Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Perbuatan Melewati Batas


__ADS_3

58


“Udah ngobrolnya?” tanya Miranda kepada mereka berdua yang baru saja kembali dari belakang.


“Udah, Tante,” Rayyan menjawab. Sementara Zara hanya mengangguk.


“Jadi Opa, sama Omanya lagi di Padang, makanya nggak ikut?” Miranda dan Ruben kembali melanjutkan obrolannya dengan Yudha dan Vita mengenai keluarga mereka yang tak ikut datang.


“Iya, mereka lagi pulang kampung halaman, udah lama nggak ke sana katanya,” balas Vita, “tapi nanti sebelum Ray menikah, pasti mereka sudah di sini.”


“Masih ada rumah berarti di sana?”


“Masih ada, biarpun sudah jelek. Lumayan, biar nggak usah menyewa penginapan kalau mudik ke sana.”


“Ada yang mengurusnya?”


Vita mengiyakan, dia juga memperkenalkan saudara-saudaranya yang lain. Termasuk adik, adik ipar dan keponakan-keponakannya yang berjumlah tiga orang.


“Wow, menyenangkan sekali punya banyak anak, ya?” Miranda terkagum-kagum dengan kekompakan keluarga ini, “saya juga pengen punya anak lebih dari dua. Tapi anak kedua aja jadi waktu usia empat puluhan lebih. Saya juga nggak nyangka bisa punya bayi lagi di umur segitu. Bisa dibilang mukjizat lah. Ya, mau gimana? Mungkin udah takdirnya cuma punya dua anak. Tapi saya tetap bersyukur, saya tetap lebih baik dari orang yang mandul di luar sana.”


“Benar, Bu,” kata Vita lagi sangat setuju, “saya doakan, semoga nanti di anugerahi banyak cucu dari anak-anak kita.”


“Nah iya. Kan, sudah ada gennya.”


Semua orang pun bubar setelah ba'da isya. Tepatnya setelah mereka melakukan salat dan doa bersama. Entah apa saja yang mereka bicarakan sampai membuang waktu selama itu. Ini sungguh di luar dugaan yang awalnya hanya memprediksi waktu lebih singkat. Sebab selain lelah, sudah pasti banyak pekerjaan yang sedang menanti mereka di rumah.


“Alhamdulillah acara sudah selesai....” gumam Zara saat dia sudah sendiri di kamarnya. Dia mulai melepas seluruh pakaian yang melekat, kemudian membersihkan diri dan wajahnya dari polesan make up. Setelahnya, ia mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Sempat keluar sejenak untuk menemui Mami, Om, dan Mike yang tengah meributkan semua nilai ulangan bocah itu kenapa sangat rendah. Namun setelah itu, ia kembali lagi untuk beristirahat di kamar.


“Kayaknya bener kata temen aku dulu. Otak anak orang miskin lebih encer daripada anak orang kaya,” batin Zara berpikir demikian. Ini tidak mutlak, tapi kemungkinan terjadi. Sebab anak kurang mampu lebih terdorong semangatnya dibanding anak orang kaya yang lebih bisa melakukan segalanya dengan uang yang mereka miliki.

__ADS_1


Dua jam berlalu. Rasa kantuk mulai datang menyerang. Namun rasa rindu dan bangga karena telah dimiliki, membuatnya terlebih dahulu membuka pintu lemari yang tersimpan jaket kenangan di sana.


“Dipakai buat tidur kayaknya enak, nih.”


Zara memakainya, kemudian berbaring sembari menatap cincin yang baru tadi melingkar di jari manisnya.


“Aku belum pernah merasa seberharga ini. Terima kasih Mami ... matamu lebih jeli, hatimu lebih perasa.”


...•••...


Pun sama dengan acara yang terjadi di rumah Cici Rusady. Dia juga baru saja dilamar oleh seseorang, yaitu Ilham Nur Fasad. Keduanya bahkan sudah menentukan tanggal pernikahan yang akan dilakukan sekitar dua minggu lagi.


“Putrimu pasti akan menangis hebat, patah hati dan frustrasi setelah mendengar aku akan menikah lagi. Terlebih dengan sahabat baiknya selama ini. Dan di saat itulah kamu akan mengemis kepadaku demi menyelamatkan putrimu, Nyonya Miranda,” gumam Fasad menatap penuh kebencian seolah-olah tengah berhadapan dengan wanita tersebut, “tapi sayangnya, aku menolak dan kamu akan menangis darah.”


Awalnya, tidak ada niatan dirinya untuk berniat picik. Tapi Fasad pikir hukuman ringan ini sudah lebih dari cukup untuk membalasnya. Mengingat, Zara tak pantas untuk dia sakiti lebih parah lagi karena kebaikannya selama ini.


Biar bagaimana pun dan apa pun yang pernah terjadi di antara mereka, Fasad tak akan pernah lupa, bahwa Zara sering mengulurkan tangannya di masa-masa sulit. Terutama dari segi finansial.


“Kamu belum jawab aku....” Cici mengulang.


“Kamu tahu sendiri, bukan? Aku tak sedang melakukan apa pun.”


“Ya, jawab dong. Jangan diam aja.”


“Ini udah jawab. Salahnya di mana?”


“Jadi aku yang salah?”


“Memangnya ada, kata-kataku tadi yang menyalahkanmu?”

__ADS_1


Cici menggeleng. Wanita itu kemudian menarik lelakinya masuk ke dalam kamar. Selain tengah haus, mereka pikir, hari ini perlu merayakan cinta.


Perbuatan melewati batas ini sudah dilakukan selama beberapa kali. Namun baru sekali ini mereka melakukan di rumah ini. Biasanya Cici lah yang menyusulnya ke Bandung.


Oleh sebab itulah, Cici hampir tak percaya bahwa pria di sampingnya tersebut pernah menjadi pria setengah matang.


Dan sinilah mereka. Rumah baru Cici yang rencananya akan mereka tempati setelah menikah.


“Apa nanti keluargamu tak menanyakanmu?” Cici bermaksud menanyakan keluarga Fasad di tengah-tengah sesi percintaan mereka.


“Ibuku tak pernah mencariku, semenjak remaja aku hidup bebas,” jawabnya.


Sementara keluarga Cici sendiri tak terlalu memedulikan. Sebab selain sudah yatim piatu, kakak-kakanya sudah berkeluarga sendiri dan beda rumah. Mereka sempat menghadiri acara lamaran Cici hari ini, namun setelah itu, mereka langsung pergi lagi.


“Dua minggu lagi....” Cici mengingatkan.


“Besok pun tak masalah.”


“Kamu yakin?”


“Sure.”


Ini tak sedang bersungguh-sungguh. Tetapi yang pasti, mereka sudah mulai mempersiapkan semuanya. Mulai dari surat-menyurat, baju pengantin, mahar, hingga katering dan dekorasi.


•••


Bersambung.


Maaf segini dulu, lagi q time sama pasangan hehehe. Yang penting jangan lupa like, share dan votenya.

__ADS_1


Dan buat yang udah banyak nyumbang, aku ucapin terima kasih sebesar-besarnya 😍❤❤😙


semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah SWT aamiin...


__ADS_2