
135
Umar telah sadar dari pingsannya. Namun tampaknya dia masih syok sehingga tak kunjung membuka suara apalagi menanggapi pertanyaan semua orang yang menanyakannya.
“Gimana ini, Mas?” Vita kebingungan.
“Sudah biar saja, nanti kalau lapar juga ngambil makan,” sahut Yudha.
“Kayak Papa nggak tahu aja anaknya gimana,” Vita mengingatkan suaminya bahwa Umar sanggup menahan laparnya sampai berhari-hari. Dia tak seperti manusia pada umumnya, lain dari yang lain.
“Suruh pergi ke warteg kalau mau makan borongan. Daripada bikin repot orang.” Yudha tak ambil pusing.
Vita berdecak. Bicara sama pria itu emang kadang-kadang ngeselin. Jarang bisa serius.
Mereka masih berada di dalam mobil yang dibiarkan terus menyala agar tak kepanasan selama di berada dalam. Sedangkan anak-anaknya yang lain masih di luar untuk membicarakan kejadian ini.
Melibatkan RT setempat, mereka menanyakan dari mana Sarah berasal. Nyata kah perempuan itu? Benarkah dia ada dan tinggal di sini?
Bagaimana semua anggota keluarga tak curiga?
Perempuan itu hanya bersedia di datangi oleh Umar tengah malam dan menghilang seketika saat di ajak menikah.
“Itu nggak benar, Mbak. Bu Sarah ini manusia kok hehehe ...” sanggah Pak RT terkekeh, “Ibu Sarah ini memang tinggal di sini. Ada datanya di rumah saya dan saya juga sering liat beliau keluar, kadang lari pagi, beli sayuran, ngobrol sama ibu-ibu yang lain ....”
“Sejak kapan Ibu Sarah tinggal di sini, Pak?” tanya Rayyan. Sebab ia belum mendengar sendiri semuanya secara langsung.
“Sudah lama, semenjak cerai dari suaminya kalau tidak salah.”
“Berarti hanya sendirian?”
“Iya sendiri, anaknya kan ikut suaminya.”
“Apa mungkin Sarah balik lagi sama mantan suaminya demi anaknya, ya Kak?” tanya Mauza.
Rayyan mengedikkan bahu. “Hanya Tuhan yang tahu.”
Mauza memutar bola matanya.
Setelah pembahasan selesai, mereka langsung balik ke rumah. Rayyan dan Zara pun demikian karena banyak pekerjaan yang tak bisa mereka tinggalkan.
Sampai keesokan harinya, Umar masih belum bicara. Dia masih terpukul ditinggalkan begitu saja seperti ini tanpa dia ketahui apa sebab kesalahannya pada Sarah.
Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja. Mereka menjalani hubungan yang romantis dan Umar sangat mencintai dan menyayangi Sarah apa adanya. Sarah adalah sosok perempuan hebat yang pernah di kenal.
“Ini semua gara-gara kalian!” kata Umar di hari berikutnya.
“Salah kami di mana, Umar?” Vita bertanya, “kami justru menyelamatkanmu dari-” Vita tampak kesulitan untuk menjelaskannya agar tak sampai menyakiti hati sang anak, “kami bermaksud menikahkan kalian nggak bermaksud memisahkan.”
__ADS_1
“Kalian itu terlalu grasak-grusuk jadi Sarah itu takut sama kalian!” dia tetap menyalahkan kedua orangtuanya.
“Nggak mikir kamu, Mar. Perempuan baik-baik mana ada yang seperti itu? Di ajak menikah malah kabur. Kalau dia memang tidak mau kamu nikahi, bukankah semua bisa dibicarakan baik-baik? Tidak susah mengatakannya,” kata Yudha membuka jalan pikiran anaknya yang keliru. “Atau dia memang lebih suka hubungan kalian berjalan tanpa status? Mengerikan sekali.”
“Izinin aku mencarinya ke Turki, Ma, Pa,” pinta Umar memelas.
“Ke Turki?” sahut Yudha menajamkan telinganya. Hah, apa aku tak salah dengar? Batinnya melanjutkan.
