Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Merasa Bersalah


__ADS_3

Umar menatap tajam balik pria yang bernama Sammy itu, “Kamu yang apa-apaan?! Beraninya lu ngajarin adek gue bohong sama orang tuanya!” bentaknya.


“Kak, bukan Sammy yang sa-”


“Diam!” Umar menyela bentuk pembelaan adiknya tersebut.


“Oh, jadi kamu kakaknya, Nai?” tanya Sammy, “sorry-sorry, aku nggak ada maksud untuk menyuruh Zunaira keluar dengan cara seperti ini. Sebenarnya aku dah bilang sama dia supaya aku aja yang jemput ke rumah, tapi Nainya menolak,” jelasnya.


Dalam hati Sammy berpikir. Main ke rumah tidak boleh. Mengajak keluar dengan cara seperti ini, juga tidak boleh? Lalu bagaimana benarnya?


Mereka tidak menyadari bahwa cara mendidik mereka yang demikian juga bisa memicu sang anak untuk berkata bohong.


Namun di sisi lain, Zunaira juga mempunyai pandangan sendiri. Ia sedang tak ingin membawa Sammy ke rumah karena pria itu belum ingin serius atau kata lain, ingin lebih saling mengenal terlebih dahulu sebelum masuk ke jenjang berikutnya. Sebab Sammy pernah mengatakan bahwasanya pria itu tak ingin gagal lagi, belajar dari pengalaman yang sudah-sudah.


“Maaf, Kak. Aku takut nggak dibolehin sama Mama ....” Muka Zunaira memerah. Selain malu dengan pandangan banyak orang, ia juga takut akan makian Umar yang ia ketahui sangat runcing dan bisa menyakiti hati.


“Gatal kamu, Nai. Kecil-kecil sudah gatal,” ujarnya pelan tapi menusuk jantungnya, “ayo, pulang.” Umar menarik tangannya. Namun karena tak kunjung beranjak dan malah menatap Sammy dengan penuh pengharapan, Umar kembali membentak dengan lebih keras, “Cepat?!”


“Kak, plis ... kami cuma mau nonton ....”


Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini pun, Zunaira masih saja memohon demi lelaki brengsek tak punya etika seperti dia?! Batin Umar semakin jengkel.


“Bro, lu nggak bisa kayak gini dong, Bro,” ucap Sammy kemudian, “kamu memperlakukan dia seolah kami baru saja berbuat zina. Ini tempat terbuka, lho. Nonton, nongkrong, makan, main, itu hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda jaman sekarang. Kalau di kurung terus di rumah terus ya, suntuklah. Kamu sendiri aja mungkin nggak akan betah, apalagi kamu laki-laki sepertiku.”


“Itu gaya hidupmu, bukan gaya hidupnya,” jawab Umar mengarah ke adiknya, “dia masih terlalu lugu untuk kamu tipu-tipu. Kalau kamu mau cewek yang bisa kamu ajak seperti itu, jangan adek gue, sialan!”


“Lucu, ya!” Sammy terkekeh, dan menoleh kepada Zunaira, “Kek gitu aja dipermasalahin. Tanya sama dia, aku pegang dia apa enggak? Ada yang lecet apa enggak? Tanya!”


Umar meraih kerah Sammy sehingga dalam hitungan detik, tubuh pria itu sedikit terangkat ke atas, “Kalau salah sebaiknya jangan banyak bicara!” tekannya lalu menghempas tubuh Sammy kembali.


“Hei, ada apa, ini?” tanya seorang security Mall mendekat. Pasalnya ada yang melaporkan keributan ini ke bagian pintu masuk, di mana mereka sedang memantau keamanan lokasi. Mungkin mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


“Nggak ada apa-apa, Pak. Hanya slek kecil. Urusan kami juga sudah selesai,” tandas Umar. Kemudian menarik Zunaira keluar dari tempat itu. Gadis itu mempermalukan diri sendiri karena terus menangis sepanjang jalan. Celakanya, Umar tak peduli.


...♧♧♧...


Sesampainya di rumah, Zunaira kembali menangis saat mendapati semua keluarganya memasang wajah kecewa.


Papa, Mama, Oma, Opa, Mauza, semua diam membisu.


“Mama, Papa ....” Zunaira berdiri di hadapan mereka semua untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya. “Maafin Nai ....”


