Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Mengetahui Ukurannya


__ADS_3

152


Zara, Rayyan, Sammy, Umar, berikut para orang tua kembali ke restoran VIP pada saat mereka selesai melakukan salat ashar.


Sengaja menunggu di masjid sampai waktu itu tiba, karena waktu yang mereka gunakan sudah cukup nanggung.


“Nai sama Andre ke mana, Sayang?” tanya Vita duduk di samping anak keduanya.


“Lagi salat,” jawab Mauza langsung bergelayut manja di lengan mamanya. Gadis itu sudah mengeluh capek dan meminta pulang sekarang juga.


Vita melayangkan pandang kepada semua anak-anaknya untuk meminta pendapat. “Gimana anak-anak? Mau pulang sekarang apa, nanti? Tuh, tempatnya juga udah mau dibereskan.” Wanita itu menunjuk ke sekeliling, di mana ada banyak crew sedang mencopot tatanan dekorasi.


“Kita juga pulang aja kali ya, Bi?” Zara bertanya kepada suaminya.


“Oke,” Ray menjawab.


“Ini urusan gedung gimana?” tanya Sammy mengkhawatirkan hal tersebut karena sampai sekarang, belum ada perwakilan yang bicara dengan pihak WO lagi. Sedangkan mereka sebentar lagi akan pergi.


Zara segera menyahuti sembari memasang senyum misteriusnya, “Kan, ada yang mau nginap di sini nanti malam.”


“Iyalah! Emangnya aku langsung pulang ke rumah?” kata Mauza bermaksud menyindir suaminya yang tak memesan kamar untuk mereka menginap. Aku kan juga mau, batinnya meronta-ronta.


Kemudian melangkah pergi lebih dulu tanpa memberikan Sammy kesempatan untuk menyerap ucapannya.


Beruntung, Sammy bukan tipe lelaki yang terlalu awam sehingga ia bisa langsung nyambung apa yang istrinya maksud.


“Dih, lagian ngapain mau nginep, orang kamu aja lagi palang merah. Kalau cuma mau tidur doang mah, di rumah aja kali!” balas Sammy sambil mengejar istrinya keluar.


Semua orang di belakangnya menanggapi kejujuran Sammy dengan gelengan kepala, tepukan jidat, bahkan tawa yang renyah.


“Kalau yang belum tahu mungkin bisa ngira mereka berantem. Padahal sebenarnya di rumah juga gitu. Ribut terus. Tapi sebentar ... sudah baikan lagi,” kata Vita menceritakan bagaimana mereka berdua yang masih sering bercanda layaknya anak kecil.


“Kayak Tom sama Jerry ya, Ma?” Zara menanggapi.


“Iya, bikin kepala pusing.”


Semuanya berjalan keluar. Mereka sengaja tak menemui Zunaira dan Andre sekadar untuk berpamitan. Tak elok mengganggu kebersamaan mereka, karena masing-masing pun menyadari, tak nyaman jika kebersamaannya dengan pasangan diganggu.


“Ma, kami pulang dulu, ya?” pamit Zara mengulurkan tangannya kepada Vita.


“Iya, Nak. Kalian hati-hati di jalan. Sehat-sehat, ya? Sering kabari kami.” Vita mengusap perut menantunya yang secara kebetulan sedang bergerak. “Uluh-uluh, aktif banget mereka,” katanya begitu gemas.

__ADS_1


“Kelebihan es batu kata abinya,” jawab Zara tertawa.


Mereka memasuki mobil masing-masing usai semuanya berpamitan, terkecuali Umar yang membelot. Dengan alasan, ingin mencari kopi.


“Mau cari kopi apa cari janda?” tanya Yudha tegas. “Pulang aja lah kamu. Sudah hilang rasa percaya Papa sama kamu, Mar. Perasaan Papa nggak enak tiap kamu pergi.”


Entah kenapa feeling orang tua sangat kuat kepada anak-anak mereka.


“Pa, Umar ini mau....”


“Masuk Umar!” tegasnya lagi tak mau dibantah. Sehingga mau tak mau, Umar harus masuk ke dalam mobil papanya.


Padahal Umar ingin mengunjungi kantor Sarah. Sekadar ingin melihatnya setelah sebulan ini tak ia ketahui kabarnya. Semoga saja Sarah nggak hamil, demikian Umar berharap.


Ya, setidaknya ia harus tahu itu sebelum keluarga melamar Alma untuknya.


