
162
Setelah semua urusan mereka selesai, keduanya langsung pulang ke rumah. Mereka tidak diperbolehkan ke mana-mana lagi oleh Vita lantaran tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada anak-anaknya. Mengingat akan ada acara sangat penting besok harinya.
“Hei, kenapa kamu pakai kacamata begini, Mozarela?” Vita bertanya kepada anak perempuannya yang satu itu. Tak henti-hentinya dia berkelakuan nyeleneh.
“Biar keren, Ma,” anak itu menjawab.
Umar menyahut, “Jangan percaya, Ma. Bohong dia. Lagi timbilan matanya.”
Vita tersenyum. Mereka sudah terlalu sering bercanda, jadi Vita tak menganggap mereka sedang bersungguh-sungguh.
“Nai ke mana, Ma? Kok sepi lagi?” tanya Mauza. “Atau udah pulang mereka?”
“Lagi ke dokter sama suaminya.”
“Oh ....”
Sementara itu, Umar menuju ke kamarnya. Tetapi dia agak bingung saat masuk ke dalam sana. Loh, kok beda? Ke mana semua barang-barang ku?
Bahkan Umar sempat keluar sejenak untuk memastikan apakah dia salah masuk kamar? Tetapi sepertinya dia merasa benar.
“Ma? Ini kenapa kamarku jadi aneh?” seru Umar dari atas sana.
“Mama beresin tadi, kamarmu bau rokok. Pusing Mama, Mar. Kalau mau merokok itu di luar! Kayak nggak ada tempat saja.” Vita sedang sangat jengkel menghadapi ke randoman anaknya tersebut. “Malu sama istrimu nanti kalau dia nginap di sini, Nak. Rapi sedikitlah jadi laki-laki, jangan jorok.”
“Kan Umar mau tinggal di rumahnya Kak Zara,” jawab Umar dengan entengnya. “Di sana selalu bersih, sudah ada ART-nya lagi.”
“Apa?” pekik Mauza baru mengetahui kebenarannya bahwa Umar telah meminta rumah pada kakak sulungnya itu. Dan kenapa segampang itu mereka mengabulkan permintaannya?
“Kapan ngomongnya? Rumah yang mana, wey?” Mauza penasaran. Ingin tahu kenapa Umar bisa diberikan rumah secara gratis. Memangnya, Umar punya jasa apa sama mereka? Setahunya, Umar justru kurang menyukai Rayyan karena cemburu.
“Rumah yang lama, Nak. Hanya sementara saja sambil merawat rumah, bukan dikasih. Ya, daripada kosong,” jawab Vita meluruskan agar tak jadi kesalahpahaman atau timbul rasa cemburu di hatinya. Karena di sini, Ray terlihat condong kepada satu saudaranya. “Entah nantinya mau dibayar, atau mau dijual ke orang lain, mereka akan bicarakan lagi. Setelah Umar punya uangnya.”
“Oh, kirain Ma ....” Mauza mengangguk-anggukkan kepala. Menepis kekhawatiran dalam hatinya yang sempat berlainan dengan fakta yang sebenarnya.
__ADS_1
Sementara di kamar Umar.
Umar melepaskan baju atasannya. Dia membiarkan dirinya tidur di atas ranjang yang sudah wangi daripada sebelumnya itu, dengan bertelanjang dada.
Jarinya langsung meneliti pesan di ponselnya. Salah satunya adalah dari Alma.
“Tumben nih cewek kirim pesan. Biasanya enggak pernah.”
Sebenarnya Umar ingin menghubunginya lebih dulu. Sekadar bertanya atau berbasa-basi dengannya untuk menanyakan hal-hal yang menurutnya penting. Terlebih, mereka sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri. Ada jalan panjang yang kelak akan mereka lewati bersama, serta rencana-rencana yang harus mereka bicarakan.
Tetapi, melihat penampilan Alma yang sedemikian tertutup, membuat Umar enggan mendekatinya terlebih dahulu karena takut, Alma tak menyukai sikapnya.
Apa memang seperti itu kemuliaan seorang wanita muslimah? Terlebih Alma juga memakai cadar?
Martabatnya begitu tinggi di mata semua laki-laki hingga tak ada yang berani mendekatinya, kecuali melalui perantara. Demikian pun di antaranya adalah para lelaki yang baik dan bersungguh-sungguh.
