Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Nikahkan Saja Mereka


__ADS_3

95


Mauza menyendiri untuk menenangkan pikiran. Hanya dengan cara seperti inilah dia dapat menghindari agar mulutnya tak sampai berkata jahat yang dapat menyakiti perasaan orang lain dan terutama diri sendiri juga. “Ini pilihanmu sendiri, jadi kamu harus ikhlas, bodoh.”


Setelah lebih baik, dia pun menghela napas dan menghubungi kakak iparnya.


“Hallo, Kak. Begini, aku mau ngomong soal kerjaanku, jadi aku di ....”


“Salamnya mana?” tapi kemudian suara laki-laki menyela pembicaraannya barusan. “Langsung nyerocos.”


“Lho kok, Pak Ustaz. Hehehe maap, suka khilaf ngucap salam. Kak Zaranya mana aku mau ngomong?”


“Lagi tiduran. Kenapa?”


“Aku mau ngomong.”


“Ngomong soal apa, ayo lanjutkan. Suaranya udah di kerasin.”


“Cuma mau berdua, pliz ....”


“Zara lagi nggak bisa Kakak tinggal, lagi mabuk.”


“Oh, gitu?”


Terdengar kasak-kusuk suara dua orang yang berjalan dengan tergesa, suara air mengalir, percakapan keduanya, kemudian suara mual dan lain-lain.


Mauza menjauhkan ponselnya dari telinga, “Ya ampun lagi repot, ya? Tapi aku bener-bener perlu sekarang.”


Daripada harus menunggu, akhirnya gadis itu memutuskan untuk datang ke rumahnya langsung. Toh, siang nanti juga dia akan keluar juga ke Mall untuk menghadiri acara grand opening.


Mauza pun turun setelah membawa tasnya, lalu menemui mama berniat untuk meminta izin.


“Gimana? Apa jawaban kakak iparmu, Nak?”


“Mereka lagi sibuk kayaknya, Ma. Jadi pertanyaaku barusan belum dijawab,” jawab Mauza.


“Hmm begitu, ya?”


Mauza mengangguk, “Iya, ini rencananya aku mau ke sana langsung, tapi kalau Mama ngizinin.”


“Sama siapa?”


“Sendiri aja, nanti sekalian aku berangkat ke Mall nya bareng mereka aja.”


“Oh iya, Mama hampir lupa ada undangan ya, hari ini? Untung kamu ngingetin. Ya sudah, berangkatlah. Hati-hati dijalan, ya!”


Setelah mengiyakan, dia mencium punggung tangan mamanya dan lekas pergi. Tak sampai setengah jam, dia pun sudah sampai di kediaman Ibu Miranda. Di depan halaman besar yang di tengahnya terdapat air mancur, terlihat wanita sosialita itu sedang membersihkan kolam ikan.


“Assalamualaiakum, Onti cantik,” sapa Mauza membuat wanita itu tak terduga.


“Waalaikumsalam. Eh, si Moza! Iya kan, kamu Si Moza?” Miranda langsung melempar penyaring kolam yang ada di tangannya.

__ADS_1


Mauza terkekeh, “Mauza Onti. Tapi dipanggil apa aja juga boleh, kok.”


“Iyalah Moza aja biar gampang. Kenapa? Ada perlu sama Kakakmu, ya?”


“Iya Onti. Mon maap mau ganggu waktu Kakak ipar sebentar.”


“Nggak papa, ayo masuk-masuk!” ajak Miranda antusias. Dia merangkul anak adik menantunya itu ke dalam. Kemudian mengantarkannya untuk menemui Zara yang tengah meringkuk di sofa bersama dengan Rayyan yang tampaknya tengah memaksanya untuk makan. Pasalnya, di tangannya terdapat piring yang di atasnya ada potongan kue.


“Tuh, lihat Zaranya lagi mabuk, nggak mau makan lagi. Gimana Nenek-nenek ini nggak stres?”


Mauza hanya tersenyum.


“Kalau nggak mau, paksa aja!” ucap Miranda kepada menantunya.


“Dikit aja, Ra ....”


“Udah enek, nanti kalau dipaksa bisa keluar lagi. Aku cuma mau es batu,” kata Zara menjauhkan piring itu dari hadapannya.


Mauza yang heran dan penasaran lantas bertanya, “Es batu mau diapain?”


“Dimakan,” jawab Rayyan.


Miranda menyahuti, “Kakak iparmu hobinya sekarang ngemut es batu, Moza! Aneh nggak?”


Mauza sontak tergelak. Agak lama dia tertawa sebelum akhirnya gadis itu bertanya lagi, “Apa rasanya ngemut es batu?”


Zara menjawab sambil tertawa sendiri, “Enak. Seger. Kayak ada manis-manisnya.”


“Oh iya, terima kasih.” Dalam hatinya Mauza menyesali kedatangannya ke sini karena momennya sedang kurang pas. “Aku jadi obat nyamuk, nih? Jadi pengen cepet-cepet kawin juga.”


“Jam segini kok, masih pakai sarung sih, Kak? Ya ampun ....” Mauza mengomentari pakaian kebanggaan kakaknya yang tak pernah berubah jika sedang berada di rumah. Dia terlalau seksi, bikin salfok orang.


“Kamu mau tahu nggak kenapa?” Rayyan nyengir. Raut wajahnya misterius. Sulit di artikan.


Mauza memutar bola matanya, “Aduh, enggak deh. Nyesel aku nanya gitu.” Dia takut mendengar hal-hal yang dapat mengkontaminasi telinganya. Lah, kok malah pikirannya sendiri yang ngeres?


“Kamu mau ngomong soal apa, Za?” Zara bertanya, “tadi di telepon kayaknya penting banget.”


