Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Izinkan Aku Mencintainya


__ADS_3

55.


“Nggak usah nangis, Ci. Aku cuma tanya. Toh, andai itu benar it's okay, aku gapapa, kamu tenang aja.”


“Maafin aku, Ra. Aku ambil orang yang selama ini kamu harapkan. Maafin aku....” isak Cici dengan sangat malu dan tak enak hati.


Niscaya hanya Tuhan yang tahu Zara menahan diri agar tangisnya tak meledak saat ini. “Jadi benar kalian ada hubungan?”


Tak berapa lama, Cici mengangguk.


“Kenapa harus dia, Ci. Kamu bahkan orang pertama yang paling tahu ada apa di antara kita berdua sebelum kamu datang....”


Dengan suara lirih, Cici mengungkapkan alasannya, “Semua berawal dari rasa kasihan, Ra. Ya, aku kasihan lihat dia yang begitu terpuruk karena rasa percaya dirinya sempat hilang. Pasti kamu tahu siapa yang menyebabkannya tanpa aku perjelas lagi.”


Zara segera dapat memahami.


“Fasad kerap di pandang sebelah mata dan dibully oleh orang-orang di sekitar karena dianggap berbeda. Itulah penyebab dia semakin sakit dan akhirnya pindah ke Bandung sementara, sekaligus menjalani pengobatan,” Cici menjelaskan sedikit dari banyaknya cerita yang dia ketahui. “Fasad harus punya kendali untuk bangkit dan dia nggak bisa melakukannya sendiri. Harus ada orang dibelakangnya yang selalu men-supportnya.”


“Okay ... aku paham. Tapi lainnya, apa kamu tahu, perbuatanmu selama ini sudah melanggar hukum?” tanya Zara.


Cici terdiam.


“Kamu melanggar privasiku dengan memata-mataiku setiap saat untuk kamu laporkan kepada seseorang. Dan yang aku sesali adalah, aku sudah mengatakan semuanya. Aku menyesal percaya sama kamu, Ci.”


“Maaf, Zara... Maaf....” Cici mengatupkan tangannya. Wajahnya sudah berurai air mata.


“Sepertinya kamu harus tahu bunyi pasal ini....”


Zara menjelaskan, pasal terkait, bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan lain-lain yang menyangkut hak privasi mereka.


“Dan setiap orang yang dilanggar hak privasinya, dia boleh mengajukan gugatan,” sambung Zara.


“Tapi aku nggak pernah merugikanmu,” sela Cici, “Fasad hanya ingin tahu keseharianmu aja. Kamu bahagia atau enggak setelah dia menceraikanmu. Nggak ada maksud lain apalagi kejahatan. Apa kamu pernah kehilangan sesuatu, atau barang yang aku ambil?”


“Ya, kamu mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku.”

__ADS_1


Cici sontak mencelos.


“Kamu masih mencintai dia?” tanyanya segera. Terus terang, dia pun sakit dengan pertanyaannya sendiri. Takut andai dia sampai mendengar jawaban yang tak sesuai dengan isi hati.


“Nggak ... aku hanya terluka. Kenapa orang yang Fasad pilih adalah orang terdekatku sendiri. Ini terlalu mengejutkan buat aku.”


“Sekali lagi, maafin aku, Ra....” ucap Cici terdengar begitu memohon, “awalnya aku nggak berniat seperti itu. Tapi ... perlahan cinta mulai tumbuh beberapa minggu belakangan ini. Dia nyaman denganku, aku pun begitu. Jadi tolong izinkan aku membahagiakan dia dan membangun rasa percaya dirinya lagi. Selama ini dia selalu mengecil karena statusnya... aku harap kamu bisa mengerti keadaannya. Dia akan sembuh bersamaku, aku yang akan menemaninya karena kamu tak bisa melakukannya.”


“Kamu bilang hanya kamu? AKU PUN BISA, CI, BISA! Tapi gimana aku akan melakukannya sementara dia nggak pernah mau sekali pun menemuiku?!” sembur Zara naik pitam, pada akhirnya, ia tak lagi bisa menahan linangan air mata, “kamu pikir kami bercerai karena aku yang mau? Bukan, Cici... bukan.....”


Cici gegas memeluknya dengan sepenuh hati.


Jeda sesaat, Zara kembali melanjutkan, “Asal kamu tahu, aku selalu merasa bersalah setiap hari, setiap waktu, setiap saat. Karena itu aku memilih untuk menghukum diriku sendiri sebelum aku mendengar Fasad bahagia....”


“Pemikiranmu salah besar, Ra....”


Mereka merenggangkan pelukan dan saling menatap dari mata ke mata.


“Ini mungkin terdengar aneh, tapi kamu harus tahu, Fasad sudah jauh lebih bahagia sekarang. Sebab ternyata orang yang paling dia inginkan dan dia cintai, adalah orang yang sebenarnya lebih baik tidak ada dalam hidupnya.”


“Terima kasih, tolong jaga dia ... untukku,” kata Zara akhirnya setelah beberapa saat kemudian.


Cici mengiyakan, “Please jangan benci aku, karena cinta nggak bisa memilih, ke mana dia harus berlabuh.”


Zara mengangguk pasrah, “Aku selalu berusaha untuk menerima kenyataan.”


▪▪▪


Rencana akan berangkat bersama dengan Cici kini batal setelah terjadi persoalan tak menyenangkan di antara mereka. Malam ini, Zara ke rumah sakit bersama Michael karena bocah itu memintanya untuk ikut, tak peduli besok harus sekolah. Sebab dia sangat ingin mengetahui kondisi Maminya sekarang.


Duduk di kursi tengah, Michael menyadarkan kepalanya kepada sang kakak dan dibalas elusan lembut di puncak kepala.


“Mami baik-baik saja, kan, Kak?”


“Mami sehat. Hanya butuh istirahat aja,” jawab Zara menenangkan sang adik.

__ADS_1


“Kenapa nggak di suruh istirahat di rumah?”


“Mami kurang cairan, harus di rawat dan di infus di sana. Nggak bisa di rumah karena nggak ada yang bisa mengontrolnya, kecuali dokter.”


“Begitu, ya?” meski tak paham, tapi Michael berusaha mencukupkan pertanyaannya. Sebab saat ini ia melihat wajah kakaknya tengah berduka.


“Aku hanya perlu berani mengakui, berani mengungkap kenyataan, dan menerima. Bahwa beberapa orang datang memang hanya untuk singgah kemudian pergi. Bukan untuk menetap hingga ke masa depan.


“Bahkan memang ada orang yang Tuhan hadirkan dalam hidupku untuk menghilang, bahkan menyakiti.


“Bukan hal yang mudah memang. Namun aku harus tetap menerima bilamana memang harus seperti ini takdirnya.


“Benar kata orang. Kerusakan paling nyata adalah ketika kita disakiti oleh seseorang yang paling kita percayai. Tapi itu belum seberapa dibandingkan dampak yang terjadi setelahnya. Pengkhianatan ini telah mengubah banyak hal dalam diriku. Terlebih, soal kepercayaan.


“Namun yang aku ketahui ... seseorang yang ingin tinggal, akan tetap tinggal. Jika dia mencintaiku, dia akan tetap melakukannya. Tidak peduli seberapa kacau aku, seberapa rusak aku, tak peduli hantaman besar sedang mengancam. Tak peduli awan pekat sebentar lagi akan mengirim badai. Dia akan tetap di sini. Bukan malah mencari kenyamanan lain dengan menyakiti hati masing-masing, wahai pengecut!


“Tapi nggak papa. Semoga kamu memang benar-benar sudah menemukannya. Wanita yang mampu membuatmu lebih bahagia dan percaya diri. Wanita yang membuatmu tak takut untuk menjadi dirimu sendiri. Serta dapat menerima kelemahan dan kepengecutanmu.


“Selamat tinggal, Fasad. Terima kasih untuk hari-hari yang dulu sangat menyenangkan. Aku akan belajar mencintai masa depanku dengan semestinya. Ya, aku tahu aku trauma... aku sulit untuk mencintainya lagi. Sulit untuk memberikan cinta dan kesempatan lagi padanya. Tapi aku akan mencoba berusaha. Aku lebih pantas dimiliki oleh dia yang mau berjuang. Bukan dia yang bisanya hanya bersembunyi dibalik mata orang lain.”


“Kak....”


Panggilan Mike membuat dia menoleh dan segera menghapus air matanya yang mengalir deras.


“Apa kamu butuh pelukan?”


Zara mengangguk. Tak berapa lama, keduanya pun langsung menyatukan tubuh mereka. Di saat demikian, suasana mendadak haru sehingga Sang Sopir ikut terenyuh dibuatnya. Jarang-jarang dia melihat momen seperti ini selain keributan.


Memasuki remaja Mike semakin paham, seseorang yang hatinya tak baik baik saja hanya butuh pelukan atau sandaran, bukan ceramah, apalagi omong kosong.


Ya, sesederhana itu.


Mike....


Dia memang anak lelaki yang sangat nakal. Tapi dia tetaplah anak kucing yang tidak bisa melihat saudaranya menangis. Tampaknya dia begitu menyayangi kakaknya meski tak paham bagaimana caranya mengungkapkan.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2