“Kamu mau cari dua di Turki bagian mana?” Vita menatap putranya dengan cemas.
Namun kini Umar menggelengkan kepalanya dan membuat Yudha semakin tidak paham dengan keputusan anaknya itu. Sepertinya dia memang sudah tidak waras.
“Kamu pikir Negara Turki itu hanya selebar daun kelor, Umar? Turki itu sangat luas. Kalau kamu saja nggak tahu ke mana tujuanmu, lantas di mana kamu akan mencari Sarah?”
“Pokoknya Umar harus ke Turki, titik!?” Umar meninggi.
“Umar?!” bentak Yudha, “jaga mulutmu! Jangan tinggikan suaramu di depan kami.”
Vita memberikannya kalimat positif supaya anaknya bisa bersikap lebih tenang, “Mungkin katamu tadi ada benarnya. Ini terlalu cepat Buat Sarah dan dia butuh waktu sebentar untuk berpikir.
“Secara dia sudah pernah berumah tangga, pasti masih ada trauma di hatinya karena takut pernikahannya kali ini bisa gagal lagi. Suatu saat, pasti dia datang lagi kalau sudah siap untuk menikah. Jangan putus asa, coba kamu hubungi lagi atau cari tahu ke semua teman-temannya.”
“Belum tentu juga Sarah ada di Turki sekarang. Bisa saja dia berkata seperti itu hanya untuk mengelabuimu supaya kamu tidak mencarinya.” anggapan lain Yudha membuat hati Umar semakin bertambah panas.
“Nggak ini pasti gara-gara kalian!” tukasnya segera.
Sepeninggal Yudha dari kamar Umar, Vita menasihatinya, “Jangan bentak-bentak Papa, Umar. Bicaralah dengan lebih sopan.”
“Lagian kenapa Papa bodoh?” ucapnya pelan.
“Yang bodoh itu kamu, di kasih tahu tapi nggak masuk-masuk ke sini ...” Vita menunjuk di mana letak pikirannya, “ya sudahlah. Mama nggak peduli, terserah kamu saja. Kalau kamu mau cari ke Turki, silakan berangkat. Tapi ingat! Mama nggak mau dengar ada apa-apa sama kamu di sana karena kami nggak akan pernah menyusul mu. Turki itu jauh, okay Nak?”
Vita beranjak untuk meninggalkan anak lelakinya sendiri. Dan itu seketika diteriaki oleh Umar. “Ma, jangan tinggalin Umar dong, Ma!”
“Mama juga banyak kerjaan, Mar. Bukan cuma ngurusin kamu. Makanya kalau belum siap patah hati jangan pacaran. Padahal kamu lebih tahu, tapi dilanggar juga. Akibatnya begini kan? Putus-putus sendiri tapi orang lain di ajak susah.”
“Ma!” panggil Umar karena Mama terus saja pergi seolah tak peduli dengannya lagi sangat yang sedang sangat butuh-butuhnya. “Jangan tinggalin Umar dong, Ma ....”
“Tahu ah, Mar. Pusing! Mau gantung diri juga silakan. Setidaknya beban kami bisa sedikit berkurang.”
Apa?! Jadi Mama bersyukur kalau Umar meninggal? Umar semakin menjerit seperti anak kecil yang minta susu kepada ibunya.
...∆∆∆...
Jari-jari Zunaira mengetuk-ngetuk meja kayunya sehingga menimbulkan bunyi. Sedangkan matanya masih menatap layar. Ada beberapa rincian yang belum sinkron dengan hasil akhir. Tetapi, ia belum kunjung menemukan di mana kesalahannya. Dia benar-benar mumet karena saat ini pikirannya masih terbagi untuk seseorang yang ada di sana. Sebab dengar-dengar, Andrea tak masuk kerja lagi hari ini.
“Kamu itu ke mana, sih?” gumamnya berhenti sesaat dari aktivitasnya, “mana teleponnya lagi-lagi nggak aktif. Kira-kira kamu ingat nggak sama acara kita dua hari lagi? Kita bahkan belum bahas apapun. Kamu mau datang jam berapa? Sama siapa? Berapa orang?”
