadis itu sampai harus memisahkan diri ke belakang karena matanya terus saja perih.


“Bi, minta tisu dong, Bi ...” lirihnya dengan terus menunduk. Malu jika dia sampai kedapatan sedemikian kacaunya oleh orang lain. “Mana tisunya ... aku minta tisu sekarang, Bi ....”


Mauza mendongak sekilas. Oh, ternyata di belakang tidak ada orang. Pantesan sepi nggak ada sahutan. Sepertinya semua orang lagi pada sibuk.


Hem, berarti dari tadi Mauza ngomong sendiri?


Tak kunjung menemukan tisu membuat Mauza terpaksa menggunakan lengan bajunya untuk mengusap hidung. Entah kenapa matanya tidak mau berhenti mengeluarkan air mata. Dia merasa sedang gampang terbawa perasaan saat ini. Apa mungkin karena gejala PMS?


“Huu ... srookkss!”


“Hiih, jorok. Nih tisunya!”


Mauza segera menoleh ke sumber suara dan segera merebut tisu yang di ulurkannya.


Wait! Suara itu?


Loh kok ada Sammy di sini? Siapa yang ngundang? Nggak kapok di semprot sama Opa waktu itu?


Belum sempat bertanya, pria itu sudah main tarik tangannya keluar lewat pintu samping.

__ADS_1


“Eh, kamu mau bawa aku ke mana?”


Bersambung.


__ADS_2