“Sambil makan dulu, Dek.” Ray menyodorkan buah salak. “Tahu cara bukanya kan? Pakai pisau.”


“Emangnya aku Ibu Nia Romadona buka salak aja nggak bisa?” jawab Mauza membuat Ray terkekeh.


“Izh semenjak kapan Pak Ustaz jadi humoris begini? Keknya benturan aspal sama vakum cleaner bikin otaknya geser dikit hihihi.”


Berhenti main-main, Mauza kemudian mengutarakan niatnya datang ke sini. Dia menjelaskan bahwa ingin memberikan posisinya kepada Zunaira karena gadis itu sangat ingin masuk ke sana.


Dan ini atas kerelaannya sendiri, bukan karena alasan apapun apalagi karena tidak cocok. Justru dia sangat happy dengan teman-teman barunya selama lima hari ini.


“Apa Zunai yang maksa kamu?” tanya Zara.


“Beneran enggak, Kak,” sanggah Mauza, “ini inisiatifku sendiri. Aku nggak tega aja lihatnya kalau dia harus nunggu lama.”

__ADS_1


“Tapi Nai beda jurusan. Lagian apa kamu nggak eman-eman? Kalau bahasa kita, ya sayanglah. Kan kamu udah susah-susah training. Selain udah mulai nyaman sama temen-temen di sana, pasti udah mulai hafal tempat-tempatnya dan udah punya planning ke depannya mau seperti apa ....”


“Dia pasti mau ketemu sama Sammy,” sahut Rayyan yang langsung paham meskipun Mauza tak mengatakannya.


“Maaf, aku potong sebentar,” ucap Mauza, “aku juga ngerti sih rasanya jadi dia. Sammy itu ibaratnya cinta pertamanya Zunai. Jadi mungkin nggak segampang itu ngelupain dia. Ya kalau Sammy nya baik nggak papalah kasih mereka kesempatan untuk ada di lingkungan yang sama.”


“Tapi nggak harus kamu yang berkorban juga,” kata Ray lagi. Dari kecil, dia selalu memperhatikan kalau adiknya yang satu ini sudah terlalu banyak mengalah demi Si Bungsu. Dan yang paling banyak adalah mengalah soal waktu.


Mama selalu sibuk dengan Zunaira karena dia sering sakit. Itu sebabnya Mauza lebih sering di asuh oleh Onti Dara dan Om Alif sehingga karakternya hampir mirip seperti mereka.


“Boleh nggak aku berpendapat?” tanya Mauza membuat Ray dan Zara mengangguk, “kenapa nggak nikahin mereka berdua aja kalau emang dua-duanya saling suka?”


Zara dan Ray bersilang pandang.


“Mauza,” ujar Zara menatap gadis itu, “Kakak ini kenal Sammy nggak cuma sebentar. Ada banyak hal yang aku ketahui dari dia. Aku nggak bermaksud mendiskreditkan seseorang mengenai akhlak atau perilakunya karena aku pun belum tentu baik. Tapi pertanyaannya, apakah Papa nanti mau menerima Sammy? Dia ... dia ... ya, dia sedikit begajulan.” Zara kesulitan untuk mencari kata-kata yang pas agar tak terkesan menjelekkan orang yang dimaksud. Kini dia menyenggol lengan suaminya, “Gimana menurutmu Pak Suami? Kamu kakak tertuanya. Kasih pencerahan coba?”


“Kita bukan Tuhan. Jadi nggak pantas bilang kalau Sammy nggak pantas untuk Zunaira. Jadi kalau untuk soal ini ... aku serahin ke Papa saja. Keputusannya ada di beliau.”


“Terus soal kerjaan ini?” tanya Mauza.


“Gini aja, gimana kalau Mauza ikut aku aja ke mana aku pergi?” Zara menemukan ide cemerlang. “Aku juga butuh orang buat ngatur jadwalku, kelola akun aku, endorsement ku and ... masih banyak lagi.”


Ya, Zara ingin Sammy fokus di satu pekerjaan saja supaya mereka tidak terlalu sering berinteraksi seperti sebelumnya. Karena walau bagaimanapun, mereka lawan jenis. Ray sering menunjukkan ketidaknyamanannya jika Sammy menghubunginya meskipun yang mereka bicarakan hanyalah soal jadwal pekerjaan.


“Gimana tanggapannya, Pak Ustaz?” Zara bertanya lagi karena lelaki itu diam saja.


Ray hanya mengedikkan bahunya dan bilang terserah. Sebab ia tak mungkin melarang keinginan istrinya kali ini lantaran wanita itu selalu beralasan karena bawaan bayinya. Meskipun berarti dia bakal sering ketemu sama orang paling cerewet ini setiap hari.


Dua wanita lumayan cerewet di rumah ini saja kadang sudah membuat kepalanya pusing. Lha, ini malah nambah satu lagi yang lebih parah.


Tapi tidak apa-apa lah, hitung-hitung, Mauza juga bisa sambil menjaga istrinya.


“Gimana, Za?”


Mauza masih belum percaya, “Yakin nggak, nih?”


“Yakin lah ... masa ai boong.”


“Apa ini yang dinamakan rezeki anak soleh?”


Untuk memantapkan lagi, Zara mengulurkan tangannya, “Deal?”


Jeda beberapa detik, Mauza pun menyambut tangannya, “Deal?!”


“Yes, aku suka!”


“Sesederhana itu membuatmu bahagia,” dalam hati Ray saat ini.


Namun kini Zara seperti mencari-cari sesuatu di dalam gelas, “Es batunya mana? Ini udah cair.”


“Es batu lagi?” gerutu Ray menuju ke kulkas.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2