Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Akhir Manis Sebuah Penantian


__ADS_3

“Payah, nih Hotel. Katanya terbaik, tapi klinik kesehatan aja kalian nggak punya,” sungut Miranda kepada pihak manajemen Hotel ini saat wanita itu mengajak mereka diskusi. “Kalau ada kasus seperti ini lagi gimana?” lanjutnya.


“Maaf sebelumnya, Bu. Tapi kami sudah menyediakan P3K untuk pertolongan pertama dan kendaraan darurat. Sebaiknya, setiap orang yang berencana bepergian memang harus membawa obat-obatannya sendiri. Sebab hanya mereka yang tahu bagaimana kondisinya.”


“Astaga. Menantu saya nggak sakit kronis dari rumah, tapi dipukul orang.” Miranda gemas sendiri dengan jawaban mereka yang tidak nyambung sama sekali dengan apa yang tengah dibicarakan.


“Iya, ini misalkan loh, Bu,” jawab orang tadi.


“Apa begini sikap dan cara seorang manajemen menghadapi komplain?” Miranda menuding dengan jari telunjuknya, meminta pendapat semua orang yang berkumpul, “kalau saya jadi kamu, saya nggak akan jawab begini. Ini kelalaian kalian, loh. Coba kalian pikirin, kenapa si cleaning service itu menaruh vakum cleaner di tengah-tengah jalan? Walaupun seandainya nggak ada kejadian serupa, tapi posisinya cukup mengganggu. Bisa mencelakai orang lewat.”


Semua membisu. Kalah telak dengan apa yang baru saja wanita karir ini tuturkan.


Malas membuang waktu dengan orang-orang yang menurutnya dungu, Miranda pun memutuskan pergi. “Ah, sudahlah. Pokoknya saya nggak mau tahu, acara pernikahan anak saya harus tetap berjalan dan ini tanggung jawab kalian untuk menjaga suasana agar tetap kondusif.”


Usai Miranda pergi, beberapa pihak manajemen saling berunding.


“Seharusnya kamu jangan jawab seperti itu tadi, Beng!”


“Lalu aku harus jawab apa?” jawab yang lainnya.


“Harusnya kamu ngalah aja, minta maaf atas kelalaian yang baru saja terjadi, terus janji akan lebih meningkatkan pelayanan. Mereka orang yang sangat berpengaruh, kita harus sangat berhati-hati sama mereka.”


“Tadi kenapa kalian pada diam aja tadi, Genks!”


“Jujur gue takut sama Ibu-ibu itu. Ngeri gue.”


“Terus gimana? Apa solusinya sekarang?”


“Kita akan mencari waktu untuk datang ke rumahnya dan meminta maaf secara langsung.”


“Baiklah.” Semua menyetujui.


Sementara itu, Rayyan sudah dipindahkan ke ruangan khusus dan sudah mulai tangani oleh tenaga medis.


Rambut bagian belakangnya harus digunting sedikit agar lukanya bisa lebih mudah dibersihkan. Lalu diberi analgesik untuk meredakan nyeri, supaya sakitnya tidak terlalu mengganggu saat berlangsungnya acara.


“Ray kan, pakai peci. Jadi nggak terlalu kelihatan perbannya,” kata Vita saat Ray mengkhawatirkan ini.


“Bajunya udah kena darah.” Ray melepaskan pakaian atasnya.


“Papa lagi ambil yang baru di rumah. Cari yang paling mirip. Tapi mungkin bukan baju baru.”


Ray sama sekali tak mempermasalahkan karena saat ini dia hanya mengingat satu nama. “Zara mana?”

__ADS_1


“Zara menunggu di luar.”


“Dia nangis tadi, nanti make up nya rusak.”


Vita terkekeh. Bisa-bisanya Ray malah memikirkan hal itu.


Di luar ruangan itu ada Ruben, Zara, Mike, dan adik-adik iparnya yang sedang menunggu Ray selesai ditangani. Mereka juga saling mengobrol, mencari tahu kenapa Ray bisa ada di sana hingga menjadi korban pemukulan.


“Jadi ... tadi Kak Ray itu bilang kalau dia gugup banget waktu lihat kursi pelaminan. Dia minta minum sama aku, tapi habis minum malah tambah gemeter,” papar Mauza yang membuat semua orang malah tertawa, “karena aku nggak tahu solusinya, jadi aku saranin buat cuci muka. Tapi pas aku tawarin, mau ditemenin, nggak? Kak Raynya nolak. Masa ke toilet aja ditemenin, mang aku bayi sampai toilet aja nggak tahu, katanya.”


“Oh, gitu ceritanya, Maijah?” kata Umar menanggapi.


“Iya Omelet.”


“Terus kalau kejadian yang di belakang itu gimana ceritanya, Kak Zara?” kali ini giliran Zunaira yang bertanya.


“Mami belum cerita,” jawab Zara, “tapi aku kira orang itu ngincernya Mami karena si pelaku punya dendam sama beliau.”


“Nyambung, Kak,” sahut Mauza segera, “mungkin tadinya Kak Ray mau nyelametin Tante ... eh, malah dia yang kena. Untung nggak sampai bocor itu kepala. Kita berdoa aja moga-moga dia masih waras setelah kena benturan dua kali.”