“Kok, aku jadi merasa minder, ya?” Umar bergumam. Menyadari dirinya tak sebaik Alma. “Seharusnya cewek kayak Alma itu dapatnya anak kyai yang kalem-kalem, bukan aku. Aku ini malah lebih mirip sama begundal, preman, bandit!”
Kemudian, Umar pun membaca pesannya.
Umar: Waalaikumsalam. Ya.
“Kiriman? Di mana ada?” pria itu menoleh ke sana kemari mencari benda tersebut. “Apa masih di bawah?”
Aaarggh! Umar menggeram. Baru juga nempel di kasur. Ada saja urusannya kalau sudah mau rebahan.
Dengan terpaksa, Umar menuruni tangga. Membiarkan tubuhnya yang tak lagi suci terekspos begitu saja.
“Ma! Za! Mbak! Bi! Semuanya yang ada di rumah ini apakah ada kiriman paket?”
“Ada apa semua orang dipanggil?” Mauza yang duduk di depan TV ruang tengah dekat tangga menyahut. Dan terkesiap pada saat melihat udel bolong Umar terpampang nyata ke mana-mana. “Ihh, aurora Umar! Slebor banget lah!” bantal melayang mengenainya.
“Cepat cariin aku paket, tadi ada paket dari Alma katanya,” titah Umar.
“Ciyee ... dah main kirim-kiriman paket aja, nih.” Mauza justru mengajaknya bercanda.
__ADS_1
“Cepat, Za cariin! Nggak pakai lama!”
“Iya, iya, sebentar. Nyuruh-nyuruh orang tapi nggak sabaran, maksa lagi.”
Dan anehnya, Mauza tetap mau melakukannya. Perempuan itu berlalu ke depan untuk mencari benda itu, lalu kembali dan menyodorkannya kepada si pemilik. “Nih! Tapi aku juga mau lihat dong, apa isinya?”
“Nggak usah kepo, ini cuma baju yang mau dipakai akad besok.” Umar melenggang ke atas sambil menyusulkan ucapan terimakasihnya yang tertinggal.
Hingga keesokan harinya, baju itu pun terpakai di tubuh Umar. Pria itu terlihat sangat gagah dan percaya diri di hadapan banyak orang untuk melakukan akad nikahnya. Menikahi Alma.
Alma sendiri menjadi wanita yang paling cantik dan paling menonjol di sini. Sebagaimana menjadi seorang ratu sehari di acara pernikahannya. Meskipun dia mengenakan baju syar'i yang tertutup.
“Bismillahirrahmanirrahiim ....” penghulu mukai membacakan doa yang kemudian mengucapkan ijab kabulnya.
Acara begitu khidmat dan sakral terlebih dilakukan di dalam Masjid terbesar di dalam kota ini.
Dan dengan lantang, Umar berhasil mengucap ijab kabulnya dalam satu kali tarikan nafas, lalu disusul dengan suara serentak dari semua para hadirin yang hadir. “Sahhh!”
“Barakallah ....”
Umar tersenyum. Dia dan Alma kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Yang kelak akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Dalam susah ataupun senang.
Setelah berdoa, kedua pengantin itu di hadapkan. Vita yang mengantarkannya hingga mereka bertemu di satu titik.
Umar memberikan maharnya yang berupa cincin berlian kepada Alma dan memasangkannya serta di jarinya. Di jari yang tampak gemetaran karena baru pertama kali di sentuh oleh seorang pria yang bukan mahramnya.
Dan Umar merasa satu tingkat lebih tinggi pada saat Alma begitu takzim mencium tangannya. Karena Alma lah, dia lantas menjadi seorang yang begitu berharga.
“Di cium dulu Mas, istrinya,” titah MC.
“Oke,” jawab Umar tampak bersemangat yang membuat para hadirin jadi tertawa di tengah-tengah keharuan mereka. Bukankah bagian cium-mencium memang keahliannya?
Kecupan mendarat di kening. Alma menangis haru. Keduanya pun berpose untuk memamerkan cincin serta buku nikah mereka. Kemudian memeluk dua orang tua yang senantiasa memberikan doa dan restunya.
Bersambung.
__ADS_1
Gimana ekspresi umar pas buka cadarnya, ya? Pingsan nggak?