__ADS_1
Zunaira kebingungan sendiri. Oleh karenanya dia memutuskan untuk menutup buku dan memilih untuk mengerjakan lanjutannya di rumah.
“Pantas nggak kalau aku samperin ke rumahnya? Aku kan, perempuan.” dia berpikir lagi. “Tapi ini darurat.”
Dan setelah beberapa saat menimbang-nimbang, Zunaira pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi rumah Andrea agar dia bisa mengetahui secara langsung dari orang tuanya, kenapa Andrea akhir-akhir tak masuk kerja. Apa benar pria itu sakit seperti pengakuannya kemarin?
Berbekal dari alamat yang dia dapatkan beberapa waktu lalu, dari Andrea sendiri, Nai pun sampai di kediaman yang dituju.
Zunaira tersenyum saat menatap bangunan rumah Andrea yang ada di depannya. Rumah sederhana yang yang dibangun dua tingkat. Memang tak terlalu besar, namun memiliki halaman yang asri dan luas.
Suasana dari depan tampak sepi, bahkan saking sepinya, tidak ada satu pun mobil yang lewat di sana. Sangat privasi sekali.
Zunaira mengambil ponselnya untuk menghubungi Andrea lagi. Berharap nomornya sudah kembali aktif. Namun sampai ketiga kalinya dia memanggil, suara operator lah yang terus menjawab panggilannya. Mengesalkan.
Tak mau membuang-buang waktu, dia pun segera membuyikan bel pintu dan menggerakkan slot pintunya berharap terdengar sampai ke dalam.
“Permisi! Permisi!” panggilnya berulang-ulang. “Assalamualaikum! Mas Andre! Om Ibra!”
Dan setelah beberapa saat menunggu, bukan Tuan rumah yang keluar, melainkan tetangga sebelahnya. Mungkin karena terganggu dengan ulahnya yang berisik dan Nai pun segera meminta maaf.
“Iya, nggak papa. Tapi ada nggak orangnya?” tanya perempuan berkulit putih dan bermata sipit tersebut.
“Udah saya pencet-pencet belnya tapi nggak ada yang keluar, Ci ...” jawab Zunaira.
“Mungkin lagi ke rumah sakit kali, Neng. Denger-denger anaknya Andrea lagi sakit,” kata perempuan itu lagi yang membuat lutut Zunaira langsung melemas. Seperti ada pisau tak kasat mata yang tepat menghunus ke jantungnya.
Bahkan rasa nyerinya melebihi patah hatinya yang kemarin. Dia tak lagi dapat mendengarkan penuturan perempuan bermata sipit itu selain merasakan diri yang begitu malang. Karena lagi-lagi seorang pria telah mempermainkan hatinya.
“Coba di telepon lagi, Neng. Ya udah Cici masuk dulu, ya! Kalau mau mampir masuk aja. Cici juga masih ada ikatan saudara sama Pak Ibra, kok.”
Zunaira tak menanggapi. Dia berdiri seperti orang linglung.
Semua potongan-potongan beberapa hari ke belakang tengah membawanya ke sana. Seakan membenarkan ketidakpercayaan dan keragu-raguan nya tersebut.
Selain sikapnya yang aneh dan misterius, aku pernah mendapati foto anak kecil yang ada di dalam dompetnya waktu itu.
Selama ini dia sudah terlampau percaya diri, menganggap dirinya spesial di mata laki-laki itu karena sudah menjadi satu-satunya wanita yang dapat membuatnya bersikap lebih hangat.
Kenyataannya tidak. Dugaannya salah besar.
Andrea Hirata datang bukan karena mencintainya. Tetapi karena dia membutuhkannya untuk menjadi seorang ibu untuk anaknya.
Baik, itu tidaklah masalah andai memang seperti itu tujuannya. Dia tak boleh mempermasalahkan status karena semua orang berhak bahagia atas hidupnya dengan siapapun mereka berpasangan.
Tetapi kenapa harus berbohong?
Ini sangat melukainya.
__ADS_1
Bersambung.