Namun Vita hanya menggeleng kecewa, kemudian melenggang pergi meninggalkannya sehingga Zunaira menyeru, “Mama maafin aku ....” gadis itu kini mendekati papanya, “Papa maafin aku, Pa? Papa!” dia mengguncang tubuh papanya yang bergeming. Pria yang biasanya paling menyayanginya itu kini berubah marah padanya. Itu tandanya, kesalahannya sudah sangat fatal.


Keheningan menjeda mereka selama beberapa saat. Sebelum akhirnya Yudha membuka suara, “Coba pikirkan berapa banyak kesalahanmu?”


“Papa, maaf, Pa! Zunai janji nggak akan ngulangin lagi.”


Yudha menjelaskan, “Kamu bohong sama orang tua, kamu juga pergi sama laki-laki yang bukan mahram kamu. Apa pantas?”


“Kamu menyakiti kami. Terutama Mamamu.”


“Maaf, Papa ... maaf ....”


“Apa kami mengajarimu seperti ini? Kamu mengecewakan kami. Pembohong,” ujar Yudha lagi seakan menampar dirinya.


Selama ini, Zunaira memang tidak pernah protes walaupun waktunya lebih banyak dihabiskan untuk belajar di dalam rumah mau pun di sekolah.


Selama ini, dia memang selalu menurut ketika mama menyuruhnya untuk melakukan apa saja.


Selama ini, dia memang tak pernah protes andai ke mana pun pergi selalu ditemani.


Ya, dia selalu nyaman-nyaman saja dengan cara mendidik orang tuanya yang diyakini adalah yang terbaik untuknya.

__ADS_1


Namun entah semenjak kapan, Zunaira mulai menyadari bahwa kehadiran Sammy telah menyempitkan dunianya. Membuatnya lari dari rasa bersyukur mempunyai orang tua yang hebat seperti mereka.


Sammy selalu bilang bahwa dirinya sangat berbeda dengan mereka hingga ia tak bisa menikmati hidupnya akibat kekangan orang tua. Padahal, hak setiap manusia adalah kebebasan.


“Berhenti berhubungan dengan laki-laki itu?!” seru Yudha.


“Papa ... maafin Zunai, Pa,” kata Zunai lagi.


“Di didik baik-baik malah menjerumuskan diri,” jeda sejenak, Yudha kembali melanjutkan, “Masuk ke kamar dan kemarikan ponselmu,” pinta Yuda Yudha membuat Zunai seketika mendongak keberatan. Namun begitu, ia tetap segera memberikannya karena tak ingin membuat papanya bertambah marah.


Usai mendapatkan apa yang dia inginkan, Yudha juga masuk ke dalam kamar menyusul istrinya. Lalu menutup pintunya dengan keras hingga semua orang sedikit berjingkat.


Oma mendekatinya dan merangkulnya, “Naiklah ke atas. Mama sama Papa nanti pasti akan mengajakmu bicara setelah mereka tidak marah lagi ....”


“Iya, Oma ....” jawab Zunaira lemah. Dia berjalan dengan lunglai serupa orang yang tak lagi mempunyai tenaga.


Di kamarnya, Zunaira meraung merenungi serentetan kesalahannya. Ya Tuhan ... Zunaira kebingungan harus berbuat apa saat ini. Rasanya ingin pergi jauh.


Sedangkan Umar dan Mauza sendiri malah saling menyalahkan.


“Ini gara-gara kamu ngikutin aku terus, jadi Zunaira nggak ada yang ngawasin,” Umar melotot.


“Kok kamu jadi nyalahin aku sih, Mar?” tanya Mauza tak habis pikir. Bisa-bisanya malah ia yang disalahkan? Apa hubungannya coba?


“Ya kali emangnya kerjaanku cuman ngawasin si polos doang? Ntar yang ngawasin kamu siapa?” kaya Mauza lagi. Dalam hati ia melanjutkan, bukannya Umar juga salah satu anak yang cukup berbahaya? Diam-diam, Mauza mengetahui kebiasaan lain Umar yang sebenarnya ditutupi rapat-rapat itu. Yaitu suka pergi malam-malam. Sstt ... jangan bilang-bilang sama Umar kalau aku tahu, ya. Ini rahasia kita.


“Semvakkk,” ucap Umar masa bodoh. Kemudian melenggang pergi.


“Ya, kamu yang mirip semvak!” balas Mauza tak kalah sengit.


to be continued

__ADS_1


Aku gak cross check ulang. kalau ada typo ingatin aja yaa


__ADS_2