Vita menghela napas pada saat Umar duduk di sampingnya. Wanita itu sudah lelah dengan kelakuan anaknya yang satu ini. Sehingga dia memilih untuk diam.


Suka-suka dia saja lah. Suatu saat, jika anaknya mengetahui bahwa jalan yang dia tempuh ternyata buruk, pasti dia akan kembali.


♧♧♧


Zunaira membaca banyak pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Di antaranya adalah dari mereka yang berhalangan hadir ke acara pernikahannya siang tadi.


Pesan penting juga dia terima dari mama Vita yang memintanya menemui sendiri pihak wedding untuk menyelesaikan urusannya.


“Kapan?” Andre bertanya.


“Nanti malam.”


“Ya sudah temui saja,” ujar pria itu tanpa memikirkan kondisi Nai saat ini.


“Nemuin sih, udah pasti, Mas. Karena memang kita yang berkepentingan. Tapi masalahnya aku gimana?”


Andre beranjak setelah sesaat terdiam. Dia berpamitan untuk keluar sejenak menuju ke Mall yang ada di dekat hotel tersebut.


Setengah jam berlalu. Andre kembali dengan membawa sejumlah paper bag yang berisi semua barang keperluannya, berikut keperluannya sendiri.


Yang paling mengejutkan, pria itu mengetahui semua ukuran pasnya tanpa bertanya lebih dulu.


“Kan tadi udah ukur sendiri. Eh!” Nai menutup mulutnya meski batinnya tak mungkin terdengar.

__ADS_1


Tepat jam delapan malam, Zunaira dan Andre berpakaian. Lalu turun menemui orang yang dijanjikannya untuk membereskan urusan mereka.


“Jadi kurangnya sekian, ya!” orang itu menunjukkan tambahan rincian biayanya.


“Ya, saya transfer sekarang,” jawab Andre lantas membuka rekeningnya.


Usai dua orang itu pergi, Zunai menatap pria yang sudah menjadi suaminya tersebut dengan rasa heran. “Awal perjanjiannya cuma segitu, sekarang kok beda lagi?”


“Nggak masalah,” jawab Andrea tak mau ambil pusing.


“Maaf, aku udah menguras tabunganmu.” Nai menunduk merasa bersalah. “Aku harap Mas Andre tak sedang mempunyai rencana besar dalam waktu dekat. Karena ...”


“Jangan khawatirkan itu,” sela Andrea sama sekali enggan membahas perkara pengeluaran saat ini.


Selain mendapatkan gaji yang cukup besar dari Zara.co setiap bulannya, Nai belum mengetahui bahwa ada keterlibatan Zara di balik semua ini. Wanita itu telah membantu Andre banyak hal. Bukan pada Nai saja, tetapi kepada adiknya yang lain.


“Sudah kan, nggak ada yang mau dibahas lagi, atau ketemuan?” tanya Andre setelah mereka menikmati makan malam mereka.


“Nggak ada,” jawab Nai disertai gelengan kepala.


Keduanya meninggalkan area setelah melakukan pembayaran. Ber genggaman erat menuju ke unit kamar mereka, seolah enggan terlepas lagi.


“Kamu sudah siap?” tanya Andre setelah menutup pintunya lagi.


Nai menyunggingkan senyumnya.


Andre memperjelas, “Jangan menyesal, karena apa yang kamu jaga selama ini nggak akan pernah kembali.”


Mengerti apa yang Andre maksud, Nai menganggukkan kepala. “Sudah kewajiban ku sebagai seorang istri untuk memberikan diriku sepenuhnya,” ujarnya begitu ikhlas.


“Maaf, aku bukan yang pertama untukmu.”


“Nggak papa, aku tetap bersyukur karena aku akan menjadi yang terakhir.”


Zunaira menuntun tangan Andre untuk menyentuh dadanya. Lelaki itu merespon dengan baik dan dengan gerakan terlatih.


Andre meraih tubuh Nai agar lebih dekat, lalu mengecup bibirnya yang sudah sangat dahaga akan pagutan.


Keduanya berpindah ke ranjang. Ya, belum saatnya mereka menuju ke sofa cinta itu untuk pengalaman pertama Zunaira yang Andre ketahui, akan sedikit menyakitkan baginya.


Menurutnya, sofa cinta hanya digunakan bagi mereka yang sudah pro. Sehari saja mungkin sudah cukup untuk membuat Nai terbiasa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2