“Orang kalau punya dendam seram, ya. Orang tua pun mau dibacok. Sakit kali di-” mulut Umar langsung dibungkam oleh saudara kembarnya. Dia baru bisa terima pada saat Mauza berbisik tepat di telinga, “Jangan sampai omong macem-macem. Itu pelaku si eks nya ipar kita.”


Keduanya sama-sama saling menyalahkan. Padahal di antara mereka memang nggak ada yang benar.


“Pelaku masih dalam pencarian. Dia berhasil kabur. Mereka hanya bisa mengamankan calon istrinya untuk ditindaklanjuti,” jawab Ruben. Dari Cici, polisi akan bisa lebih mudah melacaknya, ke mana Fasad biasanya pergi atau pun bersembunyi.


“Apa pernikahan ini masih bisa dilanjutkan?” tanya Zara pasrah. Ini yang paling dia risaukan semenjak tadi. 200 orang sedang menunggunya sekarang.


Ruben tersenyum, “Tentu saja. Nggak ada alasan untuk dibatalkan.”


Zara menyebutkan alasannya, “Tapi Rayyan kena musibah....”


“Jangan khawatir, dia baik-baik saja, tenanglah.”


Zara pun ikut tersenyum. Kemudian untuk pertama kalinya dia memeluk ayah tirinya yang disambut haru, “Thank you for helping me better, Dad.”


Miranda yang baru saja datang langsung berkaca-kaca melihat pemandangan ini. Dia mendengar Zara memanggil suaminya dengan sebutan Dad, bukan Om lagi seperti sebelumnya. Sangat dimaklumi jika Zara memanggilnya Dad, karena tidak ada yang bisa menggantikan sosok almarhum papi dalam hidupnya.


“Thank you for loving my Mom,” ujar Zara lagi.


“Maaf telah membuat ayahmu pergi.”


“Nggak, Dad. Aku udah tahu sekarang. Setiap yang bernyawa nggak akan mati melainkan atas izin Allah, sebagai ketetapan yang sudah ditentukan waktunya.”

__ADS_1


Takdir mengenai kematian sebenarnya telah ditentukan jauh sebelum seseorang dilahirkan. Allah menuliskannya di lauhul mahfudz lengkap dengan waktu dan sebab kematiannya.


♡♡♡


Kaki Zara gemetar pada saat ia sudah diperintahkan masuk oleh pembawa acara untuk duduk di pelaminan. Semua orang tertuju kepadanya sepanjang jalan hingga ia tiba di sana. Menunggu Rayyan membaca ijab kabul di tempat terpisah.


Lagi-lagi, ia mendapati tangannya basah oleh keringat dingin. “Semoga nervous ini sampai nggak memalukan.”


“Bismillahirrahmanirrahiim....”


Suasana begitu khidmat saat penghulu mulai membacakan doa untuk menikahkan insan yang ada di depannya.


“Saudara Rayyan Eshan Altair?”


“Ya, saya,” Ray menjawab.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Zara Angel Purnawirawan binti Purnawirawan dengan mas kawin berupa cincin dan uang sebesar 300 juta rupiah dibayar tunai.” 


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Zara Angel Purnawirawan binti Purnawirawan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai!” dalam satu tarikan napas, Rayyan lantang mengucapkannya hingga disusul kata 'SAH' dan hamdalah dari semua orang yang hadir di tempat ini.


Rayyan dan Zara bernapas lega. Sedangkan yang lain ikut menitikkan air mata, terutama orang tua dan adik-adik mereka.


Rayyan meninggalkan tempat sejenak untuk melakukan shalat dua rakaat setelah keduanya menandatangani beberapa berkas pernikahan.


Dia ingin memohon ampun sekaligus mengucap syukur karena telah diberi nikmat yang luar biasa. Karena akhirnya, pernikahan di impi-impikannya selama ini dengan orang yang dia cintai, telah Tuhan wujudkan. Bukan hanya itu saja, kini ingatannya pun sudah kembali.


Baru ia mengerti maksud Tuhan memisahkan mereka terlebih dahulu. Rupanya, Dia ingin keduanya bertemu dalam keadaan yang sudah sama-sama lebih baik.


Lantas dari sana, Rayyan kembali memasuki tempat acara. Dia menuju ke pelaminan dan duduk di samping Zara, namun agak sedikit menyerong agar keduanya bisa saling berhadapan.


“Aku datang lagi, Ra. Tapi kali ini aku sudah jadi suamimu.”


Zara mengangguk pasti. Embun yang menutupi kedua bola matanya pun tak dapat lagi ia tahan, sehingga meluncur begitu saja.


Rasa haru kian menyeruak pada saat Rayyan mengucapkan bismillah. Satu tangannya ditengadahkan ke atas, sedangkan yang satunya ia letakkan di atas kepala Zara dan mulai membacakan doa.


Keduanya bertukar cincin untuk diperlihatkan ke kamera. Barulah setelah itu, Zara mencium punggung tangan Rayyan sebagai bentuk penghormatan seorang istri yang menghargai suami sebagai kepala keluarga. Kemudian dibalas dengan kecupan di kening yang bermakna jika suami akan terus memberi kasih sayangnya kepada istri. Sampai akhir hayatnya.


Senyum keduanya begitu tersorot. Menandakan seberapa bahagia mereka saat ini.


Bersambung.


Pada kondangan pakai like sama komen plis☹

__ADS_1


__ADS_2