Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
TerCyduk


__ADS_3

“Aku nggak melarangmu bekerja, tapi mulai sekarang, sebaiknya kurangi aktivitasmu. Aku nggak mau dengar kamu sampai kelelahan,” ujar Rayyan kepada Zara pada saat mereka tengah duduk berdampingan di Cafe malam hari. Pria itu sengaja mengajak istrinya ke tempat ini hanya karena ingin berkencan berdua.


“Ya, aku tahu,” jawab Zara. Wanita itu tertunduk lesu. Mungkin pada awalnya ia sangat excited ketika mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, terlebih mengandung bayi kembar. Namun setelah sadar seberat apa beban yang akan dia pikul ke depannya serta tanggungjawabnya menjadi orang tua, perasaan senangnya kini berganti menjadi perasaan gelisah.


Apakah ia mampu mendidik anak-anak dengan minimnya ilmu yang dia miliki? Apakah bisa dia menjadi seorang ibu yang bisa di teladani oleh anak-anaknya?


Bahkan yang ia ketahui, seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ya, itu serangkaian kekhawatiran yang ada di pikirannya sekarang. Demikian wajar adanya karena ini juga biasa terjadi pada calon-calon orang tua lainnya.


Ray mengusap kepalanya dan tersenyum. Syukurlah kalau dia lebih tahu mengenai keadaannya sekarang, pikirnya. “Bumil lagi sensitif. Ada yang lagi dipikirin?”


“Aku takut nggak bisa jadi orang tua yang baik ....” Zara memeluk Ray untuk mencari kenyamanan agar lebih tenang hatinya.


“Kamu nggak sendirian,” Ray menanggapi kecemasannya, “ayolah, jangan terlalu banyak pikiran.”


“Sebenernya aku nggak mau terlalu sibuk atau stres,” jawab Zara yang sesungguhnya juga ingin menceritakan sesuatu lain.


“Tapi?” Rayyan meminta kejelasan lebih lanjut.


“Ada sedikit masalah juga di kantor, tadi aku baru aja baca pesan dari Belle kalau manajer keuangan mengajukan pengunduran diri, karena dia mau menikah dan calon suaminya melarangnya untuk bekerja lagi. Apa aku bisa melarang?” jeda sejenak, Zara melanjutkan, “seberapa sayangnya pun nggak akan bisa. Posisi penting itu sebentar lagi akan kosong. Tapi masalahnya aku bukan orang yang gampang percaya sama orang baru kecuali orang baru. Ada kejadian yang membuatku trauma,” urainya memaparkan. Trauma itu ada semenjak Cici, teman baru terbaiknya mengkhianatinya.


“Nanti aku bantu umumkan ke orang-orang terdekat,” jawab Ray tanpa pikir panjang. Seolah masalah ini tidak terlalu penting baginya.


Terus-terang Zara kurang yakin dengan jawaban ini, namun ia berusaha percaya demi menghargainya. Akan tetapi ketidakyakinan itu akhirnya terjawab pada keesokan harinya saat seseorang datang ke rumah untuk menemuinya langsung. Adalah Mauza. Dia menanyakan posisi lowongan tersebut.


“Kamu bilang nggak gampang percaya sama orang baru. Dan Mauza, dia keluarga kita. Dia mau menempati posisi itu. Gimana menurutmu?” tanya Rayyan menyikapi kebingungan istrinya begitu mendengar Mauza menawarkan diri.


“Ayolah, terimalah aku, Kak. Aku jauh-jauh datang ke sini lho,” ucap Mauza terdengar memohon.


“Aduh, kalian bikin aku bingung.” Zara menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. “Emang nggak papa? Nggak dimarahin sama Mama?”


“Nggak, dong. Masa mau kerja halal dimarahin.”


“Gini, Za ... Kamu kan-”


“Iya, aku tahu,” sela Mauza, “jangan khawatir, Kak. Aku udah izin sama Mama sama Papa. Justru mereka menyetujui karena dengan bekerja di tempat kalian, aku jadi lebih terpantau daripada bekerja di tempat sebelumnya yang cukup jauh dari mereka. And tenang aja, kalau masalah keuangan, insyaallah aku bisa karena memang aku ngambil jurusan itu.”

__ADS_1


“Terus gimana sama Zunai?” tanya Zara.


Mauza mengira bahwa Zara tidak enak kepada Zunaira karena mungkin tak mau dianggap pilih kasih atau sebagainya. Namun, Mauza menepis kekhawatiran kakak iparnya dengan menceritakan bahwa Zunaira memang tidak di izinkan bekerja oleh Mama dan Papanya. Karena gadis itu memang tidak pernah bisa bekerja keras.


Zunaira sangat berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Dan entah kenapa fisik gadis itu lebih lemah dan gampang sekali sakit. Ini di deritanya dari kecil. Itu sebabnya dia tak pernah dibolehkan pergi terlalu jauh kalau tidak ditemani oleh salah seorang keluarganya.


“Ya ampun ... ke mana aja aku selama ini? Kakak baru tahu, ternyata itu alasannya. Kirain kalian memang benar-benar dilarang keluar rumah sama Papa. Karena yang Kakak tahu, keluarga Papa sangat disiplin.”


“Hanya berlaku untuk Zunaira saja, Kak. Kalau aku lain cerita. Seperti tadi yang ceritakan, aku di izinkan kerja sama Papa. Dianjurkan malah. Hanya saja, Mama sama Papa cemas kalau aku kerja di luar sana yang jauh dari pantauan mereka.” Mauza tertawa setelah berbicara. Dia merasa malu sendiri lantaran terbayang sesuatu. Sudah sebesar ini, aku masih saja jadi beban keluarga, begitu batinnya mengolok. Ironisnya, mau beli kuota dan uang jajan saja modal merayu Papa dan Mamanya. Kalau tidak dapat, maka dia akan meminta Kakaknya, Opanya, Omanya, dan siapapun yang bisa dia palak.


Zara mengangguk mengerti. “Ya sudah, Kakak udah nyambung, nih. Kalau begitu, sebaiknya besok kamu datang aja ke kantor supaya bisa langsung belajar dari manajer lama. Nanti kalau sudah mulai bisa meng-handle sendiri, manajer keuangan yang lama akan Kakak lepasin.”


“Siap boskuuuh!” Mauza mengangkat jempolnya dengan sangat antusias. “Akhirnya aku berhenti jadi pengangguran, Yeay!” gadis itu sangat kegirangan.


Saat hari sudah mulai beranjak siang, Mauza kembali ke rumah karena Zara harus pergi mengambil raport Mike. Wanita itu di antar oleh Heru karena Rayyan harus pergi ke daerah Bekasi. Ada undangan acara offline di sana.


∆∆∆


“Kak, haus,” keluh Mike saat pulang dari sekolahnya.


“Nggak mau air putih,” ujarnya beralasan, “maunya yang manis.”


“Kamu tuh makan minum yang manis-manis terus. Pantesan otaknya agak bodoh. Lihat, nih, raportmu hampir merah semua.” Zara menunjukkan angka-angka mengkhawatirkan itu.


“Ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa, Kak,” kata Mike tanpa beban.


“Bodohmu itu bukan takdir, tapi kebanyakan makan sama main HP,” kata Zara amat gemas.


“Cepet ah, mau minum! Haus!” ucap Mike lebih keras.


“Pak Heru tolong berhenti di minimarket. Anak ini, kalau maunya ngga diturutin lama-lama saya bisa dipukul sama dia.”


Pak Heru mengangguk, “Baik, Non.”


Sesampainya di minimarket, keduanya pun turun untuk membeli minum yang Mike minta. Namun sesampainya di sana, ternyata bukan hanya minum saja yang Mike beli, tetapi juga banyak sekali camilan. Dasar alasan! Bilang aja pengen garong ATM kakaknya.

__ADS_1


Zara hanya geleng-geleng kepala melihatnya tanpa bisa melarang. Selain malas berdebat, dia juga tak ingin malu jika Mike sampai ngamuk di tempat umum seperti ini.


“Udah?” tanya Zara memastikan.


“Udah,” jawab Mike menyerahkan keranjangnya.


“Bawa sendiri, ah. Kan, Kakak yang bayar. Jadi kamu yang bawa.”


“Ih, Kakak nyebelin!”


“Bawa beban segitu aja kamu nggak mau. Siapa suruh beli jajan sebanyak ini?”


Dengan sangat tidak ikhlas, Mike terpaksa membawa sendiri keranjang belanjaannya dan berjalan ke depan meja kasir.


Namun pada saat mereka mulai mengantre, Zara tak sengaja mendapati punggung Fasad di depannya. Pria itu sedang sama-sama mengantre juga sepertinya.


Tidak mungkin salah, batin Zara amat yakin. Zara sangat hafal postur tubuh pria itu karena dia sudah sangat mengenalinya; kulit sawo matang, tubuh yang tinggi di atas rata-rata orang Indo, serta rambutnya yang agak pirang. Masih terlihat jelas karena ada beberapa helai rambut yang keluar meskipun berusaha disembunyikan dengan topi warna hitam dan masker dengan warna yang sama.


“Jadi ini maksud Allah membelokkan kami ke tempat ini ....”


Tak mau kehilangan jejak Fasad lagi, Zara cepat-cepat meraih botol minuman cukup berat yang tersedia di sana.


Sebenarnya Mike bingung dengan apa yang kakaknya lakukan, tetapi Zara menahannya agar tak banyak bertanya.


Perlahan Zara mendekat, lalu memukulkan benda itu seperti yang pernah Fasad lakukan kepada Rayyan di hari pernikahannya. Bedanya, Zara melakukan pukulannya di bagian bawah kepala. Tak sekeras yang dibayangkan, karena Zara hanya sekadar ingin membuatnya tak sadarkan diri.


Buggh!


Tubuh Fasad langsung limbung bersamaan dengan teriakan orang-orang. Pria itu meringis sebelum akhirnya pingsan dan jatuh ke lantai dengan posisi terlentang.


Kini Zara berjongkok untuk membuka maskernya.


Ya, benar dia adalah Fasad. Orang yang selama ini dicari-cari oleh banyak orang.


“Dia buronan!” dua kata yang diucapkan Zara sontak mencegah orang-orang yang hendak mengamankannya. “Kalian bisa bawa dia ke polisi. Saya sendiri yang akan bertanggung jawab.”

__ADS_1


__ADS_2