
165
“Harusnya kamu nutupin mata kamu sendiri, Almahyra ...” ucap Umar.
“Tapi mata Abang lah yang paling berbahaya kalau nggak benar-benar dijaga. Karena perempuan lebih bisa menahan dirinya daripada laki-laki. Itu yang aku tahu.”
Umar menekan tombol off. Membuat Alma melepaskan tangannya saat layar televisi padam. Napas gadis itu berangsur lega.
“Bang, plis jangan nonton film seperti itu lagi. Menonton sama aja melakukan dan hukumnya dosa,” kata Alma setelah beberapa saat. “Lagi pula tayangan seperti tadi bisa bikin otak kita jadi rusak, jorok, kotor, nggak fokus saat menjalankan ibadah, dan sulit menyerap ilmu.”
“Hanya orang berciuman, Al. Nggak lebih. Contohnya seperti ini ...” Umar modus, ia mengecup pipi Alma sehingga gadis itu sontak sedikit ber jingkat, “ini bukan por no karena aku juga sering melakukannya ke Mama.”
“Kalau ciuman anak untuk ibunya itu tanda kasih sayang. Beda sama yang kita lakukan dan kita tonton barusan.”
Umar tak mengindahkan ucapan Alma barusan karena sebenarnya, dia justru lebih tahu. Anak ini memang suka sekali ngeles.
“Al, duduk sini, Al,” titah Umar menepuk pahanya.
Sebenarnya Alma sedikit keberatan. Tetapi ia tak kuasa menolak permintaan seorang suami yang katanya berdosa apabila ditolak perintahnya. Kecuali jika perintahnya adalah hal-hal yang melarang aturan agama.
Dalam sepersekian detik, Alma pun berpindah ke pangkuan Umar. Namun, ada yang Umar rasakan berbeda pada bagian atasnya. Dia seperti merasakan ganjalan dan bunyi yang aneh jika bergerak.
“Ini apa Al?”
Alma meringis. “Aku lagi kedatangan tamu bulanan ....”
“Apa?” sontak Umar terkejut, “dari kapan?”
“Dari semalam.”
“Apa!?” pria itu semakin terkejut lagi.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?”
“Yang salah itu pertanyaan mu, Alma ...” de sah Umar gemas sekali dibuatnya.
Terus maunya gimana, Bang? Kan emang udah waktunya. Mana bisa ditunda besok? Batin Alma berteriak.
Tidak ada malam pertama bagi Umar malam hari ini selain hanya tidur menahan sakit kepala. Ya, bagaimana tidak?
__ADS_1
Dia tidur satu ranjang bersama seorang perempuan cantik dan seksi yang sudah berstatus sebagai istrinya. Tapi nahasnya, dia sedang haram disentuh.
Keesokan harinya Umar masih di rumah. Ia memutuskan untuk tak ke mana-mana hari itu. Anggap saja sedang cuti menikah. Namun, dia juga bosan karena tak bisa melakukan apa-apa.
Oh, God ... bahkan hidup di rumahnya sendiri lebih baik karena suasananya lebih ramai. Ia merindukan keluarganya, terutama Mama dan papanya yang menyebalkan itu.
Sementara itu, Alma yang baru saja berpakaian dan merias diri langsung menuju ke dapur.
Tidak ada lagi cadar yang menutupi wajahnya karena kini, ia justru berpenampilan sebaliknya. Alma memakai dress v-neck rumahan selutut berwarna peach blossom yang terlihat longgar di bagian bawahnya. Rambutnya yang sengaja diwarnai kecoklatan dan bergelombang, digerai begitu saja.
Membuat kedua bola mata Umar tak berkedip saat Alma tengah melintas di depannya.
“Pagi, Non Alma ...” sapa wanita itu kepada majikan barunya.
“Pagi juga, Bi,” balas Alma. “Panggil Alma aja, Bi. Aku bukan Nona.”
“Eh, jangan! Masa saya manggil nama. Nggak sopan, Non. Bibi udah biasa manggil Non Zara juga begitu.”
“Kalau Kak Zara kan, beda lagi. Beliau memang Nona besar.”
“Ya sudah, Bibi panggil Mbak Alma saja, ya.”
“Boleh ....” jawab Alma merasa panggilan itu lebih baik untuknya. Kemudian, gadis itu menuju ke kulkas, membuka isinya. “Apa yang bisa dibikin buat sarapan, Bi?”
“Oke, sebentar,” kata Alma setelah berpikir sesaat.
Setengah jam kemudian, wanita paruh baya itu berhasil membelikan semua barang yang Alma catat. Pagi itu untuk pertama kalinya Alma membuat sarapan untuk sang suami. Dan yang membuatnya senang adalah, ketika mendapat respon baik dari pria itu meskipun tak terang-terangan mengatakannya.
“Bibi udah lama ya, di sini?” tanya Alma saat mereka bekerjasama membersihkan dapur yang sudah mereka gunakan.
“Dari pertama kali rumah ini dibangun,” jawab Bi Yati. Beliau juga menceritakan, bahwa dirinya sudah seperti ibu bagi Zara karena pada saat itu, Zara pernah kehilangan sosok maminya, padahal beliau masih hidup.
“Sekarang masih suka telepon, Bi?”
“Ya, kadang-kadang. Non Zara kan, sibuk,” jawab Bi Yati. “Nggak papa ya, Mbak. Saya masih kerja di sini kalau memang rumah ini mau pindah tangan,” sambungnya.
“Eh, nggak papa, Bi,” Alma Jadi merasa tidak enak. Dia pun menjelaskannya pula, bahwa mereka justru sangat bersyukur dengan adanya beliau. Mengingat betapa sulitnya mencari orang baik di zaman sekarang.
Almahyra kembali bersama Umar di depan yang sedang menonton televisi. Namun bedanya, kali ini Alma lah yang memilih channel nya. Alma sengaja mencari acara kajian agar suaminya itu bisa mendengar banyak kebaikan yang bisa melembutkan hatinya. Namun bukannya menyimak, pria itu malah menutup matanya. Tidur.
__ADS_1
Ya Tuhan... de sah Alma. Gadis itu sama sekali tak menyangka jika ternyata, Umar mempunyai sikap sedemikian jauh dari angannya. Alma pikir, Umar adalah anak yang terdidik. Tak beda jauh dengan Ayahnya, Opanya, atau Kakaknya yang berstatus sebagai Ustaz. Tetapi kenyataannya malah seperti ini. Rusak sekali.
Alma pun meraih remote, lalu mematikan televisinya kembali. Dia lantas masuk ke dalam kamar agar kesedihannya tak terdengar.
Sedangkan di depan, Umar terbangun. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya sehingga dirinya ketiduran di sana. Dan Alma? Di mana Alma?
Menyadari Alma tak ada di sampingnya lagi, Umar bergegas mencarinya ke kamar.
Benar, gadis itu ada di sana saat Umar mengintip dari celah pintu. Dia tengah duduk di depan kaca cermin.
“Nggak semua orang beruntung termasuk aku,” gumam gadis itu terdengar jelas oleh telinga Umar. “Mungkin dia di datangkan untuk menjadi ujian untukku.”
“Siapa?” sahut Umar membuat Alma terperanjat dan menoleh.
“Ehm, Bang. Nggak, cuma lagi ....”
“Kamu merasa nggak beruntung menikah sama aku, Al?” sela Umar bertanya.
“Bukan gitu, Abang jangan salah paham.”
Umar tak mengindahkan penjelasannya. Sudah jelas bahwa semua perkataan itu ditujukan untuknya, tetap masih saja dia mengelak. “Terus kenapa kamu mau, Al? Ini yang jadi pertanyaanku dari kemarin, apa alasanmu menerima perjodohan orang tua kita?”
“Karena aku pikir, Abi nggak akan mungkin salah memilihkan pendamping untuk anaknya,” jawab Alma akhirnya.
“Tapi kenyataannya aku tak sebaik yang kamu harapkan?”
“Aku belum tahu semuanya tentangmu, Bang. Kita baru menikah satu hari. Belum terlalu dekat.”
“Laki-laki seperti apa yang kamu harapkan?”
“Seperti Abi yang selalu sabar, berkata baik dan lembut kepada istrinya.”
“Aku nggak bisa,” tukas Umar.
“Karena kamu nggak membiasakannya.”
“Aku seperti ini adanya, kalau kamu mau silakan, kalau tidak mau silakan pergi.”
“Perjuanganku bahkan belum dimulai.”
__ADS_1
“Tidak ada perjuangan bagi seorang istri yang sejak awal, sudah melabeli dirinya orang yang kurang beruntung.”
